NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20_Bantuan rahasia dari seseorang

[1 BULAN SETELAHNYA]

Aku duduk di ruang makan bersama yang lain. Mereka semua tertawa dan saling mengerjai di depanku, namun... aku sama sekali tidak bisa merasakan apa pun... Wajahku datar, mata kosong.

Aku langsung melanjutkan makanku dengan tatapan datar, sendok bergerak pelan.

Zafira langsung memegangi tanganku dengan lembut, matanya berkaca cemas.

"Tidak apa-apa, aku yakin emosimu pasti akan kembali, percayalah kepada kakakmu ini, ya?" Suaranya lembut bergetar.

Aku menoleh ke arahnya, dan langsung mengangguk pelan, wajah tetap datar.

"Hmm... aku percaya, Kak Zafira."

Setelah makan aku kembali ke ruang arsip, dan mengambil sebuah buku di rak, wajahku datar tanpa ekspresi.

"Aku tidak tahu apa-apa soal perasaan, jadi mungkin saja... aku bisa mencari tahu sedikit dengan buku ini." Buku itu berjudul: Cara Melatih Emosi Bagi Pemula, Edisi 1.

Aku langsung membuka buku itu dan membacanya, tiap halaman kubuka dan kupelajari dengan teliti, mata kosong fokus. Selain membaca buku di ruang arsip aku juga melakukan kegiatan yang biasanya aku lakukan, aku berlatih dengan semuanya untuk melatih kemampuan baruku yang didapat dari diriku versi yang lain, memantau perkembangan pembangunan kota, menyapa semua orang dan menghabiskan waktu dengan Zafira, wajah tetap datar.

Zafira sedang memotong dan menata rambutku dengan lembut, matanya sayu sedih.

"Kau pernah bilang bahwa aku mencukur rambutmu seperti ini saat itu, kan?" Suaranya pelan.

Aku mengangguk pelan, mata kosong.

"Hmm... begitulah." Aku langsung menatap diriku di cermin, wajah datar, tatapan kosong.

_Kira-kira sampai kapan aku akan seperti ini?_ Mataku hampa.

Zafira menaruh kepalanya di pundakku, lalu menatap diriku di cermin dengan senyuman dipaksakan, mata berkaca.

"Bagaimanapun kondisimu, kakak akan selalu menyayangimu, jadi tidak usah dipikirkan..."

Aku menatap Zafira lewat cermin, wajah datar.

"Kau benar, Kak Zafira. Aku sudah bertekad untuk menerima diriku yang sekarang, jadi... aku tidak boleh menyerah." Suara datar.

Aku langsung mendorong kepalanya dengan pelan, wajah tetap datar.

"Ngomong-ngomong, kau terlalu dekat."

Zafira langsung tersentak, dia langsung memeluk kepalaku dengan erat, wajahnya cemberut manja, mata berkaca.

"Hehh... padahal kakak sudah repot-repot memotong rambutmu sesuai dengan keinginanmu, tapi kau malah membalas cinta kakak seperti ini..." Dia langsung menarik-narik pundakku dengan kencang, pipi menggembung. "Padahal biasanya kau pasti akan memelukku dan berterima kasih dengan lembut." Air matanya mulai menetes, bibir bergetar. "Kembalikan!! Kembalikan!! Kembalikan Kai-ku yang manis!!"

Tubuhku terus berguncang, tatapanku kosong, wajah datar.

_Padahal tadi dia baru bilang kepadaku untuk tidak memikirkan hal itu._ Alisku sedikit mengkerut.

Aku ingin membalas pelukannya, tapi tanganku tidak tahu harus berbuat apa, tangan menggantung kaku.

Belial langsung masuk ke kamar Zafira, wajahnya datar cemas.

"Ouh... Kai, kau ada di sini, aku sudah mencarimu ke mana-mana." Matanya menyipit lega.

Aku menoleh ke arahnya, wajah datar.

"Belial? Ada apa sampai mencariku?"

Dia menarik lenganku dan menyeretku keluar, wajahnya serius.

"Ikut denganku..." Dia menyeretku terus bahkan sampai di lorong.

*Sret...*

Aku hanya bisa pasrah dan membiarkan tubuhku ditarik olehnya, wajah datar. Zafira yang cemas melihatku ditarik langsung berusaha menarikku dengan sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia, dia malah ikut terseret olehku, wajahnya panik.

"Tidak boleh... Kai masih perlu istirahat..!! Kenapa kau begitu kuat sih!?" Matanya melotot.

Dia menyeretku ke sebuah bangunan yang dibangun di area markas pasukan divisi. Aku menatap ke bangunan itu, mata kosong.

"Bangunan yang bagus, warna hijau di atap dan tanaman yang menjalar di temboknya benar-benar sangat keren." Sambil menatap dan berbicara dengan nada datar, wajah tanpa ekspresi.

Belial menoleh ke arahku, mata serius.

"Sekarang masuklah, ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu..."

Zafira mengerutkan alisnya dan menaikkan bahunya, wajahnya kesal cemburu.

"Jangan, Kai!! Aku tidak akan mengizinkanmu pergi tanpa pengawasanku!" Matanya melotot.

Aku melirik Belial dan menunjuk ke Zafira, wajah datar.

"Kau pasti mengerti kondisiku sekarang, kan..!?"

Alisnya naik turun, dia tersenyum tipis paham.

"Tentu saja, Zafira diizinkan masuk..."

Mata Zafira langsung berbinar-binar, dia langsung memelukku dengan erat, wajahnya ceria.

"Yeyy... Dengan begini Kai tidak akan bisa lepas dari pandanganku!" Senyum lebar.

Belial membuka pintu, mereka bertiga melangkah masuk ke dalam. Tubuhku tersentak, mataku membelalak sedikit.

"Sebenarnya apa yang kalian buat di tempat ini?" Sebuah laboratorium berukuran besar muncul di depanku, dengan banyak kapsul, kabel dan alat-alat yang lainnya memenuhi tempat itu.

Aku terus menatap sekitar, semua orang di divisi Healer sedang melakukan tugasnya dengan teliti, dan saat itu juga Sophie melambaikan tangannya dan berlari ke arahku, wajahnya cerah.

"Ahh... Tuan Kai, senang kau berkunjung ke laboratorium divisi kami!" Matanya berbinar.

Aku menatap Sophie dengan datar, mata kosong.

"Apa kau benar-benar Sophie?" Suara datar.

Bibirnya mengkerut, matanya mulai mengembeng, wajahnya mau nangis.

"Ehh... jahat sekali Tuan berkata seperti itu. Asal Tuan tahu saja, aku seperti ini agar bisa menciptakan kenangan yang dapat memulihkan emosi Tuan..." Bibir bergetar.

Tubuhku tersentak, lalu aku mengusap kepalanya, wajah masih datar tapi tangan lembut.

"Maaf, aku sudah berkata seperti itu padamu."

Dia tersenyum dan menggenggam kepalanya dengan pelan, wajahnya merah senang.

"Hmm... tidak apa-apa kok. Terlebih Tuan Kai, ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu."

Zafira mengerutkan alisnya dan menggertakkan giginya, wajahnya cemburu kesal.

"Padahal sekarang dia tidak pernah mengelus kepalaku lagi, tapi dia melakukannya kepada orang lain... aku sangat kesal." Sambil menggerutu, pipi menggembung.

Belial menatapnya dengan tatapan dingin, alis terangkat sinis.

"Kau... benar-benar siscon ya?"

Sophie langsung menarik lenganku dan membawaku ke sebuah tempat, wajahnya semangat.

Saat kami terus berjalan di laboratorium itu, kami akhirnya sampai di sebuah pintu yang lumayan besar dan terkunci rapat. Sophie langsung maju dan mulai mengalirkan mananya ke pintu tersebut, wajah fokus.

*KREKKKKK...*

Pintu itu terbuka lebar, kemudian asap mulai keluar.

*Wussh...*

Sophie langsung tersenyum dan melangkah maju ke dalam, mata berbinar.

"Baiklah semuanya... silakan masuk..."

Kami semua masuk ke dalam, mataku membelalak setelah masuk ke ruangan itu, wajah datar tapi kaget.

"Itu..."

Sophie langsung berlari dan membelakangi sebuah kapsul raksasa, senyum bangga.

"Benar sekali... Ini adalah tangan Tuan yang saat itu dipotong oleh Astra!"

Dia langsung mengetik di sebuah mesin dan mulai banyak gambar muncul dari benda tersebut, mata berbinar.

Aku maju dan menoleh ke arah Sophie, wajah datar bingung.

"Sophie, sebenarnya apa semua mesin ini? Dan kenapa kau mengambil tanganku dan memasukkannya di sebuah kapsul?"

Mata Sophie langsung berbinar, wajahnya serius bangga.

"Jika Tuan benar-benar sangat penasaran, maka akan kuberitahu kepada Tuan, alat ini adalah... Mesin Holo."

Aku memegang mesin itu dengan pelan, mata kosong penasaran.

"Mesin Holo? Apa kegunaan benda ini?"

Sophie langsung mengetik di mesin itu dan mulai mengeluarkan banyak data, wajahnya fokus.

"Mesin ini bisa menyimpan data, dan mampu membuat tempat ini tetap stabil. Kami membuat banyak kabel yang menjulur ke seluruh kota bahkan istana, fungsinya untuk menganalisis data semua orang, seperti ini." Mulai muncul gambar setiap orang dari setiap sudut kota.

Aku langsung menunjuk ke gambar itu, wajah datar.

"Intinya alat ini adalah jantung dari pusat kerajaan ini, karena mampu menganalisis data, menyimpan data dan bahkan menjaga keamanan seluruh kerajaan ini."

Dia mengangguk pelan, senyum tipis.

"Benar... Bagaimana alat yang dibuat dengan Selena ini?"

Aku langsung menyentuh mesin itu, mata datar menilai.

"Tidak buruk... tapi biar aku kasih saran, setelah kita keluar nanti, kita akan menghadapi yang namanya Bencana Para Naga."

Sophie langsung mengambil buku dan mulai mencatat, wajahnya serius.

"Bencana Naga? Apa itu, Tuan?"

Aku langsung mengambil bukunya dan mulai menggambar peta di buku itu, wajah datar serius.

"Karena tujuan kita adalah membangun kerajaan di tengah benua ini, kemungkinan besar kita akan terkena bencana itu. Bencana Naga Api, selama satu tahun, dia akan bangun dan langsung menyemburkan seluruh apinya yang mengubah seluruh iklim di dunia ini menjadi sangat panas, dan karena itu orang-orang mulai memanggil bencana itu dengan musim panas. Kemudian Bencana Naga Es, setelah kemunculan Naga Api menyemburkan apinya, itu akan membuat salju dan es yang ada di puncak gunung tempat ia tinggal meleleh. Setelah Naga Api tertidur, dia akan bangun dan menyemburkan napas esnya dan mengubah iklim menjadi sangat dingin, dan orang-orang mulai menyebutkan bencana itu dengan musim dingin. Lalu Bencana Naga Petir, karena kita sangat dekat dengan gunung miliknya, ada kemungkinan besar kita akan terkena badai yang tercipta dari kemarahannya. Perlu kau ingat bahwa dia sangat membenci orang-orang yang menaiki gunungnya hanya karena mencari uang dari sebuah pohon yang tumbuh di puncak gunungnya. Lalu yang paling merepotkan, Bencana Naga Bumi. Dia benar-benar sangat merepotkan karena setiap dia terbangun dia akan mulai mengamuk tidak terkendali dan membuat getaran di tanah yang sangat besar yang disebut gempa, tapi hal yang paling membuat semua orang marah adalah... dia akan kembali tidur setelah kelelahan."

Sophie mendengarkanku dengan serius dan terus mencatat semuanya dalam buku itu, alis bertaut fokus.

"Baik... kalau begitu aku akan pastikan bisa menahan bencana-bencana itu."

Kemudian aku memegang kapsul itu, wajah datar.

"Lalu bagaimana dengan benda ini?"

Dia langsung menundukkan kepalanya dan mulai menyimpan bukunya, wajahnya bersalah gugup.

"Ma-maafkan aku, Tuan Kai. Kalau begitu lihatlah ini..."

Sebuah gambar yang menunjukkan seluruh tubuh Kai mulai muncul, hologram biru.

"Baiklah... aku akan menjelaskannya kepada Tuan. Kami yang sangat penasaran dengan tubuh Tuan yang bisa beregenerasi dengan cepat pun mulai melakukan eksperimen dengan sel yang ada di tubuh Tuan, dan setelah kami menganalisis sel-sel tubuh Tuan dengan menyeluruh kami bisa menyimpulkan sesuatu. Tuan Kai... Anda tidak akan bisa mati karena serangan fisik." Matanya berbinar takjub.

Mataku tersentak, aku memegangi dadaku dengan erat, wajah datar tapi kaget. Belial dan Zafira yang mendengar itu langsung tersentak, mata membelalak.

Dia langsung menunjukkan gambar tubuh Kai dengan lebih besar lagi, wajah serius.

"Aku tahu kalian pasti tidak akan menyangka akan hal itu, tapi Tuan Kai... sel-sel yang ada di seluruh tubuh Anda akan terus beregenerasi ketika menghilang, anggota tubuh, organ dalam, bahkan darah semuanya akan terus beregenerasi tanpa henti. Karena... mungkin saja Anda pernah meminum atau memakan sesuatu yang mengandung Buah Terlarang dari Tanah Terkutuk."

Aku tersentak, lalu menurunkan bahuku, wajah datar merenung.

"Sepertinya iya, saat aku kecil aku pernah meminum sebuah ramuan yang diberikan oleh Duke."

Aku menoleh ke arah Kak Zafira dan Belial, wajah datar tapi mata sedikit bergetar.

"Kak Zafira, Belial, aku punya satu permintaan, tolong biarkan aku pergi dari sini dua tahun lagi!! Aku mohon, ada sesuatu yang harus aku lakukan." Aku menundukkan kepalaku, wajah datar tulus.

Zafira langsung mengerutkan alisnya dan menyilangkan tangannya, wajahnya merah marah cemas.

"Aku tolak! Lagian aku tidak akan membiarkanmu pergi apa pun yang terjadi, apalagi dengan kondisimu yang kehilangan emosi seperti ini. Kau yang sekarang... tidak punya alasan untuk keluar dan bertarung!" Matanya berkaca.

Belial langsung memegangi pundak Zafira, wajahnya tenang menenangkan.

"Tenang saja, Zafira. Aku akan mengajarkan semua hal yang aku tahu kepada anak ini." Dia tersenyum lebar ke arahku. "Dengar, Kai, kau akan menjalani pelatihan denganku untuk mencari alasanmu bertarung. Kau yang sekarang masihlah lemah, baik dari hati maupun tubuhmu, karena kau masih baru menguasai 15% Pemadatan Mana. Karena itu akan kuajarkan bagaimana menjadi kuat!!"

Aku langsung menatap tajam ke arah Belial, mata kosong tapi fokus.

"Baiklah, tapi... aku punya satu permintaan."

Belial tersenyum tipis, mata berbinar.

"Apa itu? Cepat katakan!!"

Aku langsung memukul pelan ke dadanya, wajah datar.

"Jika aku bisa menyentuhmu sekali saja, maka biarkan aku pergi dari tempat ini."

Alis Zafira mengkerut, wajah panik.

"Aku ti-"

Belial langsung menyelanya, senyum lebar percaya diri.

