Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tak Mau Berharap
Hari ini, kedua anak kembar Kinanti, Naufal dan Naura, diantar oleh papanya ke sekolah.
Sementara itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur, Kinanti bersiap menemui pengacara untuk membicarakan gugatan perceraian yang selama ini hanya tersimpan di dalam laci mejanya.
Kinanti membuka laci tersebut, lalu mengambil sebuah map berisi berkas gugatan cerainya.
Tangannya sempat bergetar ketika menggenggam map itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan hati yang sejak tadi terasa berat.
“Bismillahirrahmanirrahim… ini yang terbaik untuk rumah tangga kita, Mas,” cicitnya lirih.
Kinanti kemudian berpamitan kepada Bi Mina dan berpesan agar wanita itu menyampaikan kepada Yudha bahwa dirinya kemungkinan akan pulang agak malam.
“Nyonya akan makan siang di rumah atau di luar?” tanya Bi Mina ketika melihat Kinanti meraih kunci mobil.
Kinanti hendak menjawab, tetapi pandangannya tiba-tiba teralihkan oleh sebuah kunci mobil berwarna biru yang tergantung di samping kunci mobil miliknya.
Ia mengernyitkan dahi. “Mungkin ini mobil yang baru Mas Yudha beli,” gumamnya.
Tidak ada sedikitpun kecurigaan dalam benaknya. Kinanti sama sekali tidak berniat berpikir aneh-aneh ataupun menduga sesuatu yang tidak-tidak.
“Nyonya baik-baik saja, kan?” tanya Bi Mina ketika melihat Kinanti justru terdiam cukup lama.
Lamunan Kinanti buyar. Ia segera menoleh kepada Bi Mina dan memberikan senyum tipis.
“Aku nggak apa-apa kok, Bi,” jawabnya singkat.
Setelah itu, Kinanti melangkahkan kakinya menuju area carport. Bi Mina memperhatikan kepergian majikannya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“Ya Allah…” gumamnya pelan. “Kenapa perasaan saya mengatakan akan ada sesuatu yang besar terjadi di rumah ini?”
Bi Mina menghela napas panjang.
“Entah kenapa, beberapa hari terakhir saya merasa ada yang aneh dengan Nyonya Kinanti. Sikapnya berbeda. Tatapannya juga seperti menyimpan sesuatu.”
Ia menatap punggung Kinanti yang semakin menjauh.
“Mudah-mudahan firasat saya salah. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan rumah tangga mereka.”
Bi Mina kemudian menengadahkan wajahnya sejenak dan berdoa dalam hati agar pernikahan majikannya tetap baik-baik saja.
Sementara itu, Kinanti sudah berada di dalam mobil pemberian Yudha yang selama ini sering digunakannya ketika bepergian.
Namun, baru saja hendak memasukkan kunci ke dalam kontak, pandangannya kembali tertuju pada sebuah mobil berwarna biru yang terparkir di samping mobilnya.
Kinanti mengerutkan kening.
Mobil itu tampak sangat familiar. Beberapa detik kemudian, matanya membulat ketika menyadari bahwa mobil tersebut adalah jenis mobil yang selama beberapa bulan terakhir begitu diidam-idamkannya.
“Itu…” bisiknya.
Kinanti menatap mobil tersebut cukup lama.
“Andaikan aku punya uang yang cukup, aku pasti akan membeli mobil seperti itu.”
Senyum kecil muncul di bibirnya, tetapi segera menghilang.
“Aku nggak mau berharap dibelikan sama Mas Yudha, apalagi memintanya secara langsung. Sebentar lagi kami juga akan bercerai.”
Kinanti menghela napas pelan.
“Sudahlah. Lebih baik aku fokus dengan hidupku sendiri.”
Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.
Namun, tanpa bisa dicegah, pikirannya justru kembali membawa dirinya pada kenangan dua tahun lalu, sebelum Yudha mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatannya.
Saat itu, Kinanti sedang menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Setelah selesai merapikan kemeja dan jas, Kinanti memberanikan diri menyampaikan sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir ingin dikatakannya.
“Mas…”
Yudha yang sedang mengenakan dasi hanya melirik sekilas.
“Apa?”
Kinanti meremas ujung bajunya sendiri.
“Mas, apa aku boleh meminta uang?”
Gerakan tangan Yudha yang sedang membenahi dasi langsung terhenti.
Ia menatap Kinanti dengan kedua mata yang seketika berubah tajam.
“Apa kamu bilang barusan?”
Kinanti terdiam.
“Apa aku nggak salah dengar?” suara Yudha meninggi. “Kamu kira membeli mobil itu seperti membeli cabai satu kilo, hah?”
Bentakan itu membuat tubuh Kinanti tersentak.
Ia menundukkan kepala. Matanya mulai memanas, tetapi ia berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan suaminya.
“Maafkan aku, Mas. Aku cuma meminta. Kalau Mas nggak bisa memenuhi, nggak apa-apa. Nggak usah marah-marah.”
Kinanti menarik napas panjang.
“Insya Allah… suatu saat nanti kalau aku sudah punya uang sendiri, aku akan membelinya.”
Ia tidak berani menatap wajah Yudha yang kini menatapnya dengan pandangan merendahkan.
Bukannya berhenti, Yudha justru tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha! Memangnya kamu dapat uang dari mana?”
Kinanti terdiam.
“Bukankah semua uang yang kamu gunakan berasal dariku?” lanjut Yudha. “Bahkan sebelum aku menikahimu, kedua orang tuamu sudah menghabiskan uangku cukup banyak. Sampai sekarang pun jumlahnya sudah nggak terhitung.”
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Yudha terasa seperti pisau yang mengiris hati Kinanti.
