Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parfum berbeda
Deon menghela napas, tetapi ia tidak membiarkan kekecewaan kecil itu menguasai pikirannya.
“Tidak apa-apa. Mungkin dia sibuk,” gumamnya.
Ia menyalakan mesin mobil, lalu mulai berkendara pulang.
Di sepanjang perjalanan, ia membayangkan Nara yang mungkin sedang menyiapkan diri untuk pulang kerja. Ia ingin segera bertemu istrinya, mendengar suaranya, dan melihat senyum yang sejak pagi terus terbayang di benaknya.
Deon tidak tahu bahwa Nara juga sedang memikirkan dirinya.
Dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama itu perlahan mulai saling mencari, meskipun belum satu pun berani mengakui perasaannya.
Namun, ada satu hal yang belum diketahui Deon.
Arka belum benar-benar menyerah.
Dan ketika masa lalu itu kembali mengetuk kehidupan Nara, Deon harus membuktikan apakah cintanya yang selama ini ia simpan mampu bertahan menghadapi rahasia yang belum terungkap.
...
Sesampainya di gang menuju perumahan, Deon mendapati Nara tengah pulang berjalan kaki seperti biasa.
Tin!
Suara klakson mobil tiba-tiba terdengar dari belakang Nara.
Perempuan itu tersentak, lalu menoleh dengan wajah terkejut. Ia sama sekali tidak menyadari ada mobil yang melaju pelan tepat di belakangnya.
Ketika kaca jendela mobil itu terbuka, tampaklah wajah Deon yang sedang menahan tawa.
“Mikirin apa, sih? Sampai-sampai mobil suami sendiri enggak kelihatan.” Deon tersenyum lebar. “Ayo, masuk!”
Nara memutar bola matanya.
“Iseng banget kamu!” gerutunya sambil mendekati mobil. “Eh, kamu baru pulang kerja, Deon? Kok tumben pulangnya bareng?”
Deg!
Jantung Deon seolah berhenti sesaat.
Ia baru saja mengantar Alexa pulang, bukan kembali dari tempat kerja. Namun, ia tidak mungkin menceritakan semuanya sekarang, apalagi menjelaskan alasan dirinya menemani perempuan lain atas permintaan orang tuanya.
Deon berusaha memasang wajah biasa.
“Iya, aku juga baru pulang.”
Nara memperhatikannya sekilas, lalu mengangguk kecil.
“Oh, begitu. Ya sudah, aku jalan kaki saja. Rumah sudah kelihatan, kok. Tinggal sebentar lagi.”
Ia hendak melanjutkan langkah, tetapi Deon segera memanggilnya.
“Ra, tunggu!”
Nara menoleh. “Apa lagi?”
“Masuk dulu. Aku mau mengajakmu pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Makan malam.”
Nara mengernyitkan dahi. “Makan malam? Memangnya kamu belum makan?”
“Belum.”
“Lho, bukannya kamu sudah pulang kerja? Masa belum makan juga?”
Deon terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.
“Ya, makanya aku mengajakmu makan. Masa aku harus makan sendirian?”
Nara menggeleng geli.
“Alasan saja kamu.”
“Memangnya kamu mau membiarkan suamimu kelaparan?”
“Siapa yang membiarkan? Kan, kamu bisa makan sendiri.”
Deon memasang wajah memelas.
“Jahat sekali istriku ini.”
Nara akhirnya tertawa. Entah mengapa, melihat Deon berpura-pura tersinggung membuatnya ingin terus menggodanya.
“Ya sudah, tunggu sebentar. Aku masuk dulu untuk mengambil tas.”
“Tidak perlu. Tasmu sudah kamu bawa, kan?”
Nara melihat tas di bahunya, lalu menepuk dahinya pelan.
“Oh, iya!”
Deon tertawa melihat tingkah istrinya.
“Sudah, masuk. Sebelum aku berubah pikiran dan menyuruhmu berjalan kaki sampai rumah.”
“Coba saja! Nanti aku tinggal kamu!”
“Wah, berani sekali.”
Nara mendengus, tetapi akhirnya membuka pintu mobil dan duduk di samping Deon. Ada sedikit aneh, Nara merasakan parfum berbeda... Parfum yang tak pernah ada di antara mereka, seperti parfum wanita namun bukan miliknya. Nara pun mencoba mengabaikan itu.
