NovelToon NovelToon
Kapten yang Lepas Kendali Karenaku

Kapten yang Lepas Kendali Karenaku

Status: tamat
Genre:Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Enemy to Lovers / Kapten / Tamat
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: VivianMansano

Valentina Mahendra Arini terbiasa mengendalikan segalanya. Di menara kendali, suaranya menentukan hidup ratusan penumpang. Di luar sana, hidupnya justru nyaris runtuh: mantan kekasih yang merendahkannya, saudari tiri yang memanipulasi, dan ayah yang memakai ibunya yang koma serta neneknya sebagai alat ancaman.
Malam ketika ia ingin melupakan semuanya, Val bertemu kembali dengan Sebastian Bara, rival masa SMA yang dulu paling ia benci. Satu malam yang seharusnya menjadi kesalahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit ketika Val mengetahui Sebastian adalah kapten di maskapai yang setiap hari ia pandu dari menara.
Sebastian tidak menawarkan janji manis. Ia hanya muncul, diam-diam menjaga, dan menolak membiarkan Val mengubah luka-lukanya menjadi hal yang bisa dibeli atau disangkal. Di antara frekuensi radio, jadwal penerbangan, rahasia keluarga, dan bahaya yang makin dekat, Val harus memutuskan apakah kendali berarti bertahan sendirian, atau berani membiarkan seseorang berdiri di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianMansano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Rumah Mahendra

Val.

Rumah Mahendra bukan rumah. Itu pernyataan kuasa.

Dua lantai batu abu-abu dengan jendela-jendela raksasa, taman dengan air mancur, gerbang hitam berinisial emas: FM, Firman Mahendra, karena ayahku adalah tipe pria yang perlu menaruh namanya bahkan di pintu masuk rumahnya sendiri.

Aku berdiri di depan gerbang satu menit penuh sebelum menekan bel. Perutku sudah sakit bahkan sebelum masuk.

Pintu dibuka Susana. Susi. Simpanan ayahku, yang ditempatkan di rumah itu seperti nyonya rumah meski Elena masih istri sahnya. Pirang, kurus, dengan senyum permanen yang tidak pernah mencapai mata. Dia menatapku seperti orang menatap serangga yang masuk lewat jendela.

"Valentina. Bagus kamu datang. Ayahmu di ruang makan."

"Susi."

"Susana, tolong. Sudah kubilang aku tidak suka panggilan pendek itu."

Aku berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan pintu masuk dengan ruang makan. Dindingnya penuh foto. Kamila di setiap bingkai: Kamila bayi, Kamila saat wisuda, Kamila saat ulang tahun kelima belas. Tidak ada satu pun fotoku. Tidak ada satu pun foto ibuku.

Ruang makan itu kelewat besar untuk empat orang. Meja kayu gelap untuk dua belas kursi, lampu gantung, peralatan makan porselen. Ayahku berada di kursi utama, seperti biasa. Firman Mahendra: enam puluh satu tahun, rambut abu-abu dipotong gaya militer, setelan jas meski ini Sabtu malam, tatapan yang bisa membekukan air.

"Valentina," katanya tanpa berdiri. "Duduk."

Bukan "halo". Bukan "senang bertemu kamu". Duduk. Seolah aku anjing.

Aku duduk.

Kamila masuk lima menit kemudian. Gaun merah, sepatu hak tinggi, rambut tergerai berkilau. Dia tampak cantik. Kamila selalu tampak cantik, itu senjata utamanya. Dia duduk di depanku dan tersenyum memperlihatkan semua gigi.

"Adikku. Kamu kelihatan... kurus. Makanmu baik?"

"Aku baik-baik saja, terima kasih."

"Soalnya kamu agak pucat. Iya kan, Pi, dia kelihatan pucat?"

Ayahku bahkan tidak menatapku.

"Valentina," katanya, memotong dagingnya. "Ada dua rekan bisnis yang ingin bertemu denganmu. Dari Grup Altamira. Alvaro Montiel dan Riko Cuevas. Mereka akan datang minggu depan dan aku perlu kamu menemani mereka makan malam."

Itu dia. Aku tahu. Aku merasakannya datang sejak Kamila meneleponku pukul tiga pagi.

"Menemani?" tanyaku hati-hati.

"Ya. Makan malam. Mengobrol. Bersikap ramah. Kamu bisa melakukan itu, atau terlalu banyak kuminta?"

"Rekan bisnis seperti apa?"

"Jenis rekan yang bisa membuat Grup Mahendra menutup kontrak dua triliun rupiah." Dia menatapku untuk pertama kalinya. Mata dingin. "Yang kubutuhkan hanya kamu bersikap menyenangkan kepada mereka. Tersenyum. Membuat mereka merasa nyaman."

