Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28: Ombak Baru dari Jakarta
Sepuluh hari berlalu tanpa serangan terbuka.
Luka di lengan Arya sudah menutup. Jahitan dilepas pagi itu, menyisakan garis merah tipis. Ia baru kembali ke PE ketika Rani memberitahu seorang konsultan investasi dari Jakarta menunggu dengan janji resmi.
"Pak Yordan," kata pria berjas abu-abu ketika masuk ke kantor Anindya. "Saya mewakili kelompok investor media yang tertarik membantu PE melewati masa transisi."
Kata `membantu` diucapkan dengan kehangatan seorang dokter. Map yang ia letakkan di meja justru setebal berkas operasi.
Anindya membuka halaman ringkasan. "Suntikan modal Rp300 miliar dengan valuasi di atas pasar. Sangat murah hati."
"Kami percaya potensi PE belum tercermin dalam harga saat ini."
Arya duduk di samping, membaca diam-diam. Investor tidak meminta mayoritas saham. Hanya dua puluh lima persen melalui penerbitan baru. Angka yang tampak aman.
Lalu ia menemukan tiga klausul.
Hak veto atas anggaran produksi. Hak menunjuk kepala keuangan. Dan opsi membeli saham tambahan jika Bramantyo dinyatakan bersalah.
"Modalnya masuk sebagai ekuitas," kata Arya. "Namun opsi ini bisa membawa investor melewati lima puluh persen saat perkara Pak Bramantyo selesai."
Yordan tersenyum. "Hanya perlindungan risiko. Kalau keluarga Prawira stabil, opsi tidak dipakai."
"Hak veto anggaran membuat PE tidak bisa bergerak tanpa persetujuan Anda sejak hari pertama," ujar Anindya.
"Itu tata kelola bersama."
"Tidak. Itu kendali tanpa membeli kendali."
Yordan tidak kehilangan ketenangan. "Bu Anindya, beberapa mitra nasional baru saja meninggalkan PE. Sengketa keluarga Halim juga menimbulkan pertanyaan. Penawaran ini mungkin tidak tersedia selamanya."
"Ancaman yang dibungkus tenggat tetap ancaman," kata Arya.
"Saya tidak bermaksud mengancam, Pak Arya. Saya hanya menyampaikan realitas pasar."
"Realitas pasar tidak masalah. Klausul tersembunyi yang menjadi masalah."
Arya membalik proposal ke halaman empat puluh dua. Biaya konsultasi tahun pertama wajib dibayar kepada perusahaan terkait investor, nilainya hampir menyamai sebagian bunga pinjaman bank.
"Anda memberi modal dengan satu tangan dan mengambilnya kembali melalui biaya dengan tangan lain."
Untuk pertama kali, senyum Yordan menegang.
Anindya menutup map. "PE tidak menerima."
"Saya sarankan Ibu membicarakan dengan dewan."
"Saya direktur utama dan Pak Arya memegang suara pengendali. Jawaban kami sudah mewakili kewenangan yang diperlukan."
Yordan berdiri. "Tentu. Proposal ini tetap berlaku tujuh hari bila Anda berubah pikiran."
"Rani akan memberi tanda terima dan mengantar Anda keluar," kata Anindya.
Yordan tidak langsung bergerak. "Boleh saya tahu rencana pendanaan alternatif PE? Kas produksi akan menipis dalam dua kuartal jika semua proyek berjalan."
"Informasi internal," jawab Anindya.
"Investor kami bisa menaikkan penawaran menjadi Rp350 miliar. Hak veto dapat dibatasi pada belanja di atas Rp20 miliar."
Arya menatapnya. Kenaikan lima puluh miliar diberikan tanpa satu panggilan kepada prinsipal. Itu berarti ruang negosiasi sudah disiapkan sejak awal, dan target mereka bukan imbal hasil biasa.
"Kalau dana Anda benar-benar hanya mencari keuntungan," katanya, "Anda tidak akan menaikkan harga sebelum kami menunjukkan kebutuhan."
Yordan merapikan manset. "Kami bergerak cepat."
"Tidak. Anda ingin masuk cepat. Itu berbeda."
Anindya mendorong map ke tepi meja. "Jawaban tetap tidak. Jika klien Anda ingin menawarkan kerja sama tanpa hak mengambil kendali, kirim struktur baru melalui legal. Jangan gunakan tenggat tujuh hari untuk menekan kami."
