Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RERUNTUHAN BENTENG TERAKHIR
Matahari pagi menembus tirai venetian kamar utama kediaman Dharmawangsa dengan bias cahaya yang pucat dan dingin. Tidak ada kehangatan yang tersisa di dalam ruangan berlantaikan marmer hitam tersebut. Ziva duduk bersimpuh di sudut ranjang berukuran king-size, memeluk kedua lututnya dengan tatapan kosong nan hampa. Seluruh tenaganya seolah terkuras habis setelah malam panjang yang penuh dengan isak tangis, teriakan ketegangan di gerbang utama, dan keputusasaan yang merajam jiwa.
Konfrontasi antara Aris dan Gibran semalam telah membunuh sisa-sisa asa terakhirnya. Aris telah datang, namun kekuasaan sang Jenderal terbukti jauh lebih kuat daripada keberanian pemuda itu. Di dunia luar, hukum, keluarga, dan tunangannya sendiri takluk di bawah bayang-bayang otoritas militer Gibran Mahendra.
Pintu kamar terbuka perlahan tanpa suara. Mbok Nah melangkah masuk dengan langkah ragu-ragu membawa nampan berisi sarapan hangat dan segelas air putih. Wanita paruh baya itu menatap Ziva dengan mata berkaca-kaca, merasakan iba yang teramat mendalam melihat kondisi gadis muda yang kini tampak bagai boneka patah tanpa nyawa.
"Mbak Ziva..." panggil Mbok Nah sangat pelan, nyaris tak terdengar. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja nakas. "Mari makan barang sesendok, Nak. Tubuh Mbak sudah sangat kurus. Kalau terus begini, Mbak sendiri yang akan jatuh sakit parah."
Ziva tidak menoleh. Suaranya terdengar sangat parau, serak, dan hampir hilang di udara. "Untuk apa aku makan, Mbok? Hidup di sini sama saja mati secara perlahan. Tidak ada jalan keluar."
Mbok Nah menghela napas panjang, air matanya menetes satu ke atas permukaan meja. Ia tahu betul watak majikannya. Gibran adalah pria yang tidak akan pernah melepaskan apa pun yang sudah ia anggap sebagai miliknya, bahkan jika itu harus menghancurkan dunia di sekitarnya. Sebelum Mbok Nah sempat membujuk lebih jauh, suara derap langkah kaki berat yang sangat familier terdengar mendekat di balik pintu koridor. Mbok Nah segera menunduk, merapikan nampan, lalu bergegas mundur dan meninggalkan ruangan itu dengan cepat.
Sosok Letnan Jenderal Gibran Mahendra melangkah masuk. Pria itu sudah mengenakan seragam dinas lengkap dengan tanda pangkat berkilau di bahunya, menyiratkan bahwa ia baru saja bersiap untuk berangkat memimpin markas besar. Namun sorot mata hitamnya tidak menunjukkan kelelahan; sebaliknya, ada ketenangan yang mutlak dan kepemilikan yang gelap terpancar dari manik matanya.
Gibran berjalan mendekati tempat tidur, berdiri menjulang di hadapan Ziva yang enggan mendongak.
"Sarapanmu tidak disentuh lagi, Ziva," suara Gibran terdengar rendah dan tenang.
Ziva akhirnya mengangkat wajahnya. Manik matanya yang sembap dan merah menatap tajam Gibran tanpa secercah rasa takut yang tersisa hanyalah kebencian yang mendalam. "Puas sekarang, Jenderal?" bisik Ziva dingin. "Aris sudah pergi. Orang tuaku sudah kau bungkam. Semua orang di luar sana sudah bertekuk lutut di bawah kakimu. Apa lagi yang kau inginkan dariku? Nyawaku?"
Gibran tidak langsung menjawab. Ia berlutut di hadapan Ziva, menyamakan tinggi tubuh mereka, lalu mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi pucat gadis itu. Namun Ziva langsung menepis tangan kekar tersebut dengan kasar.
Gibran tidak marah. Alih-alih membentak, sudut bibir pria itu terangkat tipis. "Saya tidak menginginkan nyawamu, Ziva. Saya hanya menginginkan kamu tetap berada di sini, di sisi saya, di mana kamu seharusnya berada."
"Kamu egois!" teriak Ziva tertahan, air matanya kembali tumpah. "Kamu menyekapku bukan karena cinta, tapi karena obsesi sakit jiwamu! Kamu tidak bisa memiliki masa lalu, jadi kamu merusak masa depanku!"
Kalimat itu telak menghantam dinding pertahanan Gibran. Wajah sang Jenderal menggelap seketika, rahangnya mengeras kuat hingga otot-otot di lehernya menegang. Namun sebelum Gibran sempat merespons amarah itu, ponsel satelit militer di saku celananya bergetar hebat.
Gibran menegakkan tubuhnya, mengeluarkan ponsel tersebut, dan mengangkat panggilan darurat dari Mayor Jenderal Surya.