Aku mengenal kata-kata itu. Aku tahu artinya. Alvaro Montiel berusia lima puluh delapan tahun dan reputasinya suka menyentuh perempuan sudah menjadi rahasia umum di dunia bisnis. Riko Cuevas lebih buruk.

"Tidak," kataku.

Garpu ayahku berhenti di tengah jalan.

"Apa maksudmu tidak?"

"Aku tidak akan menemani rekan-rekan bisnismu makan malam."

"Aku tidak sedang meminta izin, Valentina. Aku sedang memberitahumu."

"Kontrak dua triliun rupiah lebih berharga daripada makan malam yang tidak nyaman," tambahnya. "Kamu putriku. Setidaknya kamu bisa menghasilkan sesuatu yang berguna untuk keluarga ini."

"Dan aku sedang mengatakan tidak." Suaraku tetap teguh, meski jantungku menghantam tulang rusuk. "Aku bukan pendamping sosialmu. Bukan kartu nama. Dan aku tidak akan duduk sambil bermain mata dengan dua pria yang usianya tiga kali lipat dariku supaya kamu bisa menutup bisnis."

Hening. Susana menatap piringnya. Kamila menatapku dengan mata berkilau, menikmati pertunjukan.

"Kamila," kataku, berbalik ke arahnya. "Bukankah kamu ingin mengenal orang-orang Grup Altamira? Minggu lalu kamu bilang tertarik dengan divisi pemasaran. Alvaro Montiel memimpin area itu, kan?"

Kamila mengerjap. Senyumnya lenyap.

"Apa?"

"Itu sempurna untukmu. Kamu punya kepribadian. Karisma. Papa selalu bilang kamu yang paling pandai berurusan dengan orang." Aku menatapnya langsung. "Benar, Pa?"

Ayahku menatap kami berdua. Aku melihat dia menghitung. Kamila adalah putri kesayangannya, putri kecilnya, orang yang dia lindungi dari segala hal. Dia tidak akan mengirim Kamila kepada Montiel dan Cuevas. Tapi dia juga tidak bisa mengatakan alasannya tanpa mengakui arti sebenarnya makan malam itu.

"Kita lihat nanti," kata ayahku, lalu kembali pada dagingnya.

Kamila membakarku dengan tatapan. Aku terus makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Sisa makan malam berlangsung dalam hening tegang dan denting sendok garpu pada porselen. Saat selesai, ayahku mengikutiku sampai pintu.

"Valentina." Dia mencengkeram lenganku. Kuat. Meninggalkan bekas. "Jangan pernah lakukan itu lagi."

"Melakukan apa?"

"Menggunakan adikmu sebagai tameng. Dia tidak ada hubungannya dengan bisnisku."

"Aku juga tidak."

Dia melepaskanku. Aku menatapnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sudah kukenal sejak kecil: ekspresi pria yang menganggap putrinya alat, bukan manusia.

"Pikirkan baik-baik," katanya. "Ingat siapa yang membayar klinik ibumu. Dan klinik nenekmu."

Dia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan dua foto. Di satu foto, ibuku berada di kamarnya di Klinik Santa Lucia. Di foto lain, Nenek tampak di sayap lain klinik yang sama. Foto-foto itu diambil pagi ini.

"Selama aku membayar dua kamar itu, aku yang menentukan mereka berada di mana dan siapa yang bisa melihat mereka," katanya. "Kalau kamu mempermalukanku lagi di depan Kamila atau rekan bisnisku, kupindahkan mereka. Dan kamu baru akan tahu setelah mereka tidak ada di sana."

"Itu penculikan."

"Itu mengelola sesuatu yang tidak mampu kamu bayar. Jangan mendramatisasi. Kamu selalu begitu: membuat masalah, lalu tampil sebagai korban."

Dia menyimpan ponsel. Ancamannya jelas. Aku tidak punya bukti yang bisa melindungiku; dia punya dua orang rapuh untuk memaksaku patuh.

"Selamat malam, Pa," kataku.

Aku berjalan ke mobil dengan kaki gemetar. Masuk, menutup pintu, lalu menggenggam setir sampai buku jariku memutih.

Aku tidak menangis. Aku tidak menangis lagi di rumah itu. Menangis berarti memberi ayahku sesuatu yang bisa dia pakai untuk melawanku, dan aku tidak lagi memberinya apa pun.

Kunyalakan mesin. Di kaca spion, kulihat siluet ayahku berdiri di pintu, menatapku.

Biarkan dia menatap.

Foto-foto dari Klinik Santa Lucia tidak melindungiku. Itu kuitansi ancamannya: ibuku dan nenekku dijadikan jaminan untuk satu makan malam bisnis.

Firman Mahendra tidak melihat putri saat menatapku. Dia melihat investasi yang menolak memberinya keuntungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!