Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tiga ketukan
Jayengrana tetap membatu di balik pilar batu hingga suara derap langkah rombongan itu benar-benar menguap telan kegelapan.
Tangannya masih mengepal erat.
Gejolak di dadanya mendesak untuk mengejar. Ia ingin mencabut senjata dan membebaskan istrinya saat itu juga. Namun, naluri tempurnya menahan tindakan gegabah itu. Enam orang berjubah tadi hanyalah lapisan luar benteng. Di balik mereka, puluhan prajurit bersiap mengintai, belum lagi sosok bertopeng kayu yang menyimpan marabahaya tersembunyi.
Jayengrana mengembuskan napas panjang, menata detak jantungnya. 'Sedikit lagi,' bisiknya pada diri sendiri.
Ia memilih membuntut jejak rombongan itu dari jarak aman. Koridor batu meliuk ke kiri, lalu menurun tajam menerobos makin jauh ke dasar bumi. Obor-obor dinding kian meremang, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di ujung koridor bawah tanah, terhampar sebuah pintu kayu tebal berlapis besi. Dua penjaga berdiri tegak di depan ambang pintu.
Jayengrana merapat di balik tiang, membangkitkan Naluri Niat.
Prajurit sebelah kiri dipenuhi rasa kantuk yang berat. Sementara penjaga sebelah kanan menyimpan kewaspadaan tinggi—sesosok ancaman yang jauh lebih merepotkan.
Jayengrana menanti momentum. Begitu prajurit mengantuk itu menguap lebar dan memalingkan perhatian temannya, Jayengrana bergerak halus. Satu tindak, dua tindak... ia meluncur di sela-sela titik buta mereka.
Namun, tepat saat jemarinya hendak menyentuh bingkai pintu...
Sesosok tangan mungil mendadak merenggut ujung bajunya dari belakang.
Jayengrana membeku di tempat seketika. Tangan itu berukuran kecil dan terasa dingin menyengat. Ia berbalik perlahan, mendapati seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri menatapnya. Pakaian anak itu kotor berdebu, wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan sorot bening tanpa kedip.
"Jangan masuk," bisik anak itu lirih.
Jayengrana berjongkok, menyamakan tinggi badannya. "Mengapa?"
Anak itu menunjuk ke arah pintu kayu. "Siapa pun yang melangkah ke dalam... tak pernah kembali keluar."
"Siapa namamu?"
Anak itu membisu sejenak sebelum menjawab, "Jaka."
Jayengrana mengangguk pelan. "Jaka, bagaimana bisa kau berada di tempat segelap ini?"
"Aku tinggal di sini."
Jawaban polos itu membuat Jayengrana tertegun. "Di dalam benteng ini?"
Jaka mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sejak... aku lupa di mana letak rumahku."
Jayengrana menangkap kesan ganjil. Anak ini bukan sekadar tahanan biasa. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih dalam, jemari kecil Jaka menggenggam tangannya erat-erat.
"Tolong aku..."
Jayengrana menatap sepasang mata redup itu. "Di mana orang tuamu?"
Anak itu menunduk. "Aku sudah tidak ingat."
Kalimat bersahaja itu menusuk dada Jayengrana jauh lebih dalam daripada gertakan musuh. Tak ada dendam maupun kebencian di wajah anak itu, hanya kebingungan yang menumpuk.
Jayengrana mengusap lembut kepala Jaka. "Baiklah. Aku akan membawamu keluar dari sini."
Simpul perjanjian di dadanya berdenyut menyengat hangat. Bisikan Penunggang Perjanjian merayap pelan.
"Jayengrana... Jangan mengumbar janji bila ragamu belum tentu sanggup menepatinya."
Jayengrana menatap Jaka, lalu menanggapi bisikan gaib itu dalam batinnya. 'Aku akan mengusahakannya dengan seluruh ragaku.'
Keheningan melingkupi benaknya sejenak sebelum Penunggang Perjanjian kembali bersuara. "Tindakanmu cukup untuk dicatat."
Tak ada lonjakan kekuatan baru, tak ada manifestasi jurus gaib. Hanya sepatah kata tegas. Namun Jayengrana mulai memahami hakikat simpul gaib di dadanya: perjanjian itu tak melulu menuntut pertumpahan darah atau ganjaran kesaktian, melainkan menguji keteguhan tiap pilihan hidupnya.
Jaka lantas menarik pelan lengan Jayengrana. "Aku tahu jalan rahasia."
"Jalan yang mana?"