Namun, wanita itu memilih diam.
Ia tidak ingin memperpanjang masalah.
Yudha kemudian meraih kunci mobilnya dan bersiap pergi. Sebelum melangkah keluar, ia kembali menoleh kepada Kinanti yang masih tertunduk.
“Kubur dalam-dalam impianmu untuk memiliki mobil mahal sebanyak itu. Kamu nggak punya pendidikan, gelar, ataupun pekerjaan yang bisa membuatmu membeli mobil impianmu.”
Dada Kinanti terasa sesak. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.
Satu bulir. Lalu disusul bulir berikutnya.
Kinanti buru-buru mengusapnya.
Ia tidak ingin Yudha melihat betapa dalam luka yang ditinggalkan perkataannya.
Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah tekad justru mulai tumbuh.
“Aku akan membuktikan kepadamu, Mas,” batinnya. “Suatu hari nanti aku pasti bisa berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun.”
Kenangan itu masih begitu jelas dalam ingatan Kinanti. Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi luka dari perkataan Yudha ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Kinanti mengusap sudut matanya.
Ia kembali menatap mobil biru yang terparkir di samping mobilnya melalui kaca depan.
Sempat terlintas dalam pikirannya bahwa mungkin saja mobil itu merupakan hadiah khusus dari Yudha untuk dirinya.
Namun, Kinanti segera tersenyum getir.
“Kinanti Azzahra, sadar.”
Ia menggeleng pelan.
“Suamimu itu nggak mungkin membeli mobil semahal itu hanya untukmu. Camkan baik-baik.”
Kinanti menyalakan mesin mobil.
Sebelum berangkat, ia teringat kedua anaknya. Ia pun menghubungi Mang Dede untuk menyampaikan pesan agar nanti siang menjemput Naufal dan Naura dari sekolah.
“Katanya Tuan Yudha yang akan menjemput Nona Naura dan Tuan Muda Naufal,” jawab Mang Dede.
“Oh…”
Kinanti terdiam sejenak.
“Ya sudah. Kalau begitu nggak perlu dijemput. Biarkan papanya yang menjemput.”
“Iya, Nyonya.”
Kinanti memutuskan sambungan telepon, lalu mulai melajukan mobilnya.
Pagi itu suasana ibu kota cukup ramai. Beberapa ruas jalan protokol bahkan mengalami kemacetan panjang.
Di tengah perjalanan, ponsel Kinanti tiba-tiba berdering.
Karena headset sudah terpasang di telinganya sejak tadi, ia langsung menerima panggilan tersebut.
“Ada apa, Amri?”
“Mbak, ada beberapa klien yang ingin bertemu langsung dengan Mbak Kinanti,” ujar Amri dari seberang sana.
“Mereka bilang nggak mau kalau meeting dengan saya ataupun Reva. Mereka maunya langsung dengan Mbak.”
Kinanti terdiam sejenak. Ia mencoba memperkirakan waktu tempuh dari posisinya menuju kantor.
“Baiklah. Katakan kepada mereka aku akan sampai di kantor sekitar setengah jam lagi.”
“Siap, Mbak.”
Panggilan berakhir.
Kinanti melirik jam tangannya.
Tidak banyak yang mengetahui kehidupan lain yang selama ini ia jalani di balik statusnya sebagai istri Yudha.
Sejak Yudha menghinanya dan mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah mampu memiliki apa pun dengan hasil jerih payah sendiri, Kinanti diam-diam mulai keluar rumah setiap hari.
Bukan untuk bersenang-senang dan bukan pula untuk menghambur-hamburkan uang.
Ia pergi untuk melanjutkan pendidikan yang selama ini terpaksa ia sembunyikan dari suaminya.
Kini, setelah bertahun-tahun berjuang dalam diam, Kinanti telah berhasil meraih gelar magister.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Kinanti memang dikenal sebagai salah satu murid berprestasi. Sayangnya, Yudha tidak pernah benar-benar peduli dengan kehidupan istrinya.
Bagi Yudha, Kinanti hanyalah seorang istri yang bergantung sepenuhnya kepadanya.
Justru karena itulah Kinanti bisa bergerak bebas tanpa terlalu dicurigai.
Bersama kedua sahabatnya, Amri dan Reva, Kinanti juga diam-diam membangun sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil.
Awalnya, usaha itu hanya berawal dari sebuah ide sederhana. Namun, berkat kerja keras mereka, dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun, perusahaan kecil tersebut berkembang pesat dan mulai diperhitungkan di dalam negeri.
Modal awal usaha itu bahkan berasal dari tabungan Kinanti. Uang tersebut merupakan sisa dari uang belanja yang setiap bulan diberikan Yudha kepadanya.
Jika dihitung sejak sembilan tahun lalu, ketika Kinanti mulai menjalani kehidupan sebagai istri Yudha, jumlah uang yang berhasil ia sisihkan ternyata cukup untuk menjadi modal usaha.
Kinanti tersenyum tipis. “Mas Yudha, selama ini kamu meragukan kemampuanku.”
Tatapannya berubah tegas.
“Kamu sering mengejekku dan mengatakan bahwa aku nggak akan pernah bisa berdiri tanpa uluran tanganmu.”
Tangannya menggenggam setir lebih erat.
“Aku akan membuktikan bahwa semua ucapanmu salah.”
Kinanti menarik napas panjang.
“Dan yang paling menyedihkan, sampai kita bercerai nanti, kamu bahkan nggak pernah tahu apa yang sudah aku perjuangkan selama ini.”
Ia telah memutuskan untuk merahasiakan keberadaan perusahaan tersebut sampai proses perceraiannya selesai.
Bukan karena ingin membalas dendam.
Kinanti hanya ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa selama ini ia memang mampu.