Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Malam Balapan
"Mau ikut?"
Karina melihat luka lama di buku-buku jari Nathan. "Aku ingin tahu dunia yang membuatmu seperti ini."
Steven langsung menolak. "Dia hamil tiga bulan. Kalian berdua kehilangan akal?"
"Aku hanya menonton," kata Karina. "Tidak berdiri lama, tidak mendekati lintasan."
Nathan masih ragu. "Kalau ada kram, kita pulang."
"Iya."
"Kamu duduk dengan Bobby."
"Iya."
"Jangan sok kuat."
Karina mengangkat cincin mereka. "Aku istrimu, bukan anakmu."
J&S Racing Club berada di pinggir Jakarta, jauh dari permukiman. Lampu putih membelah lintasan malam. Deru mesin, bau karet, dan sorak penonton menyambut mereka.
Nick bersiul melihat Karina. Bobby membawa kursi ke area aman di belakang pagar pembatas.
"Bu Karina duduk di sini," katanya. "Kalau ramai, saya jaga."
Nathan memeriksa jarak dari lintasan, jalur keluar, dan kotak medis sebelum puas. Dia melepas jaket, memperlihatkan tato di lengan dan tubuh yang jauh lebih siap bertarung daripada wajah mahasiswa.
"Kamu pemilik tempat ini?" tanya Karina.
"Salah satu," jawab Nathan.
Rahasia lain.
Beberapa pemuda dari keluarga Salim berdiri dekat mobil lawan. Salah satunya pernah berselisih dengan Nathan dan menatapnya penuh benci.
"Mereka aman?" tanya Karina.
"Di lintasan ada aturan."
Nathan memasang sarung tangan, lalu menunduk di depan Karina. "Cium keberuntungan dari Kak."
"Banyak orang."
"Sekarang kamu istriku."
Karina mencium pipinya. Nathan memutar wajah sehingga bibir mereka bertemu singkat.
"Curang."
"Aku memang begitu."
Dia masuk ke mobil hitam bernomor tujuh. Mesin meraung. Saat lampu start berubah hijau, mobil-mobil melesat seperti peluru.
Nathan memimpin sejak tikungan ketiga. Karina menggenggam pagar, lalu ingat janji dan kembali duduk. Bobby memberinya air.
Layar waktu menunjukkan Nathan unggul hampir dua detik. Setiap memasuki tikungan, mobilnya meluncur dekat pembatas lalu keluar dengan garis bersih. Nick menjelaskan bahwa Nathan tidak sekadar nekat. Dia membaca lintasan, suhu ban, dan gerakan lawan seperti orang lain membaca wajah.
"Dia latihan bertahun-tahun," kata Nick. "Jangan percaya kalau dia bilang cuma hobi."
"Kenapa berhenti ikut kompetisi resmi?"
Nick meliriknya. "Masalah keluarga. Tanya sendiri kalau dia mau cerita."
Karina menatap nomor tujuh. Semakin dia mendekati Nathan, semakin banyak pintu tertutup yang ditemukan.
"Dia selalu secepat ini?"
"Sejak umur tiga belas," jawab Bobby. "Kadang terlalu berani."
Dua putaran terakhir, mobil merah dan biru mengepung Nathan. Dari layar besar, terlihat mobil merah menyentuh sisi belakang nomor tujuh. Percikan api muncul.
Karina berdiri refleks. Dunia berputar.
"Bu, duduk!" Bobby menahan lengannya.
Mobil biru menghantam dari sisi lain. Nathan terjepit menuju pembatas. Penonton berteriak.
Radio tim memekik. Petugas mengibarkan tanda peringatan, tetapi dua pengemudi itu tidak mengendur. Mobil merah kembali menyenggol. Bagian samping nomor tujuh tergores panjang, mengirim bunga api ke udara malam.
Bobby berdiri di depan Karina agar dia tidak terdorong penonton. "Tarik napas, Bu. Lihat saya."
"Dia akan menabrak."
"Nathan tahu jalan keluar."
Karina ingin percaya, tetapi tangannya dingin dan perutnya menegang. Dia duduk, mengatur napas seperti yang diajarkan dokter, satu telapak melindungi tiga kehidupan kecil.
