Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Singgasana
Fajar menyingsing di atas cakrawala Manhattan, melukiskan gradasi warna abu-abu kelam yang dramatis di balik dinding kaca raksasa penthouse pribadi milik Sylus. Cahaya pagi yang dingin itu gagal menembus pekatnya atmosfer di dalam kamar utama, di mana sisa-sisa badai gairah malam tadi masih menguap perlahan di atas hamparan seprai sutra hitam. Ceisya terlelap dalam kelelahan yang memabukkan, napasnya teratur dengan kepala bersandar nyaman di atas dada bidang suaminya.
Namun, bagi The Crimson King, tidur bukanlah sebuah kebutuhan mutlak, melainkan sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati di atas tumpukan kewaspadaan yang tidak pernah kendur.
Manik mata merah menyala bagai delima milik Sylus terbuka lebar dalam kegelapan. Jarinya yang bebas bergerak perlahan di atas layar ponsel yang tadi bergetar, membaca ulang setiap baris laporan enkripsi tinggi yang dikirimkan oleh Logan. Di ruangan yang begitu sunyi hingga deru pendingin ruangan pun terdengar seperti bisikan, pikiran sang raja mafia berputar tajam, merangkai strategi tanpa harus mengusik tidur wanita di pelukannya.
Bianca telah sadar. Nama itu mendadak bangkit dari kubur masa lalu, membawa serta seluruh ekspektasi busuk dari dewan direksi sindikat utama yang selama ini menganggap gadis itu sebagai satu-satunya pendamping yang layak bagi pemegang takhta tertinggi. Di mata dunia hitam, kebangkitan Bianca adalah sebuah keharusan yang tertunda, sebuah takdir yang seharusnya berjalan sesuai naskah asli novel. Namun di mata Sylus, wanita itu tidak lebih dari sekadar gangguan abstrak yang kehadirannya kini terasa mengusik ketenangan hidupnya bersama Ceisya.
Di sisi lain, laporan mengenai Seraphina jauh lebih menuntut tindakan nyata yang terukur. Sabotase kendaraan bukanlah ancaman main-main; itu adalah metode pengecut dari seseorang yang terlalu takut untuk bertatap muka secara langsung, tetapi cukup berbahaya untuk merenggut nyawa jika dibiarkan melenggang bebas di teritori kekuasaannya.
Sylus menunduk, menatap wajah Ceisya yang tampak begitu damai dalam lelapnya. Jemari besarnya dengan sangat hati-hati merapikan helaian rambut hitam sang istri yang menutupi dahi, menyapu kulit porselen itu dengan kelembutan yang tidak pernah ditunjukkannya kepada siapapun di dunia ini. Pria itu tahu betul bahwa wanita dalam pelukannya ini bukanlah boneka rapuh, melainkan jiwa tangguh yang diam-diam menanggung beban takdir luar biasa.
Biarkan mereka bermain-main dengan rencana busuk mereka, batin Sylus dingin, sementara rahang tegasnya mengeras dalam bayang-bayang. Sebelum pisau mereka menyentuh kulitmu, aku akan pastikan akar dari ancaman itu sudah tercabut hingga tuntas.
Tanpa suara, Sylus melepaskan diri dari dekapan Ceisya, menaruh bantal sutra dengan lembut untuk menggantikan posisi dadanya agar sang istri tidak terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengenakan jubah hitam beludru yang tersampir di sisi ranjang, melangkah tanpa suara menembus pintu ganda kamar tidur menuju ruang kerja privat di lantai atas penthouse yang dilengkapi sistem keamanan tingkat tinggi.
Ruangan kerja itu dipenuhi oleh layar monitor besar yang menampilkan peta jaringan faksi bawah tanah kota secara real-time. Begitu Sylus duduk di atas kursi kulit kebesarannya, pintu otomatis terbuka nyaris tanpa bunyi, menampilkan sosok Logan yang berdiri tegak dengan setelan jas rapi, membawa tablet hologram berisi data intelijen terbaru.
"Tuan," Logan membuka suara dengan nada rendah dan terukur, berdiri beberapa langkah di hadapan meja kerja sang pemimpin. "Rumah sakit swasta di distrik utara melaporkan bahwa Bianca mengalami pemulihan yang cukup cepat setelah siuman. Para petua dari dewan utama sudah mendesak agar Anda segera menjenguknya, mengingat posisinya di dalam garis keturunan faksi kita."
Sylus menyilangkan kedua tangannya di atas meja, manik mata merahnya menatap tajam ke arah Logan, memancarkan tekanan psikologis yang membuat udara di dalam ruangan mendadak menipis. "Katakan pada para tetua tua bangka itu untuk mengurus urusan mereka sendiri. Aku tidak peduli apakah wanita itu hidup atau mati. Kepalaku tidak pernah dibeli oleh garis keturunan manapun, dan posisiku di singgasana ini tidak ditentukan oleh wanita dari garis keturunan utama."
"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan dengan nada diplomatis kepada dewan," jawab Logan tenang, sudah terbiasa dengan ketidakpedulian mutlak atasannya terhadap politik kuno sindikat. "Bagaimana dengan pergerakan Seraphina?
Mata-mata kita melaporkan bahwa faksi barat telah menyelundupkan teknisi bayaran ke bengkel privat tempat mobil-mobil lapis baja kita diservis. Mereka berencana merusak sistem rem hidrolik kendaraan utama yang biasa dipakai Nyonya Ceisya."
Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Sylus—bukan senyuman hangat, melainkan seringai predator yang siap memangsa mangsanya hidup-hidup. Suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat, menciptakan kabut tipis dari napas yang diembuskannya.
"Jangan hentikan mereka, Logan," perintah Sylus dengan suara bariton yang berat dan penuh mutlak.
Logan sempat tertegun sesaat, alisnya yang rapi terangkat sebelah dalam kebingungan profesional. "Tuan? Anda ingin membiarkan kendaraan Nyonya Ceisya disabotase? Risiko keamanannya terlalu tinggi jika—"
"Bukan membiarkan, bodoh," koreksi Sylus dingin, memotong ucapan asistennya dengan tatapan tajam yang menghentikan segala argumen lanjutan. "Biarkan mereka menyelesaikan pekerjaan kotor mereka sampai tahap akhir. Biarkan Seraphina merasa bahwa rencananya berjalan mulus tanpa hambatan sekecil apapun. Tapi pastikan, setiap detik pergerakan teknisi bayaran itu terekam jelas dalam kamera pengintai kita tanpa ada yang terlewat. Saat malam eksekusi tiba, kita akan membalikkan jebakan itu tepat di hadapan mata kepala faksi barat."
Logan mengangguk paham, sudut bibirnya ikut terangkat membentuk senyuman tipis penuh arti. Insting seorang kepala intelijen bawah tanah langsung menangkap rencana brilian atasannya. "Dimengerti, Tuan. Saya akan memastikan perangkap itu terpasang dengan sempurna. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan keluar dari wilayah kita dalam keadaan bernyawa."
"Satu lagi," tambah Sylus sebelum Logan sempat berbalik melangkah pergi. "Jangan biarkan berita apapun tentang kebangkitan Bianca atau teror Seraphina sampai ke telinga Ceisya. Aku tidak mau pikiran ratuku terganggu oleh sampah-sampah murahan itu."
"Baik, Tuan." Logan membungkuk hormat, lalu berbalik meninggalkan ruangan kerja yang kembali diselimuti oleh keheningan mutlak.
Sementara itu, di dalam kamar tidur utama penthouse, Ceisya perlahan mengerjap membuka matanya. Manik mata hijau terangnya menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan tatapan menerawang. Tempat di sampingnya sudah terasa kosong dan dingin, menyisakan sisa kehangatan tubuh Sylus yang masih tertinggal di atas seprai sutra.
Gadis itu bangkit, merapikan selimut yang menutupi tubuhnya, dan melangkah pelan menuju jendela kaca raksasa yang memperlihatkan lanskap kota Manhattan di pagi hari. Ada firasat aneh yang merayap di dalam dadanya—sebuah intuisi tajam dari seseorang yang terbiasa hidup di garis batas antara hidup dan mati, baik di dunia lamanya maupun di dalam dunia novel ini.
Ia tahu pasti bahwa ketenangan malam tadi hanyalah sebuah jeda singkat sebelum badai besar yang sebenarnya menghantam. Namun, alih-alih merasa takut atau cemas, sudut bibir Ceisya justru terangkat membentuk garis senyuman tipis yang penuh tantangan. Di dunia hitam ini, ia bukan lagi figuran lemah yang bisa dipermainkan oleh alur cerita siapapun. Bersama Sylus, ia akan menulis takdirnya sendiri dengan tinta darah dan kepemilikan mutlak.