Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : BAYANG-BAYANG MELDA
...BAB 10...
...BAYANG-BAYANG MELDA...
Hari sudah menunjukan pukul lima sore. Matahari mulai condong ke barat. Udara tidak lagi sepanas siang tadi.
Setelah mereka kenyang makan, seperti janjinya tadi Berry dan Reyga mengajak Bintang ke taman.
Bayi itu terlihat jauh lebih ceria sejak mereka tiba di taman.
Reyga menggendongnya sambil berjalan pelan.
Berry membawa tas kecil berisi popok, botol susu, tisu, dan beberapa perlengkapan lain.
"Kenapa tas ini rasanya semakin berat?" keluh Berry.
Reyga menoleh. "Karena isinya semakin banyak."
"Padahal tadi pagi nggak sebanyak ini."
"Lo kan tadi beli lagi."
Berry baru tersadar. Reyga tertawa kecil.
Mereka kemudian duduk di salah satu bangku taman.
Bintang terlihat memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Matanya berbinar. Tangannya bergerak-gerak.
Berry tersenyum. "Kayaknya dia mau main."
"Belum bisa jalan."
"Ya nggak perlu jalan."
Berry mengambil tangan kecil Bintang. "Ayo, Bos. Kita lihat orang-orang."
Bintang tertawa kecil. Reyga ikut tersenyum.
Untuk beberapa menit, suasana terasa tenang.
Namun tiba-tiba perhatian Berry tertuju pada seorang wanita di dekat ayunan.
Wanita itu sedang hamil besar. Perutnya sudah terlihat sangat berat. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang mungkin berusia tiga atau empat tahun.
Anak itu sedang bermain ayunan. Sang ibu duduk tidak jauh darinya sambil terus memperhatikan.
"Pelan-pelan, Nak."
Anaknya tertawa.
"Lebih tinggi, Mama!"
Wanita itu tersenyum.
"Jangan tinggi-tinggi."
Namun beberapa detik kemudian...
Bruk!
Anak itu terjatuh dari ayunan. Wanita tersebut langsung bangkit. "Sayang!"
Ia berusaha berlari menghampiri anaknya. Namun karena perutnya yang besar, gerakannya terlihat berat.
Berry yang melihatnya langsung bergerak. "Tunggu!"
Ia berlari menghampiri. Berry membantu anak itu bangun. "Mana yang sakit?"
Anak itu mulai menangis. "Kaki..."
Berry memeriksa lututnya. Tidak ada luka serius, hanya sedikit memerah.
"Ibu, sepertinya nggak apa-apa. Cuma kaget."
Wanita itu menghela napas lega. "Terima kasih ya, Mas."
Berry mengangguk. "Sama-sama."
Berry membantu anak itu berdiri. Anak tersebut langsung memeluk ibunya. Berry memandang mereka. Entah kenapa, dadanya terasa sesak.
Wanita itu mengusap kepala anaknya sambil menenangkan. "Sudah, jangan nangis lagi. Mama di sini."
Kalimat sederhana itu membuat Berry terdiam. Mama di sini.
Entah kenapa suara itu terasa begitu dalam. Tiba-tiba mengingatkan Berry pada sosok Ibunya yang telah lama meninggalkannya bertahun-tahun.
Pandangannya turun ke perut wanita tersebut. Hamil besar. Kemudian ia melihat anak kecil yang masih memeluk ibunya.
Seketika wajah Melda pun muncul di kepalanya.
Melda.
Perempuan yang selama ini berusaha ia hindari.
Perempuan yang pernah memberinya sebuah kabar yang tidak pernah benar-benar ia hadapi.
Pesan terakhir itu. Berry masih mengingatnya.
Berry, aku sedang hamil.
Hanya satu kalimat. Tetapi sampai sekarang kalimat itu seperti terus menghantuinya.
Berry mengusap wajah mulai kembali gelisah.
"Lo kenapa?" tanya Reyga yang sudah berdiri di sampingnya.
Berry tersadar. "Nggak apa-apa."
"Muka lo pucat. Capek?!" Reyga menatapnya curiga.
Berry menggeleng kepala. Namun Reyga tidak bertanya lebih jauh. Mereka berdua kembali duduk.
Berry masih sempat melihat wanita hamil tadi. Wanita itu kini duduk sambil memeluk anaknya. Tangannya sesekali mengusap perut besarnya.
Pemandangan itu membuat hati Berry semakin tidak tenang.
Melda. Apakah sekarang dia juga seperti wanita itu? Apakah benar dia sedang hamil?
Kalau benar... Bagaimana sekarang keadaannya? Apakah dia sendirian? Apakah ada orang yang membantunya?
Berry memejamkan mata. "Tidak." Ia mencoba mengusir pikiran itu.
Namun semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas juga wajah Melda muncul di pikirannya.
*****
Waktu pun terus berjalan cepat. Malam hari itu. Di apartemen Berry sudah sunyi.
Bintang akhirnya bisa tidur pulas setelah seharian bermain. Reyga juga tertidur di sofa.
Bayi itu berada di tempat tidur kecil sementara yang mereka beli sore tadi.
Berry berdiri di dekat jendela. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus kembali pada kejadian di taman.
Wanita hamil itu. Anaknya. Dan pesan Melda.
Berry mengambil ponselnya. Ia membuka daftar kontak. Jarinya berhenti. Nama Melda masih ada. Ia menatapnya cukup lama. Tidak menekan tombol panggil. Tidak mengirim pesan. Hanya menatap.
