Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13. Kebetulan yang Terjadi Terlalu Sering
Hari-hari terus berjalan, dan di antara kesibukan kuliah serta tugas yang menumpuk, satu hal mulai kusadari dengan jelas—kebetulan seakan terlalu sering terjadi kepadaku dan Arga. Awalnya kupikir memang murni kebetulan belaka, hal yang lumrah terjadi di lingkungan kampus yang luas ini. Namun lama-kelamaan, frekuensinya begitu tinggi hingga tak bisa lagi disebut sekadar kebetulan semata. Rasanya seakan ada benang tak kasat mata yang selalu mengarahkan langkah kaki kami berdua ke tempat yang sama, pada waktu yang sama pula.
Pertama kali aku menyadarinya adalah saat jam kuliah usai. Aku berjalan sendirian menyusuri lorong yang sepi menuju perpustakaan, ingin meminjam buku referensi untuk tugas makalah yang sedang kusempurnakan. Langkahku ringan, pikiranku melayang pada isi buku yang akan kucari. Namun saat berbelok di persimpangan lorong utama, sosok yang sangat kukenal berjalan dari arah yang berlawanan. Itu Arga. Ia berjalan tenang menuju ruang kerjanya, berkas di tangan, wajahnya tetap setenang biasanya.
"Selamat siang, Pak," sapaanku sopan, berniat melintas begitu saja.
"Selamat siang, Lisna. Mau ke mana?" tanyanya singkat, namun matanya menatapku sejenak sebelum berjalan terus.
Kupikir itu murni kebetulan. Lorong itu memang jalan utama, wajar jika kami berpapasan di sana. Namun hal serupa terjadi lagi keesokan harinya. Saat aku berjalan menuju kantin untuk membeli makan siang yang agak sepi, di sana ia berdiri di dekat jendela, sedang menyesap kopi sambil membaca berkas. Begitu pula saat aku berjalan pulang melewati gerbang samping kampus yang biasanya sepi—ia baru saja keluar dari sana, seakan berjalan bersamaku keluar dari lingkungan kampus.
Belum lagi saat di perpustakaan. Aku duduk di sudut yang jarang dikunjungi orang, tempat yang kurasa paling tersembunyi dan tenang. Namun tak lama kemudian, ia muncul di antara deretan rak buku, berjalan tenang menuju rak yang sama dengan tempatku mencari buku. Ia berhenti tepat di sebelahku, meraih buku yang bersebelahan dengan buku yang sedang kuambil. Jantungku berdegup kencang, tanganku sempat terhenti di udara.
"Kau juga mencari buku hukum perdata?" tanyanya pelan, seakan tak terkejut melihatku di sana.
"Iya, Pak. Untuk tugas revisi makalah yang kemarin," jawabku pelan, berusaha menenangkan diri.
Ia mengangguk pelan, lalu meraih buku itu dan menyerahkannya kepadaku. "Ini edisi terbaru, lebih lengkap. Gunakanlah."
Kuberterima kasih, lalu duduk kembali di tempatku, namun hatiku tak lagi tenang. Sudah berapa kali hal seperti ini terjadi? Lorong yang sama, kantin yang sama, perpustakaan di jam yang sama... kebetulan apa yang terjadi begitu sering dan begitu tepat waktu?
Suatu sore, hujan turun deras sekali. Aku berdiri di bawah atap penunggu di depan gedung, menatap tetesan air yang jatuh membasahi tanah. Aku lupa membawa payung, dan taksi pun sulit didapat di jam seperti ini. Saat aku mulai cemas memikirkan bagaimana caranya pulang, sebuah mobil berwarna hitam berhenti pelan di depanku. Jendela turun, dan wajah Arga tampak dari balik kemudi.
"Naiklah. Hujan deras, tak baik menunggu terlalu lama di sini," ucapnya tenang, seakan ia memang kebetulan lewat di sana.
Aku ragu sejenak. "Tidak usah, Pak. Terima kasih. Saya bisa menunggu hujan reda."
"Hujan belum tentu reda dalam waktu dekat. Naiklah, aku mengantarmu sampai gerbang depan saja."
Dengan ragu, aku masuk ke dalam mobil. Di dalamnya hangat dan nyaman. Bau harum yang menenangkan memenuhi ruangan kecil itu. Sepanjang perjalanan, kami tak banyak bicara. Namun saat mobil melaju, aku memberanikan diri bertanya pelan.
"Pak... apakah Bapak memang kebetulan lewat di depan gedung itu?"
Arga memandang lurus ke depan, namun sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang samar. "Kau pikir kebetulan saja, Lisna?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Jantungku berdebar semakin kencang. "Saya... saya tak tahu, Pak. Terasa terlalu sering terjadi."
Ia terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada yang rendah namun terdengar jelas di telingaku. "Kadang, hal yang kau sebut kebetulan itu sebenarnya bukan kebetulan. Ada yang berusaha mengatur langkahnya agar bisa berpapasan denganmu, meski hanya sesaat. Agar tahu kau baik-baik saja, agar memastikan kau pulang dengan selamat."
Kata-katanya begitu sederhana, namun menghantam hatiku dengan kekuatan yang luar biasa. Jadi... bukan kebetulan. Ia sengaja melintas di sana. Ia sengaja berjalan di lorong yang sama. Ia sengaja mencari alasan untuk berada di tempat yang sama denganku, sekadar untuk melihatku, sekadar untuk memastikan semuanya baik-baik saja, tanpa perlu menarik perhatian siapa pun. Tanpa perlu berkata-kata.
Wajahku memerah dalam sekejap. Rasa hangat yang luar biasa menjalar dari dadaku ke seluruh tubuh. Selama ini aku mengira tak ada apa-apa di antara kami selain kesepakatan untuk menyembunyikan segalanya. Namun ternyata, di balik sikap tenang dan dinginnya, ia diam-diam selalu mencari cara untuk berada di dekatku. Lewat kebetulan-kebetulan yang sengaja diciptakannya, ia menyampaikan perhatiannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Terima kasih, Pak... batiniku berbisik pelan, menatap tetesan air hujan yang menari di kaca jendela mobil. Terima kasih karena selalu ada, meski dalam cara yang tak terlihat oleh siapa pun.
Sejak saat itu, setiap kali kami berpapasan di lorong, di perpustakaan, atau di mana pun itu, aku tak lagi menganggapnya kebetulan. Aku tahu, di balik setiap pertemuan itu tersimpan perhatian yang tak boleh diketahui orang lain—perhatian yang ia sampaikan lewat cara sederhana namun begitu bermakna, lewat kebetulan yang terjadi terlalu sering untuk disebut kebetulan.
bersambung...