NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - RINA DATANG KE KAMPUNG

Jam tujuh malam.

Syukuran pernikahan kami baru saja selesai. Piring bekas kambing guling masih menumpuk di dapur. Gelas plastik berserakan dekat sumur, sementara tikar pandan terbentang dari ruang tamu sampai halaman.

Aku baru selesai membantu Ibu mencuci piring ketika suara klakson terdengar.

TIT! TIT!

Aku mengintip dari balik jendela kayu biru.

Sebuah mobil merah mengilap berhenti di depan rumah.

Pintunya terbuka.

Dress merah. Blazer hitam. High heels merah.

Rina.

Di belakangnya, Mama Damian turun membawa rantang sup buntut dan plastik oleh-oleh. Wajahnya tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum jahil, tidak ada candaan soal cucu.

Aku langsung merasa tidak enak.

“Lili! Damian!”

Rina berteriak sambil masuk ke halaman tanpa permisi.

Aku dan Damian keluar. Bando biru seharga Rp18.000 yang kupakai sejak pagi masih miring di kepalaku.

Rina memandang rumah kami dari ujung kaki sampai kepala.

“Kecil juga rumahnya.”

Ibu yang baru keluar dari dapur langsung terdiam. Tangannya masih memegang piring kotor.

Aku ingin membalas, tetapi Mama lebih dulu menghampiri Rina.

“Rina, jaga ucapanmu!”

Setelah itu, Mama bergegas menghampiriku dan menggenggam tanganku.

“Lili, maafkan Mama, ya. Mama dibohongi.”

Aku mengernyit. “Maksud Mama?”

“Tadi siang Rina datang ke rumah Mama sambil menangis. Katanya mau meminta maaf kepada kamu. Mama percaya, jadi Mama ikut. Sekalian mau mengantar sup buntut dan bertemu besan.”

Mama melirik map cokelat di tangan Rina.

“Ternyata dia datang membawa masalah lagi.”

Dadaku terasa hangat. Aku sempat khawatir Mama akan berpihak kepada Rina karena mereka sudah saling mengenal sejak kecil.

Ternyata Mama tetap membelaku.

Damian yang mendengar semuanya langsung menatap Rina.

“Kamu bohong lagi?”

Rina mengangkat dagu. “Aku datang untuk menyelesaikan masalah!”

Dia membuka map cokelatnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas.

“Kontrak lima ratus juta Lili sudah selesai, kan? Berarti Lili harus kembali ke rumah ibunya. Setelah itu, kamu bisa kembali kepadaku!”

Aku tertegun.

Rina bahkan menunjuk rumah biru di belakangku.

“Lihat saja kehidupannya! Kamu benar-benar mau tinggal dengan perempuan seperti ini?”

Beberapa warga yang belum pulang dari syukuran mulai mendekat. Anak-anak berhenti bermain di halaman.

Aku bisa merasakan wajahku memanas. Bukan karena malu pada rumah ini, melainkan karena Rina begitu mudah merendahkan sesuatu yang sangat berharga bagiku.

Namun, sebelum aku menjawab, Ibu keluar membawa sapu lidi.

“Mbak Rina.”

Suaranya pelan, tetapi tegas.

“Rumah ini memang kecil. Catnya juga bukan cat mahal. Dulu, kalau hujan, kami harus memindahkan kasur karena atapnya bocor.”

Ibu menatap dinding biru yang baru dicat.

“Tapi sekarang rumah ini sudah diperbaiki. Kami bahagia di sini. Jadi, tolong jangan merendahkan rumah kami.”

Rina mendengus.

“Aku tidak sedang membahas rumah, Tante!”

“Kalau begitu, jangan menghina anak saya melalui rumahnya.”

Aku langsung menggenggam tangan Ibu.

Mataku mulai panas.

Ibu melanjutkan, “Lili bukan istri kontrak lagi. Dia istri sah Damian. Pernikahan mereka tercatat di KUA Balikpapan Timur.”

“Akta nikah bisa saja palsu!” bantah Rina.

Damian akhirnya maju dan berdiri di sampingku.

“Akta nikah kami asli. Kalau kamu meragukannya, silakan menempuh jalur hukum. Tapi jangan datang ke rumah ibu istriku untuk membuat keributan.”

Dia menggenggam tanganku erat.

“Kontrak lima ratus juta itu sudah selesai. Yang tersisa adalah pernikahan kami. Aku memilih Lili karena aku mencintainya, bukan karena uang.”

Rina menggeleng keras.

“Kamu dulu dijodohkan denganku!”

“Aku tahu.”

“Papa juga setuju!”

“Persetujuan keluarga tidak membuatku wajib menikah denganmu.”

Suasana mendadak sunyi.

Mama maju sambil meletakkan rantang sup buntut di atas meja.

