Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Bilang, Boss!
"Eh, ngomong-ngomong, gue penasaran sama data tikungan ketiga lo tadi. Kayaknya ada yang aneh di situ," kata Aira membuka obrolan.
Sean langsung kembali bersemangat. Dia berdiri dan berjalan mendekati layar monitor tersebut. "Sini, sini! Gue juga penasaran. Tapi grafiknya terlalu kecil kalau dilihat dari jauh."
Aira melangkah mendekat. Sepasang matanya fokus menatap barisan garis grafik rumit yang terpampang di layar digital.
"Di sektor dua, grafik suspensi belakang lo naik drastis banget. Lo ngerasa ada getaran ane nggak pas di kemudi?" tanya Aira profesional.
Sean mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat kembali sensasi fisik saat dia memacu mobil di lintasan tadi. "Sedikit... tapi nggak terlalu mengganggu. Coba lo tunjukin sebelah mana yang aneh."
Karena grafik di layar monitor itu berukuran kecil dan letak layarnya terpasang agak tinggi di dinding, Aira melangkah maju untuk menunjuknya. Namun, Sean yang ingin melihat lebih jelas justru ikut maju dan berdiri tepat di belakang tubuh Aira.
Sean mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk ikut menyentuh layar, membuat tubuh tegapnya tanpa sadar mengurung punggung Aira dari belakang.
"Nah, bagian yang ini. Lihat gelombangnya?" bisik Sean. Suaranya terdengar rendah dan berat karena fokus pada data.
Aira baru tersadar posisinya terkunci pas dia refleks menoleh ke samping.
Sean berdiri dekat di belakangnya. Satu tangan cowok itu masih terangkat menunjuk layar monitor, sementara tangannya yang lain tampak bersandar kuat di atas meja konsol.
Posisi itu secara tidak sengaja telah mengurung tubuh Aira di dalam ruang sempit antara tubuh Sean dan meja.
Jarak wajah mereka berdua kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Hembusan napas Sean yang hangat terasa menerpa kulit leher Aira.
Napas Sean tertahan sebentar di tenggorokan. Menyadari dengan sangat jelas bagaimana binar mata jernih Aira memancarkan pesona alami yang sangat kuat dari jarak sedekat ini.
Aira sendiri merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat akibat kedekatan fisik yang sama sekali tidak dia duga ini.
Sebuah keheningan yang langsung turun menyelimuti ruangan. Bukan sebuah hening yang canggung, melainkan sebuah suasana intens yang sarat akan ketegangan yang mendadak mengunci pergerakan mereka.
BRAKK!
Pintu ruangan didobrak dengan sangat kasar, seketika menghancurkan keheningan intens tersebut.
Di ambang pintu, Evan berdiri mematung.
Sepasang mata elangnya berkilat murka, memancarkan aura cemburu yang begitu pekat hingga membuat atmosfer udara di dalam ruangan itu mendadak terasa sangat berat dan menekan dada.
Sean dan Aira tersentak kaget. Mereka dengan cepat langsung merenggangkan jarak, berusaha bersikap senormal mungkin.
Namun, keterlambatan sudah terlanjur terjadi. Evan sudah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri. Kedekatan fisik yang intim itu telah mengunci emosinya.
Evan melangkah masuk ke dalam ruangan. Gerakan kakinya terasa kaku dan dingin, berbunyi tegas di atas lantai, mengirimkan gelombang intimidasi yang nyata.
"Bagus sekali kelakuan kalian di belakang saya," ucap Evan datar.
Pria itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan Aira menatap lurus ke dalam manik mata istrinya. Sebuah tatapan mata yang sanggup membekukan aliran darah siapa saja.
"Aira, jaga batasanmu!" desis Evan tajam.
Dia menunjuk ke arah Sean sekilas dengan jari tangannya yang menegang, sebelum akhirnya kembali menatap wajah Aira dengan kilatan amarah yang membara.
"Semua orang di sirkuit ini tahu bagaimana statusmu sebagai istri sah saya! Jangan bertingkah aneh-aneh di depan umum! Jangan murahan! Apalagi sampai menempel sedekat itu dengan adik saya sendiri!" Nada suara Evan meninggi satu oktav.
"Semua kolega bisnis penting ada di sini. Kelakuan kalian bisa merusak nama baik keluarga! Kau bertanggung jawab penuh untuk menjaga citra saya!"
Mendengar kata terakhir itu, rahang Aira ikut mengeras. Kalimat "jangan murahan" yang keluar dari mulut Evan barusan benar-benar menampar harga dirinya dengan telak. Saraf sabarnya putus seketika.
"Jaga mulut lo ya, Evan Aryasatya!" potong Aira dengan suara bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Dia melangkah maju hingga jaraknya memotong ruang dominasi Evan.
