Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Yang Terjadi Malam Itu
"Kamu berani?"
Mata Bram turun ke bibir Laras.
Tak ada lagi tawa di wajahnya. Telapak tangannya tetap menempel pada pintu di sisi kepala Laras, tetapi jarak di antara mereka terasa berubah. Seolah satu kalimat barusan telah mengunci koridor itu dan membuang kuncinya.
"Jangan nantang orang kalau kamu sendiri mau kabur," katanya.
"Siapa yang mau kabur?"
Laras menyesali jawaban itu begitu keluar. Namun suara Radit dari balik pintu kembali terdengar, lembut dan memanjakan perempuan yang bukan tunangannya.
Rasa malu dalam dada Laras berubah menjadi sesuatu yang panas.
Ia meraih kerah kemeja Bram, menarik lelaki itu turun, lalu berjinjit.
Bibirnya berhenti hanya sejengkal dari bibir Bram.
Ini seharusnya sekadar gertakan. Sebuah cara untuk menghapus senyum menyebalkan di wajah adik tunangannya. Setelah itu Laras akan mendorongnya, berbalik, dan pergi dengan harga diri yang masih tersisa.
Bram tidak bergerak.
"Yakin?" tanyanya pelan.
Laras menatap matanya. "Takut sama abangmu?"
"Aku cuma kasih kamu kesempatan terakhir buat berubah pikiran."
"Aku nggak butuh kesempatan darimu."
Laras menutup jarak itu lebih dulu.
Ciumannya kaku, singkat, dan penuh kemarahan. Ia bahkan belum sempat menarik diri ketika tangan Bram berpindah ke belakang kepalanya.
Lelaki itu menciumnya kembali.
Bukan lagi gertakan.
Punggung Laras menekan pintu. Di sisi lain, Radit memanggil nama Tiara. Di sisi ini, adik kandungnya memperdalam ciuman dengan kesabaran yang justru terasa lebih berbahaya daripada tergesa-gesa.
Jari Laras masih mencengkeram kerah kemeja hitam itu. Ia seharusnya mendorong. Sebaliknya, jemarinya menarik lebih kuat.
Bram berhenti lebih dulu.
Napas mereka bertabrakan. Matanya menelusuri wajah Laras, memastikan sesuatu yang tidak ia ucapkan.
"Masih mau bilang ini cuma balas dendam?"
"Jangan terlalu percaya diri."
"Bagus." Ujung ibu jarinya menyapu sudut bibir Laras. "Berarti kamu masih bisa berpikir."
"Dan aku sedang berpikir kamu banyak bicara."
Senyum Bram kembali, tipis dan liar. "Kamar sebelah kosong."
Laras menoleh sekilas ke pintu di belakangnya.
Ia tahu keputusan ini buruk. Sangat buruk. Ia mengenal semua kata yang bisa dipakai orang untuk menghakiminya. Tunangan. Calon kakak ipar. Nama baik keluarga. Seorang pianis dengan citra nyaris tanpa cela.
Namun Radit telah lebih dulu mengubah pertunangan mereka menjadi kebohongan.
Laras menatap Bram lagi. "Tunjukkan jalan."
Bram tidak bertanya dua kali.
Ia menggenggam tangan Laras dan membawanya menyusuri koridor. Mereka hanya melewati satu pintu. Kartu akses menyentuh panel, lampu hijau menyala, lalu Laras ditarik masuk ke dalam suite sebelum suara dari ruang sebelah sempat mengejar.
Pintu menutup.
Musik pesta lenyap.
Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri di foyer yang gelap. Laras bisa mendengar napasnya sendiri dan detak jam dinding yang terlalu pelan. Bram tidak menyentuhnya lagi. Ia menyalakan satu lampu di dekat sofa, lalu menyandarkan pinggang ke meja konsol.
"Kamu bisa pergi," katanya.
Laras menatap pintu. Tidak ada yang menghalanginya.
Ia bisa kembali ke kamarnya, mencuci bibir, dan berpura-pura beberapa menit terakhir tidak pernah terjadi. Besok pagi ia masih bisa duduk di samping Radit saat sarapan. Masih bisa tersenyum di depan orang tua mereka. Masih bisa menjadi Laras Ayu Wirasena yang tidak pernah membuat skandal.
