NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Maya, Boleh Aku Mengajakmu Berdansa?

Nathan berhenti satu langkah di depan Amaya.

Namun sebelum ia sempat membuka mulut, tepuk tangan memenuhi ballroom.

Di tengah lantai dansa, Robert membungkuk kaku kepada istrinya. Gerakannya lebih mirip seorang direktur yang menyambut mitra rapat daripada suami yang mengajak berdansa.

Karina tertawa. "Kamu masih sama kakunya seperti tiga puluh tahun lalu."

"Tapi kamu tetap menerima tanganku."

"Karena waktu itu aku belum tahu kamu nggak punya bakat."

Para tamu yang mendengar ikut tertawa. Robert menarik istrinya mendekat, satu tangan menjaga punggung Karina, sementara tangan lainnya sengaja mengangkat syal lama agar tidak tersangkut.

Gerakan mereka sederhana. Tidak sempurna, tetapi hangat.

Amaya memandang keduanya dalam diam. Di cerita yang ia ingat, album itu baru dibuka setelah kematian pemilik tubuh ini. Syal yang selesai terlambat menjadi benda yang dipeluk Karina ketika tidak ada lagi anak yang bisa direngkuh.

Malam ini semuanya berbeda.

Karina masih tersenyum. Robert masih bisa menggenggam tangannya. Dan perempuan yang seharusnya hanya tersisa dalam foto sedang berdiri di tepi lantai dansa, hidup.

Setidaknya satu akhir buruk telah dibatalkan.

Setelah satu putaran, pemimpin acara mempersilakan pasangan lain bergabung. Cahaya keemasan melebar, menyapu meja dan deretan tamu. Sepatu beradu lembut dengan lantai mengilap.

Beberapa suami mengulurkan tangan kepada istri. Pasangan muda bergerak lebih cepat, memenuhi sisi luar lantai dengan tawa dan gaun yang berputar.

Di meja utama, staf hotel menyingkirkan kotak-kotak hadiah agar jalan menuju lantai dansa lebih luas. Kalung giok Selena sudah tertutup kembali. Bros berlian Jessica juga disimpan, sedangkan album Amaya dibawa ke ruang khusus atas permintaan Karina.

Persaingan hadiah telah selesai, tetapi susunan orang-orang di ballroom justru membuka persaingan lain.

Nathan berdiri di hadapan Amaya sebagai tunangan yang selama ini hanya hadir saat keadaan memaksanya. Sebastian berada di seberang ruangan sebagai laki-laki yang seharusnya tidak memiliki hak sedikit pun untuk memedulikannya.

Dan Selena melihat keduanya menatap perempuan yang sama.

Jessica menoleh kepada Amaya, lalu kepada Nathan yang masih berdiri di hadapan mereka.

"Wah," bisiknya. "Adegan utama datang sendiri."

"Jess."

"Gue diam. Tapi mata gue nggak janji."

Ia mundur setengah langkah, sengaja memberi ruang.

Nathan mendengar ucapan itu, tetapi memilih mengabaikannya. Semua kata yang telah ia siapkan terasa terlalu panjang ketika Amaya akhirnya menatapnya.

"Kamu menikmati pestanya?" tanyanya.

"Lumayan."

"Hadiahmu indah. Aku nggak tahu kamu menyimpan semua itu."

"Banyak hal tentangku yang Koh Nathan nggak tahu."

Jawaban tersebut tidak terdengar menuduh. Justru ketenangannya membuat Nathan merasa sedang berdiri di luar sebuah pintu yang dahulu selalu terbuka untuknya.

"Aku ingin tahu," katanya cepat.

Amaya menaikkan alis.

Nathan sadar Selena, Meihwa, dan sebagian besar tamu masih memperhatikan mereka. Selama bertahun-tahun ia membiarkan semua orang menganggap kedekatannya dengan Selena wajar, sementara Amaya akan selalu menunggu.

Kini untuk pertama kalinya, ia ingin menunjukkan siapa perempuan yang terikat perjodohan dengannya.

Mungkin sudah terlambat. Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.

Ia mengulurkan tangan, telapak menghadap ke atas.

"Maya, boleh aku mengajakmu berdansa?"

Pertanyaan itu cukup jelas untuk didengar beberapa orang di sekitar mereka.

Karina yang sedang berputar dalam pelukan Robert melihat dari bahu suaminya. Senyum lega muncul di wajahnya. Meihwa mengangguk kecil seakan hubungan yang sempat miring akhirnya kembali ke jalurnya.

Di dekat meja utama, Selena berdiri membeku.

Nathan tidak menoleh kepadanya.

Amaya juga tidak langsung menjawab.

Ia menatap tangan di hadapannya. Dahulu, pemilik tubuh ini pasti akan menerimanya sebelum pertanyaan selesai. Satu tarian dari Nathan cukup untuk ditebus dengan berminggu-minggu penantian dan berbagai penghinaan.

Namun tangan itu tidak menarik perhatiannya malam ini.

Amaya mengangkat wajah, membiarkan pandangannya melewati bahu Nathan.

Sebastian berdiri di sisi lain ballroom.

Jarak di antara mereka dipenuhi pasangan yang bergerak mengikuti musik. Meski begitu, tatapan Amaya menemukannya tanpa kesulitan.

Pria itu sedang memegang segelas minuman. Setelan hitamnya menyatu dengan bagian ruangan yang lebih redup, tetapi garis rahangnya terlihat kaku di bawah cahaya.

Tatapan mereka bertemu.

Jari Sebastian menekan dinding gelas. Kaca dingin itu tidak mampu meredakan panas yang menjalar dari telapak ke lengannya.

Ia teringat bibir Amaya di balik tirai ruang tindakan. Teringat jari perempuan itu yang sempat masuk ke mulutnya saat luka kecil terkena gunting. Hal-hal yang seharusnya bisa ia sebut sebagai kesalahan sesaat kini terasa seperti rahasia yang menuntut ruang lebih besar.

Sementara di depan semua orang, Nathan hanya perlu mengulurkan tangan.

Ia tahu posisi Nathan. Ia juga tahu Amaya secara resmi adalah calon istri adiknya. Tidak ada alasan baginya untuk keberatan melihat mereka berdansa.

Tetapi tubuhnya menolak menerima logika tersebut.

Ada dorongan kasar untuk melangkah ke sana, menurunkan tangan Nathan, lalu membawa Amaya pergi dari pandangan semua orang.

Sebastian memutus tatapan lebih dulu.

Ia mengangkat gelas dan meneguk isinya sampai habis.

Jessica menahan napas. Ia menatap Amaya, lalu Sebastian, kemudian tangan Nathan yang masih menunggu di antara mereka.

Musik terus mengalun pelan.

Amaya belum memberi jawaban.

Tak seorang pun di antara ketiganya bergerak untuk memecahkan ketegangan yang terasa semakin tajam di bawah cahaya ballroom itu.

Dan telapak Nathan tetap menggantung di udara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!