NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Rencana Lokakarya

Pagi itu, Lotte Signiel Residences, penthouse luas di lantai tertinggi sebuah apartemen mewah di kawasan Nonhyeon-dong, Gangnam-gu, Seoul, masih dibungkus keheningan yang tertata.

Tirai tipis berwarna gading membiarkan cahaya matahari masuk perlahan, menyentuh lantai marmer dan dinding kaca dengan kilau lembut. Dari ketinggian itu, Seoul mulai bergerak di bawah sana, tetapi suasana di dalam penthouse masih terasa tenang.

Di tengah keheningan tersebut, Nala sudah bangun lebih dulu dari sebagian besar penghuni rumah. Ia bergerak dengan ritme yang sama setiap hari; tenang, efisien, nyaris tanpa suara. Di dapur, ia memastikan bekal Jun-seok tersusun rapi. Nasi hangat, lauk sederhana yang disukai anak itu, serta potongan buah yang ditata tanpa perlu dihias berlebihan.

Segalanya terasa fungsional seperti dirinya akhir-akhir ini. Tak lama terdengar langkah Jun-seok keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang sudah rapi. Rambutnya masih sedikit berantakan di bagian depan, membuat penampilannya tampak lebih seperti anak yang baru saja bangun daripada murid yang sebentar lagi berangkat ke sekolah.

Nala berjongkok di hadapannya, kemudian merapikan dasi kecil itu dengan gerakan yang sudah begitu ia hafal hingga nyaris tidak perlu berpikir.

“Kancingnya sudah semua?” tanyanya lembut.

Jun-seok mengangguk meski matanya masih sedikit mengantuk, tetapi wajahnya sudah mulai menunjukkan semangat pagi.

“Mommy... hari ini ada kelas seni tambahan,” katanya.

Mendengar itu, sudut bibir Nala terangkat tipis.

“Kalau begitu, dengarkan gurumu baik-baik. Jangan terburu-buru. Mommy sudah siapkan bekalnya.” Nala berhenti sejenak, lalu kembali memeriksa seragam putranya. “Oh, ya. Jangan pulang sebelum Daddy atau sopir menjemput. Jangan ikut dengan siapa pun, mengerti?”

Nala merapikan rambut Jun-seok yang jatuh ke dahinya, kemudian menatap mata putranya untuk memastikan pesan tersebut benar-benar dipahami.

“Iya, Mommy.” Jun-seok mengangguk patuh. Namun, beberapa detik kemudian, anak itu kembali bertanya. “Oh, ya, Mommy. Sudah rapi? Apa pergi duluan?” tanyanya sambil memperhatikan ibunya dari atas sampai bawah.

Nala menggeleng kecil.

“Kita berangkat bersama, sayang. Kita tunggu Daddy.”

Jawaban sederhana itu langsung membuat wajah Jun-seok berbinar.

“Iya!” Senyumnya melebar seolah rasa kantuk yang sejak tadi masih tersisa di matanya seolah menghilang begitu saja.

Nala hanya tersenyum melihat perubahan itu entah kenapa, menunggu seseorang bersama-sama selalu terasa lebih menyenangkan bagi Jun-seok daripada berangkat lebih dahulu. Terlebih jika orang yang ditunggu adalah ayahnya.

Nala kemudian berdiri dan menggenggam tangan putranya. Mereka berjalan menuju ruang keluarga, tempat pagi itu masih menyisakan ketenangan sebelum rutinitas masing-masing dimulai.

Di sisi lain ruangan, Junho baru keluar dari ruang kerja yang terhubung dengan kamar tidur mereka. Setelan jasnya sudah sempurna, seperti biasa. Namun, dasinya belum terikat.

Nala hanya melirik sekilas sebelum mendekat. Ia mengambil ujung kain itu, kemudian merapikannya tanpa diminta, gerakan tersebut terjadi begitu alami seolah tubuhnya masih mengingat peran itu, bahkan ketika pikirannya sedang lelah.

