Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tercekat
“Om, bagaimana?”
“Om Arif sudah menemukan, Fiona?”
Gala memberondong banyak pertanyaan. Namun, tak satu pun dijawab. Arif malah menatapnya.
“Apa yang terjadi sebelumnya?” Arif malah balik bertanya.
Sontak, Gala menggeleng. “Tidak terjadi apa – apa.”
“Apa dia memergoki mu dengan Vania?”
Gala langsung menyembunyikan keterkejutan. Dia memasang wajah tenang, seolah tidak ada kejadian itu sebelumnya.
“Tidak.”
“Fio, tidak pulang ke rumah malam itu.” Arif menjelaskan sekilas. Dia tidak menjelaskan detail tentang kehadiran anak dan mantan istrinya di rumah dan Fio diusir.
“Dia tidak ke apartemen mu?” tanyanya lagi.
Jelas, Gala menggeleng. Dia harus menyembunyikan kejadian itu. “Tidak. Lagi pula, saya pulang ke rumah malam itu.”
Lagi – lagi, Gala berbohong. Meski, akhirnya dia memang pulang ke rumah orang tuanya dan meninggalkan Vania sendirian.
“Ya sudah, kalau begitu aku ingin istirahat dulu.”
Arif hendak meninggalkan Gala. Sejak pagi, dia ke sana ke mari mencari keberadaan Fiona. Sampai mencurigai Gio dan yakin jika keponakannya di sana. Tapi, tidak ketemu juga. Sedangkan hari, sudah hampir sore. Dia lelah. Semalam, Arif juga sudah mengeluarkan tenaga ekstra bersama Rara.
Lalu, suara Gala terdengar memerintah hingga kaki Arif yang hendak melangkah, berhenti sejenak.
“Besok hari pernikahanku dengan Fiona. Pastikan, dia ada di sana. Jangan mempermalukan keluargaku.”
Arif menoleh dan menatap tajam Gala hingga pria itu menciut.
“Jangan hanya aku saja yang mencari. Kau juga harus ikut mencari. Kerahkan orangmu dan aku kerahkan orangku.”
Gala mengangguk.
Arif tidak suka dengan gaya nge-bos-sy seorang Manggala. Padahal, di sini jelas Arif yang rugi.
Dia tidak ingin kehilangan Fiona. Selain, karena sumber ladang emasnya jika nanti bersanding dengan Gala, Fiona juga sumber kelemahan Rara hingga perempuan itu mau melayaninya sampai saat ini.
“Ya. Saya sudah memerintahkan orang – orang saya untuk mencari Fiona,” jawab Gala.
Arif ikut mengangguk. Lalu, kembali melanjutkan langkahnya dan memakai kacamata hitamnya lagi. Namun, sebelum itu Arif kembali menatap Gala.
“Jika, Fio hilang karena memergoki kau dan wanita LC itu. Saya akan mengatakannya pada orang tuamu.”
Kalimat ancaman yang terdengar tenang itu, justru membuat Gala memburu. Gala kesal dan seketika menendang benda yang ada di sekelilingnya.
Prang
Sekretarisnya pun langsung datang.
“Ada apa, Pak?”
“Ya ampun!”
Sekretarisnya itu melihat tangan Gala terluka. Dia juga melihat meja kaca yang pecah berhamburan di sana.
“Sekuriti!” jeritnya hingga orang berdatangan untuk membantu Gala.
***
Sementara di tempat berbeda, Fio tidak bisa apa – apa. Dia duduk mematung sembari menatap dirinya sendiri di cermin.
“Apa yang aku lakukan?”
“Aku akan menikah dengan mafia?”
“Aku menikahi penjahat?”
“Aku akan menjadi kakak ipar Jihan?”
Pertanyaan – pertanyaan itu berputar di kepalanya. Meski, diam. Kepalanya terus berpikir. Dan, meski diam. Seseorang yang bersamanya tidak diam. Ada dua orang perempuan yang bersamanya. Yang satu sedang memoles wajahnya, sedangkan yang satunya lagi mempersiapkan gaun yang akan Fio pakai.
Tok
Tok
Tok
Seseorang mengetuk pintu kamar ini. Orang yang sedari tadi mempersiapkan gaun, segera mendekati pintu dan membuka.
“Ya.”
“Satu jam lagi, harus sudah siap,” ucapnya.
Perempuan itu mengangguk. “Ya, satu jam lagi, pasti selesai.”
“Oke.”
Orang yang mengetuk pintu itu adalah orang Jordan. Dia orang kepercayaan Gio di sini. Dia juga yang mengurus pernikahan kami.
