Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kota tersembunyi
"Para Aetherist?!"
Sebuah suara sukses membuat mereka semua spontan menoleh ke belakang. Seorang pemuda seumuran mereka bersurai hitam dengan iris mata kecoklatan muncul dari balik pintu.
"Siapa kau?" tanya Stella lebih dulu dengan nada tajam.
"H-halo! Aku Fin, murid dari Akademi Asteria. Kalian diminta untuk mengantar kalian sarapan," ucap pemuda itu seraya menunduk pelan, tampak sedikit ciut karena para tamu terhormat ini.
"Halo, Fin! Itu akan sangat membantu, kami memang sudah sangat membutuhkan sarapan," sahut Airyn mengumbar senyum hangat seraya melangkah mendekati pemuda itu.
Fin yang mendapat sambutan ramah dari Airyn seketika berbinar lega. "Ayo, ikuti aku!"
Airyn mengekor di belakangnya bersama Flora di sampingnya dan William yang melangkah tegap menjaga dari belakang. Teman-teman mereka yang lain juga tidak punya pilihan selain menyusul, sebab perut mereka sudah terlanjur berbunyi menagih asupan.
Mereka melangkah masuk menyusuri lorong berderet meja dan kursi seperti kemarin. Namun di sepanjang koridor itu, tidak tampak ruangan lain yang bisa dituju.
"Kemana kita akan pergi, Fin? Apakah ada ruangan lain di balik Aula Utama ini?" Tanya Airyn heran.
Fin terus melangkah hingga berhenti tepat di depan dinding batu paling ujung.
"Perhatikanlah baik-baik!" ujar Fin. Pemuda itu mulai meraba permukaan dinding batu tersebut. Tepat di sisi kanan, terdapat sebuah batu bertekstur lunak yang dapat ditekan ke dalam, hingga terbukalah sebuah lorong tersembunyi tepat dibalik tembok batu itu.
Fin membimbing mereka menerobos masuk ke dalam lorong batu yang sedikit remang-remang, hanya diterangi oleh pendar lampu minyak di sepanjang jalurnya.
"Kalian tidak membangun kota dibawah tanah kan..." gumam Teira datar.
Namun sebelum ada yang sempat banyak bertanya, pendar cahaya terang yang menyilaukan mata mendadak menyambut pandangan mereka saat keluar dari lorong. Kedelapan Aetherist muda itu menuruni deretan tangga batu menuju jalanan lantai putih bersih di bawahnya.
Mereka seketika memaku terpana menyaksikan pemandangan di hadapan mereka. Sebuah area yang sangat luas membentang megah, lebih menyerupai sebuah kota raksasa. Berbeda dengan lorong gelap yang baru saja mereka lalui, atmosfer di bawah sini amat benderang disiram pendar sihir yang menerangi seluruh penjuru kota.
"Selamat datang di Kota Asteria," tutur Fin tersenyum bangga.
"Jadi inilah Asteria yang sebenarnya? Bukan sekadar bangunan di atas tanah tadi?" tanya Airyn terpana, yang langsung dijawab dengan anggukan mantap dari Fin.
Fin membawa mereka berjalan menyusuri jalanan penuh bangunan di depan mereka.
"Area paling awal ini adalah distrik perdagangan. Kita bisa membeli kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, alat tulis, hingga bahan dapur," terang Fin saat mereka melintasi deretan toko yang berjejer riuh di sepanjang jalan.
Mereka terus melangkah hingga memasuki kawasan pemukiman penduduk.
"Di sinilah para warga Asteria tinggal," jelas Fin. Rumah-rumah berarsitektur sederhana berdiri di area luar, sementara di kejauhan tampak deretan bangunan yang lebih megah dan kokoh berdiri mengapit pemukiman.
Tiba-tiba, seorang bocah laki-laki kecil berlari kencang dari arah pemukiman dan langsung memeluk pinggang Fin erat-erat.
"Kakak!" seru bocah itu riang.
"Dira? Kenapa kau bisa ada di sini?" Fin kaget mendapati adiknya yang mendadak muncul.
"Ini adikmu?" Tanya Airyn mendekat.
Namun, bocah kecil itu justru menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Fin, tampak malu-malu.
"Tidak apa-apa, Dira. Jangan takut," bisik Fin lembut membimbing adiknya agar berani memperlihatkan diri.
Airyn menyunggingkan senyum, lalu berlutut dan mengelus pelan rambut bocah itu.
"Warna rambut Kakak aneh sekali... kenapa birunya terang seperti itu? Kakak yang di sebelah sana juga," bisik Dira polos seraya menunjuk ke arah Airyn dan Andrew.
"Hei, Bocah! Kau bilang rambut kami aneh, hah?!" Andrew yang sangat mudah tersulut emosi langsung maju selangkah, namun lengannya dengan cepat ditahan oleh William.
"Siapa kau berani-beraninya mengatai kami aneh, hah?! Dasar bocah gembel!" Seru Stella tak terima, matanya berkilat murka.
Dira yang ketakutan seketika menundukkan kepala, air matanya mulai berkaca-kaca siap tumpah.
"M-mohon maafkan adikku! Dia hanya penasaran dan belum paham," sahut Fin panik, pasang badan melindungi adiknya dari tatapan galak para Aetherist.
