NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Kelas Kakap atau Kelas Teri?

"Nanti sore kita makan di luar, yuk! Kan jarang-jarang kita bisa ngumpul begini." Farah bersuara sambil santai mengambil potongan ayam yang tadi sempat hendak diambil Tantya. Gerakannya begitu biasa, seolah kejadian beberapa saat lalu sama sekali bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

"Wah, ide bagus!” Bu Martha langsung menyambut antusias. “Jadi malam ini nggak perlu repot-repot masak.”

"Boleh-boleh,” sahut Selina.

Ia kemudian menoleh kepada Farah. "Tapi siapa yang bayar, Mas Arya dan Mbak Farah, ya?”

Farah langsung mengangkat dagu. Senyum percaya diri tersungging di wajahnya. "Gak masalah.”

Nada suaranya terdengar ringan, seolah membayar makan satu keluarga besar bukan sesuatu yang perlu diperhitungkan. "Paling berapa, sih?”

Rendra yang sejak tadi menikmati makanannya ikut menyahut. "Duh, yang banyak uangnya nih.”

Beberapa orang langsung tertawa. Farah semakin terlihat bangga. "Iya lah. Kita kerja kan buat memanjakan diri sendiri. Gaji jutaan, masa nggak mampu nraktir keluarga?”

"Betul juga,” timpal Arya mendukung perkataan istrinya.

Ia mengangguk-angguk, seolah hal tersebut merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. "Kalau begitu, oke. Gas!”

Selina ikut tersenyum. "Kita berangkat sore aja, Mbak. Sebelum makan bisa jalan-jalan dulu.”

"Boleh,” jawab Farah. “Biar anak-anak juga bisa main dulu di mal.”

"Kalau sambil nonton gimana?”Niken yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya ikut angkat bicara.

"Ada film baru yang lagi tayang, nih.”

"Cocok!” Selina langsung menyambut. "Sekalian makan, jalan-jalan, sama nonton.”

Obrolan di meja makan pun semakin ramai. Mereka mulai membicarakan mal mana yang akan didatangi, film apa yang hendak ditonton, hingga siapa yang akan membawa anak-anak.

Di tengah riuhnya percakapan itu, Tantya hanya diam. Ia tidak ikut menawarkan diri. Tidak ikut menentukan tempat. Tidak pula menunjukkan ketertarikan. Bukan karena ia tidak punya uang untuk ikut. Justru sebaliknya. Tantya hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan makannya.

Lucu juga. Orang yang tadi bahkan tidak rela memberinya sepotong sayap ayam, sekarang dengan begitu bangganya menawarkan diri membayar makan satu keluarga.

Tantya tidak ingin menertawakan. Apalagi membalas. Ia hanya menyimpan satu hal dalam hati. Kadang-kadang, orang memang perlu dibiarkan menunjukkan sendiri seberapa besar kemampuan yang ingin mereka pamerkan. Dan Tantya sama sekali tidak berniat mengganggu pertunjukan itu.

"Eh, swbentar." Langkah mereka yang semula hendak berdiri menyudahi makan siangnya, mendadak terhenti ketika Bu Martha mengangkat tangan. Perempuan itu menatap satu per satu anak dan menantunya, seolah ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk dibicarakan sebelum mereka meninggalkan rumah.

"Sebelum jalan-jalan, Ibu mau nanya dulu. Kalian mau nyumbang berapa untuk acara tunangan Selina?” tanyanya santai. Namun, sorot matanya menunjukkan bahwa pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. “Hanya untuk acara tunangan, ya. Bukan sama acara nikahannya.”

Suasana seketika berubah. Beberapa orang saling berpandangan, sementara Tantya hanya berdiri diam. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu.

"Absen aja deh, biar tahu semuanya,” Selina tiba-tiba menawarkan. “Biar sekalian jelas.”

"Boleh banget. Siapa takut?” Farah langsung menyambar sambil memasang gaya sok berani. Kedua alisnya terangkat, bibirnya menyunggingkan senyum penuh tantangan.

"Setuju,” Niken ikut menimpali tanpa ragu.

Kemudian pandangan Farah beralih kepada Tantya.

"Kamu gimana, Tya? Setuju nggak?” tanyanya. Namun sebelum Tantya sempat menjawab, Farah kembali melontarkan sindiran. “Atau nanti mau bisik-bisik aja di dapur biar nggak ketahuan yang lain?”

