"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Kamu Hamil?
Humaira menatap Zidan dengan tatapan yang terluka. Setiap patah kata yang keluar dari mulut suaminya seperti belati yang mengoyak perasaannya.
Zidan langsung menghakiminya tanpa celah, bahkan tanpa ragu menyebut bahwa Humaira mungkin ingin menjadi wanita simpanan.
Mungkin segelintir orang di luar sana akan berpikir rendah tentang Humaira hanya karena stigma latar belakang orang tuanya yang dijuluki wanita simpanan.
Namun, mendengar tuduhan itu keluar langsung dari bibir Zidan—suaminya sendiri yang seharusnya menjadi pelindungnya—tapi justru dia yang menciptakan luka terdalam.
"Kenapa Anda begitu marah sekali, Dokter?!" Tanya Humaira dengan suara mulai goyah menahan tangis dan amarah yang membumbung. "Anda tidak punya bukti sama sekali, tapi Anda langsung menuduh saya secara membabi buta!"
"Bukti?" Zidan tertawa sinis, sebuah tawa getir yang dipenuhi rasa cemburu. Langkah kakinya mendekat semakin mengintimidasi, mengikis jarak di antara mereka. "Bukti seperti apa lagi yang kurang, Humaira?! Di depan mataku sendiri pria itu memelukmu, memanggilmu 'sayang' di hadapan banyak orang! Dan sekarang... lihat!"
Zidan menunjuk kasar ke arah jas yang tergeletak di lantai. "Kau bahkan membawa pulang bajunya ke kamar ini! Kau masih mau mengelak dan bilang itu bukan punya dia?! Jelas-jelas bau parfum yang melekat di jas itu sama dengan bau parfum pengacara itu! Memang siapa lagi yang ingin kau bohongi di rumah ini, hah?!"
Sunyi...
Mereka saling tatap antara satu sama lain.
"Lantas, bagaimana denganmu, Dokter?" tanya Humaira yang tampak sudah sangat lelah. "Apa Dokter ingat? Dokter sendiri bahkan tidak mengakui saya sebagai istri Dokter di upacara tadi! Apa Anda pernah memikirkan sedikit saja bagaimana hancurnya perasaan saya saat suami saya sendiri menumbalkan saya demi wanita lain?!"
"Iya, benar. Semua orang memang benar kalau saya ini hanya wanita pengganti! Dan seharusnya saya tidak pantas serta tidak berhak untuk bersuara!" Menggantung ucapannya.
Humaira tertawa getir dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya. Untuk pertama kali, dia menunjukkan sisi lemahnya didepan pria itu.
"Tapi apa kalian pernah memikirkan sedikit saja perasaan aku? Aku juga korban di sini. Aku dipaksakan menggantikan Tante Melodi, tapi kenapa sekarang seakan aku yang paling bersalah?" Ujar Humaira dengan suara serak.
"Kalian memperlakukan aku seperti barang yang bisa dibuang dan dimanfaatkan sesuka hati! Semua menginjak-injak harga diriku."
"Dan di saat aku paling membutuhkan mu, kau justru bungkam, membiarkan aku dipermalukan semua orang!"
"Jadi aku mohon... tolong lepaskan aku... segera ceraikan saya, Dokter. Kita akhiri semua ini..." Ujar Humaira panjang lebar.
Zidan membeku. Kata-kata Humaira seperti tamparan keras yang meruntuhkan keegoisannya dalam sekejap.
Humaira memalingkan wajahnya. Tak ingin lagi berdebat dengan pria itu, memilih diam. Ia mengambil jas Alva yang tergeletak di lantai, merapikannya perlahan, lalu menyimpannya dengan rapi di atas nakas.
"Kalau Anda tidak keberatan, ayo besok kita ke pengadilan. Tolong lepaskan saya. Saya ingin tenang," tutur Humaira mengusap air matanya.
Humaira berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengunci pintu, lalu memutar kran air. Humaira membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin, berharap rasa dingin itu bisa meredakan gemuruh amarah dan rasa sesak yang menghimpitnya.
Di luar kamar mandi, Zidan masih terdiam tak bergerak. Ucapan Humaira yang meminta ke pengadilan besok dengan begitu tenang justru membuatnya semakin tak bisa memilih.
_____
Awal pagi sekali, sebelum Zidan bangun—dan Humaira juga tidak tahu pria itu tidur di mana, yang pastinya tidak tidur di kamar—dia langsung berangkat. Humaira bahkan tidak sarapan. Orang-orang di rumah itu terlihat belum ada yang bangun.
