NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12. Saat Ia Menilai Kerjaku Lebih Ketat

Sejak kesepakatan itu terjalin, aku menyangka mungkin saja ia akan bersikap sedikit lebih perhatian atau lebih lembut kepadaku dibandingkan teman-teman yang lain. Namun kenyataan berbicara sebaliknya. Arga justru bersikap jauh lebih ketat kepadaku. Lebih teliti, lebih tajam, dan tak memberi celah sedikit pun atas segala kekurangan yang kutampilkan. Hal itu sempat membuat hatiku terasa perih dan bingung. Mengapa? Bukankah aku ini calonnya? Mengapa ia bersikap seakan ingin mencar-cari kesalahan pada setiap pekerjaanku?

Suatu hari, tugas makalah yang telah kususun dengan penuh ketelitian akhirnya dikembalikan kepadaku. Tanganku gemetar sedikit saat menyambar kertas yang bertanda merah di sudut atas. Aku membacanya dengan senyum yang mulai merekah, berharap nilai baik akan kuterima atas kerja kerasku. Namun seketika itu senyumku memudar. Nilai yang tertera bukanlah angka yang kuharapkan. Dan di sela-sela tulisanku, penuh coretan merah yang begitu tegas, menunjuk setiap kekurangan yang nyaris tak tampak oleh mata biasa. Bahkan hal-hal kecil yang kurasa sepele pun ia tandai dengan catatan singkat namun padat makna. Belum cukup mendalam. Argumen belum matang. Perlu dikaji ulang.

Dadaku seakan sesak mendadak. Aku melirik ke arahnya dengan pandangan tak percaya. Saat itu ia sedang berdiri di dekat mejaku, menatap lurus ke arahku tanpa sedikit pun menunduk atau terlihat iba. Wajahnya tetap tenang dan serius, seakan apa yang baru saja dilakukannya adalah hal yang paling wajar dan mutlak dilakukan. Tak ada keraguan, tak ada penyesalan.

"Kenapa... nilai Lisna begitu rendah, Pak?" tanyaku pelan, suaraku nyaris tercekat di kerongkongan, berusaha menahan agar tak terdengar nada keberatan. "Lisna sudah berusaha semaksimal kemampuan Lisna."

Arga menatapku lekat-lekat, suaranya terdengar rendah namun tegas, cukup untuk didengar olehku saja tanpa menarik perhatian yang lain. "Justru karena saya tahu kemampuanmu setinggi itu, maka standar penilaian saya kepadamu pun harus lebih tinggi, Lisna."

Jantungku bergetar hebat mendengar jawabannya. "Tetapi... apakah pantas Pak menilai Lisna lebih ketat daripada yang lain?"

Ia mengangguk mantap, sorot matanya tak bergeming sedikit pun. "Justru begitulah seharusnya, Lisna. Jika saya bersikap lunak dan memberi nilai berlebih kepadamu, maka orang lain akan berkata: 'Dia mendapat nilai tinggi semata-mata karena kedekatannya dengan dosen.' Apakah kau mau hidup dengan bayang-bayang keraguan seperti itu sepanjang masa perkuliahan kita? Apakah kau rela kemampuanmu yang sesungguhnya dinilai rendah oleh mereka hanya karena saya memanjakanmu dengan perlakuan istimewa?"

Kata-katanya melesak tajam menembus benakku. Aku terdiam seketika, menatapnya lekat-lekat.

"Saya menilaimu lebih ketat bukan karena ingin merendahkanmu, melainkan karena saya ingin membuktikan kepada semua orang bahwa pencapaianmu lahir dari kerja kerasmu sendiri. Bahwa Lisna memang pantas berdiri sejajar dengan siapa pun, tanpa bantuan dan tanpa keberpihakan apa pun. Saya ingin kemampuanmu diakui oleh siapa pun tanpa ada keraguan sedikit pun. Dan... saya ingin kau tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tak mudah puas dengan pencapaian yang masih belum sempurna."

Nada bicaranya melembut di akhir kalimat, seakan menyadari bahwa kata-katanya tadi sempat menyakiti hatiku. Tatapan matanya pun berubah, tersirat kehangatan yang dalam seakan berkata: Maafkan aku harus bersikap demikian tegas padamu.

Hatiku yang sempat terasa panas dan perih perlahan mencair. Apa yang dikatakannya begitu benar, begitu masuk akal, dan begitu mulia tujuannya. Ia bersikap ketat bukan untuk menindas, melainkan untuk melindungiku dari pandangan buruk orang lain sekaligus menempa diriku menjadi lebih kuat dan berharga. Di balik ketegasan yang menyakitkan itu, ternyata tersimpan niat menjaga nama baikku, menjaga kehormatan hubungan kita, dan mendorongku menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Aku menunduk sejenak, menelan ludah yang terasa getir namun perlahan berubah menjadi manis. "Lisna... mengerti maksud Bapak. Maafkan Lisna yang tadi sempat berprasangka buruk."

Arga tersenyum tipis, senyum yang seakan melebur segala ketegangan di dadaku. Ia melirik sekilas ke arah cincin yang tersembunyi di balik lengan bajuku, lalu berbisik pelan hanya untuk telingaku. "Buktikan padaku bahwa ketegasan ini tak sia-sia. Tunjukkan padaku bahwa kau mampu melampaui standar penilaian yang berlipat ganda ini."

Aku mengangguk mantap, semangat baru seketika menyusup ke dalam dadaku. "Baik, Pak. Lisna akan berusaha lebih keras lagi. Lisna akan buktikan bahwa nilai yang kelak Lisna terima adalah murni hasil kemampuan Lisna sendiri."

Sejak hari itu, setiap kali ia menilai kerjaku dengan ketat, setiap kali coretan merah penanya menghiasi kertas kerjaku, hatiku tak lagi merasa kecewa atau sakit. Sebaliknya, aku justru merasa dihargai, dipercaya, dan didorong untuk melangkah lebih jauh. Ketegasannya adalah wujud perhatiannya yang lain. Cara ia menjagaku tanpa terlihat sedang menjaga. Dan di sanalah aku paham: cinta dan kasih sayang tak selalu ditunjukkan dengan kelembutan semata. Terkadang, ketegasan yang penuh keadilan adalah bentuk kasih sayang yang jauh lebih mendalam dan abadi.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!