Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Jelita
Tepat pukul 13.20 menit. Mutiara baru saja turun dari kendaraan roda empatnya. Sebelum Benar-benar masuk kedalam rumah..Mutiara menoleh pada Ghazi yang selalu ada disampingnya itu.
"Mas, Setelah ini Mas Ghazi mau kemana?" Ghazi tersenyum..
"Gak mau kemana-mana.. Kenapa Memangnya?" Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak.. Aku cuma tanya aja. Ini masih siang, Mas Ghazi juga belum makan. Nanti kau Mas mau makan minta sama Bibi, Ya.." Ghazi mengangguk tersenyum..
"Iya, Mas pasti makan kok nanti..
"Hm, Aku mau tidur siang dulu. Mas kalau mau istirahat juga gapapa.." Ucapnya. Pria itu kembali mengangguk.
"Iya, Mending sekarang Kamu masuk.. Nanti kalau butuh Mas, Cari aja dibelakang.."
"Iyah.." Mutiara langsung masuk saja kedalam. Setelah memastikan Mutiara benar-benar masuk kedalam, Barulah Ghazi ikut pergi ke belakang. Tentu saja pria bergabung bersama para pekerja yang lain yang saat ini tengah istirahat.
Sementara itu, Mutiara yang hendak naik keatas menuju kamarnya, Seketika menghentikan langkah. Telinganya mendengar samar-samar suara orang yang sedang bertengkar.
"Siapa? Kayak suara Papa.." Entah karena merasa penasaran atau memang ingin tahu. Niatnya untuk pergi ke kamarnya gadis itu urungkan. Mutiara lebih memilih berjalan ke arah kamar kedua orangtuanya yang berada dilantai bawah.
"MEMANGNYA ATTA BUKAN ANAKMU, GALIH!!??" Suara itu terdengar begitu lantang. Langkah kaki Mutiara berhenti. Gadis itu terkejut mendengar bentakan Mamanya terhadap Papanya.
"Atta juga anakmu!! Tapi kenapa kau justru lebih sayang pada anak haram itu?"
Deg!
Jantung Mutiara langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Anak haram? Siapa yang dimaksud Mamanya anak haram?
"TUTUP MULUTMU DIANDRA! MUTIARA BUKAN ANAK HARAM!!" Mutiara mundur satu langkah. Ia tak menyangka akan mendengar kata itu.
"Aku? Anak haram? Jadi??
"Kalau bukan anak haram, Anak apa? Memangnya, Sebutan apa yang pantas untuk anak yang lahir dari rahim seorang pelakor? Mutiara itu hanya anak dari wanita murahan! Dia lahir dari rahim wanita yang kotor..
Mutiara menutup mulutnya. Air matanya langsung mengalir deras detik itu juga. Jadi dia adalah anak haram?
Pantas saja Mamanya terlihat begitu sangat membencinya. Jadi itulah alasan yang sebenarnya. Dia bukan anak kandung Diandra melainkan anak dari wanita lain.
Mutiara masih berdiri disana, Pertengkaran antara Papa dan Mamanya siang ingin membuka tabir kebenaran yang tidak ia ketahui selama ini.
PLAAAK!"
"CUKUP!! asal kau tahu saja, Diandra. Pertama, Mutiara bukan anak haram. Dan yang kedua, Anjani bukan wanita mura-han. Kalau bukan karena Anjani, Kau tidak akan....
Praak!!
Mutiara menunduk, Tubuhnya tak sengaja menyenggol barang yang berada disampingnya. Matanya melihat ke arah kamar kedua orangtuanya. Pertengkaran tersebut berhenti.
Karena takut ketahuan. Mutiara hendak pergi, Namun tiba-tiba..
"Eeummmm...
Seseorang membungkam mulut Mutiara lalu membawa gadis itu bersembunyi dibalik pilar.
...****************...
"Ka.. Kamu?
"Ssstt....
Diandra keluar dari kamarnya, Mata wanita itu melihat kesana kemari memastikan sesuatu. Tadi dia mendengar bunyi barang jatuh diluar. Namun setelah diperhatikan, Tidak ada siapapun disana termasuk barang jatuh.
"Mungkin hanya perasaan ku saja.. "
Diandra kembali masuk kedalam. Masalah ini harus segera diselesaikan sekarang juga. Diandra harus bisa merayu Galih agar jangan sampai pria itu memberikan semua hartanya pada Mutiara. Karena bagi Diandra, Mutiara tidak berhak sama sekali.
Dibalik pilar besar itu, Mutiara terdiam. Tatapan matanya langsung kosong begitu saja. Fakta yang tanpa sengaja ia dengar barusan sungguh menyakitkan batinnya.
"Jangan nangis disini, Ayo ikut aku.. " Mutiara menatap wanita yang tak lain adalah Jelita itu. Jelita tersenyum, Sebelah tangan Wanita itu terangkat mengusap air mata Mutiara yang menetes jatuh ke pipinya.
"Ayo..
Mutiara tidak menjawab apapun. Jelita meraih tangan Mutiara lalu menariknya keluar dari rumah. Tak ada penolakan apapun, Mutiara seolah pasrah ketika Jelita membawanya pergi.
