Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Sihir
Tiba-tiba...
Melodi string yang megah dan dentum piano yang berat mendadak menggema entah dari mana, membelah ketegangan dengan resonansi yang begitu kuat hingga membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat seirama dengan ketukan musik.
Detik berikutnya, keajaiban yang aneh terjadi. Sihir es tajam yang tadinya melesat mematikan dan hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aurelia dan Arthur mendadak berhenti di udara, membeku total dalam waktu yang seolah terhenti sepenuhnya.
Mata kelima bangsawan sombong itu terbelalak.
"Apa yang terjadi?! Sihir kita... berhenti?!" teriak Finn dengan mata terbelalak, menatap ngeri sekaligus heran.
"Musik apa ini? Kenapa tiba-tiba muncul disini?!" jerit Arnon dengan nada panik luar biasa.
Ia mencoba mengerahkan seluruh energi sihirnya untuk bergerak, namun kilatan panik kian jelas di wajahnya saat menyadari sesuatu. "Sial, tubuhku... aku tidak bisa menggerakkan tubuhku!"
Di tengah kekacauan itu, Aurelia sendiri tampak terpaku, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata Arthur yang posisinya begitu dekat dengannya.
Napasnya memburu, bukan karena ketakutan, melainkan karena aura asing yang mendadak menguar dari pria di hadapannya. "Arthur... apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Aurelia dengan jantung yang berdegub cepat, menuntut penjelasan di tengah situasi mendebarkan tersebut.
Arthur tidak menjawab dengan kepanikan yang sama. Ia justru menarik sudut bibirnya, mengukir sebuah senyuman misterius yang terkesan anggun namun mengintimidasi. "Hanya... menari," katanya santai, seringan embusan angin.
Begitu Arthur melangkahkan kaki kanannya untuk memulai ketukan pertama dari simfoni waltz yang megah itu, fenomena aneh yang tidak masuk akal langsung melanda kelima bangsawan sombong tersebut.
Tubuh mereka yang semula kaku mendadak bergerak di luar kendali akal sehat. Kaki-kaki mereka berdentum keras di atas tanah yang secara ajaib mengeras dan mengilap, berubah menjadi lantai dansa megah yang mengikuti setiap langkah, putaran, dan ritme tarian pasangan yang dipimpin oleh Arthur.
"Hei! Berhenti! Apa-apaan ini?!"
Tubuh kelima bangsawan yang tadinya mematung, tiba-tiba dipaksa bergerak sendiri oleh kekuatan tak kasatmata.
Mereka berputar, melangkah, dan meliuk mengikuti koreografi presisi yang sedang dilakukan oleh Arthur dan Aurelia.
Dalam satu ketukan piano yang menghentak, tangan Finn tiba-tiba bergerak sendiri secara impulsif, meluncur maju dan memeluk pinggang Arnon dengan erat.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?! Singkirkan tangan kotormu dari tubuhku!" teriak Arnon dengan wajah memerah, antara merasa jijik dan malu karena harga dirinya sebagai bangsawan terinjak-injak.
"Jangan salahkan aku! Aku tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menghentikan tanganku sendiri!" jerit Finn frustasi. Suaranya melengking tinggi, dipenuhi rasa malu yang luar biasa bercampur panik saat tubuhnya dipaksa berputar anggun mengikuti ritme instrumental misterius tersebut.
Kekacauan itu menjalar bak wabah. Eros dan Isa pun tidak bisa mengendalikan anggota tubuh mereka sendiri.
"Sihir macam apa ini?" teriak Isa dengan mata berkaca-kaca karena rasa malu yang luar biasa.
Pakaian mereka terasa seringan gaun pesta saat mereka dipaksa melakukan gerakan berdansa.
Sementara itu, Felix yang kehilangan kendali atas langkahnya, terseret maju dan dengan canggung menarik seorang wanita paruh baya yang berada di dekat sana untuk masuk ke dalam pusaran tarian pasangan itu.
"Hei!" pekik wanita paruh bayah itu terkejut saat tubuhnya di tarik langsung ke lantai dansa.
"Sial! Setidaknya aku ingin berdansa dengan wanita cantik!" seru Felix panik saat tangannya menuntun wanita yang kebingungan itu berputar di antara melodi string yang kian meninggi.
