Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
seperti lukisan basah yang diusap kuas oleh pelukisnya
Meskipun gadis itu menjelaskannya, Tuan muda itu tampaknya sering berpindah-pindah menatap satu pohon ke pohon yang lainnya. Ia lalu menggeleng. “Terlalu rumit? Untuk apa pula menulis hal seperti ini? Kak Yu, aku masih kecil, jangan seperti ibuku. Ayah pernah memarahi ibu karena terlalu dini mendidikku.”
Kak Yu sedikit tersentak, tapi ia tersenyum. “Tuan muda, Anda pintar.”
“Kakak memujiku terus.”
“Sungguh, Kakak tidak berbohong.”
“Baiklah Tuan muda, sepertinya Anda sudah bosan. Ayo kita jalan-jalan lagi.”
Si kecil mengangguk dan segera mereka berbalik pergi.
Pohon itu memperhatikannya dari tadi, kemudian muncul nama Xuan dalam benaknya. Ia bertanya-tanya mengapa sepertinya akrab dengan nama itu. Bukankah ia hanya sebuah pohon? Dan mengapa juga pohon-pohon yang lain tidak mau berbicara dengannya? Ia jadi heran, tapi segera memilih diam.
Besoknya Tuan muda itu kembali ke sana sembari membawa buku. Ia belajar seorang diri dan tampak sering mengeluh karena pelajaran yang sulit dan betapa banyak hal yang perlu dipelajarinya. Pohon itu sering mendengarnya mendengus, bilang jika ini sulit, bertanya mengapa ia harus belajar seperti ini.
Pada akhirnya si kecil itu menghela napas sembari menjatuhkan kepalanya di meja, menatap bunga-bunga magnolia ia menghembuskan napas kesal. “Mengapa mereka selalu mendorongku untuk belajar? Katanya jika aku bodoh, maka tidak ada gadis cantik yang mau menikah denganku. Katanya juga jika aku tidak bisa, ibu akan mengirimku ke tempat belajar yang jauh dan kumuh. Katanya juga jika aku lemah maka aku tidak akan bisa seperti Kakak Yi. Ah... Mereka banyak menuntut.”
Ia lalu bangkit dan membuka halaman bukunya. Namun segera kembali menutupnya. “Aku Tuan muda Xuan,” katanya tegas. “Tidak perlu banyak belajar apa yang tidak kusukai. Setidaknya apa pun itu, yang aku suka belajar, itu juga namanya belajar.”
Tuan muda itu menaruh bukunya dan berjalan mendekati pohon magnolia. Ia mengusap tulisan di batangnya lalu tersenyum. “Puisi? Ah, Kakak Yi memang seperti anak kecil juga. Orang dewasa pun mungkin seperti itu, mereka hanya tahu apa yang membuat mereka senang, asal itu menyentuh tanggung jawab moral dan kebaikan maka mereka akan melakukannya. Katanya sih demi kebaikanmu, padahal itu juga demi kesenangan mereka. Sudahlah, aku bosan.”
Ia lalu berkeliling melihat tulisan-tulisan yang lain di antara pohon lalu kembali duduk dan berharap bisa belajar dengan baik dan itu tidak memberatkannya. Namun, masih saja terasa sulit.
“Huh.... Kenapa ini begitu sulit?” ia bergumam sembari menatap bukunya.
Tidak lama dua pelayan melintasi aula dan saling bercakap-cakap. Mereka tampaknya bahagia dan Si kecil tanpa sadar memanggil. “Kakak Yu...”
Dua pelayan itu berhenti dan menoleh.
“Tuan muda.”
Si kecil segera berlarian membawa buku.
“Kakak Yu bisakah Anda menemaniku untuk belajar? Ini sulit sekali.”
“Tuan muda kesulitan? Sayang sekali Kakak sibuk hari ini.”
Si kecil segera cemberut dan kesal. Pelayan itu segera meminta maaf lalu berjalan menjauh. Ia hanya memandangnya lalu kembali duduk di bawah pohon. Belajar sebentar lalu akhirnya menyerah dan pergi membawa bukunya.
Selama itu juga pohon itu mengamati semuanya. Ia ingat bagaimana pemuda itu menyebut nama sendiri dan tampaknya itu terlihat percaya diri. Tanpa sadar ia bergumam mengulanginya lagi dan ternyata itu menyenangkan. Ia merasa akrab
...----------------...
Satu tahun kemudian umur tuan muda itu sudah menginjak lima tahun dan tampaknya ia jauh lebih dewasa dan bekerja keras.
Sepanjang sore atau pagi ia sering diam di bawah pohon untuk membaca, menulis dan perlahan-lahan sedikit menghafal. Kadang-kadang ia bersama pelayannya atau sendirian saja, bahkan beberapa kali ibunya yang galak menemani membuat suasana menjadi canggung dan agak mengerikan. Selama itu pohon magnolia mengamati dan merenung. Tidak ada yang mau berbicara dengannya. Pohon-pohon di sekitarnya terus saja sepi dan hanya tumbuh, berbunga, berbuah lalu menggugurkan daunnya.
Pohon itu merasa ada yang aneh, dan setiap kali si kecil itu berkata tentang namanya ia menjadi akrab tapi tidak tahu kapan mendengar nama itu.
