Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Ravin Berbohong Lagi?
Sera meminta Wira menjemputnya lebih awal ke kantor, di karenakan Ravin akan pulang dari Bali malam ini.
Gadis itu ingin menyambut kedatangan sang suami, setelah berpisah selama dua hari.
Selama terpisah jarak dan waktu, komunikasi Sera dan Ravin tetap lancar. Saling bertanya dan memberikan kabar satu sama lain.
Karena itu, Sera merasa bersemangat untuk menunggu kepulangan sang suami.
“Lalu lintasnya sedikit padat, non.” Ucap Wira saat mereka sudah berada di jalanan, dan terjebak diantara kendaraan yang lainnya.
“Saya tau, mas. Karena itu, saya meminta mas Wira menjemput lebih awal.” Ucap Sera sembari melirik Wira melalui kaca sepion.
“Apa nona akan menjemput pak Ravin ke bandara?” Tanya Wira kemudian.
“Tidak, mas. Kak Ravin pergi bersama asistennya.” Sera mengalihkan kembali pandangannya pada luar jendela.
Meski baru pukul tiga sore, namun jalanan sudah begitu padat dengan banyaknya kendaraan, baik roda empat maupun roda dua.
“Bukannya itu mobil pak Ravin?” Gumam Wira dari balik kemudi. Namun Sera masih bisa mendengarnya.
“Mana, mas?” Tanya gadis itu sembari menegakkan tubuh dan memutar kelapa ke kiri dan kanan untuk mencari keberadaan mobil sang suami.
“Di depan nomor 2. Baru keluar dari toko bunga yang ada di kiri jalan.” Ucap Wira. Ia melirik Sera dari kaca sepion. Senyum tipis terbit dari wajah pria dewasa itu.
“Mas Wira yakin? Tapi, kak Ravin bilang pesawatnya jam 3 baru lepas landas.” Ucap gadis itu dengan raut penasaran.
“Begitu ya, non. Mungkin saya salah mengenali mobil pak Ravin.” Wira berbicara dengan nada bersalah.
Meski sebenarnya memang mobil Ravin yang ia lihat.
“Tidak apa - apa, mas. Mobil kak Ravin bukan tipe terbatas. Jadi, pasti ada orang lain yang memilikinya juga.” Sera kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Wira menganggukkan kepalanya pelan. Namun, pria itu kembali bersuara.
“Nah, itu mobilnya sekarang berbelok kanan, non.” Ucap pria itu lagi.
Sera pun melihat ke sisi kanan jalan. Ia menurunkan kaca jendela. Seketika kening gadis itu berkerut halus.
“Mobil Kak Ravin.” Gumamnya saat melihat plat nomor kereta besi itu.
“Bagaiamana, non?” Tanya Wira sembari melajukan mobil dengan pelan.
“Mas, itu memang mobil kak Ravin.” Ucap Sera.
“Bukannya jam 3 baru lepas landas? Kenapa mobil pak Ravin sudah ada di jalan? Apa mungkin dibawa asistennya, non?” Tanya Wira lagi.
“Pak Raka juga ikut pergi ke Bali.” Sera menggelengkan kepalanya. Ia kemudian merogoh ponsel di dalam tas. Kemudian menghubungi sang suami.
“Nomornya tidak aktif. Apa mungkin dibawa pak Raka? Tapi kata kak Ravin, pak Raka ikut ke Bali.” Sera menggigit bibir bagian bawahnya.
Jantung gadis itu bergemuruh dengan cepat.
Siapa kira - kira yang membawa mobil sang suami? Kenapa ada di jalan raya sekarang?
“Apa kita bisa putar balik, mas?” Tanya Sera kemudian.
“Maaf, non. Jalan untuk putar baliknya sudah lewat. Dan kalau ada di depan, kita juga tidak bisa mencapai mobil itu. Jalanan sangat padat.” Jelas Wira.
Sera menghela nafas kasar setelah mendengar ucapan pria itu.
“Mungkin yang bawa mobil itu orang lain, non. Kan pak Ravin baru lepas landas. Ponselnya juga tidak aktif. Itu artinya, dia dalam pesawat.” Wira berusaha untuk menghibur Sera.
Namun, hati gadis itu tetap tidak bisa tenang.
‘Mulai hari ini, aku akan membuat kamu semakin curiga dengan suamimu, Sera.’
