NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Hutan Kelabu

Beberapa bulan telah berlalu sejak aturan baru diterapkan di Wilayah Timur. Kehidupan di sana kini berjalan damai dan sejahtera.

 Rakyat hidup tanpa takut ditindas atau diperas, sekte-sekte bawahan berkembang dengan tenang, dan setiap orang merasa dilindungi.

Tentu saja tidak semua orang merasa puas — ada sekte dan keluarga bangsawan yang dulunya bebas menindas rakyat kecil, kini mereka harus menahan amarah dalam hati. Namun tidak ada yang berani berbuat sesuatu — mereka tahu betapa hebatnya kekuatan Sekte Surgawi Langit.

***

Sementara itu, di Puncak ke-10, Lin Yue duduk tenang di bawah Pohon Roh Abadi. Tiba-tiba, suara yang sudah dikenalnya terdengar jelas di dalam benaknya — misi baru telah tiba.

[ MISI BARU: MENERIMA MURID BARU — NAMA: SHUI YING ]

[ LOKASI: PERBATASAN WILAYAH SELATAN DAN TIMUR ]

[ SITUASI: SEDANG DIBURU OLEH PEMBUNUH BAYARAN ]

[ DATA LENGKAP TELAH DITERIMA — MENAMPILKAN INFORMASI... ]

NAMA: SHUI YING

UMUR: 16 TAHUN

BAKAT: TULANG SUCI — TULANG KEMURNIAN ES YANG HANYA MUNCUL SATU KALI DALAM SERIBU TAHUN

Pada usia 15 tahun, tulang sucinya direbut paksa oleh sepupu perempuannya — Shui Mei — yang iri akan bakatnya.

Setelah mengambil akar tulang suci itu, Shui Ying kehilangan kemampuan berkultivasi. Keluarga Shui dan Shui Mei belum puas.

 Mereka menyuruhnya pergi ke Hutan Kelabu untuk mencari bahan obat spiritual — tempat yang penuh bahaya dan jarang orang kembali. Itu bukan tugas, itu adalah perintah kematian.

Lin Yue membuka matanya. Cahaya dingin berkilat di matanya, bukan hanya karena kasihan, tapi karena kejamnya perbuatan itu.

Merebut tulang suci, merampas kemampuan berkultivasi, lalu ingin membunuhnya... ini bukan sekadar kejahatan, ini adalah kekejaman yang tak bisa dimaafkan.

Tanpa berlama-lama, Lin Yue berdiri. Tubuhnya perlahan memudar dari tempatnya berdiri, seakan menyatu dengan angin. Dalam sekejap mata, ia sudah berada ratusan li jauhnya — di perbatasan antara Wilayah Selatan dan Wilayah Timur.

***

~HUTAN KELABU

Hutan itu sunyi dan suram. Kabut abu-abu melayang rendah di antara pepohonan yang daunnya berwarna kelabu pucat.

Di tanah yang dipenuhi lumut beku, seorang gadis berlari terhuyung-huyung. Tubuhnya penuh luka — ada yang baru berdarah merah, ada yang sudah mulai mengering. Pakaiannya robek di beberapa bagian, dan wajahnya pucat pasi seperti kertas.

Itu adalah Shui Ying. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berlari. Ia tidak lagi bisa berkultivasi — tanpa tulang suci, ia seperti orang biasa yang lemah.

Setiap langkah terasa berat, napasnya tersengal-sengal. Namun ia terus berlari, bukan karena kuat, tapi karena ia tidak ingin mati.

Di belakangnya, langkah kaki berat terdengar mendekat dengan santai. Tidak terburu-buru. Mereka bisa saja langsung membunuhnya sejak tadi, namun mereka sengaja membiarkannya berlari. Bagi mereka, melihat gadis yang tak berdaya menderita adalah hiburan.

"Lari terus, gadis kecil!" seru salah satu pembunuh dengan nada mengejek. "Bukankah dulu kau begitu berbakat? Sekarang lihat dirimu... bahkan tidak punya kekuatan untuk berdiri tegak!"

"Kau tidak perlu terburu-buru," sahut yang lain sambil tertawa dingin. "Biarkan dia merasakan ketakutan lebih lama. Itu akan membuat kematiannya lebih manis."

Shui Ying menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia ingin berhenti, ingin jatuh dan menyerah, namun sesuatu di dalam hatinya menahannya. Aku tidak bersalah... pikirnya. Mengapa aku harus mati?

Kakinya terantuk akar pohon besar. Tubuhnya terjatuh dan berguling di tanah beku. Luka-lukanya semakin terbuka, darah merembes ke tanah kelabu. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya tidak lagi menurut.

Tiga pembunuh bayaran itu melangkah keluar dari balik pepohonan — berbadan besar, wajah kejam, senjata di tangan mereka berkilat dingin. Mereka berdiri melingkar di atasnya, wajah mereka penuh senyum mengejek.

"Akhirnya lelah ya?" ucap pemimpin mereka sambil mengayunkan pedangnya perlahan. "Sudah waktunya berakhir."