Jemarinya membenahi simpul dasi Junho dengan teliti. Setelah selesai, ia menepuk bagian dada jas pria itu pelan untuk memastikan semuanya sudah rapi.

“Terima kasih, Yeobo,” ucap Junho pelan.

“Eum,” jawab Nala singkat.

Hanya itu yang keluar dari Nala, tidak ada perdebatan atau nada manis yang di buat buat. Selain rutinitas sederhana yang terus berjalan, seperti mesin yang telah dilumasi oleh kebiasaan selama bertahun-tahun.

Mereka kemudian berangkat bersama, di dalam mobil Jun-seok duduk di kursi belakang sambil memeluk tasnya. Seragam sekolah yang dikenakannya tampak begitu rapi, dari kerah kemeja hingga simpul dasi kecil yang terpasang sempurna. Sesekali anak itu memandang keluar jendela, menikmati pemandangan Seoul yang mulai dipenuhi kendaraan.

Nala duduk di kursi penumpang depan sambil membuka ponselnya untuk memeriksa jadwal hari itu. Wajahnya tetap tenang, meskipun sorot matanya menunjukkan kelelahan yang tidak sepenuhnya dapat disembunyikan.

Sementara itu, Junho menyetir dengan satu tangan. Pandangannya lurus ke depan, sesekali berpindah ke kaca spion untuk memastikan keadaan di belakang.

Seoul bergerak di luar jendela—cepat, sibuk, dan tidak pernah menunggu siapa pun. Gedung-gedung tinggi berdiri di antara arus kendaraan yang semakin padat. Lampu lalu lintas berganti warna, pejalan kaki berlalu-lalang di trotoar, sementara suara klakson sesekali terdengar dari kejauhan. Pagi baru saja dimulai, tetapi kota itu seolah sudah berlari lebih dahulu.

Sesampainya di sekolah, Jun-seok turun lebih dulu. Nala dan Junho ikut turun beberapa saat kemudian untuk mengantarnya sampai di depan gerbang.

“Belajar yang baik. Jangan lupa dengarkan gurumu,” pesan Nala sembari merapikan kerah seragam putranya yang sedikit bergeser.

Jun-seok mengangguk patuh.

“Iya, Mommy.”

Junho kemudian menepuk bahu putranya.

“Jangan terburu-buru kalau berjalan. Kalau ada apa-apa, segera minta guru hubungi Daddy atau Mommy.”

“Iya, Daddy.”

Setelah itu, Jun-seok memeluk mereka bergantian tubuh kecilnya masih menyimpan kehangatan pagi, sementara kedua orang tuanya menerima pelukan itu dengan senyum tipis.

“Dadah, Mommy. Daddy.”

“Dadah, sayang. Hati-hati,” balas Nala.

Jun-seok kemudian berlari kecil menuju gerbang sekolah. Beberapa langkah sebelum masuk, ia sempat menoleh dan melambaikan tangan.

Nala membalas lambaian itu hingga barulah setelah sosok putranya menghilang di balik gerbang, tangan Nala perlahan turun ke sisi tubuhnya. Ia masih menatap ke arah yang sama selama beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

Ada sesuatu dalam tatapan itu yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar rasa khawatir seorang ibu yang melepas anaknya pergi ke sekolah, melainkan kebiasaan untuk memastikan bahwa satu-satunya bagian dari hidupnya yang selalu ingin ia lindungi benar-benar baik-baik saja.

Junho berdiri di sampingnya dalam diam. Ia mengikuti arah pandangan Nala, lalu melirik wajah istrinya.

“Yeobo.”

Nala tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju pada gerbang sekolah yang kini mulai dipenuhi siswa. Beberapa detik kemudian, barulah ia menarik napas perlahan.

“Eum?”

“Kita langsung ke kantor?” tanya Junho.

“Iya. Hari ini ada beberapa meeting yang tidak bisa ditunda,” jawab Nala.

