“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mbah Nar : 27
Wanita paruh baya yang memakai kain jarik dijadikan rok, atasan kebaya kembangan dari kain semi transparan hingga terlihat samar bra kemben warna hitam dikenakan, kepalanya tertutup kain jarik motif kolang-kaling. Simbah membalas salam, suaranya berat, dan sorot mata dingin.
Bulu tengkuk dan lengan Hamima meremang, dukun pijat ini memiliki aura sulit dijabarkan, tetapi dapat dirasakan respon tubuhnya yang merinding, persis ketika dia melihat bayangan melintas, mendengar suara merdu melantunkan tembang Lingsir wengi.
Sosok mbah Nar dimata Mima sedikit menyeramkan — luka timbul di garis rahang sebelah kiri memajang hingga bawah dagu, dan dia kehilangan alis kanan yang kulitnya mengetat berwarna sedikit merah muda lebih ke putih. Belum lagi tatapan mata dingin, menusuk, mampu mengintimidasi.
"Mima, ini mbah Nar. Dia dukun pijat yang kemarin aku ceritakan,'' Rosna memperkenalkan.
"Eh, iya ... mari masuk, Mbah." Mima mengangguk kikuk.
Tiba-tiba Pujiara menangis kencang, badannya menggeliat dalam gendongan sang ibu yang terkejut.
"Kenapa, Dek?" Mima membenarkan posisi Pujiara dalam dekapan, namun bukannya tenang, malah Ara menjerit.
"Bayimu kecengklak (terkilir). Panasnya disebabkan leher dan badan yang sakit, urat syaraf kejepit. Perlu dipijat biar badannya kembali sehat," ucap mbah Nar.
"Biar saya gendong sambil mencari dimana saja rasa sakit itu!" Mbah Nar maju dengan langkah teratur terukur.
Insting keibuan Mima menyeruak, dia mundur pelan-pelan, enggan memberikan putrinya.
"Bu, kasihan dek Ara! Biarkan simbah menolongnya!"
Hamima menoleh cepat ke putranya yang baru saja berbicara dengan nada tidak dikenali — tegas, terlalu dewasa, dan kalimat titah mutlak.
"Guntur," panggil Mima cemas. Putranya terlihat berbeda meski secara fisik tetap sama — sorot mata itu bukan Guntur.
Langkah Hamima tak lagi bisa mundur dikarenakan terhalang kursi.
Pujiara masih terus menangis, namun sekarang kedua tangannya terulur kedepan seolah minta diraih.
"Berhenti, tolong berhenti aku bilang! Akhh!" Mima menutup matanya, cahaya putih benderang sangat cepat melintas, menyilaukan.
"Ara!" ia merasa kehilangan, tangannya tak lagi mendekap badan Pujiara, tetapi memeluk dirinya sendiri.
Hamima hampir tidak mempercayai pengelihatannya — Pujiara telungkup di atas pangkuan kaki berselonjor mbah Nar. Tangisnya terhenti, dan sedang bermain boneka terbuat dari kain jarik yang tadi digunakan untuk menutupi kepala simbah.
"Ini nyata, kan?" Matanya diusap-usap beberapa kali, takut dia berhalusinasi, dan apa yang tampak masih tetap sama.
"Kamu kenapa, Mima? Malah bengong. Sini duduk disebelahku. Lihat itu Pujiara keenakan dipijat." Rosna menepuk lantai disampingnya duduk.
"Pijatan simbah enak ya, Dek, sampai ngantuk gitu?" Guntur memainkan jemarinya adiknya.
'Apa ada orang yang bisa bergerak begitu gesit? Perasaanku tadi cuma sebentar memejamkan mata, tapi pas membuka mata, mbah Nar sudah memijat Ara?' Mima layaknya orang linglung.
Dia tidak bisa menyimpulkan atas kejadian aneh barusan, Mima pun duduk di samping Rosna. Pandangannya tidak lepas dari putrinya yang menggenggam jari Guntur sembari tertawa kecil.
Pakaian Pujiara mulai dilepaskan, hanya celana dalam tidak ditanggalkan. Sekarang dia ditidurkan diatas bantal sofa. Sibuk menarik-narik tangan dan kaki boneka.
Mbah Nar menuang minyak beraroma kelapa, serai, dan kencur ke telapak tangan, lalu membalurkan ke badan bayi menggigiti ujung jarik.
Ketika menyentuh memar diperut Pujiara, sang bayi langsung merengek, seakan mengadu kalau itu sakit, mbah Nar kemudian bersenandung lirih.
🎶 Tak Lelo, lelo, lelo ledung (Mari kutimang-timang, anakku sayang)
Wes menengo anakku si kuncung (Sudahlah diam, anakku si kuncung)
Embokmu lagi lungo menyang kali (Ibumu sedang pergi ke sungai)
Ngumbah popok nyangking beruk (Mencuci popok sambil membawa tempurung kelapa)
Bak mantra sakti, mata membulat Pujiara perlahan sayu, boneka yang digenggamnya terlepas, dan netra berbulu mata lentik, basah, terpejam.