Nathan menginjak rem mendadak. Mobil merah kehilangan jarak, menyambar bagian depan mobil biru. Keduanya berputar dan saling menghantam, asap naik dari ban.
Nomor tujuh melesat melalui celah, kembali mengambil jalur, lalu menyentuh garis akhir pertama.
Tribun meledak oleh sorak.
Karina tidak bisa bernapas sampai Nathan keluar dari mobil. Dia tampak utuh, tetapi tatapannya mengerikan.
Dua pengemudi lawan turun sambil memaki. Salah satu mendorong bahu Nathan. Pukulan Nathan langsung menghantam rahangnya.
Perkelahian pecah.
Nathan bergerak cepat dan brutal. Satu lawan jatuh setelah pukulan ke perut. Lawan kedua mencoba menyerang dari belakang, tetapi Nathan memutar tubuh dan membantingnya ke kap mobil.
"Cukup!" teriak Nick.
Nathan tidak mendengar. Dia memukul lagi sampai darah muncul di buku-buku jarinya. Nick mengunci lengannya dari belakang.
"Udah! Nanti ada yang mati!"
Nathan melepaskan diri. Matanya masih mencari lawan.
Karina berdiri di balik pagar, wajahnya pucat. "Nathan, jangan!"
Suara itu menembus amarah.
Nathan berhenti. Dadanya naik turun. Dia menoleh dan melihat Karina memegang perut.
Dalam satu detik, kemarahannya lenyap. Dia berlari ke arah Karina.
"Kram? Berdarah?"
"Nggak. Aku takut."
Nathan memeluknya hati-hati. Tangannya gemetar saat memeriksa wajah Karina.
Nick dan Bobby mengurus dua pengemudi yang terluka. Petugas lintasan memanggil medis dan menyimpan rekaman tabrakan. Bukti jelas menunjukkan mereka lebih dulu menjepit mobil Nathan. Keluarga Salim akan diminta menanggung kerusakan dan insiden ditangani melalui pengelola serta perwakilan keluarga.
"Kita pulang," kata Nathan.
Di apartemen, Karina menemukan kulit buku jarinya robek, bahu kanan memar, dan dada penuh warna ungu akibat sabuk keselamatan.
Nathan sebenarnya ingin singgah ke klinik, tetapi Karina lebih dulu menelepon dokter klub. Setelah memastikan Nathan sadar penuh, tidak sesak, tidak muntah, dan tidak kehilangan orientasi, dokter meminta kompres dingin serta pemeriksaan jika nyeri dada memburuk. Karina mencatat semuanya.
Dia membantu Nathan membersihkan diri tanpa membasahi luka. Setiap kain menyentuh memar, otot Nathan menegang. Karina baru sadar betapa keras sabuk menahan tubuhnya saat mobil direm mendadak.
"Kamu bilang aman," katanya.
"Lintasannya aman. Orangnya yang curang."
"Jangan balapan lagi."
Nathan menatapnya melalui cermin. "Kalau kamu minta, aku pikirkan."
"Aku minta."
"Baik. Sampai anak-anak lahir, nggak ada balapan."
Karina berhenti mengompres. Dia tidak menyangka Nathan akan setuju semudah itu.
"Kenapa?"
"Karena saat melihatmu hampir jatuh, menang tadi langsung nggak ada artinya."
"Buka kausmu."
Nathan mengangkat alis. "Dokter melarang."
"Aku mau mengobati luka."
Dia menurut. Karina membungkus es dengan handuk dan menempelkannya ke bahu. Nathan meringis, lalu tersenyum saat Karina meniup luka tangannya.
"Jangan senyum. Aku masih marah."
"Tapi kamu sayang."
"Aku takut tiga bayi kehilangan ayah sebelum lahir."
"Alasan romantis lagi."
Karina menekan es lebih keras. Nathan mengaduh.
Setelah luka dibersihkan, mereka duduk di lantai dekat ranjang. Nathan menyandarkan punggung dengan hati-hati.
"Kenapa kamu seperti berubah saat berkelahi?" tanya Karina.
Nathan menatap jendela. "Dulu anak-anak bilang aku nggak punya papa. Anak haram. Aku pukul mereka sampai sekolah memanggil keluarga."