“Rina, Mama menyayangimu sejak kecil. Tapi Mama tidak bisa memaksakan Damian menikah dengan orang yang tidak dia pilih.”

Rina menatap Mama dengan mata berkaca-kaca.

“Jadi, Mama memilih dia?”

“Mama memilih kebahagiaan anak Mama.”

Mama merangkul bahuku.

“Lili sekarang menantu Mama. Mama yang membeli tiga test pack dari Alfamart itu karena Mama ingin mereka punya anak suatu hari nanti. Rumah ini juga rumah keluarga kami.”

“Ma!” Aku langsung protes, membuat beberapa warga terkekeh.

Mama malah mengangguk mantap.

“Memangnya salah? Mama ingin rumah biru ini semakin ramai.”

Rina menatap kami satu per satu. Wajahnya memerah, lalu dia memasukkan kembali kertas-kertasnya ke dalam map.

“Kalian akan menyesal!”

Dia berbalik dan keluar menuju mobilnya.

Pintu mobil dibanting keras.

BRAK!

Aku refleks menoleh kepada Damian.

“Untung bukan pintu rumah kita.”

Damian menahan tawa.

Mobil merah itu akhirnya pergi, meninggalkan debu di jalan kampung.

Aku menghela napas panjang. Ibu memelukku, lalu Mama ikut merangkul dari sisi lain. Aku terjepit di antara dua ibu yang sama-sama menyayangiku.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tertawa lega.

Namun, ketenangan kami tidak berlangsung lama.

Pukul sebelas malam, ponsel Damian berbunyi.

TING!

Sebuah pesan masuk dari Rina.

*Lihat saja! Besok aku bawa Papa Damian ke kampung! Biar Papa tahu kalian bohong!*

Tanganku langsung dingin.

“Damian, bagaimana kalau Papa benar-benar datang?”

Damian membaca pesan itu, lalu meletakkan ponselnya.

“Kita jelaskan semuanya dengan tenang. Aku tidak akan menyembunyikan pernikahan kita.”

Mama yang duduk di seberang langsung berdiri.

“Berikan nomor Rina!”

“Mama, jangan—”

Terlambat. Mama sudah menelepon.

“Rina! Kalau kamu mau membawa Papa Damian, jangan gunakan beliau untuk memaksakan keinginanmu. Ini masalah antara kamu dan Damian. Jangan ganggu Lili dan ibunya!”

Suara Rina terdengar samar dari seberang, tetapi Mama tidak membiarkannya memotong.

“Kalau kamu punya keberatan, sampaikan baik-baik. Jangan datang ke rumah orang lalu menghina mereka!”

Telepon terputus.

Mama menatap layar ponsel dengan kesal.

“Dia mematikan telepon!”

Damian mengambil kembali ponselnya.

“Sudahlah, Ma. Besok kita hadapi kalau memang dia datang.”

Aku mengangguk, meski kecemasan masih tersisa.

Menjelang tengah malam, hujan turun deras.

Lampu teplok di sudut ruang tamu padam karena minyaknya habis. Air menetes dari atap seng yang belum sepenuhnya diperbaiki.

Tok. Tok. Tok.

Ibu mengambil tiga ember dan meletakkannya di bawah titik bocor.

Malam itu, kami berempat tidur di ruang tamu. Ibu di ujung tikar, Mama di sebelahnya, sementara aku berbaring dekat Damian di bawah selimut bunga-bunga yang sudah berlubang.

Tidak ada AC. Tidak ada kasur mahal. Hanya suara hujan, tikar pandan, dan ember yang terus menampung air.

Aku menatap langit-langit yang gelap.

“Damian?”

“Hm?”

“Aku takut besok semuanya jadi kacau.”

Dia meraih tanganku di bawah selimut.

“Apa pun yang terjadi besok, kamu tidak akan menghadapinya sendirian.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

Di dekat kami, dua ibu sudah tertidur. Hujan masih turun, dan ember terus berbunyi.

Tok. Tok. Tok.

Rumah biru ini memang belum sempurna. Atapnya masih bocor, catnya belum rata, dan ruang tamunya terlalu sempit untuk empat orang.

Namun, malam itu aku merasa aman.

Sebab rumah bukan tentang seberapa mahal dindingnya atau seberapa luas halamannya.

Rumah adalah tempat orang-orang yang menyayangimu tetap berdiri di sisimu, bahkan ketika seseorang datang untuk meruntuhkan kebahagiaanmu.

Aku memejamkan mata sambil tersenyum kecil.

Besok, jika Rina benar-benar membawa Papa Damian, aku akan menghadapinya.

Bukan sebagai istri kontrak yang takut kehilangan lima ratus juta.

Melainkan sebagai istri sah Damian, yang tahu dirinya dicintai.

Dan rumah biru ini akan tetap menjadi rumah kami.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!