Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Akhirnya Balik Juga
Singkatnya, Moiro dan Mika dianggap gagal karena dihitung sudah tertangkap oleh Ryuji dan Yuka, meski para petugas terkejut saat melihat hantu sangar bertubuh hitam dikejar oleh pengunjung berambut merah muda sampai ke luar wahana.
Alamak! Sampe segitunya!
Kemudian.
Moiro-Mika dan Ryuji-Yuka saling berhadapan. Keduanya saling tatap dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Moiro menatap tajam pada Ryuji yang bonyok. Meski sudah sampai seperti itu, Ryuji tetap tersenyum dengan ujung bibir terangkat kaku—meski sorot matanya terlihat takut.
Sementara Mika hanya tersenyum tipis yang terasa dipaksakan, menatap Yuka yang terlihat cemas dan malu.
Yuka sudah kembali memakai kacamatanya, setelah sebelumnya saat menjadi hantu ia melepaskannya agar tidak langsung ketahuan oleh mereka.
Suasana saat itu hening, seperti reuni arwah di kuburan.
Tiba-tiba Mika berkata, mencoba menenangkan situasi yang menegangkan, "G-Gimana kalo kita damai aja?"
"Setuju!" jawab Ryuji cepat.
"Diam kau," sahut Moiro pada Ryuji, tatapannya tajam dan mencekam.
Ryuji serasa tercekik begitu mendengarnya. Sangat menakutkan.
Yuka saat itu tetap diam sambil sedikit menunduk.
Setelah beberapa hal, mereka akhirnya berdamai.
Moiro sebenarnya masih enggan setelah diperlakukan seperti itu oleh mereka—apalagi oleh Ryuji—tapi ia tak mau memperpanjang masalah, terlebih lagi setelah dirinya dibujuk oleh Mika. Saat itu, Yuka juga meminta maaf dengan tulus, diikuti oleh Ryuji yang dipaksa oleh Yuka.
Setelah permasalahan itu dianggap selesai, Mika punya ide agar mereka menikmati hal-hal di Taman Hiburan itu bersama di sisa waktu yang ada, dan tidak ada yang keberatan.
Mereka bersenang-senang menghabiskan hari libur itu bersama.
Mereka berempat mencoba berbagai hal yang ada di stand toko seperti tembak-tembakan berhadiah, menyangkutkan gelang ke botol, menangkap ikan kecil, hingga mencoba permen apel dan permen kapas. Tak lupa juga, mereka mengambil foto bersama di sela-sela kegiatan itu. Semuanya terasa menyenangkan, terlebih lagi saat dilakukan bersama.
Tak terasa, hari sudah menjelang sore, dan mereka pun pulang menaiki kereta yang sama. Cukup sepi karena belum benar-benar sore yang masuk waktu pulang kerja.
Di gerbong, mereka duduk di satu kursi panjang yang sama, dan mereka terlihat kelelahan setelah seharian di taman hiburan.
Saat itu, Ryuji hanya fokus pada layar ponselnya sendiri, dan dia terlihat tertawa-tawa sendiri melihatnya.
Yuka yang duduk di sampingnya jelas heran. Dia mendekat dengan perasaan malu-malu dan mengintip apa yang dilihat oleh Ryuji.
Yuka terbelalak seketika saat melihat gambar di layarnya. Sebuah foto bagus yang diambil dari posisi belakang saat Moiro dan Mika yabg duduk di kursi panjang, saling tatap dengan senyuman yang indah.
Tapi, Yuka lebih terkejut lagi saat dia ingat dengan tujuan Ryuji sebelumnya, dan langsung mengaitkan foto itu sebagai hasil dari dirinya menguntit.
"Kamu memotret mereka diam-diam?!" bisik Yuka nyaring, berusaha menahan agar tidak mengganggu penumpang lain.
Ryuji tersentak dan menoleh pada Yuka, tangannya langsung menjauhkan ponselnya dari Yuka.
"Kau ngintip, ya?!" tanya Ryuji berbisik, spontan mengikuti Yuka.
"A-Aku cuma penasaran!" balasnya.
"Kalo ngintip mah bilang aja!"
Yuka diam, dan memalingkan wajahnya perlahan. Yang dikatakan Ryuji memang tak sepenuhnya salah.
