NovelToon NovelToon
Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Istri Terbuang, Sang Imperatrix

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Lari dari Pernikahan / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anna Brenda

Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.

Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.

Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.

Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Restoran Bar Itu

Aurora memasuki mansion bagai badai, rambut acak-acakan dan matanya berkilat oleh amarah.

Tempat yang tadinya merupakan ruang keanggunan dan ketenangan berubah menjadi medan perang. Ia tak berpikir dua kali sebelum melempar benda pertama yang ia temukan: sebuah vas keramik berukir, yang melayang melintasi ruangan seakan punya nyawa sendiri. Benturannya begitu dahsyat; vas itu pecah berkeping-keping saat menghantam layar televisi, yang berkedip sekali terakhir sebelum padam selamanya.

"Dasar keparat! Aku akan menghancurkan wajah sempurnamu itu!" Ia menjerit, suaranya menggema di dinding-dinding kosong mansion.

Keheningan yang menyusul seolah bersekongkol dengan kegeramannya, memperbesar kesunyian yang mengelilinginya. Aurora membiarkan dirinya terjatuh ke sofa, tubuhnya berat oleh campuran frustrasi dan tekad.

Dengan gerakan kasar, ia menyalakan cerutu, asapnya membubung perlahan dalam pusaran sementara pikirannya bergolak.

Sambil mengisap cerutu, pikirannya berputar seputar Roxanna, perempuan yang telah menginjak-injak martabatnya dan sekarang menjadi saingan terbesarnya dalam cinta, dan kini seolah menjadi sumber seluruh penderitaannya.

Tatapannya terpaku pada layar ponselnya ketika sebuah ide cemerlang muncul di benaknya.

"Aku sudah tahu! Aku sudah tahu siapa dia!!" Ia berseru, nyaris menertawakan kejeniusannya sendiri.

Ia mengambil ponsel dan mengetik cepat di situs pencarian,

"Wakil presiden grup Vogue Vibe."

Berita di hari nahas itu kembali muncul, ketika Roxanna dipecat dengan tuduhan ketidakprofesionalan. Aurora ingat betul koran yang ia baca saat kembali ke tanah air: tajuk skandal itu memampang wajah sang mantan wakil presiden dengan ekspresi campuran keterkejutan dan kemarahan.

Senyum jahat terbentuk di bibir Aurora sementara ia menatap gambar Roxanna di layar.

"Aku akan menghancurkanmu, Adie... atau Roxanna. Bagaimana reaksi si tolol Chris begitu sadar kau bukan orang seperti yang kaukatakan?" gumamnya pada diri sendiri, pikirannya sudah menyusun rencana rumit untuk menghancurkan hidup perempuan yang ia anggap musuh nomor satunya.

Ruangan itu masih berselimut pecahan dan asap, tapi bagi Aurora, itu baru permulaan sebuah permainan yang jauh lebih berbahaya.

Ia menggenggam ponselnya erat-erat, jantungnya berdenyut oleh gairah sekaligus amarah.

Setelah mencari, ia menemukan situs perusahaan itu dan mendapatkan nomor sang presiden.

Ia menarik napas dalam, berusaha mengendalikan adrenalin yang mengalir di pembuluh darahnya, lalu menekan tombol panggil. Nada sambung itu terdengar bagai isyarat bagi benaknya yang gelisah, tapi tak lama kemudian sebuah suara yang tak asing menjawab dari seberang.

"Presiden Selenko," suara itu tegas dan lugas, tapi ada nada penasaran yang tak bisa Aurora abaikan.

"Kurasa kita punya musuh bersama," jawabnya, nadanya sarat tekad yang nyaris terasa nyata.

Percakapan yang tengah berlangsung itu menjanjikan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perselisihan pribadi; itu adalah pertanda sebuah persekutuan yang bisa mengubah segalanya.

* * *

Sementara itu, di Havencity, Roxanna berada di sebuah ruang rahasia, sebuah tempat berlindung yang Chris ciptakan di ruang kerjanya untuk momen-momen tenang jauh dari hiruk-pikuk dunia.

Ia mengamati Chris di dapur kecil, sementara pria itu menyiapkan sesuatu yang sederhana dan lezat.

Aroma jus mint yang ia teguk berbaur dengan wangi makan malam yang sedang dimasak.

Chris berbicara tentang masa lalunya bersama Aurora, suaranya sarat kenangan.

"Aku bertemu Aurora di universitas. Dia perempuan yang begitu cantik." Katanya, matanya hanyut dalam kenangan. "Aku terpesona olehnya... tapi dia mengabaikanku."