Ponselnya terasa dingin dalam genggaman. Galerinya kosong.
"Kalau aku pergi," katanya, "kamu akan mengembalikan videonya?"
"Nggak."
"Kalau aku tinggal?"
"Juga nggak."
"Brengsek."
"Baru sadar?"
Laras meletakkan ponselnya di meja. "Aku benci wajahmu."
Bram mengangguk ke arah pintu. "Pintunya masih di sana."
Laras justru melangkah mendekat.
Kali ini, ketika ia mencium Bram, tidak ada pintu tipis yang memisahkan mereka dari Radit. Tidak ada penonton dan tidak ada alasan yang bisa dipakai untuk menyamarkan pilihannya.
Bram menahan pinggangnya, tetapi sekali lagi berhenti sebelum menarik Laras lebih dekat.
"Laras."
Itu pertama kalinya malam ini ia memanggil namanya tanpa ejekan.
"Aku nggak akan menebak-nebak," lanjutnya. "Kalau kamu mau berhenti, bilang."
"Kalau aku mau lanjut?"
"Jangan menyesal besok."
"Besok urusan besok."
Jawaban itu cukup.
Ciuman berikutnya tidak lagi ragu. Mereka tersandung melewati sofa, tertawa pendek saat bahu Bram membentur sisi pintu kamar, lalu kembali saling menarik sebelum jarak sempat terbentuk. Kemarahan Laras, rasa terhina, dan adrenalin bercampur menjadi arus yang tak memberinya ruang untuk berpikir panjang.
Di kamar, cahaya dari jendela jatuh pucat di atas seprai. Laras merasakan jemari Bram berhenti pada ritsleting gaunnya.
"Terakhir kali," katanya, napas berat. "Yakin?"
Laras berbalik. Ia menatap lelaki yang selama ini hanya dikenalnya sebagai adik Radit yang liar, jarang muncul di acara keluarga, dan terlalu senang membuat orang lain tidak nyaman.
Malam ini, untuk pertama kalinya, Bram memberinya pilihan tanpa membungkusnya sebagai kewajiban keluarga.
"Iya."
Ritsleting itu turun perlahan.
Gaun Laras jatuh ke lantai bersama semua jawaban aman yang seharusnya ia pilih.
Malam bergulir dalam potongan napas, kulit yang hangat, dan cahaya yang bergeser di balik tirai. Bram yang tadi begitu kurang ajar mendadak kehilangan beberapa ejekan ketika Laras menyentuhnya. Geraknya sempat canggung, seolah keberanian di koridor tidak otomatis membuatnya tahu apa yang harus dilakukan setelah pintu terkunci.
"Katanya berani," bisik Laras.
"Aku berani." Bram menahan senyum. "Aku cuma lagi berusaha nggak bikin kamu kabur."
"Terlambat."
Laras mendorong bahunya. Bram jatuh telentang ke kasur dan membiarkan Laras mengambil kendali selama beberapa detik, sebelum membalik keadaan dengan satu gerakan yang membuat napasnya tercekat.
Kemeja hitam Bram terlepas. Di sisi pinggangnya, Laras menangkap warna biru gelap berbentuk sayap yang menyebar di atas kulit. Tato itu tampak terlalu pekat di tengah cahaya kamar yang lembut. Jemarinya hampir menyentuh, tetapi Bram menangkap tangannya dan membawanya ke bibir.
"Jangan di situ."
"Kenapa?"
"Sensitif."
Jawaban singkat itu tenggelam ketika Bram kembali menciumnya.
Saat semuanya benar-benar melewati batas, Laras menegang. Rasa sakit yang tajam membuat jemarinya mencengkeram bahu Bram.
Lelaki itu membeku.
"Laras?"
Ia menyembunyikan wajah di lekuk leher Bram, terlalu malu untuk menjawab.
Kesunyian satu detik terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya.
"Ini pertama kalinya?" Suara Bram kehilangan seluruh nada main-main.
"Kalau kamu tertawa, aku tampar lagi."
Bram tidak tertawa. Ia justru mundur sedikit, memastikan Laras bisa melihat wajahnya.
"Kita berhenti."
"Nggak."
"Kamu kesakitan."
"Aku bilang nggak."
"Jangan keras kepala."