"Lapor, Jenderal," suara Surya di seberang sana terdengar tegang dan tergesa-gesa. "Ada situasi mendesak di Markas Besar. Pihak Kementerian Pertahanan dan perwakilan militer asing mendadak meminta audiensi tertutup terkait laporan investigasi independen yang diajukan oleh jaringan diplomatik keluarga Adriana. Anda harus segera hadir sekarang."
Manik mata Gibran menyipit tajam. Meskipun ia memegang kendali penuh atas teritorial domestik, tekanan dari aliansi militer internasional dan birokrasi kementerian adalah variabel yang tidak bisa diabaikan begitu saja dalam sekejap.
"Saya berangkat sekarang," jawab Gibran dingin, lalu menutup sambungan telepon secara sepihak.
Ia kembali menatap Ziva yang masih meringkuk di sudut ranjang. Ada kilatan keraguan sesaat di dalam manik mata hitam sang Jenderal bukan karena ancaman di markas, melainkan karena harus meninggalkan Ziva seorang diri di dalam rumah ini, meskipun pengamanan di luar telah diperketat secara maksimal.
"Saya harus pergi ke markas untuk urusan penting," ucap Gibran dengan suara mutlak. "Pintu kamar ini akan tetap terkunci dari luar. Jangan mencoba hal-hal bodoh selama saya tidak ada, Ziva. Pengawal di luar diperintahkan untuk menembak jika ada yang mencoba melanggar batas."
Tanpa menunggu balasan dari Ziva, Gibran berbalik, mengambil topi dinasnya di atas meja nakas, dan melangkah keluar kamar. Cklek. Pintu tertutup rapat, disusul bunyi sistem pengunci otomatis yang berdengung pelan.
Di dalam kamar yang sunyi, Ziva menarik napas dalam-dalam. Kata-kata Gibran tentang pengamanan ketat tidak menyurutkan tekadnya; sebaliknya, kepergian sang Jenderal adalah satu-satunya kesempatan emas yang mungkin tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.
Ziva bangkit dari ranjang dengan kaki yang terasa lemas. Ia berjalan ke arah jendela kaca besar, mengamati situasi di halaman bawah. Dua orang pengawal berseragam taktis tampak berjaga di dekat pintu utama, sementara area taman samping tampak relatif lebih sepi karena terhalang oleh rindangnya pohon-pohon besar.
Ia tahu ia tidak mungkin melewati pintu depan atau gerbang utama. Satu-satunya jalan keluar adalah mencari alternatif lain jalur servis atau jendela lantai dua bagian belakang yang terhubung ke balkon pelayan.
Dengan jantung yang berdegup kencang bak orang gila, Ziva mulai mencari benda-benda di dalam kamar yang bisa ia manfaatkan. Pandangannya tertuju pada seprai tempat tidur yang panjang dan kuat. Dengan gerakan tergesa-gesa, Ziva menarik dan merobek kain seprai putih itu menjadi beberapa bagian, lalu mengikatnya erat-erat hingga membentuk tali panjang yang menyerupai tambang darurat.
Ia melangkah ke arah jendela kaca, membuka kuncinya secara perlahan hingga angin dingin luar menyentuh wajahnya yang basah oleh air mata. Ziva mengikat ujung tali seprai tersebut pada kaki besi ranjang yang kokoh, sementara ujung lainnya ia lemparkan keluar mengarah ke balkon servis di lantai bawah.
Ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Jika ia ketahuan, Gibran tidak akan pernah memberinya kesempatan kedua. Namun jika ia tinggal, ia akan mati secara perlahan di dalam sangkar emas ini.
Pertemuan Puncak di Markas Besar
Sementara itu, suasana di ruang sidang komando utama Markas Besar TNI Angkatan Darat membeku dalam ketegangan tingkat tinggi. Di balik meja bundar besar berbahan kayu jati, Letnan Jenderal Gibran Mahendra duduk tegap dengan seragam kebesarannya. Di hadapannya duduk tiga orang perwira tinggi tinggi dari unsur pengawas pertahanan nasional serta seorang utusan khusus dari Kementerian Luar Negeri.
Di atas meja, tergeletak setumpuk dokumen resmi yang berisi gugatan hukum, laporan investigasi hilangnya Ziva, serta desakan intervensi internasional dari relasi diplomatik keluarga Adriana.
"Jenderal Gibran," ucap Ketua Dewan Pengawas Pertahanan dengan nada tegas dan dingin. "Laporan yang masuk ke meja kami sudah berada di ambang batas toleransi institusi. Penahanan atau penyekapan seorang warga sipil terlebih putri dari seorang diplomat senior tanpa dasar hukum yang jelas di dalam kompleks kediaman militer adalah pelanggaran berat terhadap kode etik dan hukum positif negara."
Gibran menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tenang. Tidak ada secercah pun rasa gentar atau panik di wajahnya. Wibawa dan auranya justru mendominasi seluruh ruangan sidang tersebut.
"Laporan itu tidak berdasar," jawab Gibran dengan suara berat yang sangat terkontrol. "Ziva Adriana berada di kediaman saya atas dasar kemauannya sendiri sebagai tunangan dari salah satu perwira di bawah yurisdiksi keluarga besar kami. Tidak ada bentuk penyekapan seperti yang dituduhkan oleh pihak luar yang mencoba memperkeruh situasi."