Mobil melaju meninggalkan gang perumahan menuju jalan yang lebih ramai.
Nara melirik Deon yang fokus menyetir.
“Kita mau makan di mana?”
“Di restoran dekat pantai. Katanya makanan laut di sana enak.”
Mata Nara sedikit berbinar, suasana hatinya kembali tenang.
“Serius? Aku sudah lama enggak makan di dekat pantai.”
Deon tersenyum mendengar antusiasmenya.
“Kalau begitu, malam ini kita makan di sana. Kamu bisa menikmati pemandangan laut juga.”
“Wah, baik sekali suamiku hari ini.”
Deon meliriknya sekilas.
“Memangnya biasanya aku jahat?”
“Enggak juga.” Nara berpura-pura berpikir. “Cuma kadang-kadang menyebalkan.”
Deon terkekeh.
“Kalau begitu, aku harus lebih sering mengajakmu jalan supaya penilaianmu membaik.”
Nara tersenyum sambil memandang keluar jendela. Ia tidak menyangka akan menikmati perjalanan sederhana seperti ini bersama Deon.
Di sisi lain, Deon diam-diam merasa lega melihat istrinya mulai terlihat lebih ceria. Setidaknya untuk malam ini, ia ingin membuat Nara melupakan beban pikirannya.
Meski demikian, ada satu persoalan yang masih mengganggu pikirannya.
Mobil yang mereka gunakan adalah milik sahabatnya, Nara tahu itu. Setelah makan malam, Deon harus mengembalikannya dan mengambil motor Ninja miliknya yang masih berada di rumah orang tua Nara.
Padahal, Deon sebenarnya memiliki mobil sendiri, bahkan jauh lebih mewah daripada mobil yang sedang dikendarainya sekarang. Namun, ia belum siap menjelaskan kepada Nara bagaimana dirinya bisa memiliki kendaraan semahal itu jika selama ini mengaku hanya bekerja sebagai pegawai biasa.
Karena itu, ia memilih tetap berhati-hati.
Ia tidak ingin kebohongan kecil yang dibuatnya demi menyembunyikan identitas justru membuka rahasia yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
Malam itu, setelah menikmati makan malam di restoran dekat pantai, Deon mengajak Nara menuju rumah Oma Shu Fen.
Sebelum berangkat ke rumah Oma, Deon sempat menghubungi sahabatnya, Dimas, untuk memastikan mobil yang dipinjamnya bisa dikembalikan malam itu.
Mobil tersebut memang milik Dimas. Karena motor Ninja 250R milik Deon masih berada di rumah orang tua Nara, ia terpaksa meminjam mobil sahabatnya untuk membawa barang pindahan kemarin. Deon belum ingin menggunakan mobil pribadinya yang jauh lebih mewah karena ia masih menyembunyikan identitas dan keadaan finansialnya dari Nara.
“Dim, nanti aku kembalikan mobilmu ke rumah Oma, ya. Sekalian aku ambil motor di rumah mertuaku,” ujar Deon melalui telepon.
“Boleh. Kebetulan aku juga mau mampir ke rumah Oma. Nanti aku tunggu di sana,” jawab Dimas.
Setelah makan malam bersama Nara di restoran dekat pantai, Deon pun mengarahkan mobil menuju rumah Oma Shu Fen. Ia sudah memberi tahu Dimas bahwa mereka akan tiba tidak lama lagi.
Ketika sampai, Deon memarkir mobil di halaman rumah. Dimas ternyata sudah menunggu di teras.
“Nah, akhirnya datang juga!” seru Dimas saat melihat mereka turun dari mobil. “Aku kira kamu bakal lupa kalau mobil ini punya orang.”
Deon terkekeh sambil menyerahkan kunci mobil kepadanya.
“Memangnya aku pernah lupa utang?”
“Bukan utang, Bos. Ini mobilku, bukan mobil rental.” Dimas menyeringai, lalu melirik Nara yang berdiri di samping Deon. “Oh, iya. Kenalkan, aku Dimas, sahabat Deon.”
Nara tersenyum sopan. “Nara.”
“Iya, aku sudah tahu kok. Selamat ya atas pernikahannya dengan Deon.” Dimas membalas senyumnya, berusaha bersikap biasa meskipun ia mengetahui jauh lebih banyak tentang Deon daripada yang diketahui Nara.
Deon segera menyela sebelum sahabatnya itu keceplosan mengatakan sesuatu.