Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sean menatap foto itu dan terkejut setengah mati. Ia mengenal kedua wanita itu dengan baik.
Yang satu adalah Sarah, istri dari keponakannya. Dan yang satu lagi… Itu adalah Sera Slavina, wanita yang kini menjadi istrinya.
Sean seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Dia mengambil foto itu dari tangan Nenek Susi.
"Yang mana istriku, Nek?" tanya Sean untuk memastikan.
"Yang rambut ikal itu istrimu," jawab Nenek Susi.
Sean mengangguk mengerti. Ia tiba-tiba teringat sosok wanita yang ada di kediamannya—wanita yang selama ini ia kenal sebagai Sarah.
Sosok itu menurutnya sangat jauh berbeda dari Sarah yang sebenarnya. Dan rambutnya pun persis sama seperti yang ada di foto.
"Ya sudah, kamu sudah melihat wajah istrimu kan? Nenek pamit keluar dulu. Kamu istirahatlah di sini," pamit Nenek Susi.
Sean mengangguk, lalu Nenek Susi pun keluar dari kamar.
Setelah pintu tertutup, Sean segera mengambil ponselnya dan menghubungi Max.
"Ya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Max di seberang telepon.
"Cari semua informasi tentang seorang wanita bernama dokter Sera Slavina. Saya mau semua tentang wanita itu. Dan juga Sarah istri Adrian kembarannya. Semua detail tentang kedua wanita itu, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun."
"Baik, Tuan. Segera saya kerjakan," sahut Max patuh.
Setelah itu Sean menutup panggilannya. Ia kembali menatap foto wanita berambut ikal di tangannya.
Kita lihat saja nanti… batin Sean dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun Sera belum juga kembali.
Nenek Susi terlihat khawatir dan mondar-mandir mencari keberadaan cucunya. Dia juga berusaha menghubungi nomor Sera, namun ponsel cucunya tidak aktif.
"Sera kok tumben larut segini belum pulang ya… Dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya," gumam Nenek Susi. Wajahnya tampak sedih bercampur cemas.
"Mungkin sebentar lagi dia pulang, Nek," ujar Sean menenangkan.
"Tapi selama ini Sera tidak pernah pulang terlambat saat di desa… Ini pertama kalinya dia begini. Sean, apa dia marah ya?"
"Marah kenapa, Nek?" tanya Sean curiga.
"Tidak apa-apa, Sean," sahut Adiguna cepat, berusaha mencegah Nenek Susi keceplosan.
Tiba-tiba ponsel Sean berdering—panggilan dari asistennya. Sean segera menjauh dan berjalan masuk ke dalam kamar istrinya, tidak ingin ayah atau nenek Susi mendengar apa yang akan mereka bicarakan.
"Halo, Tuan," suara Max terdengar di seberang sana.
"Apa yang kau temukan?" tanya Sean langsung pada intinya.
"Saya sudah mengumpulkan semua informasi tentang kedua wanita itu, Tuan."
"Katakan," perintah Sean tegas.
"Latar belakang Dokter Sera Slavina ini sangat menakjubkan: Nona Sera adalah wanita yang sangat cerdas. Sejak masa sekolah, dia mampu menyelesaikan pendidikan dengan sangat mudah dan cepat.
Kecerdasannya memang jauh melampaui rata-rata orang pada umumnya—tingkat kecerdasan IQ-nya tergolong sangat tinggi. Di usia yang masih sangat muda, tepatnya 24 tahun, dia sudah berhasil menyelesaikan kuliah S-3 kedokteran dengan lulusan terbaik.
Dan di usia 25 tahun, dia sudah menjabat sebagai Dokter Bedah Senior—posisi yang paling tinggi dan paling dipercaya—di Rumah Sakit Pelita Harapan. Dia adalah tenaga medis yang sangat dihormati karena kemampuannya yang luar biasa hebat.
Dan yang lebih menarik lagi mengenai kehidupan pribadi Nona Sera… Wanita itu sampai sekarang masih lajang, belum pernah menjalin hubungan asmara dengan pria mana pun, dan nama baiknya sangat bersih. Alasannya hanya satu: saat berusia 18 tahun, kedua orang tua mereka mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa keduanya.
Sejak saat itu, Nona Sera terpaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Melihat kakaknya yang sifatnya begitu lemah dan tak berdaya, dia terpaksa berjuang sendirian dan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan kakaknya," ungkap Max panjang lebar.
"Dan…" Max tiba-tiba menggantung ucapannya.
"Dan apa, Max?" tanya Sean tak sabar.
"Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, saya akan beritahu dulu informasi yang saya temukan tentang Nona Sarah—istri dari Tuan Adrian."
"Baik… Katakan saja,"
"Setelah kedua orang tua mereka meninggal, harta peninggalan orang tua mereka dibagi rata. Namun seluruh harta yang diterima Dokter Sera, dia serahkan sepenuhnya dan percayakan kepada kakak kembarnya, Nona Sarah. Lalu dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi dan mengejar mimpinya menjadi dokter.