Mobil kembali melaju melewati deretan gedung dan pepohonan di sekitar sekolah perlahan tertinggal di belakang. Baru setelah gerbang sekolah benar-benar menghilang dari kaca spion, Nala menutup ponselnya dan menarik napas pelan.

“Aku ingin mengajukan satu program,” ucapnya akhirnya.

Mendengar itu, Junho melirik sekilas ke arahnya, kemudian kembali memusatkan perhatian pada jalan.

“Tentang apa?” tanyanya.

“Creative Retreat.”

Nama itu membuat dahi Junho sedikit mengernyit bukan karena menolak, melainkan karena sedang mencoba memahami gagasan yang baru saja dilemparkan istrinya.

“Aku tidak pernah dengar agensi musik melakukan hal seperti itu. ORIONA juga belum pernah melakukannya, kan?” katanya.

“Karena selama ini kami terlalu fokus pada output,” jawab Nala tenang. “Bukan pada proses.”

Ia menoleh sebentar ke arah Junho, lalu kembali menatap jalanan di hadapan mereka.

“Tim kreatif kita kelelahan. Ide tidak bisa dipaksa muncul di ruang rapat berpendingin udara,” lanjut Nala.

Kalimat itu membuat Junho terdiam tangannya masih mantap menggenggam kemudi, tetapi sorot matanya berubah sedikit. Ia tahu apa yang dimaksud Nala. Sebagai seseorang yang pernah bekerja di industri yang sama selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengejar target, jadwal produksi, perilisan, evaluasi, dan segala sesuatu yang dapat diukur dengan angka. Namun, kreativitas tidak selalu bekerja mengikuti jadwal yang mereka buat.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Junho mengangguk pelan.

“Jadi, ada kemungkinan kamu lokakarya di luar ruangan?” tanyanya.

Nala mengangguk.

“Ide awalnya dari Jeonggin, dan kemungkinan iya. Kami akan menginap di Mapo-gu,” jawab Nala.

Mendengar lokasi itu, Junho langsung menoleh cepat sebelum kembali memandang jalan.

“Di mana? Berapa hari? Lalu aku dan Jun-seok bagaimana?” tanyanya bertubi-tubi, nyaris tidak memberikan jeda di antara satu pertanyaan dengan pertanyaan berikutnya.

Nala menatap suaminya sejenak pria itu bahkan belum mendengar penjelasan lengkap, tetapi pikirannya sudah langsung melompat kepada dirinya dan putra mereka.

Nala tidak langsung menjawab namun justru mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Junho yang sedang tidak memegang kemudi. Jemarinya mengusap punggung tangan suaminya perlahan, gerakan kecil yang terasa begitu akrab setelah bertahun-tahun hidup bersama.

Junho membiarkannya, perlahan keheningan kemudian memenuhi kabin mobil. Bukan keheningan yang canggung, melainkan jeda yang sengaja dibiarkan oleh Nala. Seolah-olah ia sedang mencari cara terbaik untuk menjawab semua pertanyaan Junho tanpa membuat pria itu kembali memikirkan terlalu banyak hal sekaligus.

“Nanji Camp Ground di Sangam-dong. Kemungkinan hanya tiga hari... Oppa, ini bukan liburan. Ini demi tim kami. Aku janji... Tolong izinkan aku,” kata Nala.

Namun, Junho hanya diam.

Keheningan berlanjut cukup panjang, seolah pria itu benar-benar tengah menimbang segala sesuatu yang baru saja didengarnya. Nala pun tidak mendesak. Ia membiarkan suaminya berpikir, meskipun sejak awal dirinya sudah bersiap menerima kemungkinan jika Junho tidak mengizinkannya.

Beberapa saat kemudian, suara Junho akhirnya terdengar.

“Ajukan secara formal. Aku ingin lihat konsepnya,” katanya tiba-tiba.

Nala tidak tersenyum, tetapi bahunya yang sejak tadi sedikit tegang perlahan mengendur. Setidaknya, Junho tidak langsung menolaknya.

“Terima kasih, Oppa,” jawab Nala.

