Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Namun senyum itu perlahan memudar. Sesuatu mulai berputar di kepalanya, bayangan masa lalu yang semakin jelas. Ia dan Sebastian kecil, berdiri di taman.
Sebastian memberikan liontin itu kepadanya. Lalu seorang pria datang. Pria itu berkata sesuatu yang tak bisa ia dengar dengan jelas. Namun kali ini ia melihat tangan pria itu — di jari manisnya terdapat sebuah cincin hitam berukir kepala elang.
Elena tiba-tiba berdiri. "Aku tahu sesuatu!"
Sebastian ikut berdiri. "Apa?"
"Cincin itu.. pria itu memakai cincin hitam dengan lambang kepala elang."
Sebastian langsung mengambil ponselnya, mengetik pesan cepat. Cari organisasi atau keluarga bisnis yang menggunakan lambang kepala elang hitam.
Belum sepuluh menit, balasan masuk. Sebastian membacanya, dan wajahnya seketika berubah pucat.
"Apa?" tanya Elena cemas.
Sebastian menatapnya lama. "Ada satu keluarga yang menggunakan lambang itu."
"Siapa?"
"Voss."
Elena membeku. "Daniel Voss?"
"Ya."
Malam semakin larut. Elena sudah terlelap. Sebastian masih berada di ruang kerja, menatap tumpukan dokumen di mejanya ada foto lama, salinan perjanjian keluarga, dan foto Daniel Voss. Pintu diketuk pelan.
"Masuk."
Asistennya masuk. "Tuan, kami menemukan lokasi yang kemungkinan pernah digunakan Daniel Voss. Di luar kota." Ia menyerahkan secarik kertas berisi alamat. "Namun ada sesuatu yang lebih penting."
"Apa?"
"Kami menemukan catatan lama dari kliniknya."
Sebastian segera mengambil dokumen itu. Matanya menyapu setiap baris tulisan, hingga berhenti di satu nama.
Nama Pasien: ELENA ARVIENNE
Tanggal: 12 tahun lalu
Sebastian membeku. "Apa isi catatannya?"
"Pasien mengalami trauma berat dan kehilangan sebagian ingatan," jawab asistennya pelan.
Sebastian membalik halaman. Ada satu catatan tulisan tangan yang membuat darahnya mendidih.
Jangan biarkan keluarga Hale mengetahui apa yang dilihat anak ini.
Tangan Sebastian mengepal erat. Selama ini ia mengira keluarganya melindungi Elena. Padahal ada seseorang yang sejak awal berusaha menutup-nutupi kebenaran darinya. Dan jika catatan ini benar, Elena bukan sekadar korban. Ia adalah saksi. Saksi atas sesuatu yang terjadi dua belas tahun lalu.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
"Siapa?"
Keheningan beberapa detik, lalu suara pria terdengar — rendah, tenang, dan penuh kepastian.
"Sudah menemukan catatannya, Sebastian?"
Sebastian berdiri tegak. "Daniel Voss?"
Pria itu tertawa pelan. "Kau masih sama seperti dulu."
"Di mana kau?"
"Itu tidak penting."
"Apa yang kau inginkan dari Elena?"
Hening sejenak, lalu jawaban itu datang begitu tenang namun mengerikan.
"Aku tidak menginginkan apa pun darinya. Aku hanya ingin dia mengingat… siapa yang sebenarnya membunuh malam itu."
Sambungan terputus.
Di lantai atas, Elena tiba-tiba terbangun dengan napas memburu. Ia duduk di tempat tidur, memegang dadanya yang berdebar kencang. Sebuah mimpi tentang taman yang basah oleh hujan, dirinya yang kecil, Sebastian, ayahnya, dan seorang pria dengan cincin kepala elang. Serta darah yang membasahi lantai.
Elena menutup mulutnya dengan tangan. Lalu satu kalimat terngiang begitu jelas di kepalanya.
Ayahmu tidak meninggal karena kecelakaan.
Mata Elena melebar. Tubuhnya gemetar hebat. Kenangan itu kembali menghilang secepat ia datang, namun satu hal kini ia pahami bahwa ada seseorang yang berusaha keras membuatnya melupakan kebenaran. Dan orang itu mungkin masih berada di dekatnya.
"Elena."
Suara Sebastian terdengar di ambang pintu. Elena yang baru saja terbangun dari tidur pendek segera menoleh. Pria itu berdiri di sana, wajahnya serius namun matanya lembut.
"Kenapa kau belum tidur?" tanyanya pelan.
Elena mengerutkan kening sedikit. "Harusnya akulah yang bertanya. Kenapa kau masih sibuk bekerja di jam begini?"
"Aku menemukan sesuatu."
Dua kata itu langsung membuat Elena duduk tegak, kesepiannya hilang seketika. "Apa itu?"
Sebastian berjalan mendekat ke tepi tempat tidur. "Klinik tempatmu dirawat dua belas tahun lalu. Aku menemukan lokasinya."
Elena langsung berdiri. "Kalau begitu, kita pergi sekarang."
"Belum bisa."
"Kenapa?"
"Karena aku belum memastikan apakah tempat itu aman untukmu."
Elena menghela napas pelan, lalu menatapnya lekat. "Sebastian, aku tahu kau ingin melindungiku. Dan aku bersyukur akan hal itu. Tapi aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku sudah kehilangan sebagian ingatanku. Aku tidak ingin kehilangan satu-satunya kesempatan untuk mengetahui kebenaran."
Tatapan Sebastian perlahan melunak. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baik. Besok pagi. Kita pergi bersama."
Elena tersenyum lega. "Janji?"
"Janji."
"Bagus. Sekarang pulanglah ke kamarmu." Ia menunjuk pintu dengan senyum nakal.
Sebastian mengangkat alis. "Ini rumahku, istriku."
"Dan aku istrimu." Elena menarik selimut hingga dagu. "Jadi aku punya hak untuk mengusirmu dari kamarku sendiri."
Sebastian tertawa kecil, suara rendahnya terdengar hangat di ruangan itu. "Baiklah, Nona Nyonya Hale. Selamat tidur."
Ia berjalan keluar, namun sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekali lagi. "Tidurlah yang cukup, Elena."
"Selamat malam, suamiku."
Sebastian terdiam sejenak. Senyum tipis namun tulus muncul di wajahnya. "Selamat malam, istriku."
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