“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Seorang pria masuk dengan langkah tenang.
Permana.
Haikal langsung menoleh. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Kau datang?" suara Haikal terdengar lemah.
Permana mengangguk.
"Aku datang untuk melihat keadaanmu."
Haikal tertawa kecil. Tawa getir yang segera berubah menjadi batuk.
"Melihat keadaanku?" tanyanya. "Atau memastikan aku benar-benar sudah hancur?"
Permana menarik kursi di samping ranjang. Ia duduk tanpa menunjukkan kemarahan.
"Kau pasti senang melihatku seperti ini," lanjut Haikal. "Perusahaan bangkrut, pabrik terancam disita, pernikahanku gagal, dan sekarang aku terbaring sakit. Bukankah ini yang kau inginkan?"
Permana menatapnya lama.
"Aku bukan orang jahat yang senang melihat orang lain hancur, Haikal."
Haikal terdiam.
"Aku datang bukan untuk mengejekmu. Aku datang karena ada urusan yang harus kuselesaikan."
Permana mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas kerjanya.
Ia meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang.
"Ini surat sita pabrikmu."
Haikal menatap map tersebut.
"Karena kau tidak mampu membayar hutang, sesuai perjanjian yang sudah dibuat, pabrik itu akan kuambil sebagai bagian dari penyelesaian utang."
Beberapa detik Haikal hanya diam.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada perlawanan.
Pria itu justru menghela napas panjang.
"Ambil saja."
Permana mengernyitkan dahi.
"Kau tidak keberatan?"
Haikal menggeleng.
"Untuk apa aku keberatan?" katanya lirih. "Toh, aku sudah tidak sanggup mengurusnya."
Ia memejamkan mata sejenak.
"Dulu aku berpikir pabrik itu akan membuat hidupku sempurna. Aku mengejar uang, mengejar keuntungan, mengejar kehidupan yang menurutku lebih baik."
Haikal tersenyum pahit.
"Ternyata semuanya bisa hilang dalam waktu singkat."
Permana tidak menjawab.
Ia hanya mendengarkan.
"Permana..."
"Ya?"
Haikal membuka matanya.
"Aku boleh minta tolong?"
Permana menatapnya serius.
"Selama masih dalam batas kemampuanku."
Haikal menarik napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalau aku mati..."
Permana langsung terdiam.
"Jangan bicara seperti itu."
"Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan," ujar Haikal. "Aku sakit parah. Bahkan dokter sendiri belum bisa memastikan semuanya akan baik-baik saja."
Ia menelan ludah.
"Aku mungkin sudah kehilangan banyak hal. Pabrik, uang, rumah, bahkan Tiara."
Haikal menunduk.
"Tapi aku masih punya satu orang yang membuatku khawatir."
"Rumi?"
Haikal mengangguk.
"Kalau aku mati, tolong jaga ibuku."
Permana terdiam.
"Dia tidak punya siapa-siapa lagi."
Suara Haikal semakin bergetar.
"Memang ada Tiara."
Ia tersenyum pahit.
"Tapi Tiara sekarang adalah istrimu. Aku tidak mungkin meminta mantan istriku untuk kembali mengurus ibuku setelah semua yang kulakukan kepadanya."
Permana menghela napas.
Ia teringat Rumi.
Wanita yang dahulu begitu keras kepada Tiara. Wanita yang pernah merendahkan Tiara dan bahkan percaya pada kebohongan mengenai kesuburan menantunya.
Namun pada akhirnya, Rumi juga kehilangan banyak hal.
"Baik," jawab Permana akhirnya.
Haikal menatapnya.
"Kau mau?"
"Aku akan memastikan ibumu tidak sendirian."
Mata Haikal berkaca-kaca.
"Terima kasih."
Permana berdiri.
"Jangan terlalu banyak memikirkan kematian. Kau masih hidup. Selama masih hidup, kau masih punya kesempatan memperbaiki kesalahan."
Haikal hanya mengangguk.
Setelah Permana meninggalkan kamar, Haikal menatap pintu yang tertutup.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa sedikit lebih tenang.
---
Sementara itu, di rumah Permana, Tiara sedang duduk di ruang keluarga.
Namun sejak pagi tubuhnya terasa aneh.
Kepalanya pusing.
Perutnya sedikit mual.
Tubuhnya lemas dan wajahnya tampak pucat.
Sinta yang sejak tadi memperhatikan Tiara akhirnya mendekat.
"Tiara, wajahmu pucat sekali."
Tiara menggeleng.
"Aku tidak apa-apa, Bi."
"Jangan bilang tidak apa-apa kalau wajahmu seperti orang mau pingsan."
Sinta duduk di sampingnya.
"Kita ke dokter, ya?"
"Jangan, Bi."
"Ayo, Bibi antar."
Tiara menggeleng lagi.
"Aku cuma butuh istirahat."
Sinta menyentuh dahi keponakannya.
"Bibi takut asam lambungmu kambuh."
Tiara terdiam.
Entah mengapa, kali ini ia merasa keluhannya berbeda.
Bukan sekadar perut perih.
Bukan pula seperti rasa tidak nyaman yang biasanya muncul ketika terlambat makan.
Ia sudah beberapa hari merasakan tubuhnya mudah lelah. Pagi hari ia juga beberapa kali merasa mual.
Dan hari ini, rasa mual itu semakin kuat.
Tiara perlahan menundukkan wajah.
"Bi..."
"Ya?"
"Sepertinya ini bukan asam lambung."
Sinta memandangnya bingung.
"Lalu apa?"
Tiara menggenggam ujung bajunya.
Ia tampak ragu mengatakannya.
"Tapi..."
Sinta menunggu.
"Aku terlambat datang bulan."
Mata Sinta langsung membesar.
"Berapa lama?"
Tiara menarik napas.
"Dua minggu."
Sinta terdiam beberapa detik.
"Dua minggu?"
Tiara mengangguk pelan.
"Aku awalnya pikir hanya karena kelelahan. Tapi sekarang aku mulai merasa..."
Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Sinta tiba-tiba memegang kedua tangan Tiara.
"Jangan-jangan..."
Tiara menatap bibinya.
"Hamil?"
Satu kata itu membuat keduanya terdiam.
Tiara menunduk.
Ada rasa takut, bahagia, sekaligus tidak percaya bercampur menjadi satu.
"Belum tentu, Bi."
"Tapi bisa saja!"
Sinta langsung tersenyum lebar.
"Ya Tuhan..."
Matanya berkaca-kaca.
"Akhirnya."
Tiara menatap bibinya.
"Apa?"
Sinta memeluk Tiara erat.
"Akhirnya yang selama ini kita tunggu mungkin benar-benar terkabul."
Air mata bahagia mulai mengalir di pipi Sinta.
"Tiara, kalau benar kau hamil, ini bukan hanya kabar bahagia untuk kita."
Sinta melepaskan pelukannya dan menatap Tiara penuh haru.
"Ini juga bukti bahwa kau tidak pernah mandul."
Tiara terdiam.
Kata itu masih terasa menyakitkan setiap kali terdengar.
Mandul.
Dulu kata itu membuatnya merasa tidak berharga.
Dulu ia percaya dirinya tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu.
Padahal semua itu hanyalah kebohongan.
Sinta menggenggam tangannya.
"Kita buktikan kepada Haikal dan Rumi bahwa mereka salah."
Tiara mengusap matanya.
"Bi..."
"Kau bisa hamil."
Sinta tersenyum sambil menangis.
"Dan kau akan melahirkan seorang anak."
Tiara tanpa sadar meletakkan tangan di atas perutnya.
Perut yang masih datar.
Belum ada tanda apa pun.
Namun untuk pertama kalinya, ada harapan besar yang tumbuh di dalam hatinya.
"Kalau benar..." bisiknya.
Sinta tersenyum.
"Kita pastikan dulu."
Tiara mengangguk.
"Besok kita ke dokter."
Sinta langsung berdiri.
"Kenapa besok?"
Tiara menatapnya bingung.
"Bibi mau ke mana?"
"Membeli alat tes kehamilan."
Sinta tertawa kecil.
"Kita tidak perlu menunggu sampai besok untuk mengetahui kemungkinan ini."
Tiara ikut tersenyum.
Namun di balik senyum itu, hatinya berdebar sangat kencang.
Jika dugaan itu benar, hidupnya akan berubah selamanya.
Dan tanpa Tiara ketahui, kabar kecil yang tumbuh di dalam rahimnya kelak akan menjadi jawaban atas luka yang selama ini ia tanggung.
Bukan untuk membalas dendam.
Bukan untuk menyakiti siapa pun.
Melainkan sebagai bukti bahwa dahulu ia tidak pernah menjadi wanita yang kurang.
Ia hanya pernah berada di sisi orang-orang yang salah.
Bersambung....