Kini Yordan berdiri. Ia tetap tersenyum, tetapi bola matanya tidak lagi ramah.
Tak ada penghinaan, tak ada suara tinggi. Yordan datang dengan prosedur dan keluar melalui prosedur yang sama. Namun sebelum pintu menutup, ia melihat Arya sekali lagi, seolah memastikan wajah seseorang yang harus dilaporkan.
Kevin masuk dari pintu samping beberapa menit kemudian. "Gue dapat salinan digital dari Rani. Metadata dokumennya menarik."
Ia menampilkan nama perusahaan pembuat berkas. Bukan firma Pak Yordan, melainkan PT NCM, PT Nusantara Cipta Media.
"Pemiliknya Bos Gunawan," kata Kevin. "Kapital media Jakarta. Televisi lokal, jaringan portal berita, perusahaan iklan, dan banyak kepemilikan kecil yang tidak muncul memakai namanya sendiri."
Anindya mengerutkan dahi. "Kenapa dia memakai konsultan?"
"Agar kalau kita menolak, ia belum terlihat menyerang. Kalau menerima, kontrol berpindah melalui kontrak sah."
Kevin menampilkan bagan dana. Kode akun anonim dari kontrak iklan Bab sebelumnya terhubung ke salah satu kendaraan investasi yang dikelola pihak dekat NCM.
"Tangan tak terlihat itu punya nama," ujar Arya.
"Dan tangannya panjang," jawab Kevin. "Dia juga baru membeli utang kecil Grup Sinema Halim melalui pihak ketiga."
Itu menjelaskan keberanian Reno.
Rani mengetuk pintu dan menyerahkan pesan lain. "Ada kabar dari jaringan artis. Bella menerima tawaran proyek baru dari investor yang belum disebutkan. Mereka menjanjikan kampanye pemulihan citra dan dua film."
"Siapa penghubungnya?" tanya Anindya.
"Agensi dari Jakarta. Jejak pembayarannya belum jelas."
Kevin meminta detail lalu mencocokkannya. Rekening uang muka proyek Bella pernah menerima dana dari perusahaan yang juga membayar biaya perjalanan Pak Yordan.
"Gunawan," katanya.
Anindya memandang foto Bella pada berkas. "Dia sedang membeli orang-orang yang punya luka terhadap kita."
"Bella mungkin tidak tahu," kata Arya.
"Tidak tahu tetap bisa membuatnya berbahaya."
Arya mengangguk. Kali ini ia tidak membela mantan istrinya, hanya membedakan niat dan fungsi.
Malam turun ketika Kevin membawa seluruh data ke markas. Ia menelusuri struktur NCM, hubungan kontrak, dan riwayat proyek yang bersinggungan dengan Grup Adiwangsa. Satu pola muncul: tiga perusahaan yang pernah menyerang usaha Wisnu dalam enam tahun terakhir menerima dukungan media dari jaringan Gunawan.
"Ini bukan pertama kali," kata Kevin. "Dia sudah mengitari bisnis Pak Wisnu lama sebelum lo masuk PE."
Arya membandingkan tanggal. Setiap serangan terjadi ketika Wisnu mencoba membuka proyek pelabuhan atau mengakses arsip lama terkait perusahaan riset.
Anindya berdiri di belakang kursi. "Jadi PE hanya jalan masuk."
"Mungkin," jawab Arya.
Kevin memperbesar peta hubungan. "Gunawan tidak membeli seperempat PE karena suka film. Kalau opsi saham aktif, dia bisa memakai perusahaan untuk memotong jalur dana, mengawasi komunikasi keluarga, dan menekan orang yang dekat dengan Wisnu."
"Target sebenarnya bukan saya," kata Anindya.
"Bukan juga gue," sambung Arya.
Semua garis di layar menuju satu nama.
Wisnu Adiwangsa.
Arya menutup proposal investasi. Di luar jendela, lampu Surabaya menyala, sementara arah Jakarta hanya tampak sebagai gelap di ujung jalan dan jalur penerbangan.
Serangan Halim adalah pukulan anak manja. Yang datang sekarang adalah perang yang dibangun dengan saham, media, dan orang-orang terluka.
"Kalau dia mengincar ayah saya," ujar Arya pelan, "saya akan ikut bertarung sampai akhir."
Di layar Kevin, satu transfer baru masuk ke rekening agensi yang mengelola Bella.
Ombak dari Jakarta akhirnya menyentuh Surabaya.