NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KESEPAKATAN DIBAWAH LAMPU KRISTAL

Aroma kemewahan yang memabukkan memenuhi ballroom utama Hotel Grand Velvet malam itu. Bau parfum mahal beraroma woody dan floral bersaing tebal di udara, menyatu dengan gemerlap pantulan puluhan lampu kristal raksasa yang menggantung anggun di langit-langit berukir emas. Bagi orang-orang dari kasta teratas, tempat ini adalah arena bermain yang lumrah. Namun bagi Azahra Aletta, setiap sudut ruangan megah ini terasa seperti ejekan yang halus tetapi menyengat.

Azahra menarik napas pendek, mencoba membetulkan potongan leher gaun malam hitam polos yang ia sewa seharga lima ratus ribu rupiah dari sebuah salon kecil di pinggir kota. Kainnya agak kasar di kulit, dan warnanya yang sedikit memudar membuat keadaannya makin timpang jika disandingkan dengan gaun-gaun sutra perancang busana ternama yang dikenakan para wanita di sekelilingnya. Jemarinya yang ramping meremas tepi tas genggam imitasi dengan erat, menahan rasa canggung yang kian menggelegak di dalam dada.

Keputusannya untuk hadir di acara Match & Crown—sebuah ajang pencarian jodoh eksklusif bagi kalangan elit—murni lahir dari keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya. Tagihan rumah sakit peninggalan almarhumah ibunya terus menumpuk, ditambah bunga utang piutang dari kerabat yang kian mencekik leher. Gaji bulanan sebagai staf administrasi biasa tak pernah cukup untuk menutupi lubang keuangan yang kian membesar. Ketika seorang temannya tanpa sengaja membagikan undangan digital ajang ini—yang mengklaim mencari wanita dari berbagai latar belakang untuk dipertemukan dengan para pengusaha kelas atas—Azahra mempertaruhkan sisa tabungan terakhirnya hanya untuk membayar biaya pendaftaran.

Ia sempat membayangkan keajaiban kecil. Mungkin saja, pikirnya naif, ia akan bertemu dengan seorang pria baik hati yang bersedia membantunya, atau setidaknya seseorang yang bisa ia ajak berdiskusi tanpa memandangnya sebelah mata.

Namun, dua jam berlalu, dan realita menghantamnya tanpa belas kasihan.

Selama dua jam berdiri menyendiri di dekat meja minuman ringan, Azahra menjadi saksi betapa curamnya jurang pemisah di antara mereka. Pria-pria bersetelan jas kustom dengan jam tangan seharga satu unit rumah hanya melewatinya begitu saja. Pandangan mereka langsung tertuju pada para wanita sosialita yang memamerkan kalung berlian dan tertawa dengan nada yang dibuat-buat. Tidak ada satu pun dari mereka yang sudi membuang waktu menatap seorang gadis biasa yang memegang gelas air mineral dingin dengan gestur cemas.

Azahra menghela napas panjang. Rasa gengsi dan harga dirinya yang tersisa mulai berteriak. Ini kebodohan, batinnya merutuki diri sendiri. Mengapa ia bisa berpikir bahwa dunia tempatnya berpijak bisa menyatu dengan dunia orang-orang ini?

Ia memutar tumitnya, berniat melangkah menuju pintu keluar dan menerima kenyataan bahwa besok ia harus berhadapan dengan penagih utang lagi. Namun, baru dua langkah bergerak, suasana riuh di sekitar meja minuman mendadak hening. Udara di sekitarnya seolah mendingin dalam hitungan detik.

"Azahra Aletta?"

Sebuah suara berat, dalam, dan terkesan tanpa emosi bergaung tepat di belakang punggungnya. Suara itu memiliki getaran otoritas yang spontan membuat bulu kuduk Azahra berdiri.

Azahra membalikkan badan dengan perlahan. Pandangannya berbenturan dengan sesosok pria berpostur tinggi tegap yang berdiri hanya dua langkah di hadapannya. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap buatan Italia yang memeluk tubuh atletisnya dengan sempurna. Wajahnya dipahat dengan ketampanan yang dingin—rahang tegas yang tertutup bayangan tipis rambut halus, hidung mancung yang tajam, serta sepasang mata berwarna kelabu pekat yang memancarkan kilat intimidasi murni.

Pria di depannya tampak seperti tipe manusia yang terbiasa mendominasi ruangan mana pun yang ia masuki tanpa perlu mengucap sepatah kata pun. Di belakangnya, seorang pria paruh baya bersetelan rapi berdiri sigap sambil memegang sebuah tas dokumen dari kulit hitam mahal.

"Ya... saya Azahra," sahut Azahra dengan tenggorokan yang mendadak kering. Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar di hadapan tatapan yang begitu menghujam.

"Saya Ethan Austin," jawab pria itu tanpa repot-repot mengulurkan tangan. Matanya yang dingin meneliti Azahra secara menyeluruh, dari tatanan rambutnya yang sederhana, wajahnya yang dipoles riasan tipis, hingga sepatu hak tingginya yang kulitnya mulai mengelupas di bagian belakang. Tatapan itu sama sekali tidak mengandung hasrat atau ketertarikan romantis. Tatapan itu adalah tatapan seorang investor yang sedang menilai kualitas sebuah komoditas bisnis.

