Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : DIAGNOSA
Klinik 24 jam di dekat rumah Pak Hardiman sepi pagi itu.
Bintang duduk di ranjang periksa, wajahnya masih pucat. Angkasa berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat, tidak dilepas sama sekali sejak dari mobil.
Dokter jaga, dokter perempuan paruh baya, selesai memeriksa.
"Apa yang dirasakan?" tanya dokter
"Mual mules, mulut terasa asam sekali." Jawab Bintang.
"Haid ada terlambat?" Tanya dokter sambil melihat kalender di atas mejanya, lalu memandang Bintang.
Bintang mengingat-ingat kapan terakhir dia haid.
Ya, setelah pulang dari Bali, dia ada datang bulan. Artinya, minggu depan ia akan datang bulan kembali.
"Tidak dokter, jadwalnya minggu depan saya baru haid." jawab Bintang, membuat hati Angkasa sedikit kecewa. Artinya perjuangan garis dua mereka belum berakhir.
"Ini Maag akut, Bu. Asam lambungnya naik tinggi. Stres, ada telat makan dan banyak pikiran ya?" begitu diagnosa dokter itu dengan jelas.
Bintang hanya mengangguk pelan.
"Ini saya resepkan obat maag dan anti mual. Harus makan teratur, jangan stres. Istirahat total dulu hari ini. Kalau mualnya mirip orang hamil memang, tapi ini murni maag. Haidnya teratur?" tanya dokter lagi.
"Teratur, Dok." Jawab Bintang lirih. Bukan telat. Memang tidak pernah telat. Hanya maag.
Angkasa menghela napas. Antara lega dan kecewa. Lega karena Bintang tidak kenapa-kenapa, kecewa karena ternyata bukan hamil seperti yang dia harapkan di jalan tadi.
Setelah tebus obat dan Bintang minum obat, mereka pulang. Di dalam mobil, tidak ada yang bicara. Bintang bersandar lemah di kaca jendela, Angkasa fokus menyetir. Tapi kali ini Angkasa tidak bawa pulang ke rumah mereka. Dia belok ke Alun-alun Kidul yang masih sepi.
"Sa, kok berhenti di sini? Katanya mau pulang."
Angkasa mematikan mesin. Ia menatap Bintang.
"Tang, sebelum kita pulang, aku mau jujur. Semua. Tentang hubunganku dengan Damar dan Bumi. Tentang kenapa Damar manggil aku Ayah Angit."
Bintang menatap, menunggu. Tetapi yang ia tunggu tak kunjung bersuara.
"Sa, kita pulang saja. Dokter bilang aku harus istirahat total hari ini." Bintang tidak mau mendengar alasan Angkasa. Ia terlalu takut dengan kejujuran Angkasa.
"Tapi, aku perlu bilang yang sebenarnya. Supaya kamu gak salah paham sama aku."
"Mau itu salah paham atau salah terka. Ujungnya nanti akan jadi salah aku juga yang gak bisa ngerti kamu. Pulang!" tegas Bintang.
Rupanya sakit perut Bintang tidak menyurutkan emosinya.
"Tapi aku sudah janji sama ayahmu untuk menjelaskan ini padamu, Tang." Angkasa berkeras ingin jujur pada Bintang.
"Pulang. Aku capek." Bintang membuang muka. Sepertinya perang rumah tangga ini masih akan berlanjut.
"Oke. Kamu tenang dulu ya. Nanti aku tetap akan sampaikan." Lanjut Angkasa terpaksa melanjutkan perjalanan mereka.
Suasana dalam mobil itu sungguh senyap. Bintang memilih tidur sepanjang perjalanan. Mungkin efek obat, mungkin juga salah satu cara untuk menghindari Angkasa.
Dan benar saja, sesampai di rumah. Bintang masih menyalakan mode perang dingin.
Bintang bahkan tidak tidur di kamar mereka, melainkan mengunci diri di kamar tamu. Bintang ingin lihat sejauh mana usaha Angkasa untuk membujuknya. Juga Bintang ingin melihat, saat Bintang menyatakan perang. Apakah Angkasa masih berani main ke warung Bumi.
Pagi datang, matahari cerah. Tetapi terasa seperti ada mendung di rumah Bintang dan Angkasa. Bukan hanya sarapan bersama, Bintang bahkan tidak keluar dari kamar tamu.
Tok
Tok
"Tang, ini aku buatkan sandwich buat kita sarapan. Bareng yuk." Angkasa sudah sungguh menyiapkan sarapan mereka.
Tetapi tidak mendapat jawaban dari balik kamar itu.
Bersambung...
Yaaah gak hamil
Gimana?
Angkasa kita cuekin dulu gak nih?
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......