NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuai Ilmu Di Lereng Singgalang

Seusai salat Ashar berjamaah di surau kecil dekat pemukiman yang dindingnya dari papan tua, suasana di halaman belakang rumah Usman Bin Rauf Sikumbang terasa sejuk dan tenang. Angin dari Bukit Singgalang turun pelan, membawa aroma daun cengkeh dan asap kayu bakar. Sinar matahari mulai meredup, menyisakan cahaya keemasan yang membelah celah dedaunan pohon kelapa dan pohon cengkeh yang rindang.

Di dapur, Rismawati Chaniago sedang menanak nasi sore. Di rumah sebelah, Siti Aminah Sikumbang juga mengintip dari jendela sambil menggendong kain. Kedua ibu itu menatap cemas sekaligus bangga melihat kelima anak laki-laki mereka sedang ditempa.

Di tanah yang telah diratakan dengan cangkul itu, kelima anak itu sedang sibuk melatih gerakan dasar Silek Harimau. Tidak ada matras, hanya tanah keras berdebu.

Andi Rajo Alam Sikumbang berdiri paling depan sebagai patokan karena ia yang paling tua. Di belakangnya Ibrahim Sulaiman Chaniago yang tenaganya paling kuat. Lalu Arlan Rasyad Sikumbang dan Darlin Aminuddin Chaniago — keduanya sama-sama SD Kelas 4, jadi mereka selalu saling lirik siapa yang kuda-kudanya lebih rendah. Dan di paling ujung, Arya Arsyad Sikumbang yang baru 8 tahun. Celananya kelonggaran, tapi gerakannya paling lincah.

Mereka melangkah menyamping, menekuk lutut rendah sampai paha bergetar, yang disebut Langkah Tigo. Tangan kanan di depan dada, tangan kiri menjaga rusuk.

"Kuda-kuda jan tinggi, Arlan! Samo jo Darlin! Malu jo Arya! Umua 8 tahun tapi randah kuda-kudanyo!" teriak Usman dari beranda.

Keringat membasahi dahi mereka. Baju tipis mereka sudah basah dan menempel di punggung.

Saat mereka baru selesai satu rangkaian dan hendak istirahat, Usman memanggil dengan suara tegas namun tidak keras.

“Kamarilah Kalian Balimo, Mandeka Ka Siko!”

Kelimanya segera mendekat dengan hormat. Ibrahim dan Darlin berdiri agak di depan, Andi, Arlan, Arya di samping, tapi semuanya sama di mata Usman.

Usman menatap satu per satu wajah mereka, lalu mulai berbicara lambat namun jelas.

“Danga elok-elok apo yang ka ambo sampaikan ko. Mulai esok jo sataruihnyo, satiok sudah pulang sakolah, ang balimo langsuang pulang ka rumah. Jan singgah ka surau dulu."

"Ambo ka mambao kalian ka tampek warisan keluarga kito. Di sanolah dahulunyo Kakek kito nan tacinto, Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang, manompah Abang ambo, manompah diri ambo surang, jo pulo manompah ipar ambo, Abdullah bin Rais Payobadar — ayah kandung dari Andi, Arlan, dan Arya. Di sanolah inyo dulu ditempo sampai menjadi laki-laki yang kokoh. Tampek itu lah manjadi saksi bisu, bak cando badan nan lomeh ditempo jadi kokoh, hati nan takuik diuba jadi babarani."

Mendengar nama kakek buyut dan nama ayah mereka Abdullah bin Rais Payobadar disebut dengan hormat, mata Andi, Arlan, dan Arya langsung berbinar. Bagi mereka, nama Abdullah bin Rais Payobadar adalah nama ayah mereka sendiri yang mereka banggakan.

“Elok, Paman! Kami siap!” jawab Andi Rajo Alam Sikumbang mewakili adik-adiknya.

“Kami siap, Ayah!” seru Ibrahim dan Darlin bersamaan.

Keesokan harinya, tepat saat lonceng SD dan SMP berdentang tanda pulang, pemandangan lucu terlihat di pematang sawah. Ibrahim yang SMP pulang dengan tas lusuh. Darlin, Arlan, dan Arya — tiga anak yang sama-sama Kelas 4 SD — pulang bersama. Arya yang baru 8 tahun tasnya paling besar hampir menutupi punggungnya, tapi jalannya paling cepat. Andi yang SMP sudah menunggu di halaman rumah Usman.

Usman sudah menunggu dengan kendi bambu. Tanpa banyak bicara ia memberi isyarat, "Mari kito barangkek. Ikui langkah ambo, jago jarak, jo atuo napas elok-elok."

Awalnya jalan datar melewati sawah. Lama-lama menanjak. Jalan setapak menuju lereng bawah Bukit Singgalang, di bawah batang pinus gadang — tempat yang kini orang sebut Pos Satu — mulai terjal, berbatu, dan licin oleh lumut.

