Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Acara Pesta
Malam di mana acara ulang tahun pernikahan Suzan dan Bagas yang ke tujuh tahun pun tiba. Acara tersebut diselenggarakan di rumah kediaman keluarga Hartanto. Tepatnya di ruang tamu yang luas dan megah hingga ke kolam renang. Ruangan dihias sedemikian rupa dengan dekorasi bunga hidup hingga terlihat sangat indah dan menarik.
Lampu khas acara pesta menambah keromantisan suasana di sana. Berbagai makanan lezat dari mulai makanan pembuka, makanan utama hingga hidangan penutup tersedia di sudut ruangan. Tak lupa minuman baik yang menyegarkan ,hingga minuman hangat juga tersedia untuk memanjakan para tamu undangan.
Para tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar, teman- teman Suzan dan Bagas hingga rekan bisnis keluarga Hartanto pun satu per satu sudah mulai datang. Dan sebagai pemilik acara yaitu Suzan dan Bagas yang sudah tampil cantik dan ganteng, sudah siap menerima kedatangan para tamu yang terhormat. Begitu juga dengan tuan dan nyonya Hartanto yang nampak bahagia bisa menyaksikan acara hari ulang tahun pernikahan putra semata wayang mereka.
Tak lupa pula tentunya ibunda dari Suzan yaitu bu Nani ikut hadir dalam acara bahagia sang putri. Tentunya sebagai orang tua bu Nani selalu mendokan yang terbaik untuk rumah tangga anak dan menantunya. Tak ketinggalan Alvaro putra semata wayang Suzan dan Bagas juga tak kalah gantengnya dari sang papa. Alvaro mengenakan setelan jas dengan warna senada dengan jas yang dipakai oleh Bagas.
Tak heran jika banyak para tamu yang mengajak foto Alvaro yang tampan dan juga menggemaskan.
"Hai.. selamat ya Suzan, Bagas... " ucap nyonya Fernando.
"Selamat Bagas, Suzan..." tuan Fernando juga menyalami keduanya.
Mereka berdua juga menyalami tuan dan nyonya Hartanto. Iya, tuan Fernando adalah rekan bisnis tuan Hartanto. Tak heran jika mereka berdua cukup akrab.
Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan catik, tinggi dan seksi datang menghampiri Bagas dan Suzan. Iya, dia tak lain adalah Casandra. Casandra datang ke acara ini atas undangan Suzan. Suzan sangat berterima kasih pada Casandra karena dia mau menerima pesanan gaun pesta dan juga jas untuk Bagas walaupun waktunya sangat mepet yaitu hanya satu minggu.
Padahal kalau di butik lain belum tentu mau menerimanya. Mereka bisa saja beralasan waktunya terlalu mepet. Dan kalau pun mereka mau menerima, bisa saja hasilnya kurang maksimal.
Tapi beda dengan Casandra, dia mampu mengerjakan pesanan Suzan dan yang terpenting adalah hasilnya juga sangat memuaskan. Suzan sangat menyukai gaun dan jas buatan Casandra. Dan Suzan janji akan menjadi pelanggan di butik Casandra. Dan sebagai ucapan terima kasih Suzan atas kerja kerasnya membuatkan gaun special untuknya, Suzan pun mengundang Casandra untuk hadir di acara bahagianya.
Bagas yang sedang bicara dengan salah satu tamu undangan kaget melihat kedatangan Casandra.
"Ca...Casandra..." bisik Bagas sambil menatap ke arah kekasih gelapnya.
Iya ,tentu saja Bagas panik melihat kedatangan Casandra, dia takut akan terjadi sesuatu yang akhirnya bisa membongkar hubungan gelap antara dia dengannya.
Sementara itu Casandra dengan langkah anggunnya menghampiri Suzan dan Bagas.
"Hai mbak Suzan... Selamat ya...pak Bagas selamat.." ucap Casandra menyalami Suzan dan Bagas secara bergantian dengan menampilkan senyuman di bibir merahnya.
"Makasih... " sahut Suzan. Sedangkan Bagas hanya diam sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Sayang... Aku sengaja ngundang Casandra di acara kita, karena dia sangat berjasa buat kita. Dia sudah membuatkan gaun dan jas buat acara special kita. Kalau nggak ada Casandra aku nggak tahu harus memasan gaun pesta di mana. Makanya sebagai ucapan terima kasih, aku mengundang dia..." ucap Suzan sambi menggandeng tangan Bagas.
"Oh... Iya..." jawab Bagas sambil tersenyum simpul.
"Bagaimana Casandra, aku dan suamiku cocok kan memakai gaun ini...?'' tanya Suzan.
"Iya mbak Suzan, mbak Suzan sangat cantik dan mas Bagas juga sangat tampan. Kalian berdua memang pasangan yang serasi..." jawab Casandra.
