Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Yang Sesungguhnya
Gudang tua di Sektor 7 telah diamankan. Sang dalang peretasan beserta tumpukan flashdrive data akhirnya dibawa ke Markas Pusat Mechabest menggunakan helikopter angkut khusus.
Di Ruang Komando Utama, Teh Caca berdiri bersedekap dada di depan Yasing, Maul, dan Bang Pasya. Meskipun misinya sukses besar dan sang peretas berhasil ditangkap, ekspresi Teh Caca tampak antara pengen marah dan pengen nepok jidat.
"Sukses sih sukses..." Teh Caca menunjuk layar monitor yang menampilkan rekaman kondisi gudang yang hancur berantakan. "Tapi gerbang besi melayang, dinding bolong, plus cat racun warna-warni di mana-mana... Ini kalian nangkap peretas atau lagi kerja bakti merobohkan bangunan, sih?!"
Bang Pasya langsung berdiri tegap, merapikan kerudung taktis Teh Caca yang agak miring dengan gaya sok manis. "Tenang, Ca... Yang penting kan dalangnya dapet. Soal bangunan hancur, kan kata lu kemarin Mechabest kaya?"
"Iya Teh! Lagi pula itu kan gaya penyerbuan yang berestetika tinggi!" timpal Yasing penuh semangat tanpa rasa dosa.
Maul yang berdiri di samping Yasing cuma memasang muka plenger khasnya, lalu berdeham pelan. "Jujur Teh, gua cuma korban ikutan. Otak utama kerusakan ini adalah dua orang di sebelah saya."
"Lah! Lu kok langsung lempar batu sembunyi tangan gitu, Ul?!" protes Yasing tak terima.
Sahla dan Alifian—yang baru saja selesai dari urusan masing-masing—berjalan masuk ke Ruang Komando sambil menahan tawa melihat Yasing dan Bang Pasya yang lagi diomeli Teh Caca.
"Wah, wah, wah... Tiga trouble maker lagi disidang nih," ledek Sahla sambil merapikan jilbab instannya. "Untung gua kemarin absen, kalau enggak pasti keikut konyol."
"Berdasarkan analisis teoritis gua, kekacauan ini terjadi karena tidak adanya sosok pengatur strategi penerbangan alias gua di lapangan," pamer Alifian sambil menaikkan kacamatanya.
"Diem lu berdua!" semprot Yasing dan Bang Pasya serempak.
"Sudah, sudah," sela Opik memotong perdebatan. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard holografik. "Gua udah selesai mengunduh seluruh data dari drive yang disita dari si peretas."
Seketika, atmosfer di Ruang Komando berubah menjadi serius. Prof. Einstein melangkah mendekati layar utama, sementara Kelay (Clairine) yang mengenakan pashmina elegannya ikut berdiri di sebelah Teh Caca.
Layar hologram raksasa memproyeksikan sebuah peta dunia teknologi. Di luar batas wilayah Kota Mecha yang megah dan terang, terdapat sebuah area hitam pekat yang tertutup kabut digital berduri.
"Si peretas ini ternyata cuma suruhan," jelas Opik sambil memperbesar gambar area hitam tersebut. "Dia dibayar oleh organisasi rahasia dari Kota Shadowtech—satu dari beberapa kota teknologi luar yang iri dan berambisi menghancurkan Kota Mecha."
"Shadowtech?" ulang Maul, alay sok cool-nya mendadak sirna digantikan tatapan serius. "Bukannya itu kota yang dulu pernah diblokir dari aliansi teknologi gara-gara bikin eksperimen ilegal?"
"Tepat," sahut Prof. Einstein penuh bobot. "Mereka mencoba meretas data kendali energi kita untuk mencari titik lemah perisai pertahanan Kota Mecha. Jika perisai itu tembus, mereka bisa mengirimkan pasukan Mecha Kegelapan ke pusat kota."
"Gak bisa dibiarin!" Yasing mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya menyala penuh emosi. "Kota Mecha ini tempat tinggal kita! Mau siapa pun musuhnya, gua bakal hajar!"
"Kali ini gua setuju sama Yasing," tambah Sahla mantap. "Gak ada yang boleh merusak kota ini!"
Teh Caca menatap empat pahlawan mudanya dengan rasa bangga. "Kalian memang punya semangat yang luar biasa. Tapi musuh kali ini beda dengan robot simulasi atau peretas biasa. Mereka punya teknologi Dark Mecha yang mematikan."
Bang Pasya menepuk bahu Yasing dan Maul sambil tersenyum lebar. "Makanya, mulai besok, jadwal latihan kalian bakal ditingkatkan dua kali lipat! Dan pelatihnya... gua sama Kelay!"
"Hah?! Dua kali lipat?!" seru Alifian dan Sahla dengan wajah pucat seketika.
"Siap-siap encok ya, adek-adek," ledek Kelay sambil tersenyum manis tapi punya aura mengancam.
Meskipun ancaman besar dari Kota Shadowtech mulai membayangi masa depan Kota Mecha, kebersamaan dan tekad Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla makin tak tergoyahkan. Mereka siap menempa diri menjadi pahlawan sejati!