Bukan hanya para bangsawan, seluruh orang yang berada di arena itu tiba-tiba kehilangan kendali atas tubuh mereka.
Semuanya mendadak bergerak serempak, melangkah maju-mundur dan berputar dengan formasi yang begitu simetris, mutlak mengikuti langkah irama yang didikte oleh ketukan kaki Arthur dan Aurelia.
Di tengah badai sihir tarian yang gila dan membingungkan ini, Aurelia sendiri masih dilingkupi kebingungan.
Dunianya seolah menyempit; ia mengabaikan jeritan frustasi di sekitarnya dan hanya terpaku pada Arthur, sosok yang kini menuntunnya berdansa dengan keanggunan seorang raja di atas panggung kehancuran.
Sambil membawa Aurelia berputar dalam dekapan eratnya, Arthur menatap kelima bangsawan yang kini menari layaknya boneka tali itu dengan pandangan meremehkan yang teramat dingin. Sudut bibirnya terangkat, menyunggingkan senyum seringai yang penuh kemenangan.
Aurelia mendongak perlahan. Ia menatap wajah Arthur dari jarak yang begitu dekat—wajah itu sangat menawan, tegas, dan misterius. Entah mengapa, rasa gugup yang awalnya mencekik dada Aurelia perlahan sirna.
Rasa itu menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang kekaguman yang tiba-tiba merayap masuk dan memenuhi seluruh rongga dadanya.
Tanpa peringatan, Arthur mencengkeram pinggang ramping Aurelia dengan lembut, lalu mengangkatnya dengan satu hentakan kuat hingga tubuh gadis itu melayang ringan ke udara.
Di puncak gerakannya, Aurelia mencondongkan setengah tubuhnya ke belakang, membiarkan rambutnya terurai bebas di udara, menciptakan sebuah siluet tarian yang luar biasa menawan dan anggun.
Di tengah kepanikan massal, di mana jeritan frustrasi bergaung dan kelima bangsawan sombong itu kehilangan kendali atas harga diri mereka, dunia seolah melambat bagi mereka berdua. Hanya Arthur dan Aurelia yang saling mengunci pandangan, mengabaikan kekacauan di sekitar mereka.
Arthur menurunkan tubuh Aurelia dengan lembut, namun alih-alih melepaskannya, ia justru menariknya masuk ke dalam pelukan tanpa jarak. Dada mereka bertabrakan pelan.
‘Astaga! Jantungku! Apa-apaan ini?!’ jerit Aurelia dalam hati. Napasnya tertahan saat sebuah perasaan asing yang hangat sekaligus mendebarkan tiba-tiba meletup di dalam hatinya.
Arthur memajukan wajahnya yang rupawan, mendekatkan bilah bibirnya tepat di dekat daun telinga Aurelia yang memerah. Embusan napasnya terasa hangat saat ia berbisik dengan nada rendah yang menggoda.
"Nona... saatnya melarikan diri," gumam Arthur, disusul seulas senyum misterius yang penuh rahasia.
Sebelum Aurelia sempat mencerna kalimat itu, Arthur telah menggenggam erat jemari tangannya. Dengan satu sentakan pelan, ia membawa gadis itu berlari menembus kerumunan, meninggalkan arena dansa.
Di tengah hiruk-pikuk musik sihir dan tarian paksaan yang masih berlanjut heboh, tidak ada satu pun orang yang menyadari bahwa pelaku utama sihir tarian aneh itu telah menghilang dari pandangan.
Langkah kaki mereka bergema di lorong-lorong jalanan yang sepi. Arthur dan Aurelia masih terus berlari menjauh. Namun, sepanjang pelarian itu, tatapan mata Aurelia seolah terkunci mati pada sosok Arthur. Pria itu tampak berbeda—lebih liar, lebih berkuasa, dan penuh teka-teki.
Sambil terus berlari dengan tangan yang masih menggenggam jemari Aurelia, Arthur menoleh sedikit ke arah Aurelia. Senyum tipis masih mengembang di wajah menawannya.
Tidak ada suara atau kata-kata yang keluar dari bibir pria itu di tengah deru angin.
Namun, dalam genggaman tangan Arthur yang begitu erat, ada sebuah kehangatan aneh dan protektif yang menjalar masuk ke nadi Aurelia, membuat gadis itu sadar, bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.