Dia sengaja pergi lebih cepat karena tidak ingin berhadapan dengan ibu mertua dan juga adik iparnya, Siska. Mereka pasti akan gencar dan terus-menerus mempertanyakan hubungannya dengan Alva.
Bukan itu saja, mereka juga pasti akan menghinanya dan menuduhnya sebagai wanita yang berselingkuh, sama seperti julukan yang melekat pada ibunya yang dituduh mau jadi simpanan suami orang.
Sebelum semua makian itu terjadi, Humaira memilih untuk menghindar.
Karena waktu untuk masuk kerja di rumah sakit masih terlalu jauh, Humaira memilih mendatangi rumah ibunya terlebih dahulu.
Tok, tok, tok.
Terdengar suara pintu rumah sederhana itu diketuk dari luar.
Yanti yang heran karena ada tamu sepagi itu, langsung berjalan untuk membuka pintu.
Cklek..
"Assalamualaikum, Bu..."
"Waalaikumsalam. Humaira? Kok kamu ada di sini, Nak? Pagi-pagi sekali lagi," ucap Yanti kaget melihat putrinya sudah datang berkunjung.
Humaira tersenyum tipis, lalu menarik pelan lengan ibunya untuk diajak masuk ke dalam rumah.
Mereka pun duduk bersama. Humaira mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memperlihatkannya kepada sang ibu.
Yanti kaget saat melihat sertifikat rumah sederhana mereka kini berada di depan mata.
"Humaira... di mana kamu ambil ini, Nak?" tanya Yanti penasaran.
"I-itu... ada teman yang membantuku, Bu," ujar Humaira gugup, beralasan, mencoba bersikap biasa saja.
Mendengar kata 'teman', naluri Yanti sebagai seorang ibu langsung bekerja cepat. Pikirannya langsung tertuju pada sosok Alva—putra Rara yang pasang badan membela Humaira di acara semalam.
Yanti langsung tanggap dan yakin bahwa 'teman' yang dimaksud putrinya tak lain adalah pengacara tersebut.
Namun, Yanti memilih untuk menahan diri dan pura-pura tidak tahu. Jika ia mendesak dan menanyakan sosok Alva, Humaira pasti akan tahu kalau ibunya juga hadir di acara semalam.
"Teman siapa, Humaira? Kok dia bisa mendapatkan sertifikat Ibu?" tanya Yanti penasaran, tatapannya menuntut jawaban yang lebih jelas.
Humaira seketika terlihat kebingungan dan gugup. "A-ada teman, Bu," sahut Humaira terbata-bata, mencoba berbohong.
Tak ingin ibunya terus mengorek, Humaira buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Dan kalau boleh... Ibu tolong sembunyikan sertifikat itu. Karena sepertinya Ayah yang sengaja mengambil sertifikat Ibu. Karena cuma Ayah yang sering keluar masuk ke rumah,"
Mendengar itu, raut wajah Yanti berubah. Senyum tipisnya lenyap, digantikan rasa kecewa dan sedih yang mendalam.
"Kamu benar, Humaira..." ujar Yanti lirih. "Siapa lagi yang mau mengambil sertifikat ini kalau bukan Ayahmu?"
Yanti menunduk, mengusap permukaan sertifikat itu dengan jemarinya. Wajah tua itu tampak begitu sedih dan terpukul meratapi kelakuan suaminya sendiri yang tega mencuri harta terakhir mereka.
"Sudahlah, Bu... Enggak usah dipikirkan lagi. Nanti yang ada Ibu malah tambah stres,"
Tiba-tiba, perut Humaira mendadak bergolak hebat. Rasa mual yang teramat menyerangnya.
"Ugh..."
Humaira membekap mulutnya. Merasa tak sanggup lagi menahannya, ia buru-buru bangkit dan setengah berlari menuju dapur mencari wastafel.
"Humaira?! Kamu kenapa, Nak?!" pekik Yanti kaget melihat putrinya, sembari menyusul kedalam dapur.
Setibanya didalam, ia menepuk-nepuk pundak putrinya yang memuntahkan makanannya sisa semalam karena putrinya itu belum sempat sarapan.
Melihat reaksi putrinya yang aneh, tentu saja Yanti mulai curiga ada yang tidak beres dengan putrinya.
"Humaira? Kamu hamil?"
DEG!!
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