Junho tidak mengangguk ataupun memberikan jawaban lain. Ia hanya kembali memusatkan perhatian pada jalan, sementara tangan mereka masih saling bertaut selama beberapa saat sebelum akhirnya Nala melepaskannya.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di ORIONA. Mobil Junho berhenti tepat di area drop-off sebelum memasuki area parkir.

“Aku kerja, ya,” kata Nala sembari mencium pipi Junho singkat.

“Jangan lupa makan siang,” balas Junho.

Nala mengangguk kemudian membuka pintu mobil dan turun. Sebelum menutupnya, Nala sempat menundukkan kepala sedikit untuk melihat Junho sekali lagi. Pria itu hanya menatapnya dari balik kemudi tidak ada kata-kata tambahan.

Nala pun akhirnya menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam gedung.

Di kantor ORIONA Entertainment, pagi sudah hidup sejak langkah pertama mereka memasuki lobi. Staf berlalu-lalang dengan ritme yang cepat, beberapa di antaranya berhenti sejenak untuk menyapa dengan hormat sebelum kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.

Nala berjalan lebih cepat begitu memasuki lantai kreatif karena di ruangan itu, ia bukan istri seorang CEO melainkan seorang Creative Director.

Koridor lantai kreatif ORIONA Entertainment dipenuhi langkah-langkah cepat dan suara percakapan yang tertata. Layar digital menampilkan jadwal perilisan yang terus diperbarui, papan moodboard berganti visual sesuai proyek yang sedang dikerjakan, sementara aroma kopi memenuhi udara.

Telepon berdering di beberapa sudut ruangan, suara keyboard bersahutan dengan diskusi singkat antar tim. Beberapa staf berjalan membawa tablet dan dokumen, sementara yang lain berdiri di depan layar besar, memperdebatkan susunan konsep visual untuk proyek berikutnya.

Semuanya bergerak dalam irama yang sudah menjadi napas harian perusahaan itu. Nala melewati semua kesibukan tersebut dengan langkah tenang. Tatapannya langsung berubah begitu memasuki wilayah kerjanya. Sisa percakapan dengan Junho beberapa menit lalu perlahan ia singkirkan dari pikirannya.

Rapat kecil digelar tidak lama kemudian.

Di ruang konferensi berdinding kaca, Nala berdiri di depan layar presentasi. Beberapa kepala tim duduk menghadapnya: penulis internal, produser visual, dan manajer konten. Jeongin duduk di sisi kanan meja, mencatat seperti biasa. Wajahnya netral, profesional, nyaris tidak menunjukkan reaksi apa pun terhadap pembahasan yang berlangsung.

“Creative Retreat ini bukan liburan seperti yang sudah dijelaskan beberapa minggu lalu. Ini adalah lokakarya intensif selama tiga hari dua malam. Fokusnya pada eksplorasi narasi, sinkronisasi visi, dan pemetaan ulang identitas artistik ORIONA,” ucap Nala membuka pembicaraan.

Suaranya jernih dan tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

Slide berganti tampilan berikutnya memperlihatkan lokasi yang telah dipilih—daerah Sangam-dong, sebuah perkemahan yang letaknya tidak jauh dari Sungai Han.

Nala membiarkan gambar tersebut terpampang selama beberapa detik sebelum kembali melanjutkan.

“Kita akan membawa tim kreatif inti. Tidak ada kamera, tidak ada publikasi. Semua bersifat internal,” lanjut Nala.

Seorang produser mengangkat tangan.

“Alasannya, Director?”

Perhatian seluruh orang di ruangan itu kembali tertuju kepada Nala, dia tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.

“Karena stagnasi tidak selalu terlihat dari angka. Namun, bisa terlihat dari cara kita mengulang ide lama dengan kemasan baru.” Nala berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya terserap. “Ditambah beberapa masalah yang sempat terjadi beberapa waktu terakhir. Menurutku, itu sudah cukup menjadi alasan bagi kita untuk mulai memperhatikan hal ini.”

Ruangan mendadak hening tidak ada yang menyela, beberapa orang saling bertukar pandang sebelum kembali menatap Nala. Jeongin perlahan mengangkat pandangan dari catatannya tatapannya tertuju kepada Nala selama beberapa detik, seolah mencerna setiap kalimat yang baru saja disampaikan.

“Secara operasional, itu masuk akal. Tim kreatif membutuhkan ruang yang aman untuk gagal dan mencoba kembali,” katanya tenang.

Nala menoleh ke arahnya lalu mengangguk singkat.

“Itu yang ingin kita ciptakan,” jawab Nala.

Tidak ada nada emosional yang berlebihan dalam suaranya. Hanya sebuah keputusan profesional dari seorang direktur yang tahu apa yang ingin ia lakukan dan mengapa keputusan itu perlu diambil.

Nala kemudian menekan tombol pada remote presentasi, slide berikutnya muncul. Rincian jadwal, hingga kebutuhan selama tiga hari dua malam mulai terpampang di layar.

Rapat pun berlanjut hingga hampir setengah jam. Tanpa seorang pun di ruangan itu menyadarinya, sebuah keputusan yang pagi itu tampak sederhana perlahan mulai membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah lokakarya.

Rapat berakhir dengan persetujuan prinsip. Beberapa detail teknis akan dibahas menyusul.

Lantai kreatif ORIONA Entertainment tidak pernah benar-benar sunyi. Ada dengung pelan dari pendingin ruangan, bunyi ketikan keyboard yang bersahutan, serta sesekali tawa pendek yang segera kembali diredam oleh etika profesional. Nala melangkah di antara meja-meja kerja dengan langkah cepat, tetapi tetap tenang. Di ruang ini, ia tidak membawa status apa pun selain jabatannya.

Menjelang siang, Nala kembali ke ruang kerjanya. Ia baru saja membuka laptop ketika terdengar ketukan ringan di pintu.

“Masuk,” kata Nala dari dalam.

Pintu terbuka, dan Jeonggin muncul kembali. Kali ini, ia tidak membawa map ataupun dokumen apa pun di tangannya.

“Aku mau makan siang. Kamu sudah makan?” tanyanya.

Nala menggeleng. Baru saat itu ia menyadari bahwa sejak pagi belum ada satu pun makanan yang masuk ke perutnya.

“Belum. Ada yang harus aku bereskan dulu,” jawab Nala tenang.

“Kantin hari ini ramai. Aku mau ambil sesuatu. Mau aku titipkan?” tawar Jeonggin.

Nala berpikir sejenak. Pandangannya sempat beralih kepada layar laptop sebelum akhirnya kembali menatap Jeonggin.

“Sup hangat saja. Apa pun, tetapi tolong pastikan halal, ya, Oppa,” jawab Nala.

Jeonggin mengangguk ia sudah hafal di luar kepala apa yang Nala suka dan apa yang tidak boleh ia makan. Hal-hal kecil seperti itu sudah terlalu lama menjadi kebiasaan di antara mereka hingga nyaris tidak membutuhkan penjelasan.

“Baik.” Jeonggin pun berbalik dan pergi sebelum Nala sempat mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya.

Beberapa waktu kemudian, sup itu akhirnya sampai di mejanya. Masih mengepulkan uap tipis, lengkap dengan sendok dan beberapa lembar tisu. Di samping mangkuk sup, terdapat segelas jus jeruk yang tampaknya sengaja dipilih untuknya.

Nala terdiam beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ia kemudian menarik kursinya sedikit lebih dekat, mengambil sendok, lalu mulai makan perlahan sembari membaca ulang catatan mengenai Creative Retreat. Hangat kuah sup perlahan menjalar ke tubuhnya yang sejak pagi hanya dipenuhi kopi dan kesibukan. Tanpa disadarinya, bahunya yang sejak tadi tegang mulai mengendur.

Di kepalanya, Jeonggin hanyalah rekan kerja. Sosok kakak yang dapat diandalkan dan seseorang yang sudah begitu memahami ritmenya sehingga sering kali tahu apa yang dibutuhkan Nala tanpa harus diminta.

“Dia selalu tahu seleraku,” gumam Nala sembari tersenyum kecil ketika melihat jus jeruk di samping piringnya.

──☾⋆★⋆☾──

Di tempat lain, di KIYOON International Arts School, semua anak tengah asyik menikmati makan siangnya. Di meja panjang yang luas dan bersih itu, beberapa anak duduk bersama, termasuk Jun-seok, Seon-woo, Yul, dan Min-kyu. Keempat bocah tampan itu makan dengan rapi dan tenang hingga tiba-tiba Yul angkat bicara.

“Guys... Kalian tahu guru baru itu?” tanyanya, membuat Min-kyu mengangkat pandangan.

“Yang perempuan itu, kan?” tanyanya balik.

Yul mengangguk.

“Ya... Dia sangat baik. Berbeda dari guru yang lain,” ucapnya sembari mengangkat sendok dengan wajah bangga.

“Dia bilang seperti itu karena tadi dia diberi permen setelah jawabannya benar,” ledek Seon-woo seolah tidak terlalu peduli dengan pembicaraan tersebut.

“Hey... Bukan karena itu!” sergah Yul kesal.

“Tapi, Seon... Saem itu memang baik. Dia ramah dan penyabar. Cara dia menjelaskan pelajaran juga mudah dimengerti. Aku rasa aku juga suka padanya,” timpal Jun-seok.

Ucapan itu langsung membuat Yul dan Min-kyu tertawa puas. Setidaknya, kini mereka memiliki seorang pembela.

“Lihat... Lihat... Kalau Seok hyung sudah setuju, berarti kebenaran sudah absolut,” jawab Yul dengan nada penuh kemenangan.

Seon-woo hanya memutar matanya, jengah.

“Berlebihan.”

Namun, di tengah riuh perbincangan anak-anak itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan heels yang cukup nyaring dari arah pintu masuk. Suara tersebut menggema di lantai ruang makan yang luas dan perlahan menarik perhatian beberapa murid.

Percakapan yang semula ramai mendadak mereda, beberapa kepala menoleh hampir bersamaan.

Seorang wanita berdiri di sana posturnya tegak, bahunya lurus, dengan kehadiran yang tidak memaksa, tetapi mustahil diabaikan. Rambutnya disanggul rendah dengan rapi, sementara beberapa helai rambut halus dibiarkan membingkai wajahnya yang matang.

Wajah itu tidak cantik dengan cara yang mencolok. Tidak ada sesuatu yang berlebihan dari penampilannya. Namun, ada ketenangan yang melekat pada setiap garis wajahnya—ketenangan yang seolah telah ditempa oleh waktu dan pengalaman.

Tatapannya teduh, tetapi tajam dalam kadar yang tepat. Senyum tipis terukir di bibirnya ketika pandangannya menyapu ruangan, memberikan kesan hangat tanpa kehilangan wibawa.

Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana dan elegan. Langkahnya tidak terburu-buru, tetapi setiap ketukan heels-nya terdengar jelas di antara meja-meja makan yang mulai dipenuhi perhatian para murid.

Ada sesuatu dalam cara wanita itu membawa dirinya, bukan sekadar seorang guru baru melainkan seseorang yang tampaknya sudah terbiasa berdiri di tengah banyak orang tanpa perlu meninggikan suara untuk mendapatkan perhatian.

Tanpa disadari keempat bocah di meja itu, wanita yang sejak beberapa menit lalu mereka bicarakan kini sedang berjalan semakin dekat ke arah mereka.

“Itu guru... baru?” bisik Min-kyu pelan.

“Kenapa dia ke sini?” gumam Yul, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu.

Wanita itu melangkah masuk dengan langkah terukur. Sorot matanya menyapu ruangan sekilas, seolah memastikan tidak ada kekacauan, sebelum akhirnya berhenti di tengah ruang makan. Suaranya terdengar jernih ketika ia berbicara; tidak keras, tetapi juga tidak terlalu lembut.

