NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Tim Elit

Ruang kerja rahasia itu tidak besar.

Tapi udara di dalamnya berat.

Di atas meja panjang, lima map hitam tersusun rapi. Di dinding, layar besar menampilkan beberapa nama perusahaan, rekening, jalur kepemilikan saham, dan foto-foto wajah yang selama ini hanya muncul sebagai bayangan di balik masalah.

Hendry berdiri di ujung meja.

Bagus berdiri di sisi kiri, tangan bersedekap, tubuhnya seperti tembok yang siap menahan siapa pun.

Rizal Suryadi duduk dengan tenang. Kemeja putihnya bersih, kacamatanya tipis, jari-jarinya menyentuh map hitam seperti menyentuh pisau yang belum dikeluarkan dari sarungnya.

Dimas Kurniawan duduk di sisi lain, laptop sudah menyala. Rambutnya masih berantakan seperti biasa, tetapi matanya tajam menatap layar.

Cynthia Wulandari datang terakhir.

Ia mengenakan setelan abu-abu gelap, membawa tablet dan beberapa laporan keuangan. Wajahnya tenang. Bagi orang luar, ia terlihat seperti eksekutif bank biasa.

Hendry tahu, perempuan ini bisa membuat harga saham satu perusahaan jatuh hanya dengan tiga panggilan telepon yang tepat.

Di layar, wajah Adrian Chandra muncul dari panggilan video.

"Pak Hendry," kata Adrian dari seberang sana, "saya sudah online."

Hendry mengangguk.

"Hari ini kita tidak bicara sebagai orang-orang terpisah."

Semua mata tertuju kepadanya.

"Mulai hari ini, kalian adalah tim inti saya."

Ruangan itu hening.

Keheningan itu lahir dari rasa hormat yang terlambat datang.

Hening karena semua orang mengerti, kalimat itu berarti jalan di depan tidak lagi kecil.

Hendry menunjuk Bagus.

"Bagus, kamu tetap bertanggung jawab atas keamanan dekat. Aku, Jessica, Daun, dan rumah. Kalau ada ancaman fisik yang mendekat, kamu orang pertama yang bergerak."

Bagus menepuk dada.

"Siap, Pak. Selama saya masih berdiri, tidak ada orang bisa menyentuh keluarga Pak Hendry."

Hendry menoleh ke Rizal.

"Rizal, kamu pegang intel lapangan, penyusupan, pengawasan orang, dan operasi khusus. Kamu bergerak di tempat yang tidak boleh disentuh dokumen resmi."

Rizal menunduk singkat.

"Saya mengerti."

Pendek.

Dingin.

Seperti laporan yang sudah selesai sebelum diminta.

Hendry menatap Dimas.

"Dimas, kamu pegang perang informasi. CCTV, data, jejak digital, komunikasi, semua titik buta. Aku tidak mau ada kejadian seperti van palsu itu terulang tanpa kita tahu lebih dulu."

Dimas mengangkat dua jari.

"Mode senyap. Saya tutup semua blind spot. Kalau mereka pakai kamera, saya lihat. Kalau mereka pakai ponsel, saya dengar jejaknya. Kalau mereka pakai Wi-Fi gratis, itu malah penghinaan buat saya."

Cynthia meliriknya.

"Kamu selalu bicara seperti kurang tidur."

Dimas menghela napas.

"Bu Cynthia, itu bukan gaya bicara. Itu kondisi hidup."

Bagus tertawa pelan.

Ketegangan di ruangan mencair sedikit.

Hendry lalu menatap Cynthia.

"Cynthia, kamu pegang dana, struktur investasi, dan serangan finansial. PT Megah Sentosa hanya permulaan."

Cynthia membuka tabletnya. Grafik merah dan hijau muncul di layar besar.

"Dana likuid yang bisa digerakkan saat ini sudah masuk skala beberapa ratus miliar rupiah. Tidak semuanya harus muncul atas nama satu entitas. Kita bisa pecah lewat beberapa rekening, broker, dan kendaraan investasi."

Ia menggeser layar.

"Untuk perusahaan menengah yang terlalu percaya diri, ini cukup untuk membuat harga saham mereka gemetar."

Adrian tersenyum tipis dari layar.

"Dari sisi legal dan komersial, saya sudah siapkan beberapa lapisan kontrak. Tidak ada garis yang langsung menunjuk ke Pak Hendry."

Hendry mengangguk.

"Bagus."

Ia mengambil spidol dan menggambar dua garis besar di papan kaca.

Di kiri tertulis: PT Timur Jaya Group.

Di kanan tertulis: PT Surya Abadi Group.

"PT Timur Jaya akan menjadi wajah yang terlihat. Ekspansi terbuka, kontrak, proyek, pinjaman, kerja sama, semua yang bisa dilihat pasar."

Ia mengetuk nama itu.

"Cynthia mengendalikan arus keuangannya. Adrian membantu struktur bisnis dan legalnya."

Lalu ia mengetuk nama kedua.

"PT Surya Abadi tetap di belakang layar. Aku tidak mau nama ini muncul terlalu sering. Ia bergerak untuk akuisisi, penyangga modal, dan tekanan besar saat dibutuhkan."

Mata Adrian berubah serius.

"Jadi dua mesin berjalan bersamaan."

"Benar," kata Hendry. "Satu mesin membuat orang melihat kita tumbuh. Satu mesin membuat musuh tidak tahu dari mana pukulan datang."

Rizal mengangkat kepala.

"Kalau dua mesin itu bergerak, musuh akan mencari sumber kekuatan Pak Hendry."

"Biarkan mereka mencari."

Suara Hendry datar.

"Selama mereka sibuk mencari, kita sudah mengambil tanah di bawah kaki mereka."

Cynthia menatap Hendry beberapa detik.

Lalu ia tersenyum.

"Kalimat itu mahal. Saya suka."

Bagus menggaruk kepala.

"Saya kurang paham soal saham dan tanah di bawah kaki. Tapi kalau ada orang datang marah-marah, saya paham."

Rizal menoleh kepadanya.

"Kamu memang harus paham bagian itu."

Bagus menyipitkan mata.

"Kakak Rizal, sejak kemarin saya penasaran."

Dimas langsung mengangkat wajah dari laptop.

"Wah. Ini bagian yang saya tunggu."

Bagus maju selangkah.

"Budiman bilang Kakak kuat. Saya ingin tahu seberapa kuat."

Rizal melepas kacamatanya.

Gerakannya pelan.

Sangat pelan sampai ruangan terasa makin sunyi.

"Di sini?"

Bagus tersenyum.

"Tiga jurus saja. Latihan."

Hendry tidak melarang.

Ia juga ingin melihat bagaimana dua tangan kanannya akan membaca satu sama lain.

Mereka berdiri di ruang kosong dekat dinding.

Bagus mengambil posisi.

Tubuhnya besar, napasnya stabil, telapak kakinya menekan lantai dengan tenaga yang bisa membuat orang biasa mundur sebelum dipukul.

Rizal berdiri santai.

Terlalu santai.

Dimas berbisik, "Saya rekam untuk bahan pelatihan?"

Cynthia berkata tanpa melihatnya, "Jangan cari masalah."

Dimas menutup kamera laptopnya dengan jari.

Bagus bergerak dulu.

Pukulan lurus.

Cepat.

Berat.

Namun Rizal hanya memiringkan bahu setengah jengkal. Jari kirinya menyentuh pergelangan Bagus. Tubuh Bagus tiba-tiba kehilangan arah, seperti tenaga besarnya ditarik keluar dari jalurnya.

Jurus pertama.

Bagus menahan langkah, lalu menyapu dari samping.

Rizal masuk lebih dekat, bukan menjauh. Siku Bagus belum sempat turun, dua jari Rizal sudah berhenti tepat di tulang rusuknya.

Kalau itu pisau, Bagus sudah terluka.

Jurus kedua.

Mata Bagus berubah serius.

Ia maju dengan bahu, bukan tangan. Tekanan tubuhnya seperti pintu besi yang didorong paksa.

Kali ini Rizal bergerak lebih cepat.

Tumitnya memutar, telapak tangannya menekan leher Bagus dari sisi luar, lututnya berhenti satu sentimeter di depan paha Bagus.

Bagus membeku.

Jika Rizal melanjutkan, tubuh besar itu akan jatuh.

Jurus ketiga.

Ruangan langsung sunyi.

Bagus menurunkan tangan.

Lalu ia tertawa.

"Kakak, kamu lebih kuat."

Rizal memakai kacamatanya kembali.

"Kamu kuat. Tenagamu bersih. Tapi kamu terlalu jujur."

Bagus mengangguk tanpa tersinggung.

"Kalau begitu ajari saya cara tidak terlalu jujur."

Dimas tidak tahan.

"Pak Bagus, kalimat itu bahaya kalau keluar di pengadilan."

Kali ini Cynthia ikut tersenyum tipis.

Hendry melihat mereka.

Bagus yang setia.

Rizal yang tajam.

Dimas yang menyebalkan tapi berguna.

Cynthia yang mampu menggerakkan uang seperti arus bawah laut.

Adrian yang membangun jalur hukum dan bisnis dari balik layar.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Kota Biru, Hendry tidak hanya punya kartu.

Ia punya meja sendiri.

"Mulai sekarang," kata Hendry, "semua ancaman terhadap keluargaku dan perusahaanku masuk ke satu sistem. Tidak ada lagi bergerak sendiri-sendiri."

Rizal mengangguk.

"Saya akan buat daftar prioritas ancaman."

Dimas mengetik cepat.

"Saya buka dashboard internal. Akses terbatas. Pak Bagus dapat versi tombol besar saja."

Bagus menatapnya.

"Maksudmu?"

"Supaya mudah dipakai."

"Oh."

Hendry hampir tersenyum.

Saat itu, ponselnya bergetar.

Nama Jessica muncul di layar.

Hendry mengangkat.

"Jessica?"

Di seberang sana terdengar suara pecah. Napasnya panik. Ada suara orang menangis, kaca diinjak, dan seseorang berteriak minta kotak P3K.

"Hendry..."

Hendry berdiri tegak.

Senyum kecil di ruangan langsung hilang.

"Apa yang terjadi?"

Jessica menahan tangis.

"Kantor... kantor PT Daun Kreasi dihancurkan. Mereka masuk ramai-ramai. Komputer dipecahkan, meja dibalik, dua staf terluka..."

Suara Jessica bergetar makin keras.

"Aku tidak tahu mereka siapa. Mereka bilang... ini pelajaran karena kami berani mengambil proyek orang."

Mata Hendry menjadi dingin.

Sangat dingin.

Bagus sudah mengambil jaketnya.

Rizal menutup map hitam.

Dimas langsung membuka peta kota di layar.

Cynthia menatap Hendry, menunggu perintah.

Hendry berkata pelan ke telepon, "Jangan sentuh apa pun. Tenangkan staf. Aku ke sana sekarang."

"Hendry..."

"Aku datang."

Ia menutup telepon.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada amarah yang meledak.

Justru karena itu, udara di ruang kerja terasa makin menekan.

Hendry mengambil kunci mobil.

"Rizal."

"Siap."

"Bagus."

"Siap, Pak."

Hendry berjalan menuju pintu.

"Ikut aku."

Di belakangnya, layar besar masih menampilkan dua nama perusahaan.

PT Timur Jaya.

PT Surya Abadi.

Tapi perang pertama tim elit itu bukan dimulai di ruang rapat.

Perang itu dimulai dari kantor kecil istrinya yang dihancurkan orang.

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!