"Apa yang gue lakukan?" Berry menghela napas.
Kemudian sebuah ingatan muncul di benaknya. Dulu dia tak sengaja bertemu Melda di rumah makan tradisional di pinggiran kota. Saat itu Berry mengajak makan pacar barunya, Vina. Berry masih mengingat lokasinya.
Entah kenapa, malam itu ia mengambil kunci mobil. Ia melangkah keluar tanpa membangunkan Reyga.
Berry tahu tindakannya bodoh. Namun ia hanya ingin melihat Melda. Bukan untuk menemuinya. Bukan berbicara. Hanya ingin memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja.
Mungkin itu alasan sebenarnya. Atau mungkin karena ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia khawatir.
Satu jam kemudian. Sebuah mobil berhenti tidak jauh dari rumah makan tradisional di pinggiran kota.
Lampu rumah makan itu masih menyala.
Berry tetap duduk di dalam mobil. Ia menatap ke arah bangunan tersebut. Tangannya menggenggam kemudi.
"Kalau dia nggak ada..." Berry berhenti. Kemudian menggeleng. "Ah. Ngapain gue berharap?"
Ia kembali melihat ke depan. Beberapa menit kemudian, seseorang keluar dari pintu samping rumah makan.
Berry langsung mengenalinya. "Melda." Jantungnya berdegup lebih cepat.
Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya diikat seadanya.
Di tangannya ada sapu. Melda mulai menyapu halaman.
Berry hanya diam. Ia tidak keluar dari mobil.
Tidak mendekat. Hanya memperhatikan dari jauh.
Beberapa kali Melda berhenti untuk mengambil sampah yang berserakan.
Kemudian memasukkannya ke dalam kantong besar.
Setelah itu ia mengangkat kantong sampah tersebut dan membawanya ke tempat pembuangan.
Berry memperhatikan gerakannya. Melda terlihat lebih kurus dari yang ia ingat. Wajahnya juga tampak lebih pucat.
Sesekali perempuan itu berhenti. Tangannya mengusap kening. Keringat terlihat membasahi wajahnya.
Berry mengepalkan tangan. "Dia kerja sampai malam?" Ia menelan ludah.
Melda kemudian masuk kembali. Beberapa menit kemudian ia keluar lagi.
Kali ini tidak membawa sapu. Ia berjalan menuju tempat cuci tangan. Mencuci kedua tangannya.
Setelah itu Melda mengambil sebuah roti dari dalam kantong plastik.
Ia duduk di kursi kecil di dekat pintu rumah makan. Tangannya bergerak perlahan.
Namun begitu roti itu berada di tangannya, Melda langsung memakannya. Sepertinya ia sangat lapar.
Berry terdiam. Matanya kemudian turun ke perut Melda. Ada sedikit perubahan. Tidak terlalu besar.
Tetapi cukup membuat Berry menyadarinya. Tangannya mencengkeram kemudi.
"Melda..." Suaranya nyaris tidak terdengar.
Melda berhenti makan. Ia mengusap perutnya. Gerakan itu sederhana.
Namun bagi Berry, gerakan tersebut seperti pukulan keras baginya.
Perempuan itu kembali menggigit rotinya, dengan lahap.
Seolah roti sederhana itu adalah satu-satunya makanan yang ia miliki malam itu.
Berry menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia teringat dirinya sendiri.
Betapa mudahnya dulu ia meninggalkan Melda.
Betapa cepatnya ia mengatakan bahwa semua itu bukan urusannya.
Dan sekarang...
Ia melihat sendiri perempuan itu bekerja sampai malam dalam kondisi yang mungkin sedang hamil.
Berry mengangkat wajah. Matanya mulai merah. Air mata menggenang. Namun ia buru-buru mengusapnya.
"Kenapa gue jadi begini?"
Ia tertawa kecil, tetapi suaranya bergetar. "Lo cuma mau lihat dia kan."
Berry kembali menatap Melda.
Namun semakin lama ia melihat, semakin sulit baginya untuk berpura-pura tidak peduli.
Apalagi ketika Melda kembali mengusap perutnya.
Berry memejamkan mata. Pesan itu kembali terngiang.
Berry, aku sedang hamil.
Selama ini ia menganggap pesan itu sebagai sesuatu yang bisa ia abaikan. Sesuatu yang bisa hilang seiring waktu.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya Berry benar-benar bertanya pada dirinya sendiri.
Bagaimana kalau anak itu benar-benar anak gue?
Matanya kembali menatap Melda. Perempuan itu masih makan roti sendirian.
Tidak tahu bahwa dari dalam sebuah mobil yang terparkir tidak jauh darinya...
seseorang sedang memperhatikannya dengan mata berkaca-kaca.
Berry tidak keluar. Tidak memanggil namanya.
Tidak berani mendekat. Hanya duduk di sana.
Menatap perempuan yang pernah ia tinggalkan.
Dan untuk pertama kalinya, rasa gengsi yang selama ini menahannya mulai kalah oleh rasa khawatir.
Berry menunduk. Satu tetes air mata akhirnya jatuh.
"Kalau benar..."
Suaranya bergetar.
"...anak itu anak gue..."
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Berry takut.
Takut pada sesuatu yang selama ini selalu ia hindari.
Tanggung jawab.
Dan mungkin, seorang anak yang selama ini tidak pernah ia berani akui keberadaannya.
Bersambung...
Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya 🥹🥹🤗