Anak itu menunjuk celah lorong sempit yang tersembunyi di balik tumpukan rak kayu tua. "Lewat sana... kita bisa menyusul ke tempat wanita bertudung tadi diboyong."
Jayengrana menatapnya lekat. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Jaka menyunggingkan senyum tipis. "Aku sering mengamati mereka."
"Siapa yang kau maksud?"
"Orang-orang yang diseret ke tingkat bawah."
Anak itu mulai melangkah memandu jalan. Namun baru beberapa tindak bergerak, langkah Jaka terhenti. Ia berbalik menatap Jayengrana dengan raut ragu.
"Saka..."
"Ya?"
"Jika nanti bertemu dengan wanita tadi..." Anak itu menunduk dalam. "...tolong jangan katakan aku masih terkurung di sini."
"Mengapa demikian?"
"Karena... aku takut mereka bakal memboyongku kembali."
Jayengrana terdiam. Ia berlutut di hadapan Jaka, menatap lurus sepasang matanya. "Begitu kita melangkah keluar dari tempat ini, tak akan ada seorang pun yang sanggup menyentuhmu lagi."
Jaka menatapnya penuh harap. "Kau berjanji?"
Jayengrana mengangguk mantap. "Aku berjanji."
Seketika itu pula, simpul perjanjian di dadanya menyengat hangat jauh lebih kuat dari biasanya. Dari relung kesadarannya yang paling dalam, gema suara Penunggang Perjanjian terdengar begitu halus.
"Garis perjanjian ini mencatat sumpahmu."
Suasana kembali senyap. Tak ada ganjaran kemampuan instan yang diturunkan—mungkin karena saatnya memang belum tiba.
Jaka berjalan memandu di depan.
Langkahnya teramat ringan, nyaris tanpa desis gesekan ubin batu. Ia menyelinap di antara rak-rak kayu tua dan tumpukan peti pelindung bagaikan sosok yang telah amat menghafal seluk-beluk lorong bawah tanah ini.
Jayengrana menyusul di belakangnya dengan waspada.
"Jaka."
"Ya?"
"Kau bilang sering menyaksikan orang-orang diseret ke tingkat bawah."
"Benar."
"Sudah berapa lama kau terkurung di tempat ini?"
Anak itu menghentikan langkahnya sejenak. "Aku... tidak tahu."
"Seminggu?"
Jaka menggeleng pelan.
"Sebulan?"
Ia kembali menggelengkan kepala.
"Setahun?"
Jaka berpaling, menatap Jayengrana dengan sorot mata kosong tanpa pendar. "Aku tidak paham apa itu setahun."
Jayengrana membisu di tempat. Anak sekecil ini telah terlempar dan terjebak terlampau lama di tempat segelap ini hingga kehilangan pemahaman atas sangkala.
Mereka terus bergerak menyusuri lorong sempit. Beberapa saat kemudian, Jaka menunjuk sebuah celah pada dinding batu.
"Di sebelah sana," bisiknya.
Jayengrana merapat, mengintip lewat celah dinding. Di balik sana terbentang koridor panjang yang remang. Dua prajurit berzirah bersiaga di sudut jauh, sedang lebih dalam lagi... berdiri sebuah sel tertutup pintu besi tebal.
Jaka merapat ke telinganya. "Wanita bertudung tadi dikurung di dalam sana."
Jayengrana menatap pintu besi itu lekat-lekat. Jaraknya berkisar belasan langkah, namun terhalang oleh keberadaan para penjaga.
"Bagaimana cara kita menerobos ke sana tanpa memicu keriuhan?"
Jaka menunjuk ke arah lantai. "Ada jalur tersembunyi."
Anak itu menggeser selembar papan kayu tua. Di bawahnya, tersingkap lubang saluran air yang amat sempit—ukurannya tak lebih lebar dari bukaan selokan kecil.
"Aku tak akan mungkin sanggup melintasi celah sempit ini," ucap Jayengrana mengamati diameter lubang.
Jaka menatapnya polos. "Tapi aku bisa merangkak lewat sana."
Jayengrana serta-merta menggeleng tegas. "Tidak. Aku tak akan membiarkanmu menyusup sendirian di dalam lorong gelap itu."
Sorot kekecewaan membayang di wajah Jaka, namun ia tak membantah.
Jayengrana mengamati celah saluran tersebut seraya membangkitkan Mata Pemburu. Dalam pendar penglihatannya, ia mendeteksi bekas goresan halus di dinding saluran—jejak-jejak tapak kaki kecil yang jumlahnya tak sedikit. Jalur ini rupanya kerap dimanfaatkan oleh anak-anak tahanan untuk menyelundupkan makanan... atau mencoba melarikan diri.