Ryuji tiba-tiba mengarahkan layar ponselnya padanya, masih memperlihatkan foto Moiro dan Mika.
Ryuji tersenyum lebar padanya, "Kau mau? Aku bisa kirim nanti."
"Kenapa kau nanya begituan?!" sahut Yuka kesal, "Lagipula, ngapain aku nyimpan foto mereka yang kamu ambil diam-diam?!"
"Bener juga," balas Ryuji yang kembali menatap layar ponselnya, lalu kembali fokus ke layar ponselnya sendiri.
Yuka pun menggembungkan pipi, menatap lurus ke depan sambil melipat tangannya. Pipinya sedikit memerah, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri, "Lebih baik kalo aku nyimpannya foto kita berdua..."
Ryuji menoleh setelah mendengar gumaman pelan tak jelas dari Yuka, "Hm? Kau ngomong sesuatu?"
"G-Gak ada!" balas Yuka cepat sambil menoleh, kedua tangannya digoyangkan cepat seperti menyangkal hal itu.
"Gitu ya?"
Yuka mengangguk cepat, dan kembali menatap ke depan. Pipinya masih memerah samar.
Tiba-tiba, Ryuji kembali memanggilnya.
"Psst, psst! Yuka!" bisik Ryuji sambil tersenyum.
Yuka menoleh pelan, "A-Apa?"
"Lihat mereka," balas Ryuji sambil menunjuk pada Moiro dan Mika di sampingnya dengan jempol.
Yuka mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa menatap mereka berdua lebih jelas.
Matanya kembali terbelalak.
Dia menemukan Moiro dan Mika sedang tertidur, keduanya saling bersandar seperti sepasang kekasih yang baru saja jadian. Mereka terlihat sangat romantis.
^^^>Ilustrasi dari AI.^^^
Alamak!
Yuka seketika memerah melihat itu.
Dia dengan cepat kembali duduk tegak, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukannya itu terlalu dekat?! Bahkan terlalu cepat!" serunya dalam hati. Wajahnya kembali memerah penuh saat kembali membayangkan keduanya yang seperti tadi.
"Ini kesempatan..." bisik Ryuji di sampingnya.
Yuka menoleh.
Cekrek!
Ryuji memotret Moiro dan Mika yang tengah tertidur pulas.
"R-Ryuji! Kamu jangan memotret mereka tanpa izin!" seru Yuka panik.
Ya ampun! Ada aja kelakuannya!
Ryuji tak membalas. Dia hanya fokus dengan hasil jepretan kameranya dan tertawa-tawa menatapnya.
Yuka menatapnya dengan cemberut, berharap sesuatu, "Aku juga pengen tidur bersandar begitu..."
Sama aja, pada berkelakuan!
...***...
Beberapa waktu berlalu, dan kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun tujuan.
Setelah dibangunkan oleh Yuka dengan ekspresi malu, Moiro dan Mika akhirnya bangun. Keduanya terlihat mengantuk ketika berjalan keluar dari gerbong, dan mereka tidak sadar dengan posisi tidur mereka sebelumnya.
Mereka berempat pun berjalan bersama menuju taman dekat stasiun itu lalu berpisah.
Moiro dan Mika sudah terlihat tidak mengantuk setelah berjalan beberapa waktu.
Keduanya saling tatap lalu berbalas senyum.
"Hari ini menyenangkan, ya?" tanya Mika pada Moiro.
Moiro mengangguk lalu membalas singkat, "Benar."
Mika berlari kecil lalu berhenti di depan dan menghadap ke arah Moiro. Kedua tangannya dilipat ke belakang. Kakinya berdiri dengan imut.
"Aku merasa senang," ucap Mika sambil tersenyum, "Jadi kuharap kita bisa melakukannya lagi di lain waktu."
Pipinya memerah samar, lalu untuk pertama kalinya ia memanggil namanya, "Ya, Moiro?"
Moiro tanpa sadar tersenyum setelah mendengarnya, lalu kembali membalas dengan ramah, "Dengan senang hati, Mika."
Keduanya pun saling berbalas senyum yang terasa hangat, menjadi bukti awal lembaran kedekatan keduanya yang telah dibuka.
Mereka pun berpisah di salah satu jalan, lalu kembali pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang membahagiakan.