NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Kamu Nggak Ingat Aku, ya?

“Laras Anjani?”

Suara itu menghantamnya untuk kedua kali.

Tanpa desis radio, tanpa derak hujan, suara Arkan terdengar sedikit lebih dalam. Tetap tenang. Tetap membuat jantung Laras lupa cara berdetak dengan wajar.

Arkan turun dari kursi tinggi dan menatapnya selama dua detik. Tidak ada tanda pengenalan di matanya. Ia hanya memeriksa wajah Laras, lalu mencocokkannya dengan sesuatu di layar ponsel.

“Aku Arkan.”

Seolah Laras mungkin tidak tahu.

Seolah nama lengkap laki-laki itu tidak pernah memenuhi satu buku harian yang ia kunci di dasar laci.

“Iya.” Laras memaksa bibirnya bergerak. “Aku Laras.”

Arkan mengangguk ke kursi di seberangnya. “Duduk?”

Baru saat itulah Laras sadar ia masih berdiri di tengah jalan pelayan. Ia menarik kursi terlalu cepat. Kaki kursi bergesek dengan lantai dan menghasilkan bunyi nyaring yang membuat dua orang di meja sebelah menoleh.

Panas merambat sampai ke telinganya.

Arkan tidak tertawa. Ia menahan sisi meja agar tidak ikut bergeser, lalu menunggu sampai Laras benar-benar duduk.

“Mama kasih fotomu,” katanya. “Tapi fotonya agak lama.”

Laras melirik foto profil WhatsApp yang terbuka di ponsel Arkan. Foto itu diambil Wulan hampir tiga tahun lalu, saat Laras sedang membantu di Kopi Wulan.

“Pantas kamu harus memastikan.”

“Bukan begitu.” Tatapan Arkan kembali ke wajahnya. “Kamu kelihatan lebih muda dari fotonya.”

Laras tak tahu harus menjawab apa. Sepuluh tahun lalu, satu kalimat darinya bisa membuat Laras tersenyum diam-diam selama berhari-hari. Rupanya tubuhnya belum belajar menjadi lebih bijak. Telapak tangannya mulai basah di bawah meja.

Seorang pelayan datang membawa menu.

“Mau pesan apa, Kak?”

“Es latte, tanpa gula,” jawab Laras cepat.

Pelayan itu mengulang pesanannya, lalu menunjuk cangkir di depan Arkan. “Untuk Kakak, tambah americano lagi?”

“Nggak usah. Tolong air mineral satu.” Arkan melirik Laras. “Buat dia.”

“Aku nggak pesan air.”

“Kamu kelihatan butuh.”

Laras menutup mulut. Pelayan itu tersenyum kecil sebelum pergi, membuat panas di telinganya naik satu tingkat.

Arkan menyandarkan punggung. Kemeja hitam yang ia kenakan polos, tetapi jam di pergelangan tangannya dan cara ia duduk membuat tempat itu mendadak terasa terlalu sempit.

“Mama bilang kamu dua puluh delapan.”

“Iya.”

Alis Arkan terangkat tipis. “Kamu udah dua puluh delapan?”

Laras hampir tertawa karena gugup. “Kenapa? Kelihatannya masih anak kuliahan?”

“Aku kira Mama salah kasih umur.”

“Mama jarang salah kalau urusan biodata calon menantu.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arkan bergerak. Bukan senyum penuh, hanya garis tipis yang mengubah wajah dinginnya selama sesaat.

“Berarti kamu juga dipaksa datang?”

“Dibujuk,” koreksi Laras. “Dengan enam pesan dan satu telepon.”

“Aku dapat sembilan pesan.”

“Kamu menang.”

“Bukan kemenangan yang ingin kubanggakan.”

Percakapan kecil itu meredakan sesak di dada Laras. Ia memberanikan diri mengangkat wajah lebih lama. Waktu memang mengubah Arkan. Bahunya lebih lebar, sorot matanya lebih tenang, dan ada ketegasan orang yang terbiasa membuat keputusan tanpa ruang untuk ragu.

Namun, bekas luka tipis dekat alis kirinya masih ada.

Laras mengenali luka itu.

Arkan tidak mengenalinya.

Pertanyaan yang sedari tadi tertahan akhirnya lolos sebelum ia sempat menimbang harga dirinya.

“Kamu nggak ingat aku, ya?”

Arkan berhenti menyentuh cangkir.

“Kita pernah ketemu?”

Ada sesuatu yang jatuh pelan di dalam dada Laras. Ia sudah menduga, tetapi mendengar pertanyaan itu langsung tetap terasa berbeda.

“Kita satu SMA,” katanya. “Satu angkatan.”

Tatapan Arkan menyapu wajahnya sekali lagi. Kali ini lebih lama. Laras melihat ia berusaha menarik suatu ingatan, lalu gagal menemukannya.

“Maaf.”

Hanya satu kata. Jujur dan sopan.