Jelita datang karena undangan dari Diandra. Wanita paruh baya itu ingin Jelita datang untuk menemaninya bersantai.
Sesuatu hal yang tak terduga dapat Jelita saksikan. Baru saja dia masuk, Jelita melihat Mutiara yang berdiri tak jauh dari kamar Diandra.
Merasa ikut penasaran, Dia juga mendekat. Alhasil, Jelita ikut mendengar semua tentang fakta yang selama ini disembunyikan.
Mutiara....
Mental gadis itu belum pulih sepenuhnya. Tapi sekarang ia harus kembali menghadapi sebuah rahasia tersembunyi Papanya yang tidak gadis itu ketahui selama ini.
Pantas saja selama ini ia dibenci oleh Mamanya. Pantas saja selama ini ia dibenci oleh Kakaknya. Dan pantas saja dia dibenci oleh seluruh keluarga besarnya. Karena Mutiara memang pantas mendapatkan itu..
Mutiara menjadi satu-satunya keluarga yang tak pernah diharapkan. Ya, Karena dia hanya anak dari orang ketiga. Dia adalah anak haram selingkuhan Papanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kendaraan roda empat milik Jelita berhenti didepan sebuah rumah minimalis lantai dua. Wanita itu menoleh pada Mutiara yang masih menangis bahkan sampai sesegukan.
Melihat itu, Jelita hanya diam saja. Dia tidak akan meminta Mutiara untuk sabar karena yang dialami oleh gadis itu cukup berat.
Jelita pernah berada diposisi ini. Hanya situasi nya saja yang berbeda. Maka dari itu, Jelita biarkan Mutiara menangis sepuasnya.
Tak dapat dipungkiri, Jelita pernah mengalami pahit perihnya hiruk pikuk kehidupan. Tatapannya menatap iba Mutiara. Hati kecilnya tersentuh membayangkan semua yang terjadi pada mutiara terjadi juga pada dirinya.
Setelah dirasa puas, Mutiara mulai berhenti menangis. Gadis itu menatap Jelita yang tersenyum padanya.
"Gimana? Udah mendingan?" Mutiara masih diam saja, Dalam hatinya ia bertanya-tanya. Kenapa sikap Jelita berbeda sekarang. Sikap wanita itu jauh berbeda dari yang sebelumnya..
"Kamu jelek banget kalau abis nangis.." Kata Jelita, Wanita itu raih sebuah tisu kemudian menghapus air mata Mutiara yang masih tersisa.
Perlakuan ini membuat Jelita ingat akan perhatian kakaknya dulu. Elsa selalu berkata seperti itu ketika dirinya usai menangis.
Dan sekarang perhatian tersebut dia lakukan pada Mutiara. Seorang gadis yang sempat membuatnya kesal diawal.
"Kita masuk yuk.." Dengan tutur kata yang lembut, Jelita mengajak Mutiara masuk kedalam rumahnya.
Lagi, Mutiara menurut saja. Sepertinya ia sudah tak punya tenaga untuk bicara. Jelita membawa Mutiara kesalah satu kamar tamu. Meminta gadis itu untuk istirahat agar lebih tenang.
Tak hanya itu saja, Jelita juga pergi kedapur memasak.
Tak lama, Jelita kembali masuk untuk menemui Mutiara. Wanita itu juga mengajak Mutiara makan bersama..
"Ayo makan, Perut kamu butuh di isi. Nangis juga butuh tenaga loh?" Mutiara hanya menatap makanan itu tanpa mau menyentuhnya.
"Tenang aja.. Aku gak masukin racun kok." Ucap Jelita yang yakin akan keraguan Mutiara. Bayangkan saja, Awal-awal jadi nenek sihir tiba-tiba sekarang jadi malaikat. Siapa yang tidak curiga.
"Kenapa kamu baik sama aku?" Jelita menatap Mutiara seraya terkekeh.
"Kan aku emang baik. Siapa yang bilang aku jahat?" Memang tidak ada yang bilang Jelita jahat. Tapi bagi Mutiara, Jelita jahat..
"Tapi bagi aku, Kamu jahat. Buktinya, Kamu berhasil merebut perhatian keluargaku dan juga Rio.." Jelita tersenyum. Ia genggam tangan Mutiara.
"Asal kamu tahu ya.. Pertama, Aku gak punya niat jahat. Untuk Atta, Bukannya dia juga gak suka sama kamu? Dan Rio, Aku gak ada niat buat rebut dia. Ya, Emang dianya aja yang gak setia..
"Emangnya kamu setia? Aku pernah lihat kamu jalan sama pria lain selain kakakku. Kamu khianati dia.." Jelita tersenyum..
"Kakak kamu memang pantas dikhianati.." Ucap Jelita lirih..
"Apa?
"Gak ada.. Habiskan makanannya dulu. Setelah ini aku antar pulang..
"Aku gak mau pulang dulu.." Ucap Mutiara. "Aku boleh menginap disini?
"Boleh..." Mutiara akhirnya mau menyantap makanan yang dimasak oleh Jelita.
"Maafkan aku Tiara.. Kamu gak perlu tahu tentang rencana ku pada kakakmu.. Karena kalau kamu sampai tahu, Aku takut kamu menjadi penghalang nantinya..
•
•
•
TBC