"Baiklah, tapi aku punya syarat!! Jika kau tidak bisa mengalahkan mereka bertiga kurang dari dua tahun, maka aku tidak akan mengizinkanmu keluar sampai Hari Penentuan tiba... Ouh iya, yang jadi lawanmu bukanlah diriku..."

Suara langkah kaki mulai terdengar, aku menoleh ke arah suara itu dan melihat Agrees, Astra, dan Gigan masuk ke ruangan itu, wajah mereka serius.

"Tapi mereka bertiga..."

Aku langsung berjalan ke arah mereka dan menatap mereka, wajah datar.

"Kalau begitu, mohon bantuannya... kalian semua." Suara datar tapi tulus.

Mereka bertiga langsung tersenyum tipis, Agrees langsung menepuk pundakku, mata hangat.

"Kalau begitu, Tuan, mari kita mulai pelatihannya." Mereka bertiga berjalan keluar.

Aku menatap mereka dan mengepalkan tanganku, mata kosong tapi tekad ada.

_Ada banyak yang ingin aku ketahui, karena itu aku akan melakukannya._

[ 2 TAHUN SETELAHNYA ]

Aku sedang melakukan pengujian melawan mereka bertiga, wajahku fokus dingin.

_Nampaknya aku berada di posisi yang tidak menguntungkan._ Alis bertaut.

Mereka semua langsung maju menyerangku secara bersamaan, Gigan maju terlebih dahulu berlari kencang ke arahku dengan perisainya, wajahnya garang.

Lalu aku melihat Agrees yang berlari di belakang Gigan, mata tajam.

Aku menatap mereka dengan tajam, mata dingin.

_Sepertinya aku terpaksa menggunakannya, Mana Armament._ (Melapisi tubuh seperti armor dengan mana yang dikeluarkan dari tubuh) Bagian tubuh kananku mulai dilapisi oleh mana hitam.

*Wung...*

Aku langsung berlari ke arah Gigan dan memukul tamengnya dengan sekuat tenaga, wajah fokus.

*BUAKK!!*

Pukulanku dengan perisainya saling menghantam dengan keras, hingga tanah di area kami hancur seketika, debu beterbangan.

_Sepertinya dia berlatih dengan keras setelah insiden itu._

Agrees langsung melompat dari belakang dan mulai menebasku dengan pedangnya. Aku yang melihat itu langsung memukul perisainya lagi dan membuat Gigan terpental mundur.

*Duar!*

_Legacy Creations Mana._ (Menciptakan benda atau senjata dari mana) Aku langsung membuat palu raksasa dan membuat banyak rantai di belakangku.

*Clank! Wung!*

Aku langsung mengikatkan palu itu dengan rantaiku dan menariknya dengan sangat keras, dan memutarnya dengan sangat kencang, wajahku dingin fokus.

Palu itu berputar dan menghantam Agrees di udara dan membuat dia terpental jauh, lalu Astra yang terjebak dalam rantaiku terus meronta-ronta, wajahnya kesal.

"Sial... aku terkena jebakannya!" Saat dia berusaha melepaskan diri, palu itu sudah menghantamnya dengan keras dan mementalkan dirinya sangat jauh.

*Buak!*

Aku langsung menghilangkan rantai dan palu itu, napasku masih terengah-engah, keringat bercucuran dari tubuhku, wajah datar lelah.

_Mereka bertiga tidak bertarung dengan serius._

Aku menatap Belial, tersenyum melihat pertarungan kami dari pinggir lapangan, mata bangga.

Aku langsung duduk dan menatap ke langit, wajah datar tapi mata sedikit berkaca.

_Jadi begitu... Semuanya sudah direncanakan olehnya. Kau benar-benar susah untuk mengungkapkan apa yang ingin kau rasakan kepadaku sejak dulu, tapi... terima kasih, karena masih mendukungku sejauh ini... Belial._

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dadaku terasa sesak bukan karena lelah. Mataku sedikit bergetar, air mata tipis jatuh tanpa sadar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!