"Tapi dibilang aneh itu memang agak keterlaluan, kan?" cetus Teira dingin.
"Sepertinya memang begitu," timpal Snow singkat.
"Hei, dia itu cuma anak kecil, jangan berlebihan!" pangkas William menengahi.
"Wih bakal seru ini. Ayo bertarung saja!" seru Emery bersemangat, selalu siap mengeluarkan energinya untuk berlaga.
Sementara Flora hanya diam merapat di samping Airyn, bingung harus merespon bagaimana.
"Cukup!" Pangkas Airyn tegas.
Gadis itu melangkah mendekati Dira dan kembali berlutut di hadapannya. Dengan jemari lembutnya, Airyn mengusap air mata yang mulai membasahi pipi bocah itu.
"Dira... kamu anak yang sangat jujur karena berani bertanya. Ya, warna rambut kami memang agak unik dan beda dari yang lain. Tapi pada dasarnya, kita semua ini sama, kan?" Tutur Airyn lembut diakhiri senyuman hangat.
Dira menatap iris mata emas Airyn, mengusap sisa air matanya, lalu membungkuk sopan. "M-maafkan aku, Kakak-Kakak semua..." ucapnya pelan. Fin di sampingnya ikut membungkuk dalam-dalam sebagai bentuk permohonan maaf.
"Para Aetherist terhormat!"
Sebuah suara berwibawa mendekati kerumunan mereka. Seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah mewah berornamen emas melangkah menghampiri.
"Paman Cassian?!" Stella seketika mengenali sosok pria bersurai hitam yang diselingi uban, dengan mata kecoklatan yang tajam itu.
"Putri Stella! Oh, astaga, bagaimana bisa saya tidak menyadari kehadiran Anda!" Ujar pria bernama Cassian itu seraya membungkuk hormat.
Ia lalu menoleh pada Fin dengan raut tak suka.
"Hei, Fin! Kenapa kau malah membawa para tamu agung ini menyusuri pemukiman kumuh begini?! Kenapa tidak langsung menuju area Dewan?!"
"Paman, cepat bawa aku keluar dari tempat berbau busuk ini!" Gerutu Stella mendekat ke arah pria itu.
"Tentu saja, Putri Stella. Baiklah, para tamu terhormat, saya Cassian Vance akan mengantar kalian ke area yang jauh lebih layak. Ikuti saya!" Ujar Cassian memimpin jalan.
Stella dengan sigap melangkah di sampingnya. Saat melewati Airyn, gadis itu sengaja menyenggol bahu Airyn hingga hampir oleng. Airyn berhasil menjaga keseimbangannya dengan cepat. Emery, Andrew, Snow, dan Teira juga menyusul di belakang Cassian.
Fin menepuk bahu adiknya pelan. "Dira, pulanglah dulu ya. Kakak masih harus menyelesaikan tugas." Dira mengangguk patuh, lalu sebelum berlari pergi, ia sempat memeluk singkat kaki Airyn sambil tersenyum manis.
"Siapa pria itu, Fin?" tanya Airyn teringat tingkah pria jangkung tadi.
"Beliau adalah Tuan Cassian Vance, salah seorang bangsawan yang mengelola tanah di Asteria ini... Ah... aku sampai lupa menanyakan nama kalian," tutur Fin canggung.
"Aku Airyn, gadis manis di sampingku ini Flora, dan laki-laki menyebalkan di belakang ini William," terang Airyn memperkenalkan mereka bertiga.
"Hei! Kenapa kau memperkenalkanku seperti itu?!" protes William tidak terima.
"Memang begitu kenyataannya, kan?" sahut Airyn santai. "Ayo Fin, kita susul yang lain."
Fin mengangguk, lalu mereka melangkah menyusul rombongan Cassian Vance.
"Airyn, siapa saja nama para Aetherist yang lain?" tanya Fin penasaran.
"Oh, yang rambutnya pirang sinis dan ketus itu Stella. Gadis bersurai cokelat di sebelahnya itu Emery, isi otaknya cuma soal bertarung aku rasa. Pemuda berambut merah itu Andrew, orangnya gampang naik darah. Rambut putih itu Snow, dingin sekali dan jarang bicara. Nah, satu lagi pemuda berambut ungu itu Teira, hobinya menyendiri," cerocos Airyn panjang lebar.
Flora menggamit pelan lengan baju Airyn dari belakang dengan raut cemas. "A-Airyn... kau sedang bergosip tentang teman-teman yang lain, ya?"
"Bukan bergosip, Flora! Ini kan pengamatan fakta!" Bela Airyn dengan tetap mempertahankan pendapatnya.
"Tapi dari caramu menyampaikannya, itu jelas-jelas gosip," timpal William menaikkan alisnya.
Airyn tetap tidak mau kalah dan terus mempertahankan argumennya, memicu perdebatan kecil yang sahut-menyahut dengan William di sepanjang lorong.
Fin yang berjalan di sisi Flora menoleh bingung. "Umm... Flora, apakah mereka berdua selalu seperti ini?"
Flora menghela napas pasrah seraya terus melangkah mengabaikan Airyn dan William. "Kau akan terbiasa..."