NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga psikopat

Mobil sport Lucian masuk ke halaman mansion megah keluarga St. Claire saat pagi hari. Pria itu keluar dengan langkah agak gontai. Penampilannya tampak sangat berantakan, kemeja hitamnya kusut dengan gulungan lengan di atas siku, beberapa helai rambut jatuhnya tak beraturan menutupi dahi, dan sebuah goresan tipis yang masih meneteskan sisa darah terlihat di tulang pipi kirinya.

Ia melangkah masuk melalui pintu samping menuju ruang keluarga utama. Di sana, pemandangan hangat menyambutnya. Eleanor sedang bersandar manja di dada Reginald, sementara pria paruh baya berkharisma itu mengusap lembut bahu istrinya seraya membaca dokumen. Keluarga St. Claire memang sangat terkenal di kalangan elit atas keharmonisan mereka yang luar biasa.

Suara langkah kaki Lucian membuat Eleanor menoleh. Begitu melihat kondisi putranya yang compang-camping dan berdarah, Eleanor seketika bangkit berdiri.

"Lucian! Kenapa dengan wajahmu?!" pekik Eleanor cemas, melangkah cepat dan memegang kedua pipi anaknya untuk memeriksa bekas goresan itu.

Lucian hanya menatap ibunya dengan santai. Jemarinya bergerak lincah memperagakan bahasa isyarat "Sudah biasa, Mom. Mommy tidak perlu sekhawatir itu."

Eleanor menghela napas panjang, merapikan rambut Lucian yang berantakan dengan raut wajah gusar. "Bukan itu masalahnya, Son! Seharusnya kamu menyuruh asisten Daddy-mu saja untuk menyelesaikan tikus-tikus pengganggu itu, atau biarkan Daddy-mu saja yang turun tangan. Mulai malam ini sampai seminggu ke depan, Mommy melarangmu membasmi tikus! Kamu mau menikah, Lucian. Wajahmu harus mulus dan tampan saat diusap kamera nanti!"

Lucian hanya mengangguk pasrah.

"Sudah, duduk dulu. Ada yang mau Mommy tanyakan," panggil Eleanor seraya menarik baju lengan Lucian.

"Gimana fitting baju pengantin tadi sama Celeste?" tanya Eleanor penasaran.

Kali ini Lucian tidak menggunakan bahasa isyarat. Pria itu merogoh ponselnya dan mengetik balasan dengan cepat.

[Lucian: Semuanya lancar, Mom.]

"Lalu... gimana pendapatmu tentang Celeste?" cecar Eleanor lagi, menatap putranya lekat-lekat.

[Lucian: Tidak tahu. Aku baru sebentar mengenalnya. Tapi dia tidak buruk... cantik dan sopan. Berbeda dengan kebanyakan wanita di luar sana.]

Eleanor tersenyum puas. "Celeste memang yang terbaik untuk bersanding dengan keluarga ini. Mommy hanya perlu memoles beberapa hal saja supaya dia makin siap berdiri di samping wanita-wanita konglomerat lainnya, biar dia tidak mempermalukanmu di acara bisnis nanti."

Reginald, yang sejak tadi menyimak, menaruh dokumennya ke meja. "Kenapa kamu mendadak setuju pengantinnya diganti jadi Celeste? Bukankah dari awal kamu menolak mentah-mentah perjodohan dengan keluarga Delacroix?"

Lucian menatap ayahnya, lalu mengetik cepat.

[Lucian: Karena Celeste memang target awal dan tujuanku menerima perjodohan ini.]

Reginald menaikkan sebelah alisnya, makin bingung. Bukankah anaknya ini bertahun-tahun selalu menghindari wanita?

Sebelum Reginald sempat bertanya lebih jauh, Eleanor terkekeh pelan. Wanita itu kembali duduk di samping suaminya dan memeluk lengan Reginald dengan penuh kepuasan. "Sayangku... putra kita yang satu ini sudah menghilangkan keperawanan Celeste dua malam lalu. Makanya dia langsung mau tanggung jawab!"

Deg!

Reginald terkejut bukan main. Matanya membelalak menatap Lucian dengan raut horor. "Apa?! Bukannya kamu trauma dengan sentuhan wanita, Lucian? Bagaimana bisa kamu melakukan hal sejauh itu?!"

Lucian sendiri tak kalah terkejut. Matanya melebar menatap ibunya, lalu dengan cepat mengetik di ponsel.

[Lucian: Mommy tahu dari mana?!]

Eleanor mengangguk santai. "Tadi di rumah sakit, Mommy hampir saja mengira dia perempuan nakal karena bekas di leher dan pemeriksaan fisiknya. Tapi setelah tahu kalau yang melakukannya itu kamu... tentu saja Mommy bahagia luar biasa! Anak Mommy ternyata jantan dan mau bertanggung jawab tanpa disuruh."

Reginald mengelus dadanya yang berdebar, lalu menatap Lucian serius. "Lalu bagaimana dengan traumamu, Son?"

Lucian terdiam sejenak. Sorot matanya berubah rumit saat mengingat sensasi malam itu. Jemarinya kembali bergerak di atas layar ponsel.

[Lucian: Saat menyentuh Celeste... tidak ada gejala serangan panik atau mual sama sekali, Dad. Semuanya terasa biasa saja, sama seperti saat aku menyentuh Mommy atau Kak Vio. Itu yang membuatku heran.]

Eleanor tersenyum hangat, mengulurkan tangannya untuk menepuk lembut paha Lucian. "Mungkin dia memang takdirmu, Son."

Lucian tertegun. Pria itu menunduk menatap ponselnya, meresapi ucapan ibunya dengan debaran halus yang aneh di dalam dadanya.

"Oh ya, satu lagi," lanjut Eleanor memecah keheningan. "Nanti kalau Celeste sudah pindah ke rumahmu, kamu harus menambahkan kaca penahan sinar matahari di seluruh jendela mansionmu. Dan juga... buatkan satu ruang lukis khusus yang besar, karena calon istrimu sangat suka melukis."

Lucian mengerutkan dahi kebingungan. Pria itu langsung mengetik balasan.

[Lucian: Kenapa begitu, Mom? Kenapa harus diganti dengan kaca khusus penahan sinar matahari?]

"Turuti saja," potong Eleanor lembut namun tegas. "Itu syarat dari Celeste supaya dia mau tinggal bersamamu. Lakukan saja"

Eleanor tentu tahu alasan medis di balik Xeroderma Pigmentosum yang diidap Celeste, namun ia sudah berjanji pada perempuan itu untuk menjaga rahasianya sampai Celeste sendiri yang siap bercerita. Lucian mengangguk pelan, meski di dalam benaknya mulai tumbuh rasa penasaran yang mendalam tentang rahasia calon istrinya itu.

Tiba-tiba, raut wajah Reginald berubah serius. "Tapi ada sedikit masalah perihal pergantian pengantin ini, Lucian. Jika Grandpa tahu pengantinmu ditukar, dia tidak akan menerimanya. Target awal aliansi bisnis kita adalah Caelia. Jika Grandpa sampai tahu, Celeste bisa berada dalam bahaya besar."

Lucian menghela napas panjang dan berat. Vane St. Claire, kakeknya yang berhati dingin dan penguasa tertinggi klan. Kenapa ia bisa melupakan sosok yang paling rumit dan berbahaya di keluarga ini? Walaupun sudah tua, pria itu masih sangat kuat dan menakutkan. Entahlah! apa yang pria tua itu konsumsi hingga masih kuat sampai sekarang.

"Selama kita tidak membocorkan bahwa pengantinnya sudah tertukar, semua akan aman-aman saja," sahut Eleanor tenang. "Kita hanya perlu menyuruh Celeste berpura-pura menjadi Caelia di depan Grandpa."

"Apa Celeste akan mau, Mom?" tanya Reginald ragu. "Sepertinya dia tidak menyukai hidup yang selalu berputar di bawah bayang-bayang kembarannya. Setelah Daddy menyelidiki latar belakangnya, Celeste selalu diabaikan di rumahnya sendiri dan dibanding-bandingkan."

"Biar Mommy yang bicara dengannya nanti," kata Eleanor mantap.

Suara langkah kaki yang tidak teratur dari arah pintu belakang mansion mengalihkan perhatian mereka semua. Dari balik lorong, muncul seorang anak laki-laki berusia 7 tahun dengan kaos putih yang berlumuran darah segar.

Eleanor, Reginald, dan Lucian menghela napas berat bersamaan. Mereka tahu betul itu bukan darah anak tersebut. Di belakang anak itu, melangkah Jiro, asisten pribadi Reginald dengan setelan jas yang rapi.

"Mommy...!" Leo, putra bungsu keluarga St. Claire, berlari kecil dan langsung menghambur memeluk Eleanor secara manja.

"Aku gagal lagi, Mom..." bisik Leo dengan bibir cemberut.

Eleanor tidak jijik sedikit pun dengan noda darah di baju anaknya. Wanita itu justru tersenyum manis dan mengusap lembut rambut Leo penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, Sayang. Kita bisa coba lagi nanti, ya? Waktumu masih sangat panjang."

"Tapi aku mau cepat-cepat seperti Mommy, Daddy, dan Kakak-kakak yang lain..." gumam Leo polos.

"Besok Daddy sendiri yang mengajarimu latihan menembak dan pisau, ya?" janji Eleanor, membuat Leo mengangguk bersemangat.

Reginald memandang ke arah Haris. "Bagaimana perkembangannya, Jiro?"

Haris membungkuk hormat. "Tuan Muda Leo masih meleset dalam menembak target bergerak dan tebasan pisaunya kurang rapi, Tuan Reginald. Walaupun begitu, pergerakannya sudah jauh lebih cepat dari minggu lalu."

Reginald mengangguk-angguk paham.

Melihat kekejaman terselubung dan darah yang menjadi hal biasa di keluarga ini, pikiran Lucian mendadak melayang pada insiden telepon di studio gaun pengantin tadi. Ia teringat betapa pucat dan takutnya raut wajah Celeste saat mendengar pembicaraan tentang penyerangan klan.

Dengan helaan napas berat, Lucian merogoh ponselnya dan mengetik pesan untuk orang tuanya.

[Lucian: Celeste... sepertinya sudah tahu kalau keluarga kita adalah penguasa dunia bawah.]

Membaca pesan singkat dari Lucian di layar ponsel, suasana di ruang keluarga yang semula hangat seketika berubah tegang.

Eleanor menghela napas panjang, menatap putranya dengan mata yang amat lembut. "Kalau Celeste memang sudah mendengarnya... sekarang semuanya tergantung pada dirinya sendiri. Apakah dia mau menerima dunia kita, atau tidak."

Reginald menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat tangan di dada dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat dingin dan serius.

"Kamu ingat apa yang terjadi pada mantan istri kakakmu, Dominic?" tanya Reginald dengan suara berat yang menekan.

Lucian membeku, menatap ayahnya tanpa berkedip.

"Wanita itu tidak bisa menerima kenyataan tentang keluarga kita," lanjut Reginald tanpa keraguan. "Dia ketakutan, panik, dan berniat membocorkan rahasia klan ini ke luar. Pada akhirnya... Dominic sendiri yang harus mengakhiri hidup istrinya demi melindungi keselamatan seluruh keluarga besar St. Claire. Jika seorang wanita yang tahu rahasia ini berkeliaran bebas di luar sana tanpa komitmen, dia adalah ancaman mematikan."

Reginald menatap mata Lucian dengan tajam. "Peraturan itu tidak pernah berubah, Lucian. Peraturan itu juga berlaku untuk calon istrimu nanti. Jika Celeste menolak duniamu dan berniat lari, kamu harus siap untuk memusnahkannya dengan tanganmu sendiri. Itu adalah syarat mutlak jika seseorang ingin melangkah masuk atau keluar dari keluarga ini."

Dengan gerakan jemari yang agak kaku, Lucian mengetik balasannya di ponsel.

[Lucian: Entahlah. Terlalu dini untuk menyimpulkannya sekarang, Dad.]

"Tanyakan padanya sekarang," potong Reginald tegas, tak memberi celah. "Tanyakan sebelum perasaan di antara kalian tumbuh. Sebab jika perasaan itu sudah terlanjur mengakar, akan sangat berat bagimu untuk menarik pemicu senjata itu kelak."

Entahlah! Apa ia bisa membuka hati untuk calon istrinya itu? Kalau di pikirkan sangatlah sulit mengingat dia tidak nyaman bersama dengan perempuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!