Sayangnya, Nona Sarah justru memindahkan dan mengalihkan seluruh harta itu ke atas nama Tuan Adrian, setelah sebulan menikah. Kini mereka berdua tidak memiliki hak lagi atas harta itu."
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Sean semakin penasaran.
"Sekitar beberapa minggu yang lalu, Nona Sarah nyaris tewas karena perlakuan suaminya, namun berhasil selamat. Dan fakta mengejutkan: selama lima tahun tinggal di sana, Nona Sarah terus-menerus disiksa.
Saat nyawanya sudah di ujung tanduk, Nona Sera akhirnya menemukan kakaknya dan segera membawanya ke rumah sakit. Kini Nona Sarah sedang dirawat di rumah pribadi milik Nona Sera—rumah yang dia beli sepenuhnya dari hasil keringat dan kerja kerasnya sendiri. Di sana, Nona Sera memberikan perlindungan terbaik untuk kakaknya dengan berusaha memulihkan tubuh dan mental Nona Sarah."
"Lagi?"
Max menarik napas sejenak, lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Setelah menyelidiki lebih lanjut, saya mendapat tahu ternyata Nona Sera sepertinya berniat membalas dendam pada Tuan Adrian dan mengambil kembali harta yang sudah seharusnya menjadi milik mereka."
"Dan juga... Nona Sera telah mengundurkan diri dari rumah sakit Pelita Harapan. Dan kemungkinan besar, wanita yang selama ini berada di kediaman Tuan, itu adalah Nona Sera, bukan Nona Sarah. Karena hasil penyelidikan saya menunjukkan Nona Sarah saat ini berada dikediaman Nona Sera."
Pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan sikap wanita itu akhir-akhir ini… Ternyata benar, dia bukan Sarah. Aku sudah mencurigainya sejak awal. Dan benar dugaanku, dia Sera Slavina—wanita yang baru saja kubernikahi. Batin Sean.
Pasti dia belum tahu siapa suaminya. Kalau dia tahu, mustahil dia sengaja menghindar seperti ini, lanjut Sean masih membatin sembari menarik salah satu sudut bibirnya.
_____
Sera ternyata belum sampai di kota. Dia tertidur di dalam mobil.
Saat terbangun, dia menyadari hari sudah malam. Perlahan kesadarannya kembali terkumpul.
Aduh, mati aku! Pria itu! pekik Sera dalam hati. Dia buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi neneknya.
Tut… Tut… Tut…
Nenek Susi yang sedang berbincang dengan Adiguna di ruang tengah tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat siapa yang menelepon, dia segera mengangkatnya.
"Sera! Kamu di mana, Cucuku?" tanya wanita tua itu dengan nada panik.
"Maafkan Sera yang membuat Nenek khawatir, tapi Sera baik-baik saja. Saat ini Sera sedang di mobil, dalam perjalanan pulang ke kota karena ada hal yang sangat mendesak," jelas Sera.
"Apa? Loh, kenapa tidak sekalian besok saja sama suamimu, Sera?"
"Maaf, Oma… Soalnya ini benar-benar mendesak, ada urusan penting di rumah sakit. Oh ya, Oma… Bolehkah Sera bicara sebentar dengan ayahnya suami Sera?"
Nenek Susi pun menyerahkan ponselnya kepada Adiguna. "Ini, katanya mau bicara denganmu."
"Halo, Assalamu'alaikum. Sera, ada apa?"
Kenapa suaranya sangat familiar? Sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Batin Sera dalam hati.
"Wa'alaikumussalam, Paman… Sera minta maaf ya, soalnya Sera harus buru-buru pergi karena ada masalah mendesak di rumah sakit. Maafkan Sera, kalau Sera kurang sopan dan pergi meninggalkan Paman begitu saja," ucap Sera merasa tidak enak hati pada mertuanya itu.
Pria tua itu tersenyum lembut meski dalam hati dia juga bertanya-tanya karena suara dari seberang seperti tak asing baginya.
"Tidak apa-apa. Dan jangan panggil Paman, kan kamu sudah menjadi menantuku, panggil Ayah saja ya."
"Baiklah. Ayah maafin Sera sekali lagi ya, Ayah…"
"Iya. Ayah mengerti. Jadi sekarang kamu di mana, Sera?"
"Sera sedang dalam perjalanan ke kota, Ayah. Sebentar lagi sampai."
"Oh ya… Sudah kalau begitu."
"Bolehkah Sera bicara sebentar dengan anak Ayah?" tanya Sera tampak ragu.
"Tentu saja boleh Sera."
"Sean! Istrimu mencarimu, katanya mau bicara denganmu!" Lanjut Adiguna memangil putranya.
Sera seketika terperanjat. Sean? Jantungnya berdebar kencang.
Sean keluar dari kamar istrinya dan segera mengambil ponsel dari tangan ayahnya.
Dia melihat sejenak nama dilayar yang tertulis: Sera — Cucuku. Sean menarik tipis sudut bibirnya, lalu mengangkat panggilannya.
"Ada apa?" Tanya Sean tenang.
Sera membeku saat mendengar suara bariton familiar itu.