Mereka berlari terus menanjak selama hampir satu jam penuh. Keringat membasahi seluruh tubuh, napas mereka mulai terengah-engah seperti embusan angin kencang, dan kaki mereka terasa semakin berat seolah ada beban batu yang diikatkan.

Akhirnya, mereka tiba di lereng bawah Bukit Singgalang, di bawah batang pinus gadang itu. Dari tempat itu, seluruh Nagari Pandai Sikek, sawah berundak-undak, dan lembah hijau tampak jelas. Udara dingin menusuk kulit yang basah oleh keringat.

Namun keindahan itu tak sempat dinikmati, karena tubuh mereka sudah mencapai batas.

Begitu menginjak tanah datar, Andi Rajo Alam Sikumbang, anak sulung dari Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar yang sudah SMP, langsung ambruk tergolek di atas rumput. Ia paling gengsi, ia memaksa diri di depan, sehingga tenaganya habis duluan.

“Ya Allah… raso jantung ambo ka lompek kalua dari dado ko…”

Kedua, Arlan Rasyad Sikumbang, anak kedua dari Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar yang SD Kelas 4. Ia sempat berdiri tegak, tapi perutnya berputar dan ia langsung muntah-muntah di sisi jalan.

Ketiga, Arya Arsyad Sikumbang, anak bungsu dari Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar yang baru 8 tahun tapi sudah Kelas 4 SD. Satu terompah kayunya putus talinya. Ia berjalan pincang, satu kaki pakai terompah, satu kaki nyeker, sambil hampir menangis, "Paman… tarompa ambo putuih…"

Keempat, Ibrahim Sulaiman Chaniago, anak kandung Usman dan Rismawati yang SMP. Badannya besar, tapi justru cepat habis tenaganya. Ia menjatuhkan lutut dan merangkak pelan-pelan.

“Kaki… rasanya sudah bukan milikku lagi, Ayah…”

Dan yang terakhir, Darlin Aminuddin Chaniago, anak kandung bungsu Usman dan Rismawati yang SD Kelas 4. Ia paling jauh tertinggal. Ia melepas terompahnya, tapi digenggam erat di kedua tangannya seperti harta pusaka, lalu merangkak sampai ke dekat ayahnya.

"Iko labiah barek dari mampikia tigo karuang bareh, Yah… tapi tarompa ko indak buliah tatinggaan, kan Ayah suruah pakai…”

Melihat pemandangan itu — Andi ambruk, Arlan muntah, Arya pincang, Ibrahim merangkak, dan Darlin memeluk terompah — Usman Bin Rauf Sikumbang tertawa lepas, suaranya bergema di antara pepohonan.

“Ha ha! Caliaklah keadaan ang kini! Inilah raso manjadi pamulo!"

Setelah tawanya reda, ia berjongkok di tengah mereka. Ia menatap Andi, Arlan, dan Arya, lalu menatap Ibrahim dan Darlin.

“Tahu angku mangapo ambo bawa kalian balimo ka siko? Supayo ang tau, darah Sikumbang, Chaniago, dan Payobadar itu samo sajo. Andi, Arlan, Arya — kalian adalah anak dari adik ambo Siti Aminah dan ipar ambo Abdullah bin Rais Payobadar. Ibrahim, Darlin — kalian adalah anak dari ambo jo Rismawati. Tapi di lereng ko, indak ado beda anak jo kemenakan. Sadonyo samo murid Silek Harimau."

“Raso laleh ko, mual ko, gamatak ko — sadonyo adolah pintu gerbang ka kakuatan nan sabana. Dulu ambo jo Abdullah bin Rais Payobadar, ayah kalian, juo muntah-muntah di siko. Jadi jan malu."

Arya yang baru 8 tahun mengangkat tangan kecilnya, masih terengah, "Paman… kalau Arya muntah sarupo Arlan, berarti Arya lah hebat macam Ayah Abdullah dulu?"

Pertanyaan polos itu membuat semuanya tertawa lemah, bahkan Arlan yang masih mual.

Usman menepuk bahu mereka satu per satu, dari Andi yang paling tua sampai Arya yang paling kecil.

“Kini istirahat satangah jam. Atuo napas palahan, hirup udaro sagai sabanyaknyonyo. Esok, lusa, jo ari-ari salanjuiknyo, kito ka maulang jalang ko lai jo lai. Sampai lari ka lereng bawah ko taraso saroman bajalan di halaman rumah ang surang. Itulah waktunyo kakuatan kaki jo katahanan badan ang mulai tabantuak, cando kaki harimau nan kuek jo indak pernah lalah malangkah di rimbo."

Di lereng bawah yang sejuk itu, di bawah langit yang mulai berwarna jingga keunguan, kelima pemuda itu — dua anak kandung Usman dan Rismawati, dan tiga anak kandung Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar — beristirahat bersama. Dua keluarga yang sebenarnya satu darah besar, kini meniti impian yang sama, selangkah demi selangkah, dari tanah lereng Singgalang yang keras dan berdebu itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!