Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Hari sidang perceraian digelar di pengadilan negeri kota itu.
Suasana di koridor pengadilan terasa tegang dan formal. Beberapa orang duduk menunggu giliran, suara sepatu di lantai marmer bergema pelan. Rian datang lebih awal, mengenakan kemeja putih yang rapi tapi wajahnya pucat dan lelah. Ia terus mencari sosok Mia di antara kerumunan.
Akhirnya ia melihatnya. Mia berdiri di dekat jendela, didampingi orang tuanya. Ia mengenakan blus hitam sederhana, rambutnya diikat rapi, ekspresinya tenang. Ketika pandangan mereka bertemu, Rian segera menghampiri.
“Sayang, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Rian pelan, suaranya hampir bergetar.
Mia mengangguk pelan. “Ada apa?” tanyanya sambil menatap Rian. Pandangannya sulit diartikan, ada jarak, ada rasa kecewa tapi juga sedikit rasa tidak tega melihat wajah suami yang dulu ia cintai kini begitu hancur.
Mereka berjalan sedikit menjauh dari kerumunan, berdiri di sudut koridor yang lebih sepi. Rian menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Mia dengan mata yang berkaca-kaca.
“Bisakah kamu cabut perceraian ini?” bujuknya dengan tatapan memohon. “Aku mencintaimu, Mia. Aku tidak ingin kehilangan kamu dan Kayla. Aku tahu aku banyak salah. Aku tahu aku lemah. Tapi aku janji, aku akan berubah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.”
Mia terdiam. Ia menatap Rian lama, seolah menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan. Lalu suaranya keluar datar, tapi tajam.
"Sudah terlambat, Rian. Saat ini aku tidak butuh perlindungan darimu lagi" ucap Mia.
"Aku mohon Mia. Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya" ujar Rian dengan tatapan memohon. Dia meraih kedua tangan Mia, lalu menggenggamnya.
Mia menghela nafas panjang, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak sanggup melihat wajah Rian. "Maaf Rian. Aku tidak bisa"
"Lakukan demi Kayla. Aku tidak mau dia memiliki orang tua yang tidak lengkap. Jangan buat dia menjadi korban" Rian tanpa henti meyakinkan istrinya.
Jujur Mia merasa berat melepas Rian. Rasa cinta di hatinya belum sepenuhnya hilang.
“Jadi kamu mau adikmu di penjara?”
Pertanyaan itu membuat Rian terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras, matanya menunduk. Ia merasa dilema yang sangat berat. Di satu sisi, ia mencintai Mia dan tidak ingin kehilangan keluarganya. Di sisi lain, ancaman penjara untuk sang adik masih menggantung. Tapi kali ini, ia tahu ia harus memilih.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat panjang, Rian mengangkat wajah. Suaranya serak, tapi tegas.
“Masalah Lukman aku serahkan ke kamu,” jawabnya. “Itu hak kamu untuk menghukum dia. Aku tidak akan membela. Aku tidak akan menghalangnya lagi. Kalau kamu ingin melaporkannya, silakan. Aku tidak akan ikut campur.”
Mia menatapnya dalam-dalam. Ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Rian, bukan hanya penyesalan, tapi juga keberanian yang terlambat. Namun di hatinya, luka yang sudah terlalu dalam tidak mudah hilang hanya dengan satu kalimat.
Keheningan mengisi ruang di antara mereka. Dari kejauhan, petugas pengadilan mulai memanggil nama-nama untuk sidang berikutnya. Waktu terus berjalan, dan keputusan besar masih menunggu di balik pintu ruang sidang.
*
*
Di dalam ruang sidang yang sunyi, suasana terasa tegang.
Hakim duduk di meja tinggi, memeriksa berkas yang tebal di hadapannya. Mia dan Rian duduk di sisi berseberangan, masing-masing didampingi kuasa hukumnya. Setelah mendengarkan keterangan kedua belah pihak, hakim mengetuk palu pelan dan mulai membacakan pertimbangan.