Tawa kecil langsung pecah. Tantya menatap Farah tanpa ekspresi. Ia tahu betul perempuan itu sengaja memancingnya. Apalagi beberapa orang yang lain ikut tertawa, seolah sindiran tersebut memang sesuatu yang pantas dijadikan bahan lelucon.

"Ya kalau bisik-bisik nggak boleh lah. Nggak adil namanya,” Niken ikut menambahkan. “Dia tahu nominal sumbangan kita, masa kita nggak tahu sumbangan dia?”

"Iya,” Bu Martha segera menimpali, seolah hendak membuat aturan itu semakin kuat. “Ini semua harus buka-bukaan. Nggak boleh ada jalur belakang. Biar tahu, mana kelas kakap, mana kelas teri." Kalimat terakhir itu disampaikan sambil tersenyum tipis.

Tantya menarik napas pelan. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut dengan jumlah uang yang akan disebutkan, melainkan karena ia tahu permainan ini sejak awal memang sengaja dibuat untuk membanding-bandingkan dirinya dengan yang lain.

Namun, bukannya mundur, Tantya justru mengangkat dagunya. "Silakan aja. Aku ikutan.”

Jawabannya tegas.

Beberapa wajah langsung menoleh kepadanya. "Beneran?" Farah memastikan. "Kamu nggak malu sama kami?”

Tantya menatapnya lurus. "Kenapa mesti malu?” jawabnya tenang. "Toh kalaupun aku paling sedikit, sebelumnya kan nggak pernah koar-koar mau nyumbang berapa?”Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kalaupun nanti aku paling besar, yang sombong duluan kan yang harus malu?”

Senyum di wajah beberapa orang langsung berubah. Namun Farah justru tertawa keras.

"Ha ha ha! Pede banget mau yang terbesar.” Ia sampai menepuk lengannya sendiri karena geli. "Mimpi kali, yeee!”

Tawa kembali pecah. Niken bahkan ikut terkekeh, sementara Selina hanya tersenyum sambil memperhatikan suasana.

Di tengah keramaian itu, Rendra yang sejak tadi duduk di sebelah Tantya justru mendekatkan wajahnya. Bibirnya hampir menyentuh telinga sang istri ketika berbisik pelan.

"Kamu jangan sombong, Tya. Ngaca!”

Tantya menoleh sekilas. Tatapannya tajam, tetapi ia memilih tidak membalas. Ia hanya mendengus kesal lalu memalingkan wajah.

Dalam hati, ia semakin muak. Bukan karena nominal sumbangan yang akan mereka sebutkan. Melainkan karena sejak awal, semua ini terasa seperti perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling mampu, siapa yang paling banyak memberi, dan—yang paling penting—siapa yang paling rendah di antara mereka.

"Okay, kalau gitu kita pindah ke ruang tengah,” kata Bu Martha akhirnya. "Sekalian sebutkan apa saja yang dibawa dari kota. Jadi sumbangannya bukan hanya berupa uang.”

Mereka pun mulai bergerak menuju ruang tengah. Tantya berjalan paling belakang. Wajahnya tetap tenang, tetapi dalam benaknya hanya ada satu kalimat yang terus terngiang.

*Baiklah. Kalau kalian memang ingin tahu, hari ini kalian akan tahu siapa yang selama ini kalian remehkan.*

Begitu semua berkumpul di ruang tengah, Bu Martha langsung mengambil posisi di sofa. Selina duduk di sebelahnya, sementara Farah bersama Arya_ suaminya, Niken bersama Arga_suaminya, serta Rendra dan Tantya duduk berhadapan.

"Nah, sekarang kita mulai dari yang paling tua,” kata Bu Martha. “Biar urut dan nggak ada yang bilang pilih kasih.”

Farah langsung mengangkat tangan."Aku dulu deh." Ia melirik suaminya sebentar sebelum berkata,

"Untuk acara tunangan Selina, kami kasih lima belas juta.”

"Wah, makasih, Kak,” ujar Selina.

"Belum sama barangnya,” Farah menambahkan dengan bangga.

Bu Martha mengangguk. “Apa saja?”

