NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Tiga Hari Menuju Puncak Bukit dan Cahaya yang Menanti di Ujung Senja

Waktu seakan berjalan semakin lambat, namun setiap detiknya terasa begitu berat seolah memikul beban yang tak tampak. Sisa tiga hari itu berlalu dalam keheningan yang penuh ketegangan. Kami tidak pergi ke mana-mana, tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi yang kini terasa begitu jauh maknanya. Sebaliknya, kami menghabiskan waktu bersama menyusuri setiap sudut rumah yang penuh kenangan, duduk bersama keluarga tanpa menyampaikan kekhawatiran agar mereka tidak cemas, dan memastikan bahwa setiap orang yang kami sayangi berada di tempat yang paling aman jauh dari jangkauan bahaya yang akan datang.

Hari pertama berlalu dengan perbincangan yang tulus namun penuh makna mendalam. Erlan bercerita tentang masa kecilnya yang sepi, tentang bagaimana ia selalu merasa hidup sendirian di tengah kemewahan hingga aku hadir bagaikan secercah cahaya yang tak pernah ia sanggup lepaskan. Aku pun bercerita tentang rasa takut yang selalu menghantamku setiap kali hujan turun, tentang bayangan kematian yang terus mengikutiku hingga aku menyadari bahwa ketakutan terbesarku bukanlah kehilangan nyawa, melainkan kehilangan kesempatan untuk hidup berdampingan dengannya. Kami saling berjanji bahwa apa pun yang terjadi di puncak bukit nanti, kami tidak akan pernah menyesal telah memilih jalan ini, jalan yang penuh risiko namun juga penuh kasih sayang yang tulus.

Hari kedua diisi dengan menelusuri kembali catatan-catatan kuno yang tersisa, berharap menemukan secercah harapan lain yang belum terungkap. Namun semakin kami membaca, semakin kami menyadari satu kenyataan pahit, sejak ribuan tahun lalu, tidak ada satu pun pasangan yang berhasil menentang hukum alam itu. Setiap kali ada yang berani mengubah jalannya waktu, maka penebusan selalu sama keberadaan mereka dihapus dari sejarah seolah tak pernah ada. Namun di antara baris terakhir catatan kakek Erlan, tertulis satu kalimat samar yang memberi secercah harapan: "Jika dua hati menyatu sepenuhnya tanpa ada sedikit pun keraguan atau kepura-puraan, maka hukum alam pun bisa diubah. Karena kekuatan yang melahirkan waktu itu sendiri, pada hakikatnya lahir dari kasih sayang yang tak terpisahkan."

Kalimat itu kami pegang erat bagaikan jangkar di tengah lautan badai. Itulah satu-satunya senjata yang kami miliki saat melangkah menuju hari ketiga.

Hari ketiga tiba dengan langit yang kelabu namun tanpa hujan. Angin berhembus kencang dari arah bukit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering seolah memperingatkan kami bahwa ini adalah hari penentu segalanya. Saat matahari mulai condong ke barat, kami bertiga berangkat menuju puncak bukit tempat rumah tua itu berdiri megah namun suram menyambut kedatangan kami. Dimas menunggu di bawah pohon beringin raksasa di halaman sebagai pengawas dan penolong jika sesuatu yang tak terduga terjadi, sementara aku dan Erlan melangkah beriringan menuju ruangan tempat meja batu besar itu berdiri menanti kami.

Di dalam ruangan itu, suasana terasa berbeda dari biasanya. Cahaya matahari sore yang menembus celah jendela membentuk garis-garis keemasan yang jatuh tepat di atas permukaan meja batu. Liontin dan cincin yang tergantung menyatu di dadaku mulai terasa hangat, lalu perlahan memancarkan cahaya terang yang menyilaukan mata. Saat kami berdiri berdampingan di hadapan meja batu itu, suara lantang namun tenang bergema di seluruh ruangan bukan suara manusia, melainkan suara yang seolah datang dari segala arah sekaligus.

"Kalian telah melanggar hukum alam dengan mengubah takdir yang telah ditetapkan sejak awal. Kalian telah menciptakan jalur waktu yang seharusnya tidak pernah ada. Kini tibalah saatnya penebusan. Pilihlah: serahkan keberadaan kalian agar dikembalikan ke tempat asalnya, dan dunia akan kembali seimbang. Atau tetaplah berada di sini, namun saksikan perlahan-lahan kehancuran menyelimuti segala sesuatu yang kalian sayangi."

Suara itu terdengar begitu mutlak, seolah tak ada ruang bagi penolakan atau perdebatan. Erlan menggenggam tanganku erat, lalu melangkah selangkah lebih maju namun tetap tidak melepaskan genggamanku. Suaranya terdengar tenang namun penuh keyakinan yang tak tergoyahkan:

"Kami tidak menolak penebusan," ucapnya lantang. "Namun kami tidak percaya bahwa kasih sayang yang tulus justru menjadi dosa yang harus dihukum dengan penghapusan keberadaan kami. Kami kembali ke masa lalu bukan karena haus kekuasaan atau ingin menguasai waktu. Kami kembali demi menyelamatkan nyawa orang-orang yang kami cintai, demi memperbaiki ketidakadilan yang ditanam oleh keserakahan hati yang gelap. Jika hukum alam menuntut keadilan, maka hukumanlah keserakahan dan kejahatan itu, bukan kasih sayang yang tulus dan pengorbanan yang ikhlas!"

Cahaya di atas meja batu itu berkedip-kedip seolah terguncang oleh perkataannya. Suara itu kembali terdengar, kali ini dengan nada yang sedikit berubah: "Namun keseimbangan harus tetap dijaga. Apa yang diambil harus dikembalikan. Itu adalah hukum yang tak dapat diubah sejak terciptanya alam semesta ini."

"Kami tidak meminta agar keseimbangan itu dihilangkan," jawabku berani melangkah berdiri di samping Erlan, suaraku bergetar namun tegas. "Kami hanya meminta agar keseimbangan itu diukur dengan timbangan yang adil. Jika nyawa yang diselamatkan dan kebaikan yang ditegakkan lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan, mengapa kebaikanlah yang harus dikorbankan? Jika memang harus ada yang dikembalikan, maka ambillah apa yang menjadi milik waktu—ambil kembali kemampuan kami mengingat masa lalu, ambillah kembali kekuatan yang ada pada benda ini. Tapi biarkan kami tetap hidup sebagai manusia biasa yang tidak tahu apa-apa, hanya agar kami bisa menebus kesalahan kami dengan cara yang benar: hidup sederhana, menjaga kedamaian, dan mencintai sesama tanpa memandang waktu maupun takdir."

Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Angin di luar berhenti bertiup seketika. Cahaya dari liontin dan cincin itu perlahan berubah warna dari keemasan menjadi putih bersih yang lembut namun menyejukkan hati. Perlahan, tulisan baru muncul di permukaan meja batu itu, tertulis dengan huruf-huruf bercahaya:

"Ketulusan hati yang menyatu ternyata mampu melunakkan hukum yang keras. Kalian membuktikan bahwa kasih sayang bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang mampu menembus batas waktu itu sendiri. Maka terimalah penebusan yang bukan berupa kehancuran, melainkan pengembalian ke tempat yang semestinya."

Cahaya itu perlahan terbang meninggalkan dadaku, menyatu ke dalam meja batu hingga benda-benda pusaka itu kembali menjadi batu dan logam biasa yang tak bercahaya lagi. Segala ingatan tentang masa depan yang kualami, segala pengetahuan tentang kejadian yang belum terjadi... perlahan-lahan memudar dari ingatanku seolah kabut yang terhapus oleh sinar matahari. Aku menatap Erlan di sampingku, dan aku melihat matanya yang sedari tadi penuh ketegangan kini perlahan melembut seiring hilangnya pula ingatan-ingatan masa lalu darinya. Namun satu hal yang tidak hilang—perasaan mendalam yang terpatri di matanya saat menatapku, perasaan yang seakan berkata: meski aku tak ingat lagi dari mana kita bermula, hatiku tetap mengenalimu sebagai separuh jiwaku.

Kami kehilangan segala pengetahuan tentang masa depan, kemampuan mengubah waktu, dan kekuatan luar biasa yang pernah kami miliki. Namun kami tidak kehilangan satu sama lain. Kami tetap hidup, tetap berdiri berdampingan, dan tetap memiliki kesempatan untuk membangun masa depan, kali ini dengan tangan kami sendiri, tanpa bantuan kekuatan apa pun selain kasih sayang dan ketulusan hati kami berdua.

Saat kami berjalan keluar dari rumah tua itu menuju senja yang mulai meredup, Dimas menyambut kami dengan tatapan bingung namun lega. Dia tidak bertanya apa yang terjadi, karena dia melihat perubahan pada kami, kami tampak lebih tenang, lebih ringan, seolah beban berat yang memikul pundak kami selama ini telah diangkat sepenuhnya.

Di perjalanan pulang, saat matahari benar-benar terbenam dan langit mulai gelap, Erlan menggenggam tanganku erat seolah dia merasa harus melindungiku namun tak tahu alasannya. Dia menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum lembut, senyum yang begitu tulus dan menenangkan.

"Aku merasa seolah-olah aku sudah mengenalmu sejak lama sekali," ucapnya pelan, suaranya penuh keheranan namun juga penuh kehangatan. "Seolah-olah kita pernah berjalan bersama melewati banyak hal berat sebelum akhirnya bisa berdiri berdampingan seperti saat ini. Tapi aku tidak bisa mengingat kapan atau di mana. Yang aku tahu... melihatmu berdiri di sampingku membuatku merasa utuh kembali."

Air mata mengalir di pipiku, namun kali ini air mata itu adalah air mata kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam. Aku tidak bisa mengingat semuanya juga. Namun hatiku tahu satu hal yang paling penting: meski takdir mengambil kembali ingatan dan kekuatan kami, ia tidak pernah sekalipun berhasil mengambil kembali kasih sayang yang tumbuh di antara hati kami. Dan itulah kemenangan terbesar kami bahwa cinta kami tidak pernah bergantung pada waktu, pada ingatan, maupun pada kekuatan apa pun di dunia ini. Cinta kami ada, dan itu sudah cukup.

Sejak hari itu, tidak ada lagi istri rahasia, tidak ada lagi bos yang menyembunyikan perasaan, dan tidak ada lagi perjalanan melintasi waktu. Yang tersisa hanyalah dua hati yang saling melengkapi, berjanji untuk melangkah menuju masa depan yang baru bersama-sama, selamanya...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!