Tetap saja, jari Laras mengerat di pangkuan.

“Nggak apa-apa. Kita memang nggak dekat.”

Ia tidak mengatakan bahwa Arkan pernah berdiri di antara dirinya dan sekelompok orang yang mempermalukannya. Tidak mengatakan bahwa beberapa menit keberanian Arkan hari itu telah menjadi alasan Laras bertahan melewati sisa masa sekolah.

Pelayan datang membawa latte dan air mineral. Laras segera meraih gelas dingin itu, bersyukur punya alasan untuk memutus tatapan.

“Sekarang kerja di mana?” tanya Arkan.

“AirNav Indonesia.”

“Bagian?”

“Jakarta Approach. Aku controller.”

Ada ketertarikan tipis di mata Arkan, kali ini nyata.

“Pantas.”

“Pantas apa?”

“Cara kamu jawab pendek-pendek.”

Laras hampir tersedak air.

Arkan mengambil tisu dari kotak dan menggesernya ke seberang meja. “Aku pilot di Angkasa Nusantara. Kapten A330.”

Aku tahu.

Kata-kata itu sudah sampai di ujung lidah, tetapi Laras menggigit bagian dalam pipinya.

Ia tahu Arkan masuk sekolah penerbangan di luar negeri. Ia tahu kapan laki-laki itu kembali ke Indonesia. Ia tahu foto pertamanya dengan empat garis di pundak seragam pernah beredar di grup angkatan. Bahkan tanpa sengaja, ia baru mengetahui penerbangan Arkan semalam, setelah suara di frekuensi dan sosok di depannya menyatu menjadi satu orang.

Namun, Laras hanya berkata, “Berarti pekerjaan kita kadang bersinggungan.”

“Mungkin kita pernah bicara di frekuensi.”

Jari Laras tergelincir di permukaan gelas yang berembun.

Semalam.

Aku yang memasukkanmu ke celah badai semalam.

Aku memilih pekerjaan ini karena dulu aku terlalu takut terbang, tetapi masih ingin berada di langit yang sama denganmu.

Tiga pengakuan itu berdesakan di belakang giginya. Tak satu pun keluar.

“Mungkin,” jawabnya akhirnya.

Arkan tidak mengejar. Ia bertanya tentang jam kerja, dan Laras menjelaskan singkat tentang sistem shift. Sebagai gantinya, Arkan bercerita bahwa jadwal terbang membuatnya lebih sering melihat matahari terbit dari kokpit daripada dari rumah. Mereka bicara hampir setengah jam, cukup sopan untuk disebut berhasil, terlalu berjarak untuk disebut dekat.

Namun, beberapa kali Laras menangkap Arkan menatapnya seperti sedang mencari potongan ingatan yang hilang.

Ketika kopi Laras tinggal separuh, Arkan melihat jam.

“Aku harus pergi.”

“Oh. Iya.”

Ia berdiri, tetapi tidak langsung mengambil kunci mobil. “Boleh minta WhatsApp kamu?”

Laras menatapnya. “Mama kita belum saling memberikan nomor?”

“Sudah.” Arkan mengangkat ponsel. “Tapi kalau aku langsung chat dari nomor yang dikasih Mama, rasanya aneh.”

“Sekarang nggak aneh?”

Sudut bibirnya bergerak lagi. “Sekarang aku minta sendiri.”

Laras menyebutkan nomornya. Notifikasi masuk beberapa detik kemudian.

Arkan:

Arkan.

Hanya itu. Bahkan pesan pertamanya sehemat cara ia bicara.

“Instagram?” tanyanya.

Laras memberikan akun miliknya, lalu menerima permintaan mengikuti dari akun yang dipenuhi foto langit, kokpit, dan seragam putih dengan empat garis di pundak.

“Biar kalau Mama tanya, kita punya bukti sudah berusaha,” kata Arkan.

Kalimat itu seharusnya membuat semuanya kembali biasa. Sebuah pertemuan karena dua ibu memaksa. Satu kontak baru yang mungkin tak akan pernah dipakai.

Laras tersenyum setipis mungkin. “Tentu.”

Arkan pergi setelah membayar kedua pesanan. Laras menatap punggungnya melewati pintu kaca sampai sosok itu hilang di antara kendaraan.

Baru sesudahnya ia mengembuskan napas panjang.

Sepuluh tahun, dan Arkan bahkan tidak ingat mereka pernah berada di sekolah yang sama.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Bukan pesan dari Arkan.

Seratus tiga puluh tujuh notifikasi muncul dari grup WhatsApp angkatan yang sudah berbulan-bulan ia bisukan.

REUNI SABTU!

Yang ganteng-ganteng wajib dateng 😏

Pesan berikutnya dipenuhi tag.

@Tiara

@Sherly

@Vina

Tiga nama itu menyala di layar seperti pintu lama yang baru saja ditendang terbuka.

Jari Laras mendadak dingin.

Lalu panas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!