"Makasih atas pujiannya Casandra..." Suzan bergitu tersanjung atas pujian Casandra.
"Oya Casandra, silahkan kamu menikmati makanan di sana..." ucap Suzan sambil menunjuk meja yang berisi makanan untuk para tamu.
"Iya mbak..." jawab Casandra lalu dia berjalan ke arah meja ditunjukan oleh Suzan.
Bagas menghela nafas. Iya, sebenarnya dia begitu was- was dengan kedatangan Casandra yang tidak terduga.
"Sayang, kamu kenapa...? ya ampun kamu kok keringatan gitu...?'' tanya Suzan sambil mengusap dahi Bagas.
"Iya sayang... Aku sedikit merasa gerah..." jawab Bagas.
"Kok bisa sih, padahal AC nya sudah dingin lho..." sahut Suzan.
Sementara itu Casandra menikmati hidangan yang disediakan sambil memperhatikan Bagas yang berdiri di samping Suzan. Bagas yang juga sesekali menoleh ke arah Casandra pun menjadi merasa tidak tenang.
"Hah...?" nyonya Fernando kaget begitu melihat Casandra ada di meja makanan.
"Pah... Pah lihat itu pah..." nyonya Fernando menunjuk ke arah Casandra.
Tuan Fernando pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh sang istri.
"Ngapain anak itu ke sini...?'' tanya nyonya Fernando dengan perasaan tidak suka melihat anak tirinya.
"Pasti diundang oleh Suzan..." jawab tuan Fernando.
"Apa...? Ngapain Suzan ngundang anak itu...? Emangnya anak itu punya peran apa buat keluarga Hartanto..." tanya nyonya Fernando.
"Ya mana saya tahu, tapi mustahil Casandra datang ke sini kalau dia tidak diundang..." jawab tuan Fernando.
Nyonya Fernando mendengus. Iya, dia paling tidak suka melihat Casandra. Dan nyonya Fernando tidak suka Casandra masuk ke dalam rumah tangganya. Karena bagi nyonya Fernando keluarganya hanyalah dia, sang suami dan anak kandungnya. Sedangkan Casandra hanyalah anak dari pernikahan sang suami dengan perempuan lain di masa lalu.
Jika ibu kandung Casandra yang juga sudah menikah dengan orang lain saja tidak mau membawa Casandra masuk ke keluarga barunya, jadi nyonya Fernando merasa kalau dia juga tidak berkewajiban untuk menerima anak tirinya.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Setelah semua tamu undangan datang, pembawa acara pun memulai acara tersebut dan membacakan serangkain acara.
Dan tibalah pada acara inti yaitu sambutan dari Bagas dan Suzan. Suzan dan Bagas berdiri di tengah ruangan lalu Bagas mengucapkan rasa terimakasih kepada para tamu yang sudah berkenan datang ke acara ulang tahun pernikahannya.
"Hari ini saya sangat berbahagia, dan buat istriku Suzana Claudia Ivanka..." ucap Bagas sambil menggenggam tangan Suzan dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri Bagas memegang mic.
"Terima kasih atas kesabaran, tawa, dan cinta yang telah kamu berikan selama tujuh tahun pernikahan kita. Bersamamu hidupku terasa indah. Kamu adalah rumahku, tempat aku pulang, dan tempat aku mendapatkan kenyamanan dan juga ketenangan. Semoga Alloh menjaga cinta kita tetap kuat, hingga maut memisahkan. Selamat ulang tahun pernikahan...." ucap Bagas sambil menatap wajah cantik sang istri lalu mengecup keningnya kemudian kecupan beralih ke bibir.
Tentu saja setelah itu para tamu undangan bertepuk tangan ikut merasakan kebahagiaan pasangan romantis tersebut. Namun ada satu tamu undangan yang tidak terlihat bahagia sedikitpun . Dan tentu saja dia adalah Casandra.
Iya, hati Casandra begitu sakit dan kecewa saat lelaki yang hampir setiap hari bertukar peluh dengannya mengungkapkan rasa cintanya kepada sang istri di depan para tamu undangan. Casandra merasa, seharusnya dialah yang ada di posisi Suzan saat ini. Namun Casandra tidak bisa berbuat apapun selain manahan amarahnya ,karena di mata orang- orang, Casandra memang bukan siapa- siapa. Dia hanyalah kekasih gelap Bagas.
Dan ternyata kekesalan Casandra tidak hanya sampai di situ. Masih ada sesi selanjutnya yang membuat hatinya semakin panas. Yaitu saat Bagas memberikan hadiah istimewa kepada Suzan. Iya, Bagas memasangkan kalung berlian mewah di leher Suzan. Yang tentu saja harganya fantastis. Dan tepuk tangan pun kembali terdengar dari para tamu undangan.
Sedangkan Casandra yang ikut bertepuk tangan, namun raut wajahnya terlihat tidak menyukai hal itu.