“Selamat siang,” ucapnya.

“Selamat siang, saem-nim,” jawab anak-anak serempak, meskipun beberapa suara terdengar terlambat sepersekian detik. Wanita itu tersenyum tipis cukup untuk menenangkan, tetapi tetap menjaga jarak.

“Saya Jung Hae-in,” katanya kemudian. “Mulai minggu ini, saya akan mengajar seni visual di sekolah ini.”

Beberapa anak saling berpandangan, nama itu masih terdengar asing bagi sebagian besar dari mereka. Jun-seok, yang sejak tadi duduk tenang, menatap wanita itu dengan lebih saksama. Tatapannya tidak menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan, tetapi jelas memperhatikan setiap detail.

Ada sesuatu dalam cara wanita itu berdiri, cara kedua tangannya bertumpu tenang di depan tubuh, cara ia mengatur napas, serta jeda singkat yang selalu diberikannya sebelum berbicara yang terasa berbeda dari guru-guru lain.

Seolah-olah ia tidak terbiasa mengambil perhatian dengan paksa. Ia hanya berdiri di sana, tenang dan terkendali, tetapi entah mengapa membuat seluruh ruangan secara perlahan menaruh perhatian kepadanya.

“Saem ini akan mengajar kelas seni tambahan dan reguler. Jadi, mulai minggu ini, kalian akan sering bertemu dengannya. Harap kalian menyambut beliau dengan baik,” lanjut staf sekolah yang berdiri di dekat pintu.

Jung Hae-in menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.

“Terima kasih.” Ia kemudian kembali menatap anak-anak di ruangan itu. Kali ini, senyum tipis di wajahnya terlihat sedikit lebih hangat.

“Saya tahu beberapa dari kalian mungkin belum terbiasa dengan guru baru. Jadi, tidak perlu merasa canggung,” ucapnya ringan. “Kita akan berkenalan lebih baik di kelas nanti.”

Beberapa murid mulai tersenyum, ada yang kembali melanjutkan makan, sementara sebagian lainnya masih memperhatikan Hae-in dengan rasa ingin tahu.

Seorang anak di meja lain bahkan sempat berbisik kepada temannya, membuat temannya tertawa kecil. Hae-in tidak mempermasalahkannya wanita itu hanya mengangguk pelan kepada mereka.

“Sekarang, lanjutkan makan siang kalian. Jangan sampai makanannya keburu dingin,” ucap nya lembut namun tegas.

“Ne, saem-nim,” jawab beberapa anak hampir bersamaan.

Hae-in tersenyum tipis.

“Kalau begitu, sampai bertemu di kelas.” Ia kemudian melangkah pergi dengan tenang, suara heels-nya kembali terdengar pelan menyusuri lantai ruang makan hingga akhirnya menghilang di balik pintu.

Begitu pintu tertutup, suasana yang sempat sedikit kaku perlahan kembali seperti semula. Suara percakapan mulai terdengar dari berbagai meja, beberapa anak bahkan langsung membicarakan guru baru tersebut dengan rasa penasaran yang khas.

Di meja Jun-seok, Yul menjadi orang pertama yang kembali membuka suara.

“Kan aku bilang. Dia baik,” ucap nya bangga membuat Seon-woo menatapnya datar.

“Dia baru bilang tiga kalimat kepadamu,” balas nya jengah.

“Tapi cara bicaranya baik,” timpal nya cepat . Min-kyu terkekeh.

“Kamu sudah suka lagi.”

“Memangnya kenapa?” Yul membela diri.

Jun-seok hanya tersenyum kecil sembari kembali mengambil sendoknya, entah mengapa, ia juga merasa guru baru itu memang berbeda. Namun, untuk saat ini, ia tidak terlalu memikirkannya karena bagi nya Jung Hae-in hanyalah guru baru yang akan mengajarinya seni visual tidak lebih dari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!