"Umur berapa?"
"Tujuh. Engkong lalu mencarikan pelatih supaya aku tahu kapan harus berhenti. Tidak selalu berhasil."
"Ayahmu di mana?"
"Singapura. Aku tinggal dengannya sejak umur delapan, tapi itu nggak membuat tahun-tahun sebelumnya hilang."
Karina menunggu tanpa mendesak.
"Aku mulai balapan umur tiga belas," lanjut Nathan. "Makin dilarang, makin aku lakukan. Aku ingin si Tua marah, ingin dia sadar uang dan nama Mah nggak bisa membuatku patuh."
Dia menceritakan satu perlombaan di Singapura ketika usianya enam belas. Ayahnya datang terlambat, hanya untuk menyuruh staf menyerahkan hadiah. Nathan membuang kotak itu ke tong sampah dan balapan lagi dengan tangan cedera.
"Aku pikir kalau menang cukup banyak, dia akan datang sebagai ayah, bukan pemilik bank," katanya. "Ternyata aku cuma makin marah."
"Ibumu?"
"Mami selalu ada, tapi hubungan mereka rumit. Aku tinggal di antara dua rumah dan dua nama. Nathan kalau aku ingin jadi anak Mami. Aries kalau keluarga ayah membutuhkan pewaris."
Karina mengusap punggung tangannya yang tidak terluka. "Lalu saat bersamaku?"
"Aku cuma lelaki yang ingin kamu berhenti lari."
Karina tersenyum dengan mata basah.
"Kamu bisa mati."
"Waktu itu aku nggak peduli."
"Sekarang?"
Nathan menatap perut Karina. "Sekarang aku punya empat alasan untuk pulang."
Mata Karina panas. Dia baru mengenal sisi Nathan yang suka menggoda, memaksa masuk, dan tertawa. Malam ini dia melihat anak tujuh tahun yang belajar memakai pukulan sebelum belajar mempercayai ayah.
"Aku minta maaf," katanya.
"Untuk apa?"
"Selama ini aku hanya melihat umurmu. Aku terus menyebutmu anak kecil supaya lebih mudah menjauh."
Nathan menyentuh pipinya. "Aku memang lebih muda."
"Tapi bukan berarti lukamu lebih kecil."
Mereka berbicara sampai dini hari. Nathan bercerita tentang Singapura, latihan balap, perkelahian sekolah, dan hubungan rumit dengan ayahnya tanpa menyebut seluruh rahasia keluarga. Karina bercerita tentang delapan tahun menunggu anak dan bagaimana setiap kegagalan membuatnya merasa tidak layak dicintai.
"Aku pernah membeli sepatu bayi," kata Karina. "Aku simpan dua tahun. Setelah hasil pemeriksaan terakhir, aku memberikannya kepada tetangga. Malam itu Andri bilang mungkin kami memang tidak ditakdirkan punya anak."
"Dia salah."
"Aku juga percaya dia salah sekarang. Tapi luka delapan tahun tidak hilang hanya karena satu hasil USG. Kadang aku masih takut bangun dan semuanya tidak ada."
Nathan mengambil tiga buku catatan, membukanya pada halaman detak jantung. "Kalau takut, baca ini. Kalau masih takut, bangunkan aku."
"Kalau kamu di kampus?"
"Telepon."
"Kalau sedang balapan?"
"Aku sudah janji berhenti."
Karina menyadari setiap jawaban Nathan bukan janji besar tanpa bentuk. Dia mengubah jadwal, tempat tinggal, uang, bahkan bagian paling liar dari hidupnya menjadi tindakan yang bisa disentuh.
Nathan menggenggam tangannya. "Aku nggak menikahimu karena kasihan atau cuma karena bayi."
"Kita baru kenal."
"Tapi aku tahu aku ingin tetap di sini."
Karina menyandarkan kepala di bahunya yang tidak terluka. Untuk pertama kalinya, dia tidak memikirkan jalan keluar.
Cahaya fajar merayap di lantai. Nathan menyelipkan selimut ke kaki Karina.
"Kalau aku benar-benar anak haram," tanyanya sangat pelan, "kamu masih tetap mau aku nanti juga?"