NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Matahari pagi menyapu lembut hamparan kebun teh hijau yang membentang luas di kawasan perkebunan dataran tinggi Pangalengan, Jawa Selatan. Udara pagi berhembus dingin, membawa serta aroma embun segar dan tanah basah yang menenangkan. Di kejauhan, kabut tipis tampak masih menggantung di atas pucuk-pucuk pohon pinus, menciptakan lanskap alam yang begitu asri dan jauh dari hiruk-pikuk serta polusi kota metropolitan Jakarta.

Sebuah mobil SUV hitam mewah melaju pelan menyusuri jalanan berbatu yang membelah kawasan perkebunan tersebut, sebelum akhirnya berhenti di halaman sebuah vila peristirahatan pribadi berarsitektur kayu klasik modern yang dikelilingi taman bunga mawar merah dan putih.

Pintu mobil terbuka. Alexander Ar-Rasyid melangkah keluar terlebih dahulu. Ia mengenakan jaket tebal wol berwarna arang di atas kemeja flanel kasual, memperlihatkan aura ketenangan yang sangat kontras dengan kesibukannya di ruang rapat lantai lima puluh Ar-Rasyid Tower. Sesaat kemudian, Keisha menyusul turun dari sisi seberang, mengenakan mantel musim dingin rajutan tangan berwarna krem dan syal kasmir lembut melingkar di lehernya. Manik mata cokelatnya berbinar-binar takjub menatap pemandangan alam yang begitu menenangkan di hadapan mereka.

"Tempat apa ini, Alexander?" tanya Keisha dengan nada takjub, menarik napas dalam-dalam menghirup udara segar pegunungan. "Kita baru saja merayakan kemenangan tender energi nasional di Jakarta kemarin lusa, dan sekarang kau membawaku ke tengah perkebunan teh di Priangan?"

Alex berjalan mendekat, lalu merangkul bahu istrinya dengan penuh kehangatan, menarik tubuh Keisha sedikit lebih dekat untuk melindunginya dari terpaan angin pagi yang dingin.

"Ini adalah tempat peristirahatan rahasia keluarga Ar-Rasyid yang dibangun oleh kakekku puluhan tahun lalu," jawab Alex lembut. "Selama beberapa tahun terakhir, tempat ini terbengkalai karena kesibukan perang bisnis keluarga. Tapi semalam, aku memutuskan untuk mengambil alih kepemilikannya sepenuhnya, dan merenovasinya khusus untuk kita."

Keisha menoleh, menatap suaminya dengan alis terangkat sebelah. "Khusus untuk kita? Jangan bilang kau berencana menyembunyikanku dari dunia luar di pegunungan ini?"

Alex terkekeh kecil—suara bariton rendah yang sangat merdu di pendengaran Keisha. Ia mencium puncak kepala istrinya sekilas. "Bukan menyembunyikanmu, Keisha. Aku hanya ingin kita mengambil jeda sejenak dari seluruh intrik korporasi, rapat pemegang saham, dan ancaman musuh-musuh lama. Kita butuh waktu berdua—hanya kau dan aku—tanpa gangguan dari dunia luar."

Keisha merasakan dadanya bergemuruh hangat. Senyuman manis merekah sempurna di bibirnya. Ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Alex. "Ide yang luar biasa, Tuan CEO. Aku rasa aku bisa membiasakan diri menjadi wanita pegunungan untuk beberapa hari ke depan."

Mereka berdua melangkah bergandengan tangan memasuki teras vila kayu yang luas. Interior di dalam vila tersebut didominasi oleh perabotan kayu jati antik, perapian batu besar di sudut ruang keluarga, serta dinding kaca transparan berukuran besar yang langsung menghadap ke arah lembah perkebunan teh hijau.

Setelah meletakkan barang bawaan di kamar tidur utama yang menghadap langsung ke panorama matahari terbit, mereka duduk di kursi beranda luar sambil menikmati secangkir teh panas lokal khas Priangan yang diseduh langsung oleh staf pengurus vila.

Keisha menyeruput teh hangatnya pelan, lalu menatap suaminya yang duduk di kursi sebelah dengan tatapan penuh selidik. "Alex, meskipun kita sedang berlibur, aku tahu betul kepribadianmu. Seorang Alexander Ar-Rasyid tidak akan pernah datang ke suatu tempat tanpa rencana jangka panjang. Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?"

Alex meletakkan cangkirnya di atas meja kayu, lalu menatap manik mata istrinya dengan sorot mata yang serius namun penuh kelembutan. "Kau benar, Keisha. Aku memang memiliki rencana lain selain sekadar berlibur."

Alex merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan sebuah dokumen map tipis berwarna biru tua, meletakkannya di atas meja di hadapan Keisha.

Keisha mengernyitkan dahi. Ia membuka map tersebut dan membaca lembar demi lembar dokumen resmi yang ada di dalamnya. Seketika, manik matanya membelalak kaget.

"Ini... akta pelepasan hak kelola lahan perkebunan teh seluas lima puluh hektare..." bisik Keisha tak percaya, membaca rincian teks di dalam dokumen tersebut. "...dan rencana pembangunan pusat galeri seni rupa alam terbuka serta akademi mode desain busana berkelanjutan (sustainable fashion academy) untuk anak-anak muda lokal di Jawa Barat?"

