NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Genggaman Tangan yang Ketahuan

Rahasia Rangga ternyata dihargai satu mangkuk seblak level dua dan segelas es cendol.

"Murah sekali harga kehormatanku," keluhnya ketika kami duduk di bangku plastik dekat gerobak sore itu.

"Kamu boleh tambah bakso. Biar kehormatanmu ada proteinnya."

Rangga mendorong mangkuk ke arahku. "Cicip dulu. Kalau kepedasan, jangan menangis. Orang-orang nanti mengira aku jahat."

"Wajahmu sudah cukup jadi bukti."

Ia hendak membalas ketika ponselku bergetar. Tania melakukan panggilan video. Begitu kuangkat, wajahnya memenuhi layar bersama Wulan dan Gita yang berdesakan di belakang.

"Nah, ketahuan!" seru Tania.

"Ketahuan apa?"

"Katanya bantu Bu Lina. Kok sekarang makan berdua?"

Aku mengarahkan kamera ke gerobak. "Ini biaya tutup mulut."

Rangga hampir tersedak. Ia merebut ponselku. "Jangan dengarkan dia. Sekar baru saja melakukan pemerasan."

"Kalian cocok," ujar Wulan. "Sama-sama kriminal receh."

Gita menutup mulut sambil tertawa. Tania malah menyipitkan mata. "Angga, geser sedikit. Sekar nggak masuk kamera."

Rangga menurut tanpa berpikir. Bahu kami bersentuhan.

"Tuh, kan," kata Tania. "Kayak pacaran."

Aku dan Rangga menjauh bersamaan.

"Nggak mungkin," jawab kami serempak.

Tiga perempuan di layar menjerit lebih keras.

Aku memutus panggilan sebelum mereka membuat grup khusus untuk merencanakan pernikahan kami. Rangga mengaduk kerupuk di mangkuk dengan sangat serius.

"Teman-temanmu berisik," katanya.

"Telingamu merah."

"Kepedasan."

"Seblakmu level satu."

"Cuaca panas."

Aku menatap langit yang baru saja tertutup awan. "Tentu. Panas sekali."

Ia menendang kaki bangkuku pelan. Aku tersenyum ke dalam mangkuk. Untuk beberapa menit, masalah terbesar di hidupku adalah telinga merah Rangga dan kerupuk yang terlalu lembek.

"Lamaran kerjamu bagaimana?" tanyanya setelah suasana kembali normal.

"Tiga penolakan baru. Dua perusahaan bahkan salah menulis namaku. Sangat menyentuh."

"Kirim CV-mu ke aku."

Aku mengangkat alis. "Kamu mau merekrutku jadi pewarna komik?"

"Bukan. Temanku kerja di perusahaan logistik. Mereka cari staf proyek junior. Aku cuma bisa kasih alamat surel, bukan meloloskanmu."

Itu perbedaan yang langsung kurasakan. Damar menawarkan pekerjaan seperti membuka pintu miliknya dan menungguku masuk. Rangga hanya menunjukkan letak pintu, lalu membiarkanku memilih.

"Boleh," kataku. "Tapi jangan edit bagian kemampuan."

"Kenapa? Aku bisa tambahkan: tahan banting, jago memeras, dan kebal seblak level dua."

"Yang terakhir bohong."

Ia mendorong gelas air ke arahku. "Serius, Kar. Kalau kamu dapat kerja dan mau kos, bilang. Aku bantu cari tempat yang aman."

Sendokku berhenti. "Aku belum bilang mau kos."

"Kamu menempelkan daftar lowongan di dinding dan tiga kali seminggu kabur ke warung kami. Aku memang bodoh, tapi nggak separah itu."

Aku ingin membantah. Yang keluar justru helaan napas.

"Aku cuma mau punya sesuatu yang benar-benar milikku."

Rangga tidak menyuruhku bersabar atau memahami Ibu. Ia mengangguk seolah keinginanku tidak egois. "Kalau begitu, kita cari."

Untuk pertama kalinya, rencana pergi dari rumah terdengar seperti tujuan yang mungkin kucapai, bukan sekadar ancaman yang kubisikkan kepada diri sendiri setiap malam.

Menjelang magrib, kami berjalan pulang melewati deretan toko yang mulai menurunkan pintu. Rangga membawa tas berisi stok warung di satu tangan. Tangan lainnya beberapa kali bergerak dekat sikuku, seolah hendak menuntun tetapi mengurungkan niat.

Hujan turun tanpa aba-aba.

"Lari!" serunya.

"Tasmu!"

"Plastiknya aman. Rambutmu yang nggak aman."

Ia melepas jaket, menutupkannya di atas kepalaku, lalu menggenggam tanganku. Kami berlari menuju emperan minimarket, menghindari genangan dan motor yang melintas terlalu dekat.

Genggamannya hangat.

Sesampainya di bawah atap, kami masih berpegangan.

Aku melihat tangan kami. Rangga juga.

Jemariku menegang, menunggu tubuhku menolak seperti di kamarnya siang tadi. Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada tekanan. Tidak ada panik. Ibu jarinya bahkan melonggar, memberiku ruang untuk menarik tangan kapan saja.

Aku tidak menariknya.

"Kar," katanya pelan.

"Hmm?"

"Tanganmu dingin."

"Hujan."

"Alasan yang bagus. Bisa kupakai untuk telinga tadi."

Aku tertawa dan akhirnya melepaskan genggaman itu untuk merapikan rambut. Rangga memalingkan wajah, tetapi senyumnya terlihat pada pantulan kaca minimarket.

Kami menunggu sampai azan magrib selesai dan hujan mengecil. Ia membeli dua botol air, lalu mengantarku pulang meski warungnya berada di arah sebaliknya.

"Aku bisa sendiri," kataku.

"Aku tahu."

"Terus kenapa ikut?"

"Jalannya milik umum."

"Rumahmu arah sana."

"Aku sedang memperluas wawasan geografis."

Di ujung gang, seorang pengendara motor melaju terlalu dekat. Rangga spontan menarikku ke sisi dalam trotoar. Ia tidak menggenggam tangan kali ini, hanya menahan siku sebentar sebelum melepas.

Gerakan kecil itu terasa seperti pertanyaan. Boleh?

Aku tidak menjauh.

Ketika atap rumahku terlihat, langkahku melambat. Lampu ruang tengah menyala. Bayangan Ibu bergerak di balik tirai.

"Kalau ditanya, bilang saja aku menahanmu karena warung ramai," kata Rangga.

"Ibu tetap akan bilang aku keluyuran."

"Kalau begitu, bilang aku menculikmu. Biar sekalian keren."

"Penculik modal seblak level dua?"

"Jangan meremehkan usaha kecil."

Kami berhenti di depan pagar. Ia menyerahkan jaket yang tadi kupakai sebagai penutup kepala, lalu mengerutkan kening ketika melihat rumah.

"Kar."

Nada suaranya berubah.

"Apa?"

"Kalau ada yang bikin kamu takut, cari aku. Nggak perlu menunggu sampai bisa menjelaskan semuanya."

Aku terdiam. Mungkin ia masih memikirkan bekas di pergelanganku. Mungkin Bu Lina mengatakan sesuatu. Matanya tidak menuntut jawaban, hanya menunggu agar aku tahu ia serius.

"Iya," kataku akhirnya.

"Bukan iya supaya aku diam."

"Iya, Rangga. Aku akan cari kamu."

Baru setelah itu ia mundur. "Masuk. Aku tunggu sampai pintunya tertutup."

Aku membuka pagar, lalu merasa seperti sedang diperhatikan.

Di seberang jalan, sebuah sedan hitam berhenti di bawah pohon. Lampu depannya mati. Kaca jendelanya gelap, tetapi ada bentuk seseorang di kursi belakang.

Bulu kudukku berdiri.

"Kenapa?" Rangga mengikuti arah pandangku.

Mesin mobil menyala pada saat yang sama. Sedan itu bergerak, melintasi kami dengan kecepatan pelan sebelum berbelok di ujung jalan.

Aku sempat melihat garis rahang seorang laki-laki di balik kaca.

Atau mungkin hanya bayangan.

"Kenal?" tanya Rangga.

"Nggak."

Jawabanku keluar terlalu cepat.

Rangga berdiri di sampingku sampai suara mesin mobil benar-benar hilang. Kemudian ia mengambil ponselnya dan memotret nomor jalan, bukan mobil yang sudah pergi.

"Mulai sekarang kabari aku kalau sudah sampai rumah," katanya.

"Rumahku tinggal tiga langkah."

"Tetap kabari."

Aku masuk dan mengunci pagar. Dari balik pintu, kukirim satu pesan pendek.

Sudah sampai.

Balasannya datang seketika.

Bagus. Kunci pintu.

Aku hampir tersenyum, tetapi ketika menoleh ke jendela, bayangan sedan hitam itu masih tertinggal di kepalaku.

Rasa hangat genggaman Rangga belum hilang dari telapak tanganku.

Namun di tengkukku, aku masih bisa merasakan tatapan seseorang yang tidak ikut pergi bersama mobil itu.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!