Hamima mematung, lagu yang sedang disenandungkan sama persis dengan yang dinyanyikan oleh suara lembut dalam kamar bayi.
Mbah Nar menunduk, bibirnya bergerak samar, lalu meniup Pujiara dari ujung kepala sampai kaki, diulang sampai tiga kali.
Rosna menyenggol lengan Hamima, dia berbisik, suaranya terdengar senang. "Putrimu suka dipijat mbah Nar, berarti mandi (manjur)."
"Iya," jawabnya setengah sadar. Kepala Mima dipenuhi pikiran liar. Dia mengenali sifat putrinya yang sulit didekati orang asing.
'Kenapa Ara gampang akrab, seolah sudah terlalu sering ditimang-timang mbah Nar?' batinnya menyimpan banyak tanya.
Pakaian Pujiara dipasangkan lagi ke badannya, sebelum diberikan ke sang ibu, mbah Nar memeluk penuh kasih — mencium kening balita yang sudah terlelap, deru napasnya teratur.
"Menjelang Maghrib, jangan biarkan putrimu sendirian. Gendong terus dia!" ujarnya, menyerahkan Ara ke ibunya.
Hamima mengangguk sambil berlutut. Tangannya meraih badan terasa mantap dalam bopongan. "Terima kasih, Mbah."
Kini giliran Guntur yang mau di pijat, tetapi remaja itu malu saat disuruh buka baju.
"Ya sudah, Bude ke belakang saja kalau Guntur malu." Rosna beranjak, meminta izin apa boleh dia menumpang ke kamar mandi, lalu duduk di kursi dapur.
Mima mengizinkan, dalam hati sebenarnya keberatan, takut Rosna melakukan sesuatu, tetapi dia tidak punya pilihan, dan enggan meninggalkan Guntur hanya berduaan dengan dukun pijat baru dikenalnya.
Begitu Rosna sudah berjalan ke belakang, barulah Guntur mau buka baju, dan menyisakan celana boxer saja.
"Le (anak laki), gelar dulu tikar, biar kamu gak kedinginan sewaktu dikusuk, terus lantainya pun gak lengket minyak," kata simbah.
Kalau tadi saat memijat Pujiara beralaskan kain gendong Hamima, maka tidak bisa digunakan ke Guntur yang badannya jauh lebih besar.
"Biar Ibu yang ngambil, Nak. Kamu tetap disini," Mima paham jika putranya kurang nyaman.
Sambil menggendong Pujiara, Hamima mengambil tikar terbuat dari daun pandan duri, di sandarkan pada ruang santai.
Guntur memang pemalu, takut terlihat oleh Rosna yang masih muda, seumuran ibunya.
***
Tikar sudah digelar, atasnya dilapisi kain sarung lebar.
Guntur berbaring telungkup, tangannya terlipat dibawah bantal disediakan ibunya.
Hamima menitikkan air mata saat memandangi memar dikulit kuning langsat jauh lebih terang dibandingkan lengan, kaki, keseharian tidak tertutup pakaian, sehingga lebam-lebam itu terlihat jelas.
Hesstt ....
Suara erangan lolos dari bibir meringis, rasa sakit pada bagian memar membuatnya merintih.
Jemari kedua tangan simbah memijat pelan, bukan sebatas mengurut saja — bibir mbah Nar bergerak samar seperti orang berbicara dalam tempo cepat.
Guntur disuruh balik badan sehingga berbaring terlentang — wajahnya bermandikan keringat, kedua mata terpejam kuat.
Simbah terus memijat, berhenti di otot-otot menegang, mengurut lebih lama di sana agar peredaran darah kembali lancar.
"Mbah," panggil Hamima berupa bisikan, cuma mereka yang bisa mendengar.
"Kira-kira, memar di badan anakku karena apa ya, Mbah?" tanyanya, tidak lagi bisa menahan rasa penasaran.
Mbah Nar tidak menghentikan pijatan nya di lengan anak laki-laki yang tertidur damai. Dia menoleh ke wanita berwajah lesu, kehilangan binar kebahagiaan.
"Datanglah ke hunianku, jika kamu benar-benar ingin mengetahui penyebab memar pada tubuh putra-putrimu. Bukan cuma itu saja — banyaknya pertanyaan tentang nyanyian kerinduan hingga lagu penuh amarah kesakitan. Aroma Melati menguar disegala penjuru rumah, bayangan melintas, suara meminta tolong, bakalan terungkap!"
Hamima terhenyak, terkejut setengah mati, ia tergagap dengan mata membelalak. "Siapa kamu sebenarnya?"
.
.
Bersambung.
kok semua nya abu2.
TPI moga ja baik bisa membantu hamima mengungkap tabir rumah itu
kyk nya ngk da yg bisa dipercaya di desa itu
kalau bener dia berarti orang baik kan mba nar?
ini beneran dukun bayi apa hantu
mbah ini kyknya lawannya org yg mukanya luka itu juga
kyknya sma sama terluka dulunya