Alex mengangguk tenang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Ya. Selama ini, Azalea Label berkembang pesat di panggung haute couture internasional seperti Paris dan Milan. Tapi aku tahu jauh di dalam lubuk hatimu, impian terbesar seorang Keisha Azalea adalah memberdayakan para perajin lokal, perajin tenun tradisional, dan anak-anak muda berbakat di negeri sendiri yang tidak memiliki akses pendidikan mode."

Keisha merasa tenggorokannya mendadak tercekat. Air mata kebahagiaan seketika menggenang di pelupuk matanya. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha meredam getaran emosi yang meluap-luap di dalam dadanya.

"Alex..." suaranya bergetar pelan. "Kau... kau membeli seluruh kawasan ini dan merancangnya menjadi akademi mode dan seni untuk perajin lokal?"

Alex beranjak dari kursinya, berjalan mendekati kursi Keisha, lalu berlutut dengan salah satu lututnya menyentuh lantai kayu beranda. Ia merengkuh kedua tangan lentik istrinya ke dalam genggamannya yang hangat, mencium jemari itu satu persatu dengan penuh takzim.

"Tanah ini dulunya adalah saksi bisu kesepian dan kekakuan hidupku sebelum kau datang," ucap Alex tulus, manik matanya menatap tajam penuh cinta yang mendalam ke dalam mata Keisha. "Sekarang, aku ingin tanah ini menjadi saksi dari impian-impian besarmu yang menjadi nyata. Tidak ada lagi kontrak pernikahan di atas kertas, tidak ada lagi keterpaksaan. Yang ada hanyalah masa depan, karya, dan cinta kita yang akan terus tumbuh mengakar di bumi ini."

Keisha tidak bisa lagi menahan air matanya. Air mata haru itu menetes perlahan di pipinya, namun senyuman paling bahagia terukir indah di bibirnya. Ia membungkuk, lalu menangkup wajah tegas suaminya dengan kedua tangan, menarik Alex berdiri dan langsung menghambur memeluk leher pria itu erat-erat.

"Aku mencintaimu, Alexander," bisik Keisha isak tertahan di antara kebahagiaan yang luar biasa. "Aku sangat, sangat mencintaimu."

Alex mendekap erat tubuh istrinya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Keisha, menghirup aroma wangi khas wanita itu sambil tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya. "Dan aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini, Keisha. Selamanya."

Sementara itu, ratusan kilometer dari ketenangan dataran tinggi Pangalengan, di ruang tahanan isolasi bawah tanah markas kepolisian pusat Jakarta, suasana terasa sangat dingin dan mencekam.

Julian Pramana duduk di atas lantai semen yang keras di balik jeruji besi sel isolasi. Wajahnya yang dulu tampak arogan dan licik kini terlihat kusam, pucat, dan dipenuhi keputusasaan yang mendalam. Seluruh aset korporasi Meridian Capital telah disita negara, jaringan internasional Richard Vance di Eropa telah diputus total oleh interpol, dan tidak ada satu pun sekutu yang datang menolongnya.

Langkah kaki tegap terdengar menggema di sepanjang koridor lorong tahanan. Seorang perwira tinggi kepolisian berjalan mendekat ke depan sel Julian, ditemani oleh dua orang pengawal berseragam lengkap.

"Julian Pramana," ucap sang perwira dengan suara tegas tanpa kompromi. "Berdasarkan hasil investigasi lanjutan dan pelimpahan berkas perkara lengkap dari tim hukum Ar-Rasyid Group, hari ini surat dakwaan final Anda resmi dikeluarkan atas kasus pengkhianatan korporat, pencucian uang internasional, dan konspirasi perusakan aset vital negara."

Julian mendongak perlahan, menatap surat dakwaan yang dipegang sang perwira dengan mata terbelalak ngeri. Hukuman penjara puluhan tahun menanti di hadapannya—sebuah akhir yang tragis bagi seorang pria yang mencoba bermain api dengan kekuasaan mutlak keluarga Ar-Rasyid.

"Tidak... ini tidak mungkin..." gumam Julian putus asa, merosot jatuh ke lantai dingin di balik jeruji besi.

Perwira itu menggelengkan kepala pelan, lalu berbalik meninggalkan lorong tahanan yang sunyi.

Di luar gedung tahanan, matahari siang Jakarta bersinar sangat terik, namun tidak ada lagi bayang-bayang ancaman yang mampu meredupkan cahaya kejayaan dinasti Ar-Rasyid.

Kembali di vila peristirahatan Pangalengan, hari mulai beranjak senja. Langit sore di atas lembah perkebunan teh berubah warna menjadi jingga keemasan yang menakjubkan. Keisha dan Alexander duduk berdampingan di tepi kolam pantul air hangat di halaman belakang vila, menyaksikan matahari yang perlahan-lahan tenggelam di balik barisan bukit hijau.

Keisha menyandarkan kepalanya di bahu Alex, jemari mereka saling bertautan erat. Di hadapan mereka, bentangan tanah luas yang kelak akan menjadi pusat akademi seni dan mode impian menanti untuk diwujudkan. Badai masa lalu telah sepenuhnya musnah, meninggalkan kedamaian abadi dan cinta sejati yang membimbing setiap langkah perjalanan hidup mereka ke depan.

"Apa rencana kita untuk besok pagi, Tuan CEO?" tanya Keisha lembut dengan senyuman jahil di bibirnya.

Alex mengecup punggung tangan istrinya, lalu menatap cakrawala senja dengan senyuman penuh optimisme. "Besok pagi, kita akan mulai merancang masa depan kita yang sesungguhnya, Ratu-ku."

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!