"Jangan sok baik setelah menghapus videoku."
Bram mengembuskan napas panjang. Lalu ia menunduk, mengecup kening Laras, dan bergerak jauh lebih hati-hati.
"Kalau sakit, bilang."
Laras mengangguk.
"Pakai suara."
"Iya."
Tangannya yang mencengkeram seprai kembali ditarik Bram. Lelaki itu menyelipkan jari-jari mereka, lalu melihat ujung jemarinya seolah baru mengingat sesuatu.
"Jari pianis," gumamnya. "Jangan sampai lecet."
Kalimat itu seharusnya terdengar mengejek. Namun cara Bram melonggarkan genggaman dan mengusap ruas jarinya membuat dada Laras terasa aneh.
Ia menutup mata sebelum bisa mencari arti.
Malam kehilangan bentuk setelah itu. Yang tersisa hanyalah potongan suara, selimut yang berantakan, segelas air yang disentuhkan ke bibirnya, dan Bram yang beberapa kali bertanya apakah ia baik-baik saja.
Menjelang dini hari, tubuh Laras akhirnya menyerah.
Ia sempat merasakan Bram bangkit dari ranjang. Sisi kasur menjadi ringan, disusul suara langkah menuju kamar mandi. Laras mengira lelaki itu akan pergi setelah mendapatkan apa yang ia mau.
Namun beberapa menit kemudian, kasur kembali turun.
Selimut ditarik sampai menutupi bahunya.
Dalam keadaan setengah sadar, Laras merasakan jemari menyibak rambut dari pipinya. Tidak ada ejekan. Tidak ada panggilan calon kakak ipar.
Hanya kesunyian yang terlalu lama.
Ketika Laras terbangun lagi, cahaya matahari sudah menyusup dari sela tirai.
Kepalanya berat. Tubuhnya terasa seolah habis menjalani konser tiga jam tanpa jeda, hanya saja rasa pegalnya berada di tempat-tempat yang tak pernah dilatih guru pianonya.
Ia membuka mata dan menemukan kemeja hitam Bram di lantai, gaunnya tersangkut di kaki sofa, serta satu sepatu hak tingginya tergeletak dekat pintu kamar. Sepatu sebelah lagi entah di mana.
Semua ingatan malam tadi kembali sekaligus.
Laras menarik selimut sampai ke dagu.
"Bangun juga."
Bram keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan kaus abu-abu. Wajahnya tampak terlalu segar untuk seseorang yang hampir tidak tidur. Bekas tamparan di pipinya telah memudar, tetapi satu garis merah akibat kuku terlihat di sisi leher.
"Jam berapa?" tanya Laras.
"Hampir sepuluh."
"Kenapa kamu nggak bangunin aku?"
"Kupikir pianis terkenal butuh tidur setelah bikin keributan semalaman."
Laras mengambil bantal dan melemparkannya. Bram menangkap benda itu dengan satu tangan.
Rasa panik datang, tetapi tidak bertahan lama. Otaknya mulai bekerja lebih cepat daripada rasa malu.
Tidak ada saksi yang melihatnya masuk. Radit tidak mungkin mengaku sedang bersama Tiara. Bram juga akan hancur kalau rahasia ini terbuka. Mereka kini memegang aib satu sama lain.
Jalan keluar yang buruk, tetapi tetap jalan keluar.
"Apa yang terjadi tadi malam nggak pernah terjadi," kata Laras.
Bram meletakkan bantal di kursi. "Terserah kamu."
"Kamu nggak boleh cerita ke siapa pun."
"Aku juga nggak butuh abangku tahu tunangannya lebih suka kamar sebelah."
"Dan jangan menghubungiku."
"Padahal kamu belum minta nomorku."
Laras hendak membalas ketika ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja.
Nada dering itu membelah kamar.
Nama di layar membuat seluruh tubuh Laras kaku.
Calon Suami.
Bram membaca nama itu dari tempatnya berdiri. Senyumnya kembali, perlahan dan menyebalkan.
Ia mengambil ponsel tersebut, naik ke ranjang, lalu menahan tubuhnya dengan satu lengan di atas Laras. Layar yang terus berdering ia putar tepat di depan wajah perempuan itu.
"Angkat, Mbak," bisiknya. "Kasihan calon suamimu nyariin."