NovelToon NovelToon
Pernikahan Bisnis

Pernikahan Bisnis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

***

Pagi yang merayap di balik tirai sutra kamar utama menyebarkan pendar keemasan yang tenang, berbanding terbalik dengan gejolak batin yang dirasakan sang nyonya rumah.

Saat Lilianne mencoba menyibak selimut tebal dan mengayunkan kedua kakinya ke lantai marmer, sebuah rintihan halus refleks lolos dari celah bibirnya. "Agh..."

Sengatan rasa perih tajam di area intimnya bertabrakan dengan pegal luar biasa yang menjalar hingga ke pinggang dan paha mulusnya. Rasa sakit fisik itu seperti tak menunjukkan tanda-tanda mereda. Tubuh bahagianya terasa remuk, memaksa Lilianne berdiri dengan bertumpu penuh pada tepi tempat tidur. Tangannya gemetaran, jemari lentiknya mencengkeram erat ukiran kayu jati ranjang untuk menahan tumpuan berat badannya.

Dengan langkah pincang yang sangat pelan dan canggung, Lilianne berusaha berjalan menuju kamar mandi. Setiap pijakan kakinya di atas marmer dingin memicu desisan ngilu yang menyayat saraf. Saat pegangan di tepi kasur tak lagi terjangkau, jemarinya meraba dinding berpanel kayu mahoni, menyusuri Benda-benda di sekitarnya hanya agar tidak roboh ke lantai.

Arya Sena yang baru saja memindahkan nampan sarapan ke meja kecil, mendadak berbalik dan menangkap pemandangan menyayat hati tersebut.

Langkah sang Presdir seketika membeku. Matanya yang sepekat malam berkilat dipenuhi rasa cemas yang teramat dahsyat tatkala melihat cara berjalan istrinya yang terseok-seok dan pincang parah.

"Lilianne!"

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Arya melangkah lebar memangkas jarak. Sebelum Lilianne sempat memegang pilar pintu kamar mandi, dua lengan kekar Arya sudah merengkuh pinggang dan bagian belakang lutut Lilianne, mengangkat tubuh molek wanita itu secara bridal style ke dalam bopongan dadanya.

"Mas Arya! Turunkan aku... aku bisa jalan sendiri," protes Lilianne pelan, suaranya serak dan napasnya memburu menahan ngilu. Tangannya refleks bertumpu pada bahu tegap suaminya.

"Jangan keras kepala, Lilianne," pangkas Arya rendah namun teramat lembut, tidak memberi ruang debat sedikit pun. "Kamu bahkan tidak bisa memijakkan kaki tanpa meringis. Jangan siksa tubuhmu sendiri."

Arya membawa Lilianne masuk ke dalam kamar mandi utama yang bernuansa marmer hitam. Pria jangkung itu menududukkan istrinya di atas bangku empuk berbalut kain handuk tebal di depan cermin raksasa.

Tepat saat Lilianne terduduk dan kain gaun tidur satinnya sedikit terkuak, tatapan Lilianne jatuh pada pantulan dirinya sendiri di balik kaca.

Seketika itu juga, pasokan udara di paru-paru Lilianne serasa tertahan. Di bawah pendar lampu kamar mandi yang terang, memar lebam kemerahan dan ruam kebiruan tercetak sangat jelas di sekujur tubuh mulusnya. Dari leher jenjang, bahu, dada, paha, hingga pergelangan tangannya—semua ditandai oleh bekas keposesifan dan keliaran Arya kemarin malam.

Lilianne melepaskan sebuah desahan frustrasi yang teramat dalam. Manik hijau jernihnya berkaca-kaca, menatap lebam di kulitnya dengan tatapan redup yang penuh kekecewaan mendalam.

Apakah ini yang akan menjadi masa depanku selamanya? batin Lilianne menjerit pilu. Apakah aku hanya akan menjadi pelampiasan gairah dan ego seorang Presdir yang berkuasa, terikat dalam sangkar emas ini tanpa hangat yang tulus?

Setetes air mata jernih perlahan meluncur melintasi pipi mulus Lilianne, jatuh menetes di atas pangkuannya.

Arya yang berdiri di sampingnya menyaksikan perubahan raut wajah Lilianne dan menatap jejak lebam di tubuh istrinya melalui pantulan cermin. Rasa bersalah yang mendalam bagai menusuk dada tegap pria itu hingga terasa sesak luar biasa. Arya menyadarkan dirinya bahwa bekas luka fisik dan emosional yang ia torehkan semalam tidak bisa dihapus hanya dengan kata maaf atau penyesalan verbal.

Arya meluruhkan tubuh besarnya. Pria dominan berusia tiga puluh tahun yang ditakuti di dunia bisnis itu berlutut di atas lantai kamar mandi, tepat di hadapan kedua kaki Lilianne.

"Maafkan saya, Lilianne..." bisik Arya parau, suaranya bergetar berat di udara yang dingin. "Demi Tuhan... maafkan saya..."

Arya merogoh botol kaca berisi minyak aromaterapi beraroma lavender-sandalwood yang telah hangat disiapkan. Ia menumpahkan beberapa tetes ke telapak tangan kekarnya, meratakannya hingga hangat, lalu perlahan menjangkau pergelangan kaki Lilianne yang lebam.

Lilianne sempat menarik kakinya tipis. "Mas Arya, tidak perlu—"

"Tolong biarkan saya merawatmu, Lilianne," potong Arya penuh permohonan, matanya menatap lurus ke dalam mata hijau sang istri dengan kejujuran murni tanpa sisa keangkuhan. "Biarkan saya mengobati rasa sakit yang saya sebabkan sendiri."

Arya mulai memijat lembut pergelangan kaki dan betis Lilianne. Jemari kekarnya yang biasa menandatangani dokumen triliunan rupiah kini bergerak amat telaten, mengurut otot-otot tegang istrinya dengan tekanan yang begitu presisi dan hati-hati. Setiap usapan Arya meluncur hangat, berusaha meluruhkan pegal dan nyeri yang mengikat kaki langsing permaisurinya.

"Sakit?" tanya Arya halus saat merasakan kejang tipis di jemari kaki Lilianne.

"Sedikit... tapi hangat," aku Lilianne jujur, suaranya mengalun lirih seraya menatap kepala suaminya yang tertunduk patuh di bawah paha bahagianya.

Arya mengangguk pelan, melanjutkan pijatannya merayap naik ke bahu dan leher jenjang Lilianne. Jemari besarnya menyapu memar kebiruan di leher Lilianne dengan kelembutan yang teramat protektif, seolah takut menggores kulit tipis sang permaisuri.

"Saya tahu... melihat jejak lebam ini membuatmu ragu pada masa depan kita," tutur Arya pelan, suaranya mengalun dalam di tengah suara gemericik air beranda. "Saya tahu kamu berpikir bahwa pernikahan ini hanyalah kurungan dingin di mana kamu terus tersakiti."

Lilianne memalingkan pandangannya ke samping, tidak membantah karena dugaan Arya tepat mengena di dadanya.

Arya menghentikan usapan jemarinya. Tangannya terulur merengkuh kedua telapak tangan halus Lilianne, membawa jemari dingin istrinya itu ke atas dadanya sendiri—tepat di mana detak jantungnya bergemuruh hebat dan tidak beraturan.

"Dengarkan detak jantung ini, Lilianne," bisik Arya serak, matanya berkilat dipenuhi pendar emosi yang teramat dalam dan intens. "Jantung ini tidak pernah berdetak seperti ini untuk siapa pun. Tidak untuk aliansi bisnis, tidak untuk status dinasti, dan tidak untuk wanita lain."

Lilianne merasakan getaran hebat di dada bidang Arya. Matanya kembali bergulir menatap wajah tegas suaminya.

"Masa depanmu di rumah ini... bukanlah sebagai tawanan ego saya," tegas Arya tanpa ragu sedikit pun. "Kamu adalah permaisuri tunggal di mansion ini. Kata-katamu adalah perintah, dan kebebasanmu adalah mutlak. Jika kamu butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini, saya akan menunggu. Jika kamu ingin membalikkan keadaan dan menguji kesetiaan saya, saya akan berdiri di tempat ini tanpa melangkah pergi."

Arya menundukkan kepalanya lebih rendah, menanamkan kecupan hangat dan lama di punggung jemari Lilianne yang ia genggam erat.

"Jangan pernah merasa kamu tidak berharga, Lilianne. Karena mulai detik ini... hidup Raden Mas Arya Sena sepenuhnya berada di telapak tanganmu."

Lilianne menatap suaminya yang masih berlutut pasrah di hadapannya. Rasa dingin dan cemas yang semalam mengurung dadanya perlahan mulai mencair, tergantikan oleh rasa hangat yang merayap halus dari sentuhan telaten sang Presdir.

Meskipun rasa perih di tubuhnya belum sepenuhnya sirna, Lilianne menghembuskan napas panjang seraya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat anggun—sebuah tanda bahwa dinding es di antara dua klan besar itu kini telah menemukan celah pertamanya untuk lelah dan pulih bersama.

Bersambung....

1
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Arya jadi suami siaga 😍😍😍
Helen@Ellen@Len'z
up byk ya 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪thor 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Anonim
crazy up thor
falea sezi
sesuai janji q kirim bunga tuh🤭 lanjut banyakkk Thor
Heresnanaa_: wahhh, terimakasih Kaka, stay tune ya 🥹😚
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
Heresnanaa_: wahhh, maaciw kakak, stay tune ya beb🙏😚
total 1 replies
falea sezi
cantik tp otak kosong🤣 lu nyingkirin widya g mau kesaing🤣 tp lu g mau gantiin tugas dia layani laki lo🤣🤣 aneh gt ini cwek manja bisa nya apa shoping doank😒
falea sezi
nah gini🤣 aduin ke bumertua🤣 emank babu g tau diri si widya
falea sezi
harusnya di belikan buat anak yatim🤣 biar suami mu kagum 🤭
falea sezi
g suka cwek sombongnya kayak lily ini 🤣🤣 berharap dia itu lemah lembut cegil tp bukan sok jd cowok penasaran🤣
falea sezi
nyimak dlu klo bagus q krim bunga🤭
Mita Paramita
so sweet 😍😍😍
Mita Paramita
Liliane masih syok udah di unboxing paksa 😭 tinggal Arya nih yang mesti ngejar cinta Liliane
Arix Zhufa
up
Mita Paramita
akhirnya Arya unboxing Liliane 😍😍😍
Mita Paramita
Widya backstabbing 🤣🤣🤣
i got you 🔥🔥🔥
Mita Paramita
nice statement Liliane 😍
Mita Paramita
berkelas banget balasan Liliane ke ulat bulu Widya 🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 😍😍😍
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!