Azahra menelan ludah. Nama itu tidak asing. Austin Group adalah raksasa konglomerasi yang menguasai berbagai sektor properti dan teknologi di negeri ini. Pria di hadapannya adalah sang pewaris tunggal yang terkenal kejam di dunia bisnis.

"Maaf, Pak Austin, apakah ada yang bisa saya bantu? Saya rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya," tutur Azahra mencoba mempertahankan sisa keberaniannya.

"Latar belakangmu bersih. Kau tidak punya skandal, tidak pernah terlibat masalah hukum, tidak memiliki kekasih, dan yang paling krusial... kau sangat, sangat membutuhkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat," ujar Ethan dengan nada datar, seolah sedang membacakan laporan cuaca harian.

Alis Azahra bertaut mendalam. Rasa terkejut dan tersinggung berbaur menjadi satu di dalam dadanya. "Bagaimana Anda tahu hal-hal pribadi tentang saya? Anda memata-matai saya?"

"Saya tidak memata-matai. Saya melakukan riset sebelum membuat keputusan," potong Ethan lugas, tidak memberikan ruang bagi Azahra untuk meluapkan kekesalannya. Ia memberi isyarat kecil pada asisten di belakangnya. Pria setengah baya itu dengan cepat melangkah maju dan menyerahkan sebuah berkas tebal bersampul hitam keras kepada Azahra.

Azahra menerima berkas itu dengan ragu. Terpampang jelas di lembar pertama sebuah judul tebal: Surat Perjanjian Hubungan Kontrak.

"Dua ratus juta rupiah per bulan," kata Ethan datar, menyebutkan angka yang membuat napas Azahra tersengal seketika. "Tugasmu sangat sederhana. Kau hanya perlu berperan sebagai tunangan pura-pura saya di hadapan keluarga besar saya, publik, dan media massa selama masa waktu yang ditentukan."

Dua ratus juta per bulan. Lidah Azahra terasa kelu. Angka itu bukan sekadar modal untuk membayar utang ibunya, melainkan jumlah yang mampu mengubah garis kehidupannya secara dramatis dalam hitungan bulan. Namun, akal sehatnya yang masih berfungsi memperingatkannya bahwa tak ada hal gratis di dunia ini, terutama dari seorang pria seberbahaya Ethan Austin.

"Kenapa saya?" tanya Azahra, menatap lurus ke dalam manik mata kelabu yang dingin itu. "Di ruangan ini ada puluhan wanita dari keluarga terpandang yang jauh lebih pantas mendampingi Anda."

"Karena mereka menginginkan posisi saya, status saya, dan cinta saya," jawab Ethan tanpa ragu, senyum tipis yang dingin dan angkuh terukir singkat di bibirnya. "Sementara kau... kau terlihat cukup realistis untuk tidak melibatkan perasaan. Kau hanya butuh uang untuk bertahan hidup, dan itu membuatmu mudah diatur."

Kalimat Ethan begitu menohok, telanjang tanpa basa-basi. Pria ini tidak sedang menawarkan romansa; ia sedang membeli kepatuhannya.

"Aturannya sangat ketat," lanjut Ethan, melangkah satu senti lebih dekat hingga aromanya yang seperti kayu cedar dan mint menusuk indra penciuman Azahra. "Tidak ada kontak fisik tanpa izin saya. Tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi maupun bisnis saya. Dan yang paling penting: tidak boleh ada pria lain dalam hidupmu selama kontrak ini berlaku. Kau sepenuhnya milik agenda saya."

Azahra menatap berkas tebal di tangannya. Lembar demi lembar berisi klausul-klausul hukum yang mengikat. Hatinya bergejolak hebat. Di satu sisi, ada harga dirinya yang merasa diinjak-injak oleh keangkuhan pria ini. Namun di sisi lain, bayangan surat tagihan, gedoran pintu kos di malam hari, dan masa depannya yang suram terus melambai-lambai.

Pilihan di hadapannya sangat jelas: mempertahankan gengsi lalu tenggelam dalam kemiskinan, atau menjual statusnya pada pria berkuasa ini demi kebebasan finansial.

Azahra memejamkan mata sejenak, menghirup udara dingin ruangan tersebut, lalu membukanya kembali dengan tatapan yang sudah mantap. Keberanian nekat menyusup ke dalam dadanya.

"Di mana saya harus tanda tangan?" tanya Azahra tegas.

Ethan tidak terkejut. Pria itu mengambil pulpen bernuansa emas dari saku jasnya dan mengulurkannya pada Azahra. "Pilihan yang sangat pragmatis, Azahra. Kau baru saja menyelamatkan dirimu sendiri."

Dengan jemari yang sedikit gemetar namun pasti, Azahra menyapukan tanda tangannya di atas kertas tebal tersebut. Ia menyegel kesepakatan gila itu tanpa menyadari bahwa apa yang ia anggap sebagai jalan keluar justru merupakan pintu masuk menuju pusaran konflik yang jauh lebih berbahaya. Sebab, tepat satu minggu dari malam ini, di kantor tempatnya bekerja, sang CEO yang terkenal tak tersentuh juga sedang menyiapkan penawaran serupa untuknya.

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!