Setiap malam ia sering bermimpi setelah mendengar si kecil berujar, “Namaku Xuan Han, aku pasti berhasil.” Ia akan melihat dirinya melayang-layang dalam lautan cahaya biru yang tidak terhitung jumlahnya. Cahaya itu dibentuk oleh butiran-butiran cahaya yang lembut dan diterbangkan angin. Merasa ada yang salah, ia terus merenung. Suatu hari Tuan muda itu berdiri di depannya sembari bertanya, “Jika suatu saat nanti aku jadi pohon, apakah aku bersuka cita karena tidak dimarahi ibu atau sama saja hidup sebagai manusia yang penuh tantangan?”
Ia merenung tentang pertanyaan itu.
Selama itu juga wanita yang menulis di batangnya mengunjungi satu kali. Hanya datang mengusap tulisan itu agar bisa dibaca, kemudian pergi.
Lalu pagi ini Tuan muda itu menatapnya lagi seperti mencari-cari sesuatu. Tidak lama ia tersenyum. “Namaku Xuan Han, mengapa aku tidak memberimu nama juga? Kakak Yi menulis di batangmu, jadi aku memberimu nama. Apa kamu suka dengan nama?”
Ia hanya pohon, jadi tidak perlu nama. Untuk apa juga? Pada akhirnya entah ia menerima nama itu atau tidak, pohon-pohon sekitar tidak ada yang mau berbicara dengannya dan juga jika akhirnya komunikasinya hanya pada satu pihak, sementara ia hanya mendengarnya saja itu tidak akan menyenangkan.
“Baiklah, bagaimana jika namamu Xuan Han juga?”
Itu kedengarannya aneh, tapi tuan muda itu kembali berkata, “Baiklah-baiklah. Xuan Han, nama yang bagus.”
Pemuda itu lalu pergi dan pohon itu merenung. Semakin lama ia merasa ada sesuatu yang aneh dan salah pada dirinya. Ia memiliki emosi, bisa bicara walau tidak bisa didengar. Ia punya pikiran. Ini membuatnya berpikir.
Tuan muda itu tidak kembali pada sore harinya, besoknya ibunya datang ke bawah pohon dan menikmati waktunya sebentar lalu perlahan-lahan pergi.
Waktu berlalu, tuan muda terus belajar dan awan-awan di langit terus bergerak. Sesekali ada hujan yang turun menyuburkan daun-daunnya. Lalu ada beberapa burung-burung yang hinggap di dahannya yang saling bercanda. Beberapa kupu-kupu meminang dan menaruh telurnya di sana. Akhirnya tukang kebun yang tanpa perasaan membunuh ulat-ulat mereka.
...----------------...
Satu tahun berlalu lagi dan selama itu pohon itu merenung. Berpikir bagaimana rasanya menjadi manusia, burung-burung beterbangan di langit atau apa pun itu sehingga ia bisa berpindah-pindah tempat demi melindungi dirinya sendiri. Ia sepertinya mengingat sesuatu.
Tuan muda itu akhirnya datang lagi dan belajar seperti biasa. Pohon itu mengamati dan berpikir, namanya Xuan Han juga. Ia memejamkan matanya dan ingat beberapa mimpinya. Ia melihat dirinya dalam sel dan berjalan keluar. Menemukan benda kecil yang disimpannya. Bertemu beberapa hewan buas. Lalu akhirnya bertemu dua orang gadis. Diserang, dimanfaatkan. Ia tidak tahu mengapa mimpi itu muncul, tapi sepertinya itu menarik. Ia terus merenungkannya dan semakin lama terasa semakin nyata.
Pada suatu hari ia melihat Tuan muda itu belajar bersama pelayannya dan pohon itu bertanya, “Apa dulu dirinya manusia?”
Ia ragu-ragu dan tidak bertanya lagi.
Waktu terus berlalu, musim berganti dan bulan muncul dan menghilang. Ia merenung dan merenung. Pada akhirnya ia terkejut dan menyadari sesuatu.
Kala itu di sore hari, Tuan muda Xuan berdiri memegang buku di tangannya, menatap pohon itu. Sang pohon berkata, “Aku ingat, kau adalah aku dan aku adalah kau.”
Untuk pertama kalinya tuan muda itu seperti mendengarnya dan diam lalu sedikit tersenyum.
Pada saat itulah pohon magnolia yang bunganya putih perlahan-lahan menjadi emas dan butiran-butiran halus beterbangan ke langit. Pohon itu akhirnya lenyap, menyisakan seorang pemuda yang menatap Tuan muda Xuan. Mereka tampaknya sama dan fitur wajahnya pun sama, hanya saja memiliki umur yang berbeda.
Tuan muda itu bertanya, “Kau sudah bangun?”
Ia mengangguk. “Aku Xuan Han, bukan pohon. Aku nyata dan semua ini hanya ilusi. Aku percaya pada diriku, semuanya hanya kepalsuan. Kamu juga palsu.”
“Aku dengar, orang bijak yang telah hidup lama berkata, sebenarnya palsu dan nyata itu hanya soal keyakinan diri. Lihatlah ke sekitarmu.”
Xuan Han melihat, pemuda itu melambaikan tangannya. Angin berhenti, pohon berhenti, hewan berhenti dan aktivitas di kediaman itu juga berhenti; para pelayan yang bercakap-cakap di lorong seperti patung. Ibu Xuan Han yang ingin minum, seperti sedang menatap cangkir itu. Kupu-kupu yang hinggap juga terdiam.
Lalu tidak lama semuanya memudar, mereka semua seperti lukisan basah yang diusap kuas oleh pelukisnya.