Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sukamaju
Keesokan hari nya Doni berangkat menuju rumah pak Wardi. Ia terus bekerja keras bolak balik dari kota ke desanya untuk mengurus koperasi warga desa.
Rumah Pak Wardi sederhana, halamannya penuh jemuran gula aren cetakan yang dibungkus daun pisang kering, aromanya manis khas karamel bercampur asap dapur.
"Silakan duduk, Nak Doni," kata Pak Wardi, menyodorkan segelas teh hangat. "Jadi, ceritanya gimana soal tender ini?"
"Begini, Pak. Perusahaan besar butuh dua ribu kilo gula aren per bulan, kontrak enam bulan. Koperasi kami baru bisa penuhi seribu delapan ratus. Kalau Sukamaju gabung, kita bisa tembus."
"Kapasitas Sukamaju berapa yang Nak Doni butuh?"
"Minimal dua ratus kilo per bulan, Pak. Lebih banyak lebih bagus."
Pak Wardi mikir sebentar, menyeruput tehnya. "Sukamaju bisa produksi sekitar tiga ratus lima puluh kilo sebulan. Tapi ada syarat dari kami."
"Syarat apa, Pak?"
"Harga beli harus sama rata sama anggota koperasi Kenanga, jangan ada bedanya. Terus, kalau ada untung tambahan dari selisih harga jual ke perusahaan, dibagi proporsional, bukan cuma buat Kenanga doang."
Doni manggut-manggut cepat. "Setuju, Pak. Itu memang harus adil."
"Satu lagi. Kami mau ada perwakilan Sukamaju di struktur koperasi, bukan cuma jadi pemasok doang."
Doni sempat diam, mikir teknisnya. "Bisa, Pak. Nanti saya usulkan Bapak jadi wakil ketua koperasi gabungan, atau kita bikin semacam badan kerja sama antar-koperasi. Saya konsultasi dulu sama pendamping kami."
Pak Wardi tersenyum, tampak lega. "Kalau begitu, saya setuju gabung. Kapan mulai jalan?"
"Proposal harus masuk Jumat ini, Pak. Boleh saya minta data produksi detail sekarang?"
"Boleh, tunggu sebentar."
Pak Wardi masuk ke dalam rumah, keluar lagi bawa buku catatan lusuh berisi data produksi anggotanya selama setahun terakhir. Doni menyalin angka-angka itu ke buku catatannya sendiri, tangannya cepat tapi rapi.
"Ini datanya lengkap banget, Pak. Makasih."
"Saya emang rajin catat, Nak. Dulu pernah kena masalah pas jual ke tengkulak, katanya produksi kami kurang padahal kami udah setor banyak. Sejak itu saya catat semua."
"Bagus, Pak. Ini bakal ngebantu banget buat proposal."
Doni pamit sekitar jam tiga sore, motor pinjaman melaju di jalan desa yang berdebu, pikirannya udah lompat ke tahap berikutnya nyusun proposal gabungan dua koperasi buat dikirim ke PT Agro Sejahtera Nusantara.
Malamnya, di rumah, Doni telepon Pak Hardianto.
"Pak, Sukamaju setuju gabung. Tambahan tiga ratus lima puluh kilo per bulan."
"Bagus. Totalnya jadi berapa sekarang?" tanya pak Hardianto di sebrang telepon
"Seribu delapan ratus dari Kenanga, tiga ratus lima puluh dari Sukamaju. Jadi dua ribu seratus lima puluh kilo, Pak."
"Lebih dari cukup. Sekarang kamu tinggal rapikan proposalnya. Kirim draft ke email saya besok pagi, biar saya review sebelum kamu submit."
"Siap, Pak. Terima kasih banyak."
"Satu lagi, Don."
"Iya, Pak?"
"Kamu harus siapin diri buat presentasi kalau memang dipanggil perusahaan. Biasanya tender besar begini ada tahap wawancara, bukan cuma kirim dokumen doang."
Doni menelan ludah. "Presentasi di depan siapa, Pak?"
"Tim pengadaan mereka, mungkin juga manajemen. Kamu harus bisa jelasin koperasi kamu meyakinkan, bukan cuma soal angka produksi, tapi soal komitmen jangka panjang."
"Siap, Pak. Saya latihan mulai sekarang."
Doni menutup telepon, duduk di kursi kamar sambil natap draft proposal yang masih berantakan di layar laptop. Dia buka dokumen baru, mulai nyusun poin-poin buat latihan presentasi meski belum tau pasti bakal dipanggil atau nggak.
"Kenapa, Nak? Kok diem aja dari tadi?" tanya ibunya yang kebetulan lewat depan kamar, bawa cucian yang baru diangkat dari jemuran.
"Lagi mikir, Bu. Minggu ini penting banget buat koperasi."
"Kamu udah kerja keras banget belakangan ini, Nak. Istirahat juga, jangan sampai sakit."
"Iya, Bu. Bentar lagi Doni tidur."
Ibunya tersenyum, ngelus kepala Doni sekilas sebelum lanjut jalan ke dapur. Doni menatap layar laptop lagi, jam udah nunjuk pukul sebelas malam, tapi semangatnya masih menyala entah karena tekanan deadline, entah karena dia beneran mulai jatuh cinta sama proses yang lagi dia jalani, jauh dari sekadar mengejar untung sesaat kayak awal-awal dulu.
Sebelum akhirnya benar-benar tidur, dia sempat menatap langit-langit kamar lama-lama, mikir soal minggu depan yang penuh ketidakpastian bukan cuma soal tender, tapi juga soal seberapa jauh dia bisa berdiri di atas usahanya sendiri tanpa selalu mengandalkan bisikan sistem yang datang tiap tujuh hari sekali.