Shui Ying menutup matanya. Air mata menetes di pelipisnya yang dingin. Apakah ini akhirnya? Padahal... aku tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun.

Namun pedang itu tidak pernah turun.

Sebuah sosok muncul perlahan dari balik kabut kelabu. Tidak ada langkah suara, tidak ada peringatan. Sosok itu berdiri tenang di antara mereka, seakan ia selalu ada di sana sejak ribuan tahun lalu.

Pembunuh bayaran itu tertegun. "Siapa kau?! Minggir! Jangan cari mati!"

Mereka menatap Lin Yue dari atas ke bawah, mencoba menebak tahap kekuatannya. Namun tidak ada yang bisa mereka lihat — kosong, seakan orang di hadapan mereka tidak memiliki energi sama sekali. Mereka mengira Lin Yue hanyalah orang biasa yang kebetulan lewat.

"Pergi sebelum aku berubah pikiran!" bentak salah satu sambil mengangkat pedang ke arah Lin Yue.

Lin Yue tidak menoleh kepada mereka. Matanya hanya tertuju pada gadis yang terbaring di tanah — Shui Ying. Dengan suara yang tenang namun terdengar jelas hingga ke telinga gadis itu, ia bertanya.

"Jika kau bersedia menjadi muridku. Aku akan membunuh mereka untukmu!"

Shui Ying perlahan membuka matanya. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda dengan jubah putih bersih, wajahnya tenang namun matanya menyimpan kedalaman yang tak bisa diukur.

"Kau..." suara Shui Ying parau dan lemah. "Siapa..."

"Namaku Lin Yue," jawabnya pelan namun tegas. "Dan aku menawarkanmu jalan untuk kembali berdiri. Bukan hanya untuk hidup, tapi untuk menjadi lebih kuat dari siapa pun yang pernah menyakitimu."

Pembunuh bayaran itu akhirnya marah. "Kurang ajar! Berani bermulut manis di hadapan kami!" Pemimpin itu meraung dan mengayunkan pedangnya ke arah Lin Yue tanpa ragu.

Namun sebelum pedang itu sempat menyentuh ujung jubahnya, tubuh pria itu terlempar mundur — seketika, tanpa gerakan yang terlihat.

Ia menabrak pohon besar hingga batangnya retak, lalu jatuh terkulai tanpa sadar. Dua orang lainnya terbelalak, kini mereka sadar, orang di hadapan mereka jauh melampaui apa yang bisa mereka bayangkan.

"Ini.. Mengerikan sekali.." seru salah satu dengan suara gemetar ketakutan. Mereka berlutut dan memohon. "Ampun! Kami hanya disuruh! Ampuni kami!"

Lin Yue menatap mereka dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan. "Kalian membunuh orang tak berdosa demi uang. Kalian menikmati penderitaan orang lemah. Orang seperti kalian tidak pantas dimaafkan."

Dengan satu gerakan tangan yang samar, cahaya keemasan menyambar kedua pembunuh itu. Mereka jatuh diam di tempat — nyawa mereka habis dalam sekejap, tanpa rasa sakit yang panjang. Keadilan bagi semua orang yang pernah mereka bunuh.

Lin Yue tidak merasa bersalah. Ia tahu, membiarkan mereka hidup hanya akan menambah jumlah korban tak berdosa.

Ia berlutut di samping Shui Ying. Ia mengeluarkan tangan kanannya, dan cahaya putih lembut keluar dari telapak tangannya — menyentuh luka-luka gadis itu, menyembuhkan rasa sakit yang menyiksa.

"Mereka sudah tidak ada," ucap Lin Yue lembut. "Sekarang... jawab pertanyaanku tadi. Maukah kau menjadi muridku?"

Shui Ying menatapnya, air mata kembali menetes — kali ini bukan karena takut, tapi karena harapan yang tak pernah ia bayangkan bisa datang. Ia menangkupkan kedua tangannya yang gemetar, lalu menunduk dalam.

"Shui Ying... bersedia menjadi murid Guru. Hidupku mulai hari ini milik Guru. Dan satu hari nanti... aku akan kembali ke Wilayah Selatan. Dan aku akan membuat mereka menanggung semua rasa sakit yang pernah mereka berikan padaku!"

Lin Yue mengangguk pelan, matanya memancarkan persetujuan. "Bagus. Dendam bukan hal yang buruk jika dijadikan api untuk membakar semangatmu. Tapi ingat, kekuatan bukan hanya untuk menghancurkan orang lain. Tapi juga untuk melindungi mereka yang tidak berdaya seperti dirimu hari ini."

Ia mengangkat Shui Ying berdiri. Gadis itu berasal dari Wilayah Selatan — wilayah yang belum pernah disentuh oleh Sekte Surgawi Langit. Hari ini, kehadirannya di sini bukan kebetulan. Ini adalah permulaan. Langkah pertama menuju wilayah selanjutnya.

"Mari pulang," ucap Lin Yue pelan. "Sekte Surgawi Langit kini adalah rumahmu. Dan suatu hari nanti... kita akan kembali ke tanah asalmu bersama-sama."

.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!