Suzan yang diberikan kalung mewah oleh sang suami tentu saja merasa bahagia. Namun ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Iya, Suzan jadi kepikiran dengan cincin yang ditemukan oleh Marti di saku celana Bagas. Kalau pada akhirnya Bagas memberikan kalung padanya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan, lalu cincin itu untuk siapa.
Namun Suzan buru- buru menepis rasa curiganya tersebut. Suzan berusaha tetap berfikir positif.
"Ah mungkin saja mas Bagas mengembalikan cincin itu ke toko, dan menukarnya dengan kalung berlian..." ucap Suzan dalam hati.
Suzan tersenyum lalu mengucapkan terima kasih pada Bagas. Dan Suzan juga memberikan hadiah kepada sang suami berupa jam tangan mewah yang harganya juga tak kalah dengan harga kalung berlian yang Bagas berikan padanya.
Dan setelah acara penyerahan hadiah ulang tahun pernikahan selesai, para tamu undangan kembali menikmati makanan yang disediakan.
Dan di saat itulah Bagas baru menyadari bahwa Casandra sedang marah padanya. Iya, tentu saja Bagas paham betul dengan mimik wajah Casandra jika sedang marah. Ditambah lagi setelah mereka bertemu pandang, Casandra langsung pergi keluar dari ruangan pesta.
"Sayang... Ke toilet dulu ya..." ucap Bagas.
"Iya sayang, jangan lama- lama ya..." jawab Suzan.
Sebenarnya Bagas bukannya mau pergi ke toilet, tapi dia ingin mengejar Casandra.
"Babby... Babby tunggu..." Bagas akhirnya bisa mengejar Casandra yang sudah sampai di halaman rumah keluarga Hartanto yang luas.
Bagas menarik tangan Casandra.
"Lepaskan aku..." Casandra berusaha melepaskan tangan Bagas namun tidak berhasil.
"Kamu mau ke mana...?''tanya Bagas sambil menatap wajah Casandra.
"Aku mau pulang..." jawab Casandra dengan nada ketus.
"Babby, kamu marah sama aku...?'' tanya Bagas.
"Kamu tega hik...hik...kamu nggak mikirin perasaan aku...hik..hik..." Casandra menangis.
"Kamu sengaja kan mempertontonkan kemesraan kamu dan mbak Suzan di depan tamu undangan supaya semua orang menganggap kalian sebagai suami istri yang paling bahagia dan romantis di dunia ini...?'' sambung Casandra sambil terisak.
"Tega kamu...! Kamu sama sekali nggak memikirkan perasaan aku...!" seru Casandra sambil memukul dada Bagas.
"Shhhhhtttt... Babby... Pelankan suaramu...nanti ada yang mendengar..." Bagas menempelkan telunjuknya di bibir Casandra.
"Biarin aja... biarkan semua orang tahu tentang hubungan kita..." sahut Casandra yang sudah begitu marah karena kecemburuannya.
"Babby tolong kendalikan dirimu...kita harus bicara...'' Bagas menarik tangan Casandra lalu menuntunnya ke taman samping rumah agar tidak ada orang yang melihatnya.
"Babby dengar... Ini adalah acara ulang tahun pernikahan aku dengan Suzan. Apapun yang aku lakukan itu sudah direncanakan seperti selayaknya orang yang sedang merayakan hari jadi pernikahan..." Bagas mencoba memberikan pengertian pada Casandra.
Bagas terus menenangkan Casandra agar dia bisa memahami posisinya sebagai suami Suzan dan juga keadaan saat ini. Dan setelah dijelaskan oleh Bagas, akhirnya Casandra pun mulai mengerti dan tidak ngambek lagi.
"Babby...kamu tahu seperti apa hubunganku dengan Suzan karena aku sudah ceritakan semuanya sama kamu. Aku nggak ada artinya di mata dia, Suzan hanya memikirkan pekerjaan. Dan hanya kamulah yang mengerti aku babby..." ucap Bagas sambil menyelipkan rambut Casandra ke belakang telingannya.
Casandra mengangguk. Dan mereka bertatapan satu sama lain. Perlahan Bagas mendekatkan wajahnya ke wajah Casandra dan tak lama kemudian bibir mereka saling bertemu.
Sementara itu di dalam ruangan pesta, Suzan nampak ke sana kemari mencari Bagas karena sebentar lagi mereka akan melakukan sesi foto.
"Suzan kamu cari siapa...?'' tanya nyonya Hartanto.
"Cari mas Bagas mah, dia tadi pamit ke toilet, tapi kok lama banget, aku sudah ke toilet tapi nggak ada..." jawab Suzan.
"Mungkin di sebelah sana ngobrol sama tamu. Biar mama bantu cari ya..." ucap nyonya Hartanto sambil menunjuk para tamu yang sedang menikmati hidangan.
"Iya mah...." jawab Suzan.
Bersambung....