Entah, bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan sebuah pernikahan hanya dalam waktu sehari. Luar biasa orang – orang Gio memang. Lebih dari Event Organizer handal. EO saja membutuhkan waktu minimal tiga bulan untuk mempersiapkan. Sementara, Jordan hanya satu malam.
Fio menggeleng. Lalu, dia teringat lagi pernikahan ini.
“Ini pernikahanku?”
Suaranya terdengar si tata rias. “iya, ini pernikahan Kak Fio.”
“Duh, Kakak cantik banget. Padahal, saya baru poles sedikit loh.”
Fio menurut. Dia diam saja saat kembali dirias.
“Kak Fio, setelah make selesai, kita pakai gaun nya ya.”
Fio menatap ke arah jendela.
“Apa pernikahan ini sah? Sedangkan, aku sendirian.”
Lagi – lagi, kepalanya sedang berputar.
MUA itu terus memoles wajah Fiona. Dia memberi riasan sesuai permintaan. Tentunya, permintaan Gio yang tidak ingin melihat Fio tampil berlebihan. Baginya, perempuan itu sudah cantik tanpa make up. Namun, hari ini hari sakral yang memang harus tampil berbeda.
“Jordan.”
“Ya, Tuan.”
Di kamar berbeda, Gio malah sudah siap.
“Bagaimana penghulunya? Sudah dijemput?’
“Sudah, Tuan.”
“Pengantinku. Dia tidak kabur kan?”
“Aman,” jawab Jordan yakin karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, di sana Fio duduk dengan tenang. “Pengantin anda selesai satu jam lagi.”
Gio tersenyum. Satu jam rasanya seperti satu abad. Dia sudah menunggu momen ini. Momen yang tak akan terlupakan, meski sederhana dan hanya dihadiri kerabat mereka.
“Di luar, sudah ada yang datang?”
“Sudah, Tuan. Papa anda dan keluarganya baru tiba.”
Gio tersenyum. “Beri mereka jamuan yang tak terlupakan. Karena hari ini adalah hari yang tak terlupakan untukku.”
Jordan ikut tersenyum. “Tentu.”
"Saya permisi, Tuan."
Setelah, tidak ada yang diperintahkan lagi oleh Gio, Jordan pamit. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya seraya memegang dadanya, lalu pergi.
Namun, baru saja pintu tertutup usai Jordan keluar, tiba - tiba terbuka lagi. Entah apa yang ingin ditanyakan pria itu lagi. Gio pun menolah dan ...
"Apa lagi?"
Pertanyaannya tercekat, dia terbelalak melihat kedatangan Fio yang berjalan tergesa menghampirinya.
"Wo ... Ho ... Ho ... Sabar, Sayang. Kamu belum boleh menemui ku."
Dahi Fio mengernyit. "Cih, percaya diri sekali."
Gio tak lepas menatap wajah Fio yang cantik sempurna dengan riasan serta gaun pengantin yang dikenakan. Apalagi, saat menghampirinya tadi. Fio melangkah dengan mengangkat gaunnya dan berjalan cepat mendekat.
"Gio, hentikan kegilaanmu!" tegas Fio.
"Kegilaan apa?"
"Ini tidak benar."
"Apanya tidak benar?" tanya Gio lagi.
"Ck! Jangan memasang tampang tidak berdosa begitu. Sekarang, aku sadar. Walaupun aku sedang kesal dengan Gala, tapi ini tetap tidak benar. Aku tidak mau pura - pura menikah."
Gio tertawa. "Siapa yang memintamu untuk menjadi istri pura - pura?"
"Gio, aku tahu kamu ingin membantuku membalas Gala dan terlepas dari Om Arif kan?"
"Tidak juga." Gio menggeleng.
"Apa maksudmu?'
"Kamu tahu maksudku," jawab Gio sembari melangkah lebih dekat. "Aku ..."
Kini, dia berdiri di depan tubuh ramping dan tinggi itu tanpa jarak. Namun, Gio tetap lebih tinggi. Tangannya mendarat dan mengusap lembut pipi Fio yang mulus.
"Aku ..."
Fio langsung menepis tangan itu. "Tapi, aku tidak."
Seolah tahu apa yang ingin Gio katakan, Fio langsung menjawab.
"Pernikahan ini tidak sah kalau tidak ada wali. Sedangkan, wali ku adalah Paman Arif."
Gio tersenyum. Tangannya terangkat lagi dan kembali mengusap wajah Fiona.
"Tenang, Sayang. Aku sudah memikirkannya."
Fio menatap wajah tenang itu. Dadanya bergerak naik turun. Dia berusaha menahan kesal hingga satu kalimat yang Gio katakan membuatnya tercekat.
"Paman Arif dan ayahmu, bukan saudara kandung."
Duar
Fio menggeleng. "Tidak. Tidak mungkin."