NovelToon NovelToon
Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
​Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Benteng Besi dan Mekanik Eksentrik

​Langit di atas kawasan Industri Guro berwarna abu-abu pekat, tertutup oleh asap hasil pembakaran sisa-sisa oli dan logam yang meletup di kejauhan. Begitu panggung bayangan Han Do-Yoon melambat dan mendarat di atap sebuah gedung pabrik yang sudah separuh hancur, bau logam yang menyengat langsung menusuk hidung.

​Tidak seperti kawasan lainnya yang dipenuhi monster buas liar, tempat ini tertata secara aneh. Pipa-pipa besi raksasa yang seharusnya terkubur di bawah tanah kini menjulang di permukaan, membentuk labirin logam yang rumit.

​"Selamat datang di 'Kandang Besi'," gumam Do-Yoon, menatap ke bawah.

​Di lapangan luas antar pabrik, ratusan Goblin Logam berpatroli. Kulit mereka tidaklah hijau seperti goblin pada umumnya, melainkan berwarna perak gelap, berkilau seperti baja yang dipoles. Saat mereka bergerak, terdengar suara denting logam yang beradu—sebuah harmoni yang mengerikan.

​Yoo Ji-Ah menarik pedangnya. Saat ujung pedang itu tak sengaja menyentuh pagar besi di atap, ia bisa merasakan kepadatan logam yang tidak wajar. "Kulit mereka benar-benar terbuat dari logam?"

​"Mereka memakan besi, baja, dan kabel listrik dari sisa peradaban kita," jawab Do-Yoon. "Itu membuat kulit mereka memiliki resistensi tinggi terhadap tebasan pedang biasa. Kecuali kau menggunakan energi sihir murni dalam jumlah besar untuk memanaskan logam mereka, atau memiliki senjata dengan atribut penembus zirah, pedangmu hanya akan memantul."

​"Jadi, kita harus bertarung dalam jarak dekat?" Baek Hyun-Woo memutar busurnya, matanya memindai kerumunan Goblin itu dengan naluri pembunuh yang terasah.

​"Tidak perlu," Do-Yoon menunjuk ke arah pusat pabrik utama yang bangunannya paling kokoh. Di sana, terdapat antena parabola raksasa yang dipenuhi oleh ribuan kabel yang menjuntai. "Itu adalah pusat kendali feromon. Jika kita menghancurkannya, Goblin-Goblin itu akan kehilangan kendali dan saling serang. Namun, tentu saja, ada ratusan goblin yang menjaga gerbang utama."

​"Ketua," sela Hyun-Woo dengan nada usil. "Aku adalah pembunuh, bukan tentara yang menyerbu gerbang depan. Apa tidak ada cara yang lebih... sunyi?"

​"Ada," Do-Yoon mengangguk. "Hyun-Woo, kau cari titik buta di gedung sebelah kiri. Gunakan keahlian panah bayanganmu untuk menjatuhkan mesin-mesin penghasil feromon yang tersebar di sepanjang tembok. Ji-Ah, kau melindunginya. Jika ada goblin yang naik ke sana, cincang mereka. Aku akan masuk melalui gerbang utama."

​"Seorang diri?" Ji-Ah terbelalak. "Ada ratusan goblin di bawah sana!"

​Do-Yoon hanya tersenyum tipis. "Mereka bukan masalah. Masalah sebenarnya adalah orang yang berada di dalam pabrik itu. Dia adalah tipe yang tidak akan mendengarkan pembicaraan sebelum salah satu mainannya hancur total."

​Tanpa menunggu bantahan, Do-Yoon melompat dari atap gedung, terjun bebas ke tengah-tengah kawanan Goblin Logam.

​BUM!

​Pendaratannya menciptakan gelombang kejut yang membuat lantai beton retak. Suara dentuman itu memicu peringatan instan. Ratusan Goblin Logam yang tadinya berpatroli dengan tenang mendongak secara serentak. Mata merah mereka menyala di tengah wajah baja yang tanpa ekspresi.

​KREEEEKKK!

​Mereka mengeluarkan suara lengkingan nyaring, lalu menyerbu Do-Yoon bagaikan arus baja cair.

​Do-Yoon berdiri diam di tengah kepungan, tangannya santai di saku. Saat Goblin pertama melompat untuk menebaskan cakar logamnya ke arah leher Do-Yoon, pria itu tidak menghindar.

​Ia mengangkat telapak kirinya, dan seketika sebuah tangan bayangan raksasa terbentuk di udara, mencengkeram tubuh Goblin itu hingga hancur menjadi serpihan logam yang bengkok.

​"Pusaran Ketiadaan," bisik Do-Yoon.

​Gelombang hitam pekat meledak dari kakinya, meluas hingga radius sepuluh meter. Goblin-Goblin yang terperangkap di dalam lingkaran bayangan itu mendadak kehilangan kekuatan mereka. Mereka yang tadinya lincah kini bergerak lambat, seolah tubuh baja mereka tiba-tiba berubah menjadi timah cair yang berat.

​Do-Yoon berjalan di tengah-tengah badai logam tersebut. Ia tidak menggunakan pedang. Ia hanya menggunakan telapak tangannya untuk menepis, meremas, dan menghancurkan tubuh-tubuh goblin yang kehilangan struktur logamnya karena terserap energi Ketiadaan.

​Ia bergerak bukan seperti petarung, melainkan seperti seorang seniman yang sedang merobek kertas.

​Di tribun jauh, Baek Hyun-Woo terpaku melihat pemandangan itu. "Dia tidak bertarung... dia sedang memanen mereka."

