Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.5 Akhirnya Pulang Juga...
Setelah Shizuka pingsan dan dibantu oleh beberapa maid yang lain, Moiro dipersilakan untuk berganti pakaian lalu pulang, sebab mereka khawatir jika Moiro akan pulang terlalu larut malam itu.
Di perjalanan, Moiro sempat mengeluh tentang seberapa melelahkan pekerjaannya hari itu. Tapi setelah ia mengingat seberapa besar gaji pertama—khusus hari ini—yang diberikan oleh bosnya, ia langsung nyengir.
Yeh, bisa ae kau ni.
Meski Moiro kerja paruh waktu dan uang gajinya dihitung per jam, tapi dibayarnya tetap per bulan. Meski begitu, menurutnya gaji hari ini terlalu besar untuk pemula sepertinya. Padahal sepengetahuannya, para pemula akan digaji sedikit lebih rendah karena masa pelatihan yang memangkas upah.
Tapi, bukan berarti Moiro menolaknya jika ia diberi gaji secara full, malahan ia senang jika seperti itu.
Hutangnya saat ini masih ada sebesar 1.489.500 Yen karena bunga. Sementara gajinya hari ini sebesar 8.000 Yen, cukup besar untuk gaji pertamanya. Meski begitu, jarak antara hutang dan gajinya masih terlalu jauh.
Akhirnya jumlah hutangnya direveal, tapi... Baiklah. Semangat ya, Moiro!
Tapi untuk sekarang, Moiro tak perlu memikirkannya dulu karena ia sudah terlalu lelah seharian bekerja.
Baru saja ia tidak ingin memikirkan apapun, tapi malah kembali memikirkan sesuatu saat sebelum pulang dari kafe.
"Kupikir tadi Senior kenapa-kenapa..." ucap Moiro sambil menghela napasnya. Ia masih sulit menyebut seniornya dengan nama depan, "Tapi syukurlah gak ada apa-apa."
Maksudnya senior Shizuka?
"Tapi..." gumamnya pelan.
Angin malam seketika berhembus menusuk kulitnya. Tetap terasa dingin meski Moiro sudah menggunakan pakaian lengan panjang. Udara sejuk awal musim dingin itu membuatnya berjalan lebih cepat agar bisa tiba di rumah lebih awal.
Sambil berjalan cepat, Moiro kembali memikirkan sesuatu tanpa sadar, "Apa aku memang seimut itu? Kalau dilihat dari ekspresi pelanggan dan senior..."
Moiro terus berjalan. Pikirannya jadi hening sejenak.
"Aku gak mau mikirin dulu dah. Capek."
Dari tadi kau gitu, elah! Dah, cepet pulang sana!
Moiro akhirnya sampai di depan rumahnya. Kali ini, ia pulang membawa kegembiraan, meski tetap disambut oleh kesepian, tapi tak masalah baginya.
Moiro segera mandi—dengan air hangat. Ia tak ingin kedinginan seperti tadi pagi.
Selesai mandi dan berpakaian, Moiro langsung berbaring di atas kasurnya. Kedua tangannya dilipat ke belakang kepala, dijadikan penopang sebagai pengganti bantal.
Ngapa gak pake bantal asli, dah?
Saat Moiro ingin tidur, ia teringat kalau besok masih harus sekolah, jadi dirinya memikirkan apa saja yang akan dibawanya ke sekolah.
"Kalau buku pelajaran, sudah disiapkan. Tas dan seragam juga sudah. Tapi kok, aku ngerasa ada yang kurang ya...?" pikirnya sambil berucap pelan, matanya menatap langit-langit kamarnya, "Tapi apa?"
Kilatan halus menyambar kepalanya, "Oh, iya. Sapu tangan Sano!"
Moiro berdiri dan langsung berjalan menuju luar, mencari sapu tangan yang sebelumnya ia cuci dan digantung untuk dikeringkan.
Tapi tidak ada.
Moiro kembali masuk karena mungkin sapu tangan itu sudah ada di dalam.
Tidak ada juga.
Moiro panik. Dirinya mematung, "Aduh, gimana kalo sapu tangannya benar-benar hilang? Membeli yang baru? Emangnya ada toko yang buka larut malam begini?!"
Moiro tertunduk, tangannya menopang badannya, "Apa yang harus kulakukan...?"
Ceroboh sih.
Hening sejenak.
Moiro mengangkat kepalanya, dan menatap tajam ke depan. Ia sudah memutuskan akan melakukan apa.