“Berdasarkan bukti dan kesaksian yang diajukan,” suara hakim tenang namun tegas, “alasan perceraian yang dikemukakan Penggugat belum memenuhi unsur perselisihan yang terus-menerus dan tidak dapat didamaikan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Meskipun terdapat konflik keluarga, kekerasan yang dilaporkan masih dalam proses hukum terpisah, dan Tergugat telah menunjukkan itikad baik untuk memperbaiki rumah tangga.”
Mia menegang di kursinya. Ia menoleh ke arah kuasa hukumnya, tidak percaya.
Hakim melanjutkan, “Oleh karena itu, majelis hakim menolak gugatan perceraian yang diajukan Penggugat untuk saat ini. Kedua belah pihak diimbau untuk menempuh mediasi ulang dan menyelesaikan permasalahan keluarga secara damai. Putusan ini dapat diajukan banding apabila tidak diterima.”
Palu diketuk sekali.
Ruang sidang seketika hening. Rian menghela napas panjang, campuran antara lega dan bersalah. Sementara Mia duduk kaku, wajahnya terlihat kecewa. Ia merasa dunia seolah berputar. Semua usahanya, menjual rumah, mengumpulkan bukti, mengambil keputusan sulit, baru saja ditolak dengan formalitas hukum.
Di luar ruang sidang, Maya langsung memeluk putrinya. “Tidak apa-apa, Nak. Kita banding. Kita tidak berhenti di sini.”
Mia hanya mengangguk lemah. Di matanya, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Ia menatap Rian yang berdiri di kejauhan. Rian seolah ingin mendekat, tapi langkahnya ragu.
Putusan itu bukan akhir. Tapi bagi Mia, penolakan itu terasa seperti tamparan lain yang harus ia hadapi.
Di luar ruang sidang, suasana masih ramai dengan orang-orang yang keluar-masuk. Mia duduk di bangku panjang sambil menggendong Kayla. Air matanya belum sepenuhnya kering. Bocah kecil itu menatap wajah ibunya dengan bingung, lalu mengangkat tangan kecilnya untuk menyeka pipi Mia.
“Mama tenapa nangis?” tanya Kayla, suaranya polos.
Mia tersenyum tipu, mengusap kepala putrinya. “Mama tidak apa-apa, sayang. Ayo, kita pulang.”
Kayla menggeleng pelan, lalu memeluk leher ibunya lebih erat. “Pulang cama papa ya, Ma. Kay cudah lama bda tidul cama papa. Kangen lacanya dili ini nda di puk-puk papa,” ucapnya dengan suara cadel yang masih lucu tapi membuat dada Mia sesak.
Mia terdiam sejenak. Ia menatap mata putrinya yang penuh harapan, lalu menggeleng pelan. “Tidak bisa, sayang. Sekarang Papa sudah punya rumah sendiri.”
Dari kejauhan, Rian yang sejak tadi berdiri diam menghela napas sabar. Ia mendengar percakapan itu. Langkahnya pelan mendekati mereka berdua. Wajahnya campur aduk antara rasa bersalah dan rindu.
Ia berjongkok di depan Kayla, mengusap rambut anaknya dengan lembut. “Papa di sini, sayang,” bisiknya. “Papa kangen banget sama Kayla.”
Kayla langsung mengulurkan tangan ke arah ayahnya, ingin pindah pelukan. Mia menatap Rian sebentar, lalu membiarkan putrinya berpindah. Rian menggendong Kayla erat, mencium puncak kepalanya, sementara Mia berdiri di samping mereka dalam diam.
Untuk sesaat, ketiganya berdiri di koridor pengadilan yang ramai, keluarga yang sudah retak, tapi masih terikat oleh satu anak kecil yang belum mengerti mengapa dunia orang dewasa begitu rumit.
"Turuti saja kemauannya, aku janji tidak akan macam-macam denganmu" ucap Rian. Dia tidak tega melihat wajah sang putri yang tengah merindukan dirinya.
Mia pun mau menurunkan egonya, karena pada dasarnya dia masih menyukai suaminya. "Terserah kau saja" ucap Mia.