"Siapa yang lo maksud murahan, hah?! Lo pikir gue cewek kayak gitu? Gue di sini kerja, bahas masalah mesin sama adik lo! Kalau otak dasarnya udah kotor, apa pun yang lo lihat pasti bakal kelihatan menjijikkan!"
Evan sempat tertegun sedetik. Dia tidak menyangka kata-katanya akan memancing kemarahan yang begitu besar dari mata istrinya.
"Kami berdua di sini cuma lagi membahas data teknis balapan!" lanjut Aira, napasnya memburu menahan emosi yang meluap.
"Emangnya hal kayak gitu salah di mata lo yang serba tahu ini? Apa gue harus minta izin tertulis dulu dari Tuan Muda cuma buat diskusi teknik?!"
Evan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat di sisi tubuh. Rahangnya mengeras menahan luapan emosi.
"Kau itu... istri saya!" desis Evan, lidahnya terasa sangat berat dan kelu saat harus mengucapkan kata itu secara langsung.
"Kewajibanmu adalah mematuhi semua aturan nama besar saya! Bukan malah bermain-main dengan adik saya di dalam ruangan tertutup seperti ini!"
"Duh, ada apa sih, Kak?"
Sean akhirnya ikut melangkah masuk ke dalam perdebatan panas itu. Cowok itu menyandarkan punggungnya di pinggiran meja, melemparkan sebuah senyuman sinis namun matanya menatap Evan dengan sangat dingin.
"Kaku banget sih hidup lo jadi orang. Santai aja kali," ejek Sean tanpa rasa takut.
"Kak Aira cuma bantu gue menganalisis data balapan tadi. Dia kelihatan jauh lebih nyaman dan bahagia kalau berada di dekat gue. Nggak kayak kalau lagi di dekat lo yang bawaannya selalu bikin tegang dan ketakutan."
Evan langsung menolehkan kepalanya dengan kilatan mata yang setajam elang ke arah adiknya.
"Diam, Sean! Kamu sama sekali tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan rumah tanggaku!" bentak Evan murka.
"Urusan rumah tangga?" Sean tertawa sinis, meremehkan bentakan itu. "Lo ngurung dia di dalam kegelapan paviliun satu minggu lo lupa? Sekarang lo ngamuk cuma karena dia ketemu sama orang yang nggak menyiksa dia? Logika lo udah rusak, Kak."
Aira mendengus sinis. Dia merasa sangat muak melihat pertengkaran dua saudara yang sama-sama memiliki watak sekeras batu ini.
Dia melemparkan pandangan mata yang penuh dengan rasa meremehkan ke arah wajah Evan. "Udahlah, Sean. Mendingan kita pergi aja dari sini," kata Aira dingin. "Nggak ada gunanya meladeni orang kaku yang kesombongannya udah melebihi kapasitas otaknya sendiri."
Tanpa ragu, Aira langsung menggandeng tangan Sean dengan erat. Dia menarik tubuh adik iparnya itu untuk berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Melihat bagaimana jemari tangan Aira bertautan erat dengan tangan adiknya sendiri, ada sesuatu di dalam diri Evan yang mendadak terputus seketika.
Evan menerjang maju ke depan. Tangannya bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Aira yang satunya lagi dengan sangat kuat.
"Mau ke mana kalian?!" geram Evan dengan suara yang bergetar karena menahan amarah. "Lepaskan tangan Sean sekarang juga!"
Aira menepis cengkeraman tangan itu dengan satu sentakan yang sangat kuat. Sepasang matanya menantang balik sorot mata suaminya.
"Bukan urusan lo!" balas Aira keras.
Sean ikut melempar senyuman sinis. "Sejak kapan lo jadi peduli banget sama keberadaan Kak Aira, hah? Bukannya kemarin lo sendiri yang mengisolasi dia kayak hantu?"
Aira menghempaskan tangan Evan sekali lagi dengan kekuatan penuh, lalu dengan cepat menarik tubuh Sean untuk melangkah keluar dari ruangan tersebut.
BRAKK!
Pintu panel tebal itu ditutup dengan satu bantingan keras, meredam sebagian suara gemuruh riuh dari area koridor sirkuit.
Evan menundukkan kepalanya, menatap kosong ke arah telapak tangan kanannya sendiri. Tangan yang baru saja digunakan untuk mencengkeram pergelangan tangan Aira secara paksa.
Pria itu benar-benar merasa bingung. Frustrasi setengah mati.
Sejak kapan dirinya berubah menjadi pria impulsif yang gampang hilang kendali seperti ini?
Kenapa dadanya harus selalu terasa sesak dan panas setiap kali melihat Aira melemparkan senyuman bebasnya untuk pria lain?
Perasaan sialan ini datang begitu saja di dalam hidupnya tanpa diundang. Merusak seluruh tatanan logika bisnisnya yang biasanya tersusun dengan sangat rapi, dan sukses membuatnya harus menelan kekalahan telak dari egonya sendiri.