NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 : SEHARIAN BERSAMA BINTANG

...BAB 9...

...SEHARIAN BERSAMA BINTANG...

Seharian sudah berlalu...

Namun sampai sore menjelang, ponsel Reyga belum juga berdering. Tidak ada kabar dari polisi. Tidak ada informasi mengenai keluarga bayi yang mereka temukan. Tidak ada perkembangan mengenai identitas Bintang.

Dan yang paling membuat Reyga serta Berry stres. Mereka berdua masih harus merawat bayi itu.

Berry duduk di sofa sambil menatap ponselnya. "Sepi."

Reyga yang sedang menggendong Bintang menoleh. "Memangnya lo nunggu telepon siapa?"

"Polisi."

"Ya sama."

Berry kembali melihat layar ponselnya. "Kenapa lama banget?"

"Karena mereka juga harus mencari keluarganya." jelas Reyga.

Berry menghela napas. "Kalau keluarganya nggak ketemu juga?"

Reyga sejenak terdiam. "Jangan ngomong gitu."

"Kenapa?"

"Karena gue mulai takut."

Berry menatap sahabatnya. "Takut apa?"

Reyga melihat wajah Bintang. "Takut bayi ini benar-benar nggak punya siapa-siapa yang bisa mengambilnya."

Berry terdiam.

Beberapa detik kemudian, Bintang mulai merengek.

Berry langsung berdiri. "Hah. Dia mulai lagi."

Reyga menghela napas. "Kayaknya bos kecil mulai bosan."

"Bosan?"

"Iya."

Berry menatap apartemennya yang berantakan. "Kalau gue jadi dia, gue juga bosan diem terus di apartemen."

Reyga mengangguk. "Mendingan kita keluar aja."

"Ke mana?"

"Mana saja."

Berry berpikir. "Supermarket?"

Reyga mengangguk. "Belanja kebutuhan Bintang. Beli pakaiannya, di dalam tas bayi hanya ada berapa stel baju dia. Sebagian kotor kena muntahan susunya."

Berry langsung mengambil dompet. "Setelah itu?"

"Kita makan, gue laper."

"Terus?"

"Taman. Nyenengin Bintang. "

Berry tersenyum. "Seharian kita bakal kencan sama bayi."

Reyga meliriknya. "Jangan ngomong aneh-aneh."

Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari apartemen.

Reyga menggendong Bintang terlebih dahulu. Berry membawa tas berisi perlengkapan bayi. Namun baru berjalan beberapa meter, Berry sudah mulai mengeluh.

"Kenapa tas bayi ini berat banget?"

Reyga menoleh. "Memangnya isinya apa aja?"

"Popok, tissue basah dan botol susu"

"Berapa biji lo bawa popok Bintang?"

"Entahlah."

"Terus kenapa dibawa banyak?"

"Buat jaga-jaga."

Reyga tersenyum. "Katanya gue yang panikan."

Berry mendengus. "Ini bukan panik. Ini persiapan."

Bintang tiba-tiba tertawa.

Berry menunjuknya. "Nah, lihat. Dia aja setuju sama gue."

Reyga menggeleng. "Dia cuma ketawa karena melihat lo bodoh."

"Lo iri aja Bintang mulai suka ma gue." sikutnya.

Reyga menggeleng kepala.

*****

Di supermarket, masalah baru dimulai. Berry berdiri di depan rak khusus bayi. Ada susu dan makanan MP-ASI. Wajahnya berubah serius.

Reyga datang membawa Bintang digendong depan, pakai gendongan yang mereka beli dadakan tadi pagi.

"Kenapa lagi?" tanya Reyga.

Berry menunjuk rak. "Ini."

"Apa itu?"

"Biskuit untuk usia 6 bulan ke atas. Aku beli buat cemilan Bintang."

Reyga ngelirik ke kanan-kiri, berbisik. "Pelan-pelan ngomongnya. Nanti dikira kita beneran bapaknya."

Berry mendesah. "Kemarin Pak polisi bilangnya 'jagain dulu ya, Mas'. Lah ini udah kayak disuruh jadi bapak 24 jam."

Bintang yang 9 bulan itu asik gigitin gagang gendongan, sambil nunjuk biskuit rasa pisang.

"BA! BA!"

"Eh dia milih sendiri," kata Berry.

"Berarti udah pinter. Pinter kabur dari penculiknya juga kali." Mereka tertawa.

"Ya udah, beli 3 rasa. Buat nemenin dia selama nunggu kedua orangtuanya jemput," kata Reyga pelan.

Sampai di rak baju, Berry mode serius lagi.

"Cari yang size 9-12 bulan. Yang nyaman. Dia pasti capek banget beberapa hari ini."