Roxanna menyimak dengan saksama, merasakan pedih dalam kata-katanya.

"Yang paling berharga yang kupunya cuma sepeda dan satu impian: memiliki usahaku sendiri."

"Dan kau masih menyimpan sepeda itu?" Roxanna tersenyum mendengar soal sepeda itu.

"Ada di apartemenku." Jawabnya dengan senyum nostalgia tipis. "Tapi tak lagi kupakai."

"Aku ingin berkeliling denganmu naik sepeda itu." Ia bergurau, mencoba mencairkan ketegangan di udara.

Pria itu menghentikan gerakannya di dapur dan memandangnya dengan kilat nakal di mata.

"Dalam kondisi hamil?" tanyanya.

Roxanna tersenyum malu dan menggumamkan sesuatu yang tak jelas terdengar oleh Chris.

Chris melanjutkan menyiapkan makan malam sambil bercerita tentang hubungan mereka.

"Akhirnya, setelah aku mulai menghasilkan uang dari restoran ini, dia meliriku." Katanya, suaranya kini lebih lembut. "Aku senang karena perempuan yang kucintai akhirnya memperhatikanku."

Roxanna mendengarkan semuanya tanpa menyela, menyerap tiap kata sementara Chris melanjutkan kisah tragisnya tentang Aurora.

"Hubungan kami berkembang sampai dia bilang dia hamil... Aku melamarnya dan dia menjawab, 'Ya... tapi sampai aku menemukan seseorang yang lebih baik darimu.'" Suaranya menjadi sedih saat mengenang hari nahas itu. "Dia menghilang di hari pesta pertunangan kami. Dan bersamaan dengan itu, dia membunuh anak kami demi uang."

Hati Roxanna mencengkeram mendengarnya; ia mendekat dan memeluk Chris, merasakan pedihnya seakan pedihnya sendiri. Chris berbisik,

"Boleh aku...?" tanyanya.

Roxanna bisa merasakan pedih dalam suaranya.

Ia mengangguk dengan senyum lembut lalu menuntunnya, menggenggam tangan pria itu ke sofa, dan menyingkap blusnya, memperlihatkan perutnya yang masih rata.

Ia menyentuh kulit Roxanna dengan lembut, merasakan tautan yang tak terjelaskan bahkan sebelum kehamilan itu lebih tampak.

Getar menjalar di sekujur tubuh Roxanna saat merasakan telapak tangan hangat pria itu.

Sementara mengamati wajah tampan pria itu, Roxanna tak kuasa menahan diri dan mencondongkan tubuh untuk mencium bibirnya lembut.

Chris membawa tangannya ke tengkuk Roxanna, memperdalam ciuman itu sambil berbisik,

"Aku jatuh cinta padamu!"

Keduanya saling menatap dalam-dalam; seakan waktu berhenti pada momen ajaib itu.

Jari-jari Roxanna menyusuri wajah pria itu sementara ia berbisik,

"Aku juga... tak tahu kapan atau bagaimana, tapi melihatmu bersamanya di ruang tadi membuatku ingin menjejalkan wajahnya ke dalam piring. Aku cemburu."

"Jadi kau tidak keberatan aku sudah terikat?" Ia menggoda, teringat keberanian Roxanna saat makan malam bersama Aurora.

Roxanna mengedipkan mata dan tersenyum sambil mengangkat bahu.

Chris tersenyum lebar, memperlihatkan lesung pipitnya sementara Roxanna menyentuh salah satunya dengan lembut.

"Aku rela menukar segala yang kupunya dalam hidupku, andai aku mengenalmu lebih dulu dan bayi ini adalah anakmu." Ia mengaku.

Chris mencium kening Roxanna penuh sayang dan mengungkapkan,

"Nama restoran ini bukan penghormatan untuknya... tapi untuk perempuan yang membesarkanku: Aurora Bytter. Akan kuceritakan tentangnya nanti."

Roxanna tertawa lega sambil menautkan jari-jarinya ke jari-jari Chris,

"Syukurlah! Aku sudah memikirkan cara membujukmu untuk menghapus nama itu dari pintu masuk restoran."

Mereka bertukar senyum penuh pengertian hingga Roxanna berbisik di telinga pria itu,

"Kurasa makanannya bisa gosong."

Chris cepat-cepat bangkit, berlari ke dapur kecil dengan senyum berseri di wajahnya.

Pada momen yang ringan dan menyenangkan itu, Roxanna akhirnya sadar bahwa ia telah menemukan rumahnya — dan rumah itu adalah Chris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!