.
.
.
Sera berulang kali melihat petunjuk waktu pada layar ponselnya. Sudah mendekati pukul 8 malam, namun Ravin belum juga kembali.
Padahal pria itu mengatakan pesawatnya lepas landas pukul 3 sore dari pulau Dewata, Bali. Seharusnya, satu jam kemudian sudah tiba di Jakarta.
Jarak tempuh bandara menuju rumah mereka hanya sekitar 1 jam, jika lalu lintas lancar.
Apa mungkin suaminya itu terjebak macet?
“Ponselnya masih belum aktif.” Gumam Sera saat melihat pesan yang ia kirim pada sang suami sore tadi, masih berstatus centang satu abu - abu.
“Kemana dia?”
Sera tiba - tiba teringat kembali dengan mobil sang suami yang di lihat Wira sore tadi.
Siapa yang mengemudikan mobil itu?
“Non. Mau bibi siapkan makanannya sekarang?” Suara bi Sari terdengar saat benak Sera dilanda banyak pertanyaan.
“Tunggu kak Ravin sebentar lagi, Bi.” Ucap Sera pelan.
Ia tengah menunggu kepulangan sang suami di ruang tamu.
“Baik, non.” Bi Sari menghela nafas pelan, kemudian hendak kembali ke dapur.
“Itu, sepertinya tuan sudah pulang, non.” Ucap Bi Sari ketika melihat pantulan lampu mobil dari celah kaca jendela.
Sera bangkit dari tempat duduknya. Ia pun bergegas berlari ke pintu samping, untuk menghampiri Ravin di garasi.
Ravin tersenyum hangat ketika melihat sang istri menunggunya di ambang pintu.
“Kak.” Sera meraih tangan sang suami.
“Maaf aku pulang terlambat.” Ravin membalas dengan mengecup kening gadis itu.
“Aku kira kakak tidak akan pulang.” Pancing Sera sembari bergurau.
“Tidak ada alasan untuk tidak pulang, Sera.” Ucap pria itu.
Sera mengangguk pelan. Ravin kemudian merengkuh pinggang gadis itu dengan tangan kanan, semantara tangan kiri menggeret kopernya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
“Kakak mau mandi, atau makan dulu?” Tanya Sera setelah mereka berada di dalam rumah.
“Tidak apa - apa ‘kan, kalau aku mandi dulu? Atau kamu mau kita makan dulu? Kamu pasti sudah sangat lapar, menunggu aku pulang.” Ravin menatap lekat wajah sang istri.
Sera menggelengkan kepalanya pelan. “Kakak mandi saja dulu. Pasti banyak kuman yang menempel di badan kakak.”
“Baiklah. Aku tidak akan lama.” Ravin mengusap kepala sang istri dengan lembut.
Mereka pun naik ke lantai dua.
Ravin bergegas pergi ke kamar mandi setelah melepas pakaian yang menempel pada tubuhnya, dan hanya menyisakan celana panjangnya.
Sera menyiapkan pakaian ganti untuk Ravin. Kemudian membereskan kemeja dan jas yang baru di lepas pria itu.
Tak lupa Sera memeriksa saku jas sang suami. Siapa tau, ada sesuatu yang tertinggal. Agar tidak sampai tercuci.
“Apa ini?” Gumam Sera ketika menemukan sesuatu pada saku bagian kiri.
“Nota apa — Dahi Sera seketika berkerut halus. Ia menemukan sebuah nota pembayaran di salah satu toko bunga.
Seketika Sera teringat kembali pada hal yang terjadi saat ia masih berada di jalan sore tadi.
Ucapan Wira terngiang di kepala gadis itu. Mobil Ravin keluar dari toko bunga sebelah kiri jalan.
“Kapan kak Ravin membeli bunga?” Sera membaca dengan teliti kertas kecil di tangannya.
Mata Sera seketika membulat sempurna, ketika waktu yang tertera pada nota itu menujukkan jam yang sama, dengan saat Sera melintas di jalan.
“Jadi orang yang membawa mobil itu, memang benar kak Ravin. Jadi, dia pulang lebih awal? Bunga untuk siapa?”
Kini benak gadis itu pun di penuhi banyak tanya.
“Apa kak Ravin kembali berbohong?”
Seharusnya dia pewaris sebenarnya, sungguh menarik