Reyga ngangkat baju biru polos. "Ini aja. Gak mencolok. Biar aman."

Berry ngangkat satu lagi motif truk. "Ini buat ganti. Biar dia ngerasa... normal lagi. Kayak bayi-bayi lain."

Tiba-tiba Bintang meraih baju kuning bebek dan langsung dipeluk.

Berry dan Reyga bengong.

"Dia suka yang itu," gumam Reyga.

"Ya udah ambil," kata Berry cepat. Suaranya agak serak. "Yang penting dia mau senyum."

Di kasir, kasirnya nanya. "Anaknya udah berapa bulan pak?"

Berry jawab sambil gesek kartu: "9 bulan."

Pas keluar dari supermarket. Reyga nyodorin kantong belanjaan. "Udah semua. Susu, biskuit, baju, Lengkap."

Berry ngeliat Bintang yang sekarang pake baju bebek kuning. Dia sekarang lebih sering ketawa kecil pertama kalinya sejak diselametin.

Reyga nepuk bahu Berry. "Kita mungkin bukan bapaknya... tapi buat sekarang, kita jadi timnya dia."

Berry ngangguk. "Iya. Sampai kedua orangtuanya dateng jemput, kita harus siap begadang bareng."

Di jok belakang, Bintang udah ketiduran. Mungkin untuk pertama kalinya, dia ngerasa aman.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah makan. Setelah selesai berbelanja di supermarket, mereka memutuskan untuk mencari makan.

Berry sudah kelaparan. Reyga juga tidak kalah lapar. Sedangkan Bintang baru saja bangun, dia mengoceh kecil dari gendongan Reyga.

Begitu duduk di rumah makan, Berry langsung membuka menu. "Gue mau makan banyak."

Reyga menatapnya. "Silakan. Lo kan yang punya duit."

Berry mendongak dari menu. "Lah emang dari kemarin gue mulu yang bayar."

Reyga selonjorin kaki, gaya sultan yang lagi di-hold. "Ya maaf. Kartu gue dibekuin bokap. Katanya biar 'belajar tanggung jawab'. Lah tanggung jawab jagain Bintang aja udah bikin gue begadang."

Berry nutup menu. "Tanggung jawab + numpang makan + numpang tidur di apartemen gue. Paket komplit ya?"

"Namanya juga sahabat," kata Reyga santai. "Susah senang barengan. Sekarang lagi fase susahnya doang. Susah bayar."

Pelayan datang. "Mau pesan apa, Mas?"

"Em. Ayam bakar 1, iga 1, nasi 2, sayur asem, es teh 2." sahut Berry.

Reyga nambahin cepat. "Tambah udang saus padang 1. Buat Bintang... eh maksudnya buat cemilan kita." cengirnya.

Berry nyikut. "Ck. Bilang aja lo laper."

"Gue kan tamu," jawab Reyga polos. "Masa tamu disuruh diet."

Beberapa menit makanan datang. Reyga makan paling rapi sedunia, padahal ini rumah makan biasa. Tisu dilipet, serbet dipake.

"Jadi kangen fine dining," gumamnya. "Dulu kalau makan, ada yang nyiapin. Sekarang yang nyiapin gue sendiri... dan yang bayar juga lo."

Berry nyuapin Bintang bubur bayi yang tadi dipesankan juga. Bintang duduk di baby chair sewaan.

"Udah diem. Makan aja. Nanti gue kirim invoice ke bokap lo."

"Invoice persahabatan gak bisa dibayar pake duit," kata Reyga. "Bayarnya pake gendong Bintang jam 3 pagi."

"Deal," sahut Berry. "Tapi giliran lo yang begadang malam ini."

Reyga langsung batuk. "Eh tapi kan gue tamu..."

Pas bayar, Berry gesek kartu tanpa drama.

Reyga ngintip struknya. "Totalnya segini? Murah. Dulu sekali makan siang gue bisa buat bayar 3 meja ini."

Berry masukin struk ke dompet. "Iya. Makanya nikmatin. Mumpung lagi di-grounded bokap lo."

Di parkiran, mereka masuk mobil Berry. Reyga langsung rebahan di jok belakang sama Bintang.

"Besok makan di mana, Bos?" tanya Reyga.

Berry nyalain mesin sambil geleng kepala. "Di rumah. Gue masak indomie. Sultan juga boleh bosen makan enak."

Reyga ketawa. "Oke. Tapi telurnya 2 ya. Harga diri gue masih perlu dijaga."

Berry geleng-geleng tapi senyum. Kesel? Iya. Peduli? Banget.

Namanya juga sahabat. Apalagi sekarang nambah 1 anggota. Bintang, CEO kecil yang bikin dompet + jadwal mereka berantakan.

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!