"Jaka, apakah kau pernah melangkah keluar dari benteng ini?"
Anak itu menggeleng pelan. "Belum pernah."
"Mengapa?"
"Pintu gerbang luar selalu dijaga ketat oleh prajurit berpedang."
Jayengrana menimbang keadaan. Bila jalan keluar utama tertutup rapat, mereka tak harus memaksakan diri menerobos gerbang depan. Saluran air ini bisa dikembangkan menjadi rute penyelamatan.
Derap... derap...
Gema langkah kaki mendadak bergetar dari balik belokan. Jaka dengan sigap merapatkan kembali papan kayu penutup.
"Ada pengawal mendekat!" bisik anak itu seraya menarik lengan Jayengrana.
Jayengrana memboyong Jaka berteduh rapat di balik tumpukan rak. Empat prajurit berbaris melintas, membawa obor dan penerang. Mereka berhenti tepat di hadapan sel pintu besi.
"Apakah tahanan di dalam sudah diberi jatah makan?"
"Belum."
"Serahkan nampannya."
Engsel besi berderit saat pintu dibuka. Seorang prajurit melangkah masuk memboyong nampan kayu, lalu keluar tak lama kemudian. Pintu tebal itu kembali dihenyakkan rapat.
Jayengrana mencermati detail tersebut: pengunci sel berupa kaitan rantai luar yang sederhana.
Begitu tiga prajurit berlalu meninggalkan lokasi, menyisakan seorang pengawal yang duduk bersandar terkantuk-kantuk, Jayengrana menoleh pada Jaka.
"Aku akan menerobos masuk."
Jaka mencengkeram ujung kain bajunya dengan cemas. "Bagaimana kalau mereka membuntutimu?"
"Percayalah padaku," sahut Jayengrana lembut seraya menyunggingkan senyum tipis.
Ia meluncur tenang melintasi lorong. Penjaga yang tersisa sedang melipat tangan menahan kantuk. Jayengrana memungut butiran kerikil, lalu melemparkannya ke sudut lorong berseberangan.
Tak!
Saat perhatian penjaga itu teralih pada bunyi pantulan, Jayengrana sudah berada tepat di belakang punggungnya. Satu pukulan cermat menghantam tengkuk perwira itu, merubuhkan raganya seketika tanpa sempat melontarkan erangan.
Jayengrana menyanggah raga penjaga itu sebelum menghantam ubin, menyeretnya ke balik bayangan, lantas merebut gantung kunci tugasnya.
Kriiik...
Pintu besi terkuak pelan. Wanita di dalam sel serta-merta mendongakkan wajahnya.
Jayengrana membeku di ambang pintu.
Paras wanita itu tampak pucat pasi dengan helai rambut yang kusam terurai. Namun sepasang mata itu... tetaplah sepasang mata hangat yang senantiasa menanti kepulangannya dari kancah peperangan. Mata yang selalu memancarkan ketulusan tiap kali menyambutnya di ambang pintu rumah mereka.
Pertahanan batin Jayengrana nyaris runtuh seketika.
"Istriku..." bisiknya lirih.
Wanita itu menatap bingung pada raga penyamaran di hadapannya. Ia tak mengenali raut "Saka". Namun hanya dalam selang beberapa detik, saat menangkap pendar sorot mata dan getar suara itu... genangan air mata merebak di pelupuk matanya.
"Jayengrana...?" desisnya amat pelan, seakan takut impiannya menguap.
Jayengrana berlutut rapat di hadapannya, menahan gemuruh di dada. "Ini aku. Aku berada di sini."
Wanita itu memekap mulutnya dengan jemari yang gemetar hebat. "Bagaimana bisa kau..."
"Tahan suaramu," potong Jayengrana lembut. "Aku datang untuk membawamu keluar dari tempat ini."
Istrinya justru menggelengkan kepala dengan raut cemas. "Kau harus segera pergi... tempat ini adalah perangkap. Mereka sengaja memancingmu!"
"Aku sudah mengetahui risiko itu," sahut Jayengrana mantap. "Karena itulah aku berada di sini."
Ia memasukkan anak kunci ke dalam lubang pasung.
Klik!
Borgol rantai besi yang mengikat jemari istrinya terlepas seketika.
Namun, sebelum mereka sempat bangkit berdiri...
Derap langkah kaki dalam jumlah besar bergema nyaring menembus lorong bawah tanah. Cahaya obor yang benderang mulai menerobos masuk lewat celah pintu yang terbuka.
Kehadiran mereka telah terendus musuh.