"Kami kasih seragam keluarga untuk acara tunangan. Satu keluarga, lengkap. Nilainya sekitar sepuluh jutaan.”

Farah sengaja menekankan kata *sepuluh jutaan*, seolah nominal tersebut merupakan sesuatu yang patut dibanggakan.

"Terus kami bawakan hampers untuk keluarga calon besan, sekitar dua juta.”

Bu Martha menghitung dengan jari. "Lima belas juta uang tunai, seragam keluarga sepuluh juta, hampers dua juta. Berarti sekitar dua puluh tujuh juta.”

Farah tersenyum puas. "Kurang lebih.”

"Wah, lumayan juga,” komentar Selina.

Farah mengangguk kecil. Jelas terlihat ia cukup puas dengan jumlah yang disebutkan.

"Sekarang Niken,” kata Bu Martha.

Niken tersenyum. "Kalau kami uang tunai lima belas juta juga.”

"Barangnya?” tanya Bu Martha.

"Kami kasih hampers satu set sprei dan bed cover sekitar tiga juta. Terus peralatan makan sekitar dua juta. Sama bentuknya hampers.”

Bu Martha mengangguk. "Berarti total dua puluh juta.”

Niken tersenyum. "Ya, kurang lebih.”

Farah langsung menyahut. "Ya lumayanlah. Kita kan sama-sama sudah bantu.”

Niken tertawa kecil. Bu Martha kemudian menoleh kepada Rendra dan Tantya.

"Sekarang kalian!”

Rendra menjawab santai, "Uang tunai lima juta.”

Farah langsung mengangkat alis. "Cuma lima juta?”

Rendra mengangguk. "Iya.”

"Barangnya?” tanya Bu Martha.

"Kami bawa satu set alat makan sekitar dua juta. Terus beberapa perlengkapan dapur, sekitar tiga juta.”

Bu Martha menghitung. "Berarti cuma sepuluh juta? Masih jauh dong dengan yang Farah? Ya minimal sama dengan yang Niken.”

Farah tersenyum tipis, seperti mengejek. "Ya sudah. Yang penting ikhlas.”

Tantya yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Itu baru yang Mas Rendra sebutkan.”

Bu Martha menoleh. "Memangnya ada lagi?”

"Ada beberapa barang yang aku beli sendiri.”

Farah langsung menyahut,“Barang apa? Jangan bilang oleh-oleh lagi.”

Tantya tidak menanggapi sindiran itu. Ia langsung menyebutkan barangnya. "TV 55 inci, sekitar tujuh juta.” Beberapa orang langsung menoleh. "Mesin cuci sekitar lima juta,” lanjut Tantya. "Sama beberapa kebutuhan rumah tangga untuk Selina dan calon suaminya, sekitar tiga juta. Tadinya mau beli kulkas juga, tapi gak masuk ke dalam mobilnya. Jadinya uang tunainya saya tambah lima juta lagi.”

Bu Martha kembali menghitung. "Berarti barang yang kamu bawa lima belas juta dan uang tunai lima juta.”

"Kurang lebih.”

"Ditambah sepuluh juta yang tadi disebut Rendra. Jadi total kalian tiga puluh juta.”

Tantya mengangguk. "Iya."

Niken mengerutkan keningnya "TV sama mesin cuci itu dibawa dari kota?”

"Iya, sudah. Muat di mobil kok.”

Farah hanya mengangguk pelan. Bu Martha menyebutkan kembali jumlah masing-masing.

"Farah dan suami sekitar dua puluh tujuh juta. Niken dan suami dua puluh juta. Rendra dan Tantya tiga puluh juta."

Farah langsung menyahut, "Ya, tapi seragam keluarga kami saja sudah sepuluh juta, bisa langsung dipakai di acara." Farah kemudian tersenyum kecil, seolah ingin menegaskan bahwa kontribusinya tetap tidak kalah.

Niken tak banyak bicara. Dia cukup syok bahwa sumbangan dirinya ternyata paling kecil.

Tantya hanya bersandar santai. Ia tidak merasa perlu membuktikan apa-apa. Toh, sejak awal ia memang tidak berniat mengikuti perlombaan yang dibuat keluarga suaminya.

Hanya saja, kali ini mereka sendiri yang meminta semuanya dibuka. Dan angka-angka itu berbicara dengan sendirinya.

1
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!