"Jika memang demikian situasinya, Jenderal," potong utusan Kementerian Luar Negeri tajam. "Maka hadirkan saudari Ziva secara langsung di hadapan dewan sidang ini sekarang juga untuk memberikan konfirmasi secara independen. Jika Anda menolak, kami terpaksa mengeluarkan surat perintah penjemputan resmi atas nama negara."
Ruang sidang mendadak diselimuti keheningan yang mematikan. Utusan Kementerian dan para perwira tinggi menatap tajam ke arah Gibran, menunggu reaksi dari sang Jenderal yang terkenal tidak tersentuh hukum.
Gibran terdiam sejenak. Jemari kekarnya mengetuk meja secara perlahan. Di balik ketenangannya yang luar biasa, sebuah intuisi militer yang tajam tiba-tiba mencengkeram dadanya. Sesuatu di dalam dirinya merasa ada hal janggal yang sedang terjadi di kediamannya di Dharmawangsa. Selama ini, Ziva tidak pernah diam begitu saja tanpa perlawanan. Kebisuan gadis itu kemarin, tatapan matanya yang penuh kebencian, hingga kepergiannya yang mendadak pagi ini... semua itu mendadak bersatu membentuk sebuah teka-teki mengerikan di dalam kepala Gibran.
Apakah kepindahan atau ketenangan Ziva pagi ini adalah sebuah penyamaran? Apakah gadis itu sedang merencanakan sesuatu di saat ia lengah?
Gibran berdiri perlahan dari kursi kebesarannya, membuat seluruh peserta rapat menegang seketika.
"Sidang ini diskors," ucap Gibran mutlak tanpa memedulikan protes dari para petinggi di hadapannya.
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan siapa pun, Gibran berbalik, menyambar topi dinasnya di atas meja, dan melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar penuh ketergesaan yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun sebelumnya.
Kembali ke kediaman Dharmawangsa, Ziva berhasil merosot turun melalui tali seprai darurat hingga tiba di lantai dasar area servis belakang. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Kakinya sempat terkilir sedikit saat mendarat di atas rumput basah, namun rasa sakit itu ia abaikan sepenuhnya.
Kawasan belakang tampak lengang karena para pengawal sedang berpatroli di bagian depan gerbang utama. Ziva berlari tertatih-tatih menuju pintu pagar samping jalan kecil yang jarang dilalui staf rumah tangga.
Ia merogoh saku mantelnya. Kemarin, saat petugas taman menyelipkan pesan dari Keyla, ia sempat melihat di mana kunci cadangan digantung di dekat panel dinding ruang utilitas. Dengan tangan gemetar hebat, Ziva menyusur dinding luar, meraba kotak kunci darurat yang tidak terkunci rapat.
Cklek.
Anak kunci kuningan kuno itu berhasil ia ambil. Tanpa membuang detik, Ziva memasukkan anak kunci tersebut ke lubang gembok gerbang samping, memutarnya hingga terdengar suara klik terbuka.
Gerbang besi perlahan berderit terbuka lebar. Dunia luar terhampar di hadapannya kebebasan yang selama ini dirampas paksa darinya kini berada tepat di depan mata.
Ziva melangkah keluar melewati gerbang, menghirup udara bebas dengan air mata yang tumpah deras di pipinya. Ia mulai berlari kecil menyusuri jalanan perumahan sepi menuju jalan raya besar di ujung kompleks untuk mencari taksi atau angkutan umum.
Belum sempat Ziva mencapai ujung jalan raya, sebuah deru mesin SUV hitam berkecepatan tinggi meluncur kencang dari arah tikungan, mengerem mendadak dengan suara decitan ban yang memekakkan telinga tepat di hadapannya.
Ziva terkesiap, melangkah mundur hingga hampir terjatuh ke atas aspal.
Pintu mobil terbuka dengan kasar. Sosok Letnan Jenderal Gibran Mahendra turun dari kemudi dengan seragam dinas yang sedikit berantakan, napasnya memburu, dan manik mata hitamnya menyala oleh kemarahan yang melampaui batas kewarasan. Pria itu menyusul kepulangannya dari markas dalam waktu rekor yang mustahil hanya karena insting gelapnya tidak bisa dibohongi.
Ziva membeku di tempatnya. Dunia di sekitarnya seakan runtuh seketika.
Gibran melangkah mendekat dalam tiga langkah lebar, tatapannya menatap tajam gerbang samping yang terbuka lebar di belakang Ziva, lalu beralih pada wajah pucat pasi gadis di hadapannya. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir Gibran yang ada hanyalah aura kematian dan kemurkaan mutlak seorang diktator yang mendapati tawanannya berhasil melarikan diri.
"Mau lari ke mana, Ziva?" bisik Gibran sangat rendah, suaranya bergetar menahan amarah yang siap meledak menghancurkan dunia.
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
agar kluarga kecil mereka bhgia
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin