Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Awal Menuju Ibukota
Suasana di dalam ruang tamu kediaman Xia Qinglan mendadak sunyi setelah badai emosi dan pengungkapan masa lalu yang kelam mereda. Udara malam pegunungan Desa Caiyun berembus pelan, membawa hawa dingin yang menyelinap lewat celah-celah jendela kayu, namun tidak seorang pun di dalam ruangan itu yang terusik. Bara api dendam dan tekad baja telah membakar habis rasa dingin di dada mereka.
Qinglan berdiri tegak di hadapan meja kayu tempat peta usang kekaisaran terbentang. Pandangannya tajam menatap jalur-jalur tikus dan rute rahasia yang menghubungkan desa terpencil itu langsung ke jantung ibukota utara. Setelah sekian lama memilih hidup menyepi di pengasingan, mengumpulkan kepingan kekuatan, dan merajut takdir bersama para pangeran buangan, gadis itu akhirnya mengambil keputusan mutlak.
“Kita tidak bisa terus-menerus menunggu musuh datang mengetuk pintu rumah ini,” suara Qinglan memecah keheningan malam dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah. “Pangeran Ketiga dan faksi korup di istana sedang berada di atas angin setelah menyebarkan fitnah dan berita kematian palsu. Sudah saatnya kita yang melangkah keluar dari bayang-bayang.”
Feng Huang, yang berdiri di sisi kanan meja, menyambut keputusan itu dengan kilatan semangat di matanya. Sepasang manik mata merahnya memantulkan cahaya lentera, menyuarakan rasa tidak sabar untuk segera pulang dan menuntut balas atas penderitaan sang ayah, Lord Feng Dengxi, yang tertipu mentah-mentah di atas peti mati kosong.
“Kau benar, Lanlan,” ujar Feng Huang mantap. “Sudah terlalu lama para pengkhianat itu bersenang-senang di atas penderitaan orang-orang yang kita kasihi. Aku sudah muak bersembunyi. Kapan kita akan berangkat ke ibukota?”
Qinglan melirik sekilas ke arah Feng Huang, lalu mengalihkan pandangannya kepada Mingye dan Gu Yichen yang berdiri tidak jauh dari sana.
“Kita akan bergerak dalam tiga hari ke depan,” jawab Qinglan tenang. “Dan tujuan pertama kita sekembalinya ke ibukota bukanlah langsung menerobos istana atau mendatangi kediaman utama klan kalian secara terang-terangan. Kita akan kembali ke tempat di mana semuanya bermula—kembali ke kediaman keluarga Xia.”
Mendengar nama kediaman Xia disebut, Mingye mengangkat sebelah alisnya. Sebagai seseorang yang terbiasa dengan intrik politik kalangan atas, ia langsung menangkap maksud strategis dari perkataan sang gadis.
“Kediaman Xia? Bukankah tempat itu sudah lama ditinggalkan dan disegel sejak tragedi kematian orang tuamu, Lanlan?” tanya Mingye memastikan.
“Tepat sekali, Mingye,” balas Qinglan dengan senyuman misterius. “Bagi dunia luar, kediaman keluarga Xia adalah tanah terlarang yang penuh kutukan dan sisa-sisa pengkhianatan. Tapi bagi kita, tempat itu adalah benteng pertahanan tersembunyi yang paling aman tepat di bawah hidung Pangeran Ketiga. Tidak ada seorang pun di istana yang menduga bahwa kita akan berani kembali ke sarang singa.”
Gu Yichen, yang sejak tadi menyimak dengan saksama, mengangguk setuju. Sebagai mantan pengawal bayangan yang memahami seluk-beluk pengamanan ibukota, analisis Qinglan sangatlah akurat.
“Nona benar,” sahut Gu Yichen dengan suara datarnya yang khas. “Statusku saat ini masih menjadi buronan utama atas maklumat fitnah pengkhianatan, dan Feng Huang dianggap telah mati. Jika kita memasuki gerbang utama ibukota secara terbuka, kita hanya akan memancing ribuan pasukan penangkap. Menggunakan jalur bawah tanah dan bermarkas di kediaman lama keluarga Xia adalah langkah paling rasional untuk membangun kekuatan dari bayang-bayang.”
Persiapan matang pun langsung dimulai malam itu juga. Masing-masing dari mereka memiliki peran penting dalam rencana penyusupan tersebut. Gu Yichen bertugas memetakan titik-titik pos penjagaan militer kekaisaran yang kini diperketat di setiap perbatasan kota, memanfaatkan jaringan informasi bawah tanah yang ia miliki semasa bertugas di istana.
Sementara itu, Mingye—dengan kelicikan dan kemampuan menyamar yang luar biasa—bertugas menyiapkan dokumen perjalanan palsu serta rute logistik agar perjalanan mereka menembus ribuan mil menuju ibukota tidak terendus oleh mata-mata Pangeran Ketiga. Di sisi lain, Feng Huang terus melatih sirkulasi tenaga dalamnya, memastikan bahwa amarah di dalam dadanya terkontrol dengan sempurna dan siap diledakkan pada waktu yang paling tepat.
Qinglan sendiri sibuk meracik berbagai penawar racun dan pil pertahanan darurat. Ia tahu betul bahwa perjalanan menuju ibukota tidak akan berjalan semulus, mengingat Pangeran Ketiga pasti menyebar mata-mata di setiap penjuru jalan setapak demi memastikan tidak ada ancaman yang tersisa dari masa lalu.
Tiga hari berlalu dalam sekejap. Pagi di Desa Caiyun menyambut dengan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan. Di halaman depan kediaman kecil Xia Qinglan, keempat sosok itu telah berdiri tegap mengenakan jubah perjalanan berwarna gelap dengan tudung kepala yang menutupi separuh wajah mereka. Tidak ada keraguan di wajah mereka; yang ada hanyalah tekad baja untuk merobohkan singgasana kebohongan.
Qinglan menoleh ke belakang sekilas, memandangi rumah tempat ia menempa diri dan merajut kembali kepingan hidupnya bersama tiga pangeran aneh pemegang tanda takdir bunga plum. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan hembusan angin perbatasan yang terakhir kalinya sebelum badai sesungguhnya menanti di depan sana.
“Mari kita berangkat,” titah Qinglan singkat namun penuh wibawa.
Satu per satu, langkah kaki mereka menuruni jalur setapak pegunungan meninggalkan desa terpencil tersebut. Menuju ke utara—menuju ibukota kekaisaran yang megah namun busuk, menuju kediaman Xia yang menyimpan sejuta rahasia, dan menuju pertempuran akhir untuk menuntut keadilan bagi orang tua mereka serta menghukum para pengkhianat istana. Perburuan telah berbalik arah, dan tirai babak baru dari legenda takdir bunga plum resmi terbuka lebar.