​"Fokus pada tugasmu, Hyun-Woo!" tegur Ji-Ah, meski matanya sendiri tak bisa berpaling dari kekejaman efisiensi Do-Yoon di bawah sana.

​Hyun-Woo tersadar, segera mengangkat busurnya dan membidik mesin-mesin feromon di tembok pabrik. Dengan keakuratan yang mematikan, anak panah bayangannya melesat, meledakkan mesin-mesin penghasil frekuensi tersebut satu per satu.

​Seketika, kekacauan terjadi. Goblin-Goblin di bawah kehilangan sinyal kendali. Mereka mulai saling serang, menggigit satu sama lain, dan mengabaikan Do-Yoon yang kini sudah mencapai pintu utama pabrik.

​Pintu besi besar setebal sepuluh sentimeter itu terkunci rapat dengan sistem keamanan manual dan elektronik.

​Do-Yoon menempelkan telapak tangannya pada pintu besi tersebut. Alih-alih membukanya, ia membiarkan energi Ketiadaan-nya masuk ke dalam sistem pengunci. Mekanisme gir, kabel, dan kunci elektromagnetik di dalam pintu itu hancur menjadi bubuk besi dalam sekejap.

​Pintu terbuka dengan suara mendesing.

​Di dalam, ruangan pabrik itu sangat luas, penuh dengan kabel, monitor raksasa, dan tumpukan mesin yang sedang dirakit. Di tengah-tengah ruangan, duduk seorang pria dengan kacamata tebal, mengenakan setelan montir yang penuh noda oli. Ia sedang sibuk menyolder sebuah lengan robot raksasa.

​Pria itu adalah Kwak Min-Soo. Ia tidak menoleh meski pintu besi yang terkunci rapat telah hancur.

​"Kau merusak sistem pengunci pintu yang kubuat tiga jam lalu," gumam Min-Soo tanpa melepaskan obor las-nya. "Itu adalah sistem keamanan berbasis frekuensi resonansi logam. Kau tidak mungkin membukanya dengan kekuatan kasar kecuali kau memiliki alat dekripsi yang sangat spesifik."

​Min-Soo meletakkan obor las-nya, lalu berbalik. Wajahnya yang muda namun tampak lelah menatap Do-Yoon dengan tatapan dingin.

​"Kau bukan goblin, dan kau bukan salah satu dari anak buahku," lanjut Min-Soo. Ia menyentuh tombol di mejanya, dan seketika, empat buah Drone tempur kecil yang dilengkapi dengan moncong senjata api ringan melayang turun dari langit-langit, mengunci target pada dada Do-Yoon.

​"Jelaskan maksud kunjunganmu sebelum aku membuat tubuhmu menjadi bagian dari proyek lenganku yang baru," ucap Min-Soo tenang.

​Do-Yoon melangkah masuk, mengabaikan empat moncong senjata yang mengarah padanya. "Proyek lengan robot yang bagus, Kwak Min-Soo. Tapi apakah kau sadar bahwa penggunaan energi dari baterai standar di dunia ini akan membuat lengan itu berhenti berfungsi dalam sepuluh menit saat melawan monster Tingkat C?"

​Min-Soo tertegun. "Bagaimana kau tahu aku menggunakan baterai standar?"

​Do-Yoon mengeluarkan sebuah Inti Sihir (Magic Core) dari ranselnya—Inti milik Raksasa Daging Mutan yang ia simpan sebelumnya—dan melemparnya ke atas meja Min-Soo. Inti itu memancarkan energi sihir murni yang jauh lebih kuat dari baterai mana pun.

​"Aku datang bukan untuk membunuhmu," Do-Yoon menatap lurus ke mata pria mekanik itu. "Aku datang untuk memberimu bahan bakar yang layak bagi ambisimu, dan sebuah kerajaan untuk kau bangun. Kwak Min-Soo, aku tidak butuh mekanik yang merakit lengan robot di gudang. Aku butuh seorang arsitek yang bisa membangun benteng dan mesin perang yang akan mengubah sejarah kiamat ini."

​Min-Soo memandang inti sihir di mejanya, lalu memandang Do-Yoon. Ia seorang jenius yang egois, namun ia juga seorang pria yang haus akan sumber daya.

​"Siapa kau?"

​"Han Do-Yoon. Ketua Serikat Ketiadaan."

​"Dan apa yang harus kulakukan?"

​"Hancurkan drone mainan itu, kemasi seluruh peralatanmu," Do-Yoon melirik ke arah luar pabrik yang kini penuh dengan suara goblin yang saling membantai. "Dan bantu aku membangun sesuatu yang bisa meruntuhkan kota ini, jika perlu."

​Min-Soo menatap layar monitornya, melihat Do-Yoon yang berjalan santai tanpa senjata. Ia sadar, pria ini tidak sedang bercanda. Dengan senyum eksentrik yang perlahan muncul di wajahnya, Min-Soo menekan tombol off pada remote dronenya.

​"Aku Kwak Min-Soo. Dan aku benci merakit lengan robot kecil," ucapnya. "Jika kau punya sumber daya yang lebih besar dari inti sihir itu, aku akan mengikuti setiap perintahmu."

​[Pemain 'Han Do-Yoon' mengundang Anda untuk bergabung dengan Serikat 'Ketiadaan'.]

[Apakah Anda menerima?]

​Min-Soo menekan 'Ya'